c6Lw!U (2021)

an Indonesian short story

genre: fantasy, mystery

Seekor tikus dengan bulu bersih dan berkilau di bawah penerangan lampu bohlam berbaring di lantai gudang. Mata polosnya menatap Judi yang masih berdiri di ambang pintu.

“Judi?” suara Adrik meninggi dari ambang telepon seluler. “Kau masih di sana, kan?“

“Iya,” Judi akhirnya bersuara. “Aku menemukan sumber bau amis rumahku.“

Masih mengapit telepon di atas bahu, tangannya Judi pakai untuk memencet hidung. Aroma busuk itu yang pertama kali menyambutnya saat dia baru saja memasuki rumahnya sambil bertelepon dengan Adrik. Satu tangan lainnya digunakan untuk mengambil ujung ekor tikus berbulu bersih itu yang masih bergeming saat raganya tergantung di udara. Satu-satunya keuntungan yang diberikan oleh mata kirinya adalah bahwa dia tidak perlu melihat rupa sesungguhnya dari tikus mati ini.

Setelah menguburnya di halamannya, masih tersambung di ambang telepon, Judi berbicara kembali sambil menutup pintu halaman belakang, “Jadi, tadi kau bilang bahwa kau telah menemukan si pelaku yang berhasil membobol lima lapis pintu brankas Bank Jaya.“

“Betul,“ suara Adrik menemani kembali saat Judi membuka kulkas berisi sayuran dan daging yang semuanya menghitam. “Salah satu koleganya, kriminal yang ditangkap minggu lalu di toko perhiasan itu, ternyata juniornya. Dia justru belajar taktik pencurian darinya. Dipanggil ‘Bayangan’.“

Judi mengambil wadah plastik berisi pasta. Tidak berbentuk, saling menyatu sama lain seperti keju meleleh, dengan saus seperti lumut hijau. Tapi aromanya membuat Judi bersenandung, perut kosongnya bergejolak ingin menikmati sisa masakan ibunya yang masih harum meskipun dimasak kemarin.

“Bayangan?“ Judi menusuk garpu plastisin – tetap keras di genggamannya – di permukaan pasta meleleh. Dia bergumam ria saat potongan daging cincang dan tomat menyentuh lidah. “Cocok sekali dengan kepribadiannya. Misterius.”

“Saking misteriusnya, baru ditemukan identitasnya dua bulan kemudian. Setelah orang itu berhasil menyelundup lima bank elit,” decakan Adrik menggema dari pengeras suara telepon yang sekarang tergeletak di atas meja makan. “Ngomong-ngomong, kau sedang makan? Makanan busuk apalagi yang kau makan sekarang?”

Judi gantian berdecak, disusuli dengan tawaan Adrik. “Di mataku saja yang busuk, bukan di lidahku.”

Percakapan dengan Adrik berakhir bersamaan dengan santapan makan malam Judi. Dia menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Seragam kepolisian masih melekat di badannya. Dia menatap langit-langit. Dengan penglihatannya sekarang, dia seperti berada di rumah yang terbuat dari permen karet. Juga ubin lantai, meskipun dinginnya tetap menusuk di telapak kaki beralaskan kaos kakinya.

Judi berjalan ke ruang tamu dengan cangkir plastisin yang menampung bongkahan es kopi balok di tangannya. Dia duduk di sofa berbahan bebatuan. Dia menghempaskan pantat, raganya memantul sejenak. Sambil menekan remot TV dari tanah liat bertombol besi, Judi menyeruput minumannya. Butiran es batu menghangatkan bibirnya. Belasan tahun Judi memiliki sebelah mata gilanya ini sejak remaja, dia sudah menyesuaikan dirinya untuk tidak bergantung dengan penglihatannya jika sedang membiarkan mata kirinya tidak tertutup kain. Hanya dibiarkan terbuka jika berada di rumah, terutama sejak memasuki akademi kepolisian.

Karena, dia tidak akan bisa bekerja secara profesional. Seperti saat dia menatap seorang reporter sedang memberitakan keadaan badai di lokasi. Benda yang menjadi pengeras suaranya adalah pisau dengan bilah berlumuran darah.

+++

Langit segelap jaket kulitnya. Judi berpakaian layaknya orang-orang yang melewati depan mobilnya, seolah-olah mobil sedan itu dimiliki oleh masyarakat biasa.

Judi mengatur pengeras suara radio, suara para kolega yang melaporkan perihal situasi sudut kota lainnya bergema. Kadang dia melirik kaca spion depan. Tidak ada pantulan dirinya, seperti di pantulan kaca lainnya. Satu-satunya keanehan yang bahkan tertampak dengan mata kanannya. Untung saja manusia lainnya mampu melihat pantulan dirinya.

Judi menghela nafas. Rasanya dia ingin keluar dari mobil dan melepas kain penutup kepalanya. Mencari Bayangan di dalam kerumunan seperti ini sebenarnya mudah; tinggal mencari seseorang berjubah putih di antara puluhan orang berbaju gelap dengan lumuran darah di tangan. Namun, sejauh ini dia baru menyesuaikan persepsinya di dalam rumah. Di lingkungan terbuka seperti ini, otaknya tidak akan mengenali tempat dimana Judi berada meskipun kota ini adalah tempat kelahirannya. Dia tidak mau menginjak trotoar selunak lumpur hidup sepanjang waktu, dan bekerja di lapangan dengan menutup sebelah kelopak menganggu aktifitas fisik, maka dia memutuskan untuk menggunakan kain.

Seseorang dengan kepala tertunduk lewat. Langkahan kakinya menghindari pancaran lampu sen mobil.

Kepala tertunduk, leher terlilit selendang penutup sebagian wajah, Judi mengamati orang tersebut. Selalu menghindari sorotan lampu.

Setelah orang tersebut telah berjalan sejauh lima langkah dari mobilnya, dengan mata yang masih terpaku olehnya, Judi mematikan mesin mobil.

Judi berusaha mengatur jarak dirinya dengan punggung Bayangan. Sepatu kets jogging-nya ampuh untuk tidak mengundang perhatian Bayangan, terutama saat mereka mulai memasuki gang dengan satu dua lampu jalanan dan hanya menyisakan mereka berdua. Dinding di sisinya seperti ingin menelan mereka berdua.

Semakin banyak yang mengejar Bayangan, orang itu akan semakin bersembunyi, perkataan atasannya terngiang saat briefing tadi sore, sambil mengamati Bayangan yang menghindari sorotan lampu jalanan yang dia lewati…

Kaki Judi tidak sengaja menendang sebuah kerikil. Ia memantul di sebuah tong sampah.

Di saat yang bersamaan, petir bergemuruh. Rintikan hujan membasahi trotoar dan kepala Judi. Bayangan menoleh ke belakang.

Bayangan lari.

Judi langsung lari. Jarak mereka tetap sama meskipun kali ini dengan kecepatan lima kali lipat lebih dekat. Bayangan belok, dia melompati deretan tong sampah dan memanjat pagar besi. Judi melewati rute yang sengaja diambil Bayangan untuk memperlambat gerakannya. Judi tersenyum, Bayangan telah meremehkannya. Atasannya telah memilih Judi sebagai satu-satunya polisi yang akan menangkapnya bukan atas keputusan sembarang.

Judi naik ke atas tong sampah. Dia melompat, menggapai pagar besi. Dia melompat kembali, berguling di trotoar. Tidak peduli dengan pakainnya yang basah, yang penting jarak mereka sekarang hanya tiga langkah.

Judi meraih borgol di saku. Tidak ada pistol, keberisikan akan melenyapkan raga Bayangan, seperti orang tersebut yang selalu dengan tangan kosong membobol pintu brankas bank. Dia merentangkan tangan, telunjuknya hanya berjarak dua senti di ujung selendang Bayangan–

Kaki Judi menginjak permukaan licin.

Judi tergelincir, kepalanya terbentur dinding berteralis. Mata kanannya perih, kelopaknya berat untuk diangkat.

Judi mengumpat. Tanpa pikir panjang, dia melepas kain penutup mata. Penglihatan sebelahnya masih menangkap sosok berjubah putih itu yang semakin jauh, di antara jalanan berlumpur hidup dan bongkahan es yang berjatuhan menghantam bumi.

Judi linglung. Berlari di atas lumpur hidup meskipun permukaannya sekeras trotoar bukanlah hal mudah bagi otaknya yang selama ini hanya memanipulasinya bahwa lantai permen karet rumah Judi sekeras ubin biasa. Gemuruh bongkahan es di hadapannya semakin berisik. Jaket kulit Judi terbaluti serpihan es seolah-olah dia sedang berlari di tengah badai salju, padahal bajunya sudah dipenuhi keringat.

Bayangan masih berlari lincah di hadapannya – selendang tersebut berubah menjadi sorban. Namun, sosoknya menghilang saat dia memasuki sebuah gang yang disesaki kerumunan orang. Dengan pakaian yang sama seperti Bayangan; jubah putih dan sorban.

Judi berhenti, meringis merasakan nyeri di pelipis dan mata kanan. Dia berada di teritori kumpulan preman. Deruan nafasnya mengalahkan gemuruh bongkahan es.

Judi mulai mual. Otaknya mempersepsi bahwa dia sedang berada di atas lumpur hidup betulan, dengan bongkahan es yang mengguyuri raganya. Menurut mata kirinya, semua orang berpakaian sama. Hanya dibedakan berdasarkan warna; pakaian hitam dengan tangan berlumur darah atau bewarna putih dengan rupa bersih dan bersinar. Karakteristik setiap orang musnah, hanya digantikan dengan pakaian monokrom tersebut. Hitam, simbolisasi masyarakat umum yang memenuhi trotoar. Putih, simbolisasi para pekerja yang bersembunyi di sudut trotoar karena kelakuan ilegalnya.

Bersembunyi.

Kenapa namanya Bayangan?

Dengan kepala yang semakin berat, Judi belok, mengambil jalanan gang sempit yang minim sorotan lampu. Dia menghindari jalanan utama.

Karena dia hanya berjalan di dalam bayangan.

Dua dinding seperti lelehan tanah liat di hadapan Judi. Dia mengatur nafas, membiarkan suara hembusannya ditelan hujan. Judi berjinjit, supaya sepatunya tidak menginjak genangan bongkahan yang pasti memekikan telinga. Dia menelusuri gang sempit itu, kedua sisi dinding hampir menyentuh bahu. Dan gelap.

Deruan hujan semakin keras. Menenggelamkan langkah Judi, nafas Judi. Jaket hitamnya, dinding, jalanan, mulai bersatu dengan kegelapan.

Menghindari sorotan lampu. Menghilang jika ada suara.

Sebercak corak putih muncul di ujung gang.

Judi berusaha untuk tidak mempercepat jinjitannya, hati-hati dengan langkahnya supaya tidak bersuara. Dari kejauhan, corak putih itu semakin besar, sampai memperlihatkan sebuah bentuk seperti jubah.

Bayangan berdiri. Bergeming. Menatap gerakan Judi yang masih berjinjit. Hingga saat Judi hanya berjarak sejengkal di hadapannya, Bayangan masih tidak bergerak sama sekali. Dengan wajah yang tertutup sorban kecuali matanya.

Judi menangkap tangan Bayangan. Tiga detik kemudian, Bayangan terkulai di lumpur hidup dengan kedua tangan terborgol.

+++

Mobil polisi dan ambulans datang saat balokan es hujan berhenti turun dari langit. Koleganya memuji Judi karena telah berhasil menangkap Bayangan, meski dengan harga mata kanannya harus dibiarkan ditutupi perban selama dua minggu.

“Dua minggu kau harus diliburkan. Sampai matamu sembuh,“ Adrik berdiri di sebelahnya. “Lagipula, kau pasti tidak bisa bekerja dengan penglihatan anehmu itu.“

Judi menatap para koleganya dan Bayangan. Dua orang berpakaian warna hitam dan darah di wajah dan tangannya memegang pria berjubah putih dengan tangan terborgol plastisin. Beberapa orang-orang dengan berpakaian sama seperti koleganya mengerumuni TKP. Baru kali ini menggunakan mata kirinya di ruang publik, pemandangan di hadapannya terasa aneh. Semua orang dengan wajah berlumuran darah mengamati seorang berwajah bersih dan bersinar di bawah kelamnya langit. Seolah-olah siapa yang tersangka di sini? Mengapa pria berwajah bersih itu salah, ketika melihat perawakannya justru paling menenangkan di mata Judi…

Seruan anak kecil memalingkan Judi.

Segerombolan anak kecil menghampiri kerumunan. Mereka berbicara kepada Bayangan. Raut wajah mereka terlihat sedih, beberapa mulai terisak. Kaos mereka basah kuyup karena hujan…

Tunggu. Mereka mengenakan kaos biasa. Merah, ungu, biru, hijau…dan wajah mereka tidak berlumuran darah.

Ini pertama kalinya Judi melihat anak-anak dengan mata kirinya.

“Nanti siapa yang ngasih jajan ke panti??” seru salah satu anak tersebut.

“Pak Panti nggak pernah ngasih jajan!” sahut anak lainnya dengan isakan. “Nanti siapa yang main sama kami?”

Bayangan tidak berkata apa-apa. Judi bahkan tidak bisa melihat raut wajah Bayangan dibalik sorbannya. Yang pasti, Bayangan tidak menyahut, membiarkan dirinya didorong paksa masuk ke dalam mobil polisi.

Kemudian, perlahan orang-orang mulai meninggalkan tempat, diselingi dengan mobil polisi dan sirine ambulans yang menjauh. Adrik juga sudah lama meninggalkannya. Tapi Judi masih tinggal di tempat, menatap belasan anak kecil di hadapannya yang satu per satu mulai terlihat jelas wajah dan penampilan mereka. Dengan kaos compang-camping yang bewarna, seolah-olah mereka adalah pelangi yang datang setelah hujan selesai. Saat sinar matahari mulai muncul, menerangi wajah tanpa darah mereka, terlihat tetesan lain yang sekarang membasahi wajah mereka.

“Paman…” kata sang anak kecil yang berdiri paling dekat, “Paman baik-baik aja, kan?“

Judi tidak menjawab pertanyaannya. Karena pertama, otaknya sedang mencerna fenomena baru di penglihatannya ini, bahwa anak kecil tidak mempengaruhi pandangannya. Kedua, ada fenomena baru lainnya yang muncul; genangan air di bawah kakinya. Serta ada pantulan dirinya.

+++

Previous
Previous

Sejarah yang Terlupakan (2020)

Next
Next

Berkat Nasi yang Menangis (2022)