Bab 9: Janji

Setiap malam tahun baru, Haidar selalu membawa kipas bakar satenya dari rumah untuk mengipas para sate yang dibakar Putra di garasi halaman rumahnya. Ritual malam tahun baru mereka sejak saling mengenal satu sama lain.

“Udah tiga tahun bakar sate padahal,” Haidar mengipas sate dengan tenaga penuh. “Masih aja ada yang gosong!”

Putra terbatuk-batuk saat menghirup asap dari alat panggangan arang kecil – beli dari luar negeri oleh ibunya. Dia sibuk membalikkan daging sate yang sebagiannya sudah menghitam, beberapa dia taruh di piring, dengan sate lainnya yang menghitam, “Yaudah, yang gosong biar kumakan. Seperti biasa.”

“Suka kali kau makan makanan gosong,” Haidar masih mengayunkan tangan, berharap mengurangi kegosongan sate itu. “Dibantu Mbak Nina pun nggak mau.”

“Biarkan tiap malam tahun baru aku sendiri yang bakar satenya. Meskipun sehitam arang.”

Wajah Putra berkerut, sibuk menyelupi sate mentah di wadah berbumbu, kemudian menaruhnya hati-hati. Selalu seperti itu jawabannya setiap Haidar menyuruhnya untuk dibantu Mbak Nina membakar sate, meskipun sate-sate gosong Putra tetap dia lahap – masakannya tetap bisa dimakan baginya, dan itu sudah cukup. Wajahnya yang seserius bermain PlayStation, serta suaranya yang tertekan, menunjukkan bahwa meskipun dia dibesarkan di rumah serba ada dan keluarga utuh, dia ingin melakukan satu hal sendiri; membakar sate walaupun hanyalah setahun sekali. Karena hanya di hari itu, orangtuanya pasti pergi berdua entah kemana. Ibunya tidak perlu berteriak panik melihat anaknya yang bermain api, meskipun hanyalah dengan alat panggang kecil.

Suara langkahan kaki dari kejauhan mendekati mereka. Chelsea berlarian, kedua tangannya terlipat ke belakang.

“Sengaja ya kau baru datang sekarang,” Putra menyambutnya dengan decakan. “Satu ronde lagi satenya udah selesai. Numpang makan aja pasti.”

Chelsea menjulurkan lidah – mulai terbiasa dengan bahasa ketus Putra. Dia justru menyengir, “Putra, aku punya hadiah ulang tahun buatmu. Meskipun dari barang bekas.”

“Ulang tahunku udah lewat dua minggu yang lalu! Dari barang bekas pula. Nggak niat kau kasih kado.”

“Aku taruh kadomu di teras, ya.“ Chelsea menghampiri Haidar, “Piring itu, mau kubawakan sekalian?”

Haidar memberikan sebuah piring sate yang sudah jadi, “Tolong ya, Chel.” Saat Chelsea melangkah mendekatinya untuk mengambilnya, Haidar memalingkan wajahnya yang memanas.

Setelah mereka selesai membakar sate, dengan bantuan Mbak Nina untuk membereskan alat panggangan itu, mereka bertiga sekarang duduk berlesehan di teras, menikmati sate gosong itu dengan nasi.

“Pahit semua sate ini,” Chelsea menambahkan saos kacang ke dalam piringnya. “Kenapa tidak kau biarkan Haidar yang membakarnya? Dia pasti jago.”

“Nggak bisa dia katanya bakar sate di alat panggang Mamah itu,” Putra menyendokkan nasinya. “Dia kalau bakar sate di atas tungku api. Mana punya aku.”

Suara petasan terdengar dari kejauhan.

“Baru jam sembilan malam,” Putra melirik jam tangan. “Udah nggak sabar para tetangga.”

“Putra,“ Chelsea menggigit daging sate. “Katamu kembang api tetap terlihat dari sini?”

“Terlihat, kok. Kan kita di tengah kota.”

“Ada satu tetangga, belasan rumah dari sini, katanya juragan kembang api,” sahut Haidar. “Dari rumahnya mereka main kembang api paling meriah. Bisa dilihat dari depan rumah.”

“Oh iya, betul itu!” ujar Putra. “Tiap malam tahun baru keluarga itu pasti punya kembang api bagus. Tahun kemarin yang sampai ada tulisannya itu, ya Dar. Ingat kan, kau?”

Haidar mengangguk, menyuapi nasi dengan sendok – tetap tidak berani memakai tangan meskipun tidak ada orangtua Putra. “Di televisi aja nggak pernah aku lihat kembang api macam itu.”

Chelsea mengambil sate selanjutnya, “Ini tahun baru terseru yang pernah kualami.”

“Memang biasanya kau ngapain dulu?” tanya Putra.

“Di dalam rumah. Menonton film sampai menjelang tengah malam. Hanya keluar jika terdengar kembang api. Di Amerika, kan musim dingin, tidak bisa bakar sate seperti ini.”

Musim dingin, dua kata itu terngiang di benak Haidar. Musim dingin mancanegara yang dia lihat selama di film Hollywood itu pasti dengan cuaca bersalju. Entah kapan dia suatu saat bisa merasakan fenomena alam itu. Entah kapan dia naik pesawat.

“Katanya mulai semester depan,” suara Chelsea membuyarkan lamunannya, “kita sudah harus tahu ya, mau ke jurusan apa di kelas sebelas nanti?”

“Aku yakin pasti kau masuk IPA,” Putra menyendokkan nasi. “Cinta mati kali kau sama Fisika. Untung aja nggak sama Pak Kodir sekalian, udah beruban gitu dia.”

“Bagaimana denganmu, Haidar?”

Haidar berdeham, “Aku…belum kepikiran. Tapi…” Dia terdiam. “Sepertinya aku ingin masuk IPA.”

Chelsea dan Putra menatapnya, gerakan sendok mereka terhenti.

“Semenjak kerja di bengkel,” Haidar mengusap tengkuk, “aku jadi tertarik sama mesin.”

Chelsea tersenyum lebar, “Kau juga katanya suka memainkan alat perkakas dari dulu, kan? Wah, bisa-bisa tahun depan kita sekelas!” Dia tertawa cekikikan, “Aku bahkan mungkin sebangku denganmu, menggantikan posisi Putra.”

Haidar berkerut. Dia menoleh cepat ke Putra, yang anak itu juga belum menggerakkan sendok di tangan.

“Kau…” Haidar berkerut, “memangnya nggak akan masuk IPA?”

Putra menggerakkan sendoknya kembali. Dia kali ini mengangkat piring, menutupi wajahnya, “Gimana mau masuk IPA, pelajaran itu sering merah di raporku. Lagipula…aku disuruh masuk IPS. Sama Papah.”

Haidar hanya ber-ooh pelan. Matanya menatap sisa piring yang tinggal seperempat lagi. Dia habiskan sisanya dalam diam, sambil mengambil beberapa sate gosong serta saos kacangnya. Sudah tiga setengah tahun dia duduk sebangku dengan Putra, membayangkan bahwa dua tahun terakhir di SMU akan berbeda kelas dengan anak itu membuat dadanya sesak. Dia akan merindukan foto-foto yang dibawa Putra setiap sekolah, atau saling sikut saat menulis catatan jika mereka tidak sengaja tertukar meja.

“Pisah kelas sama aku udah kayak pisah negara aja.”

Haidar mendongakkan kepala. Putra berdecak, santai menggigit satenya.

“Tetap ketemuan kita di kantin pasti. Sama Achel,” Putra mengambil sate baru, meskipun nasi di piring sudah habis. “Dan kita tetap kerjain PR bersama. Di rumahku. Terutama kalian berdua suka kali nunda ngerjain PR. Nggak bisa kubiarkan!”

Chelsea menggarukkan kepala, “Kau selalu galak menyuruhku mengerjakan PR. Orangtuaku saja tidak segalak itu.”

Sekarang di teras hanya menyisakan gelas es susu coklat masing-masing. Serta sebuah benda persegi panjang berukuran tipis tergeletak di tengahnya, terbungkus dengan koran. Dengan amplop bewarna putih di atasnya.

“Udah katanya dari barang bekas, pake kertas koran lagi,“ Putra menatap benda itu nanar. “Betulan nggak niat kali kau ngasih kado.“

Chelsea menunjuk amplop putih itu, “Amplop itu untukmu, Haidar.”

Haidar berkerut, “Ulang tahunku masih enam bulan lagi, Chel.”

“Bukan kado ulang tahun itu. Memang aku mau kasih sesuatu saja buatmu.”

Putra mengambil benda terbungkus koran itu, memberikan amplopnya ke Haidar, “Ambil, Dar.”

Haidar menerimanya. Saat menyentuh amplop itu, isinya terasa keras. Dia membuka amplop, tercengang saat melihat isinya. Perlahan, dia mengambilnya. Sebuah foto dirinya. Di depan kawah.

“Maaf ya, baru kucetak sekarang,” kata Chelsea. “Minggu kemarin baru dicetak sama Mommy foto-fotonya. Putra, foto dirimu juga tercetak. Kau bisa mengambil langsung di rumahku kapanpun.”

Putra mulai membuka bungkusan, “Nggak pernah aku simpan foto diri sendiri.”

Mata Haidar berbinar. Dia sudah tidak sabar ingin menunjukkan kepada orang satu rumah, termasuk kepada Bapak dan Hasan yang katanya akan datang awal bulan depan. Dia menoleh ke Chelsea, “Makasih ya, Chel.”

Chelsea tertegun, menatap Haidar dengan pipinya yang memerah. Kemudian, dia tersenyum lebar, “Sama-sama, Haidar.”

“Oh?”

Mereka berdua sigap menoleh ke Putra. Anak itu sudah merobek bungkusan, wajahnya berkerut saat menatap isinya. Dia melirik Chelsea tanpa kata, kemudian membuka bungkusan sepenuhnya cepat.

“Kau sepertinya mengenalnya,” kata Chelsea.

Putra mengangguk patah-patah. Saat dia melihat Haidar yang menatapnya penuh penasaran, dia menunjukkan benda tipis itu. Sebuah majalah dengan wajah beruang kutub. Di atasnya tertera tulisan besar, National Geographic.

“Itu majalah terbitan tahun kemarin. Daddy ternyata membawa sebagian ke Indonesia,” jelas Chelsea. “Dia berlangganan majalah itu dahulu.”

“Aku pikir mereka cuma nayangin dokumentasi di televisi,” kata Putra

“Mereka juga mencetak majalah.”

Putra membuka halaman, tetapi gerakannya terhenti saat menatap Haidar. “Kau mau lihat isinya juga?”

Haidar mengangguk cepat. Benda cetak yang dia temui selama ini hanyalah koran langganan Kakek dan buku TTS Nenek. Majalah hanya dia temui di Pasar Pinggir yang tidak pernah dia lihat isinya, dengan sampul depannya menunjukkan foto para artis. Belum pernah dia melihat majalah dengan gambar sebagus majalah yang dipegang Putra.

Putra menggeletakkan majalah itu di tengah, “Kita lihat bersama.”

Mereka bertiga berkutat dengan halaman demi halaman penuh foto itu, dengan tulisan berbahasa Inggris. Mulai dari foto hewan liar, orang dengan pakaian daerahnya dari mancanegara, sampai pemandangan dengan beragam cuaca. Chelsea sesekali bergumam takjub, katanya dia juga baru melihat isinya. Haidar ternganga sepanjang halaman, kualitas gambar tersebut jauh lebih bagus daripada gambar di televisi. Putra hanya terdiam, wajahnya menyunggingkan senyuman sepanjang waktu, kadang ada beberapa halaman yang fotonya dia tatap lama, sampai Chelsea harus menggoyangkan lengannya, tidak sabar ke halaman berikutnya. Es susu coklat di gelas masing-masing yang mulai dikerubungi semut terbiarkan begitu saja.

Mereka telah sampai di halaman terakhir.

“Achel,” akhirnya Putra membuka suara, “betulan ini buatku?”

Chelsea mengangguk. “Aku sudah minta izin ke Daddy. Katanya kau bisa memilikinya. Malah Daddy bilang kau bisa mengambil majalah terbitan lama lainnya. Lagipula…“ suaranya merendah, “Daddy yang menyarankanku untuk memberimu ini.”

“Charles yang menyarankanmu? Kenapa?”

“Kau kan suka berfotografi.”

Putra tertegun.

Chelsea mengambil majalah itu, membukanya kembali halaman demi halaman. “Putra,” panggilnya, “kata Daddy, foto-foto yang tertera di sini bernama photojournalism.”

Haidar sekarang ikut melebarkan telinganya. Nama itu terdengar jauh lebih asing daripada Hollywood atau spaghetti bolognese.

“Bidang jurnalistik. Fokus ke fotografi tapi,” lanjut Chelsea, masih membuka halaman demi halaman, sesekali melirik Putra. “Melihat foto-foto ini mengingatkanku kepada foto-foto di dinding kamarmu itu. Selalu ada cerita di baliknya.”

Suasana teras rumah terasa senyap. Menyisakan suara petasan yang mulai berisik dari kejauhan.

“Putra…kau bisa bekerja. Hanya dengan kameramu.”

Suara Chelsea entah kenapa menyentuh hati Haidar, meski kata-katanya tidak tertuju kepadanya, melainkan anak di sebelahnya yang masih bergeming. Perkataannya terdengar indah. Seindah saat Ibu menyuruhnya untuk mimpi setinggi mungkin. Meskipun terdengar sederhana di mata orang-orang.

“Dengan begitu, kita semua punya mimpi,” Chelsea menoleh ke dua lelaki itu secara bergantian. “Haidar akan menaiki pesawat, kau akan membuat fotografi jadi karirmu, dan aku…” dia menunjuk dirinya, suaranya merendah, “aku akan bekerja di lembaga penelitian astronomi. Melihat berbagai macam planet dan bintang.”

Haidar dan Putra membesarkan mata. Anak perempuan itu sekarang mengusap tengkuk dengan pipi memerah.

“Jadi ini alasannya kenapa kau sejago itu di Fisika??” Putra meninggikan suara. “Supaya bisa jadi ilmuwan? Betulan jadi cucunya Albert Einstein, ya kau!”

Haidar juga menatap Chelsea. Dia akhirnya mengetahui sumber keantusiasannya dari menggemari pelajaran Pak Kodir itu. Chelsea juga punya mimpi. Sepertinya.

Suara kembang api memecahkan lamunan.

“Kembang api keluarga juragan!!” Putra sudah melompat, mengenakan sendalnya dan menuruni tangga. Meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja dan es susu coklatnya dengan para semut yang mengapung.

Haidar dan Chelsea saling menatap sebentar, kemudian tertawa geli melihat tingkah anak itu. Mereka juga beranjak, mengenakan sendal dan menghampiri Putra yang sudah berdiri di jalanan depan, menghadap ke sebelah kiri dengan wajah antusias. Meninggalkan es susu coklat bersemut mereka juga.

Mereka menghampiri Putra. Chelsea berdiri di antara mereka berdua, posisi yang sama saat mereka menaiki mobil ke Kawah Bening, difoto, dan saat menikmati es potong. Putra di sebelah kanan dan Haidar di sebelah kirinya. Mereka menatap kembang api yang mulai menghiasi langit malam. Dengan warna-warni dan berbagai macam bentuknya.

“Bagus sekali!“ Chelsea terkagum-kagum menikmati pemandangan langit. “Lebih bagus daripada di televisi yang aku lihat saat masih di Amerika.”

Beberapa tetangga mulai bermunculan, keluar untuk berdiri di jalan, ikut menyaksikan. Jalanan kompleks mulai sesak, tapi setidaknya tidak sesesak kemacetan jalan raya saat ini di Kota Lembah. Suasananya setenang saat Haidar melihat kembang api di atas bukit dahulu. Dengan angin malam yang menghembus wajahnya. Bersama mata lainnya yang juga ikut menyaksikan pemandangan kembang api.

Haidar tenggelam dalam kenikmatan menyaksikan langit malam yang ramai itu, tanpa sadar Chelsea memegang pergelangan tangannya. Perempuan di sebelahnya juga mengaitkan tangannya ke lengan Putra, tetapi lelaki itu tidak menghardiknya bahwa kulitnya gatal.

“Impian itu, entah kapan aku bisa capai.”

Haidar menoleh saat mendengar suara ringan itu. Chelsea juga ikut menoleh. Putra masih menatap langit, dengan wajah datarnya. Tetapi tidak dengan matanya.

“Kukira fotografi hanyalah sebatas hobiku, seperti gaming,” suaranya pelan. “Seperti orangtuaku juga memandangnya selama ini.”

Haidar terdiam, membiarkan anak itu berbicara. Tanpa PlayStation dan menjelang tengah malam, biasanya anak itu mulai berbicara filosofis. Chelsea juga menatapnya. Masih mengaitkan tangannya di lengan Putra dan sebelahnya menggenggam pergelangan tangan Haidar.

Putra kemudian menatap mereka berdua. Dengan senyuman.

“Tapi akan kucapai suatu hari.” Dia memberikan kelingking ke hadapan mereka, “Aku janji.”

Chelsea menjulurkan kelingkingnya juga dari lengan yang masih terkait dengan lengan Putra, “Janji, ya.” Dia menoleh ke Haidar, “Kau juga, Haidar.”

Tatapan kedua sahabat itu selembut angin malam. Berusaha menahan air mata, Haidar turut menjulurkan tangan, memberikan kelingkingnya yang langsung dikait oleh mereka berdua. Dia tidak akan bermimpi sendirian. Dia akan bermimpi bersama kedua sahabatnya. Dengan mimpi masing-masing.

Masih menatap tiga kelingking yang terkait itu di depan langit malam terhiasi kembang api, Haidar memberikan senyuman lebar, “Aku juga janji.”

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 10: Mister Herman (1)

Next
Next

Bab 8: Keponakan Om Memet