Bab 10: Mister Herman (1)
Setelah dua minggu liburan semester yang Haidar habiskan dengan pekerjaan bengkel dan bermain PlayStation di rumah Putra bersamanya dan Chelsea, semester dua di kelas sepuluh akhirnya datang.
Dari sejak awal tahun, rumor beredar tentang guru Bahasa Inggris baru yang akan datang di semester dua nanti, menggantikan Miss Ida yang tidak akan mengajar di semester selanjutnya. Semua murid di gedung sekolah penasaran dengan sosok guru baru ini. Katanya guru tersebut baru lulus kuliah dua tahun yang lalu, berarti guru tersebut akan paling muda di gedung sekolah ini. Dan biasanya, guru muda lebih enak mengajar.
Hari pertama di semester dua adalah pelajaran Bahasa Inggris di kelas X-3. Semua murid di kelas, bahkan Danar, berbicara tentang guru muda itu yang akan mengisi di kelas mereka untuk pertama kalinya. Haidar hanya menguping mereka sambil mengelap keringatnya dengan handuk, juga Putra yang memainkan alat tulis, tidak mempedulikan tentang rumor tersebut. Tanpa guru yang mengajar pun rapor Bahasa Inggris anak itu sudah seratus.
Pintu kelas terbuka. Semua murid langsung bergegas duduk di bangku masing-masing. Seorang pria muda dengan lengan kemeja yang ujungnya sedikit dilipat memasuki ruangan. Badannya tegap, rambut lurusnya tersisir rapi. Senyuman tersungging di bibir, satu tangannya menenteng buku pelajaran.
Semua murid ternganga, termasuk Haidar. Guru itu mengingatkannya dengan Hasan, tetapi dengan perawakan jauh lebih rapi ketimbang kakaknya. Ketua kelas bahkan sampai lupa untuk memimpin sambutan guru.
Guru tersebut, masih tersenyum, menaruh buku pelajaran di atas meja. Kemudian, dia menatap para murid dengan sepasang mata sayu, “Selamat pagi, semuanya.”
Lili, seorang siswi yang duduk di depan bagian tengah, berdeham, langsung berteriak lantang, “Salam kepada guru!”
Semua murid berseru, “Selamat pagi, Pak Guru!”
Guru itu tersenyum sebagai respon. Dia sigap mengambil kapur di atas meja, berbicara dengan logat daerah yang tidak Haidar kenali, “Nama saya Herman Irawan.” Dia menuliskan nama panjangnya di papan tulis, masih sambil berbicara, “Saya berasal dari Kalimantan. Tetapi sudah menetap di Kota Lembah selama lima tahun ini sejak kuliah di sini.”
Para murid mengangguk-angguk, mungkin menyadari logat daerahnya yang terdengar berbeda. Haidar juga tenggelam di benaknya, menebak apakah bapak muda ini berasal dari sebuah suku yang pernah Bapak ceritakan sebagai dongeng sebelum tidur saat dia belum mengenakan seragam sekolah.
Pak Herman, atau Mister Herman – karena mengajar Bahasa Inggris – mengambil buku absen di atas meja. Dia membaca daftar nama murid, “Aditama Putra…”
“Hadir,” Putra mengangkat tangannya malas-malasan. Namanya terdaftar di paling pertama sejak memakai seragam merah-putih.
Kemudian, Mister Herman memanggil nama lainnya, sampai kepada murid yang bernama Zara.
“Kalau begitu, mari kita mulai pelajarannya, ya,” Mister Herman menutup buku absen, menaruhnya di meja. Dia mengambil buku pelajaran, “Saya sudah diberitahu Bu Ida sebelumnya, sampai halaman berapa kalian sudah belajar…” Dia membalikkan halaman, sampai dia berhenti kepada sebuah halaman, suaranya pelan, berbicara untuk dirinya sendiri, “Narrative Text.”
Semua orang mulai berkerut, termasuk Haidar. Logat kalimantannya entah kenapa menghilang. Putra bahkan menaikan alis.
Mister Herman kemudian menengadahkan kepala, seperti biasa memberikan senyuman. Dia berbicara, berbahasa Inggris layaknya seorang guru Bahasa Inggris di sekolah, “All right, everyone, let’s start our class! Open page 104, we will start about Past Tense in narrative text…”
Tiga puluh murid langsung membuka rahangnya mendengar bapak muda dari Kalimantan itu. Bukan kelas Bahasa Inggris di SMU Indonesia lagi yang mereka rasakan, melainkan SMU di Britania Raya.
+++
“Bapak guru itu…” Putra melahap roti jajanannya patah-patah, matanya kosong menatap ke depan, “udah kayak artis film Hollywood dari Inggris aja ngomongnya. Saudara bapakku aja ngomong Bahasa Inggris masih campur-campur sama bahasa rumahnya.”
Haidar hanya terkekeh sambil menggigit bolunya. Selama tiga setengah tahun sebangku dengan anak ini, biasanya Putra tidak pernah mendengarkan guru Bahasa Inggris selama di kelas, toh nilai rapornya juga selalu seratus, di antara nilai merah lainnya. Tetapi untuk pertama kalinya, anak itu melek sepenuhnya, telinganya melebar, terlena dengan gaya bicara Mister Herman. Seantusias saat dia menonton film Hollywood bersama Haidar.
“Di kelasku anak-anak juga pada gosip,” Chelsea, beberapa bulan terakhir ini sekarang duduk bersama mereka di kantin, menggigit roti jajanannya – tidak pernah ganti sejak masuk sekolah ini. “Katanya mereka juga jarang mendengarkan Bahasa Inggris asal United Kingdom. Biasanya mereka mendengar gaya bicara orang Amerika.”
Mereka terinterupsi dengan segerombolan anak perempuan di meja sebelah, berbicara tentang Mister Herman dengan suara menggebu-gebu seperti sedang membicarakan seorang artis.
“Aku kira dia teman sekolahnya Bang Hasan,” celetuk Haidar. “Kayaknya sepantaran sama si Abang, deh, bapak itu. Bang Hasan dulu juga pernah ngajak teman sekolahnya ke rumah, perawakannya hampir sama. Tapi nggak dari Kalimantan.”
“Aku jadi penasaran sama guru itu,” Chelsea melahap gigitan terakhir rotinya. “Pelajaran Bahasa Inggris di kelas kami nanti yang paling terakhir.”
“Pasti diajak debat sama si Melly,” Putra meremas bungkusan roti. “Anak itu, kan katanya suka ajak debat sama semua guru, kecuali sama Bu Leni.”
Malamnya, telepon rumah Haidar berdering. Dia sudah berlarian meraih gagang telepon, hentakkan kakinya menggema. Masih dengan tangan kotor karena makan malamnya belum habis serta kunyahan tempe bacem di mulutnya. “Halo, Putra?”
“Haidar,” suara melengking itu kali ini yang menjawabnya, “sekarang Putra tidak sendirian, hehehe.”
Jantung Haidar langsung berdegup kencang mendengar suara lembut itu. Pipinya semerah sambal ulek di atas meja makan. Semoga tidak dilihat adiknya.
“Si Achel,” suara ringan lelaki itu kemudian terdengar juga, “baru bilang sekarang kalau telepon rumahnya secanggih ini.”
Haidar berdeham, berusaha menutupi suara gugupnya, “Emang kenapa dengan telepon Achel? Ada dua gagang?”
“Ada pengeras suaranya,” jawab Putra. “Nggak perlu telepon pakai gagang. Bisa telepon seharian kita sampai pagi. Nggak akan pegal lenganku, telinga juga nggak akan panas.”
Haidar berdecak, “Tapi telingaku yang malah panas. Lenganku juga, untung aja Nenek baru beli koyok di warung tetangga. Ngomong-ngomong, kalian mau ngapain menelponku? Selain ketemuan di akhir pekan untuk ngerjain PR?”
“Haidar,” panggil Chelsea – dan sudah membuat telinganya memanas. “Bagaimana dengan uang tabunganmu? Katanya kau bekerja setiap hari di bengkel.”
“Oh, itu,” pikiran Haidar langsung tertuju kepada sebuah kotak sepatu bekas yang dia sembunyikan di kolong ranjang bambu di kamarnya. “Meskipun aku tiap hari kerja di sana kecuali akhir pekan, aku hanya kerja dua jam, jadi uang sangu nggak gitu besar. Selama ujian semester kemarin aku juga nggak kerja, disuruh Om Memet buat belajar.“ Dia tersenyum, meskipun tidak terlihat oleh mereka berdua, “Tapi sepertinya, kalau aku udah kelas sebelas, uang tabunganku bisa sebesar iuran sekolah.”
Suara antusias Putra dan Chelsea terdengar.
“Abis kelulusan,” kata Putra, “traktir kami tiket pesawat ke Bali, ya.”
Haidar melotot, “Kalian beli aja sendiri! Kalian juga udah bolak-balik naik pesawat sampai bosan.”
“Oh ya, Haidar,” panggil Chelsea lagi. “Sebenarnya sekarang aku ikut menimbrung karena aku ingin berbicara tentang Mister Herman di kelas.”
“Tapi si Achel bilang tadi dia ingin seterusnya nimbrung di telepon,” sahut Putra. “Kau nggak apa-apa, kan Dar?”
Haidar mengangguk, “Nggak apa.” Dalam hatinya, dia sudah berbunga-bunga. Sampai mati pun tidak apa-apa jika Chelsea ingin menimbrung…
“Abang!!“ suara Harika melengking. “Wajah Abang kenapa merah gitu?”
Haidar tersentak. Adik bandel itu sekarang sudah di depan sofa, menatapnya dengan wajah celemotan dengan bumbu bacem campur sambal ulek.
“Dedek!!” Haidar tidak bisa menahan diri untuk meneriaki adik itu meskipun masih menempelkan gagang di telinga. “Nagapain kau disitu? Sebentar lagi Nenek mau nonton sinetronnya si Chelsea!”
“Abang, pasti telponan sama Bang Putra, ya?”
Kemudian suara cekikikan dari ambang telepon terdengar.
“Itu adiknya Haidar?” Chelsea sepertinya berbicara kepada Putra.
“Iya. Sekeras itu emang suaranya,” kata Putra. “Manggil Pak Satpam dari rumahku mungkin kedengaran.” Kemudian, dia memanggilnya, “Haidar, betulan memerah wajah kau? Kenapa, tuh?”
Wajah Haidar semakin memanas. Putra sudah tertawa cekikikan. Suara Chelsea entah kenapa tenggelam di sini, nafasnya pun tak terdengar.
“Habis makan sambal, pedes banget buatan Nenek.” Kemudian, Haidar berseru kepada Harika, gagang telepon masih menempel, “Dedek! Pergi sana! Ini giliran kau yang cuci piring. Abang lagi telponan penting sama teman-teman Abang!”
Setelah Harika meninggalkannya, masih dengan suara melengkingnya sampai sosok bocah itu menghilang dari belokan menuju halaman belakang, Haidar berdeham, merendahkan suaranya kembali, “Achel, adik aku memang seberisik itu. Maafkan. Putra, sih, udah biasa dia. Sampai mana tadi? Mister Herman, ya? Achel, katanya kau mau cerita tentang dia.”
“Oh, iya! Mister Herman,” ujar Chelsea. “Kalian betul. Gaya bicaranya Mister Herman terdengar seperti orang Inggris. Aku sampai ada yang tidak mengerti dengan gaya bahasanya, karena aku jarang mendengarkan orang Inggris berbicara.”
“Si Melly ajak debat, nggak di kelas?” tanya Putra.
“Ajak debatnya tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Dia menanyakan tentang latar belakang Mister Herman.”
“Oh ya?” Haidar dan Putra berbicara serentak.
Chelsea sepertinya mengangguk, terdengar dari gumamannya. “Katanya dia menggemari film mancanegara sejak kecil, tetapi selalu lebih tertarik dengan film yang pemainnya dari UK. Katanya juga, dia lulusan Sastra Inggris.”
“Oh gitu,” ujar Putra. “Pantas aja gaya bicaranya udah kayak bule. Mungkin Ratu Inggris pun kalah.”
“Sastra Inggris?” Wajah Haidar tapi berkerut. “Jarang kali ada guru yang lulusan selain Sarjana Pendidikan.”
“Wah, kalau itu aku tidak tahu,“ kata Chelsea. “Mister Herman hanya menjawab seperti itu. Lagipula, setelah itu Melly diam selama pelajaran. Mungkin canggung dengan gaya bicara guru itu.”
Mereka bercakap-cakap sebentar mengenai jadwal mengerjakan PR di akhir pekan. Setelah itu, sambungan telepon terputus, diakhiri dengan ucapan pamitan Chelsea yang membuat jantung Haidar masih berdegup kencang sampai dia duduk kembali di meja makannya, melahap sisa nasi dan tempe bacem dengan tangan bergetar.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA