Bab 11: Hari Pembagian Rapor (1)

“Abang,” Haidar berbicara di telepon, “dulu Abang punya teman yang namanya Herman Irawan, nggak? Dari Kalimantan?”

Setiap malam sebelum akhir pekan, jika Putra sedang tidak meneleponnya karena hal penting, Haidar akan duduk berselonjoran di sofa, membiarkan kabel gagang telepon merenggang hingga terpanjangnya, selama belum sampai putus. Berbicara dengan kakaknya dan Bapak, yang mereka berdua pasti sedang meneleponnya di bilik wartel.

“Hah? Herman Irawan? Kalimantan?” suara rendah khas Hasan terdengar di balik gagang. “Adanya dulu Ferdi Irawan, teman Abang yang pernah singgah ke rumah. Tapi dia orang situ, kok. Lahir di dukun beranak desa sebelah.”

“Oh gitu. Guru Bahasa Inggris Haidar, namanya Herman Irawan. Kayaknya sepantaran sama Abang. Ngomong bahasa Inggrisnya udah kayak bule.”

Hasan menunjukkan kekehan khas bapak mereka. Semua gen Bapak turun ke kakak pertama itu, sampai hobi bercocok-tanamnya. Satu-satunya dari Ibu mungkin hanya gen menggambarnya dan cara bicara.

Suara batukan Bapak terdengar.

“Bapak,” panggil Haidar. “Bapak sehat, kan?”

Suara gagang telepon yang sedang dipindahtangankan terdengar, kemudian suara pria terlembut sedesa itu mulai muncul, “Sehat Bapak. Tadi Bapak keselek kopi, batuknya masih sampai sekarang.”

“Emang suka gitu Bapak,” sayup-sayup suara Hasan terdengar. “Sekalinya keselek, batuknya sampai pagi. Meskipun udah minum dua liter.”

“Haidar,” panggil Bapak. “Gimana Om Memet? Sehat?”

“Sehat selalu dia,” Haidar menenggak air di gelas yang dia taruh di sebelah toples kue. “Tiga kali lipat lebih sehat kalau Putra ikut main ke bengkel dengan motornya.”

“Masih aja cinta mati sama motor itu,” Hasan berdecak.

“Bengkelmu gimana, Nak?” tanya Bapak.

“Lancar aja, kok. Nggak ganggu waktu Haidar juga. Orang cuma dua jam di sana. Naik sepeda ke rumah juga butuh setengah jam. Pernah hampir magrib sampai rumah, tapi Om Memet waktu itu udah belikan senter dinamo di sepeda, biar nggak kegelapan pas masuk hutan. Sepedanya juga nggak pernah tergencet lagi sejak dia belikan gembok, mau diparkirin di sebelah mobil jeep Bu Kepsek sekalipun.”

Kedua orang itu terkekeh. Haidar selama ini hanya banyak berbicara di depan keluarganya, terutama sejak mereka berdua tidak tinggal di rumah rotan itu lagi. Rindu berbincang-bincang seperti saat dahulu di meja makan. Sambil melahap lele balado Ibu.

“Bapak,” suara Hasan terdengar lagi, “jangan lupa kasih tahu Haidar. Yang tadi kita bicarakan itu.”

“Oh iya, hampir lupa Bapak. Gara-gara bubuk kopi masih nyangkut.” Bapak berdeham, “Haidar, kau liburan semester dua di bulan ketujuh, bukan?”

“Iya,” Haidar membaringkan kepala di gagang ujung sofa. “Kenapa emang? Masih lama juga. Baru masuk semester baru.”

“Di bulan ketujuh, rencananya kami ambil cuti. Seminggu.”

Haidar langsung beranjak. “Serius??”

“Kalau bisa tepat di hari pembagian rapor,” sahut Hasan. “Supaya kali ini Bapak langsung yang ambil rapormu. Biarkan Kakek beternak di rumah.”

Mata Haidar memanas. Sejak kematian Ibu, yang mengambil rapornya selama ini hanyalah Kakek, bahkan di saat pembagian ijazah Ebtanas SD dan SMP. Sudah lupa dia rasanya membawa orangtua sendiri ke gedung sekolah.

“Sekalian Abang mau tengok gedung sekolahmu itu,” sahut Hasan lagi. “Negeri 36, katanya cukup bagus itu di Kota Lembah. Lulusan di situ rata-rata kuliah di kampus negeri terbaik.”

“Oh gitu?” Bapak terdengar takjub dengan informasi dari anak pertamanya itu. “Nggak pernah tahu, Bapak. Padahal dulu hampir tiap hari lewat situ, makanya Bapak suruh Haidar masuk sana karena sering liat gedung sekolahnya.”

“Kebiasaan Bapak ini. Kalau punya alasan pasti aneh.”

Bapak tertawa. Termasuk Haidar juga. Mungkin inilah yang menyebabkan Ibu menikah dengan Bapak, dan tetap bersatu sampai maut memisahkan. Dan Bapak juga terus mencintai Ibu, membiarkan dia menduda sampai mati, menguli dengan anak pertamanya itu.

“Ngomong-ngomong, bicara tentang kampus,” suara Bapak mulai rendah, “Haidar, Bapak tahu ini masih awal. Tapi kau punya bayangan lulus SMU nanti mau ngapain?”

Haidar terdiam. Dia tidak pernah memikirkan hal lain di masa depannya selain untuk menaiki pesawat.

“Jangan jawab buat naik pesawat, kau,” Hasan sepertinya membaca pikirannya. “Selain itu, kau mau ngapain habis itu?”

Haidar masih terdiam. Dia bukanlah Hasan yang selalu mempunyai sejuta rencana. Bahkan jika rencananya gagal, orang itu masih menyimpan sejuta rencana lainnya.

“Mungkin,” Haidar terbata-bata, “ikut kalian.”

Suara dari ambang telepon senyap sebentar.

“Nggak boleh!!” Hasan tiba-tiba menghardiknya. “Lowongan kuli udah penuh!”

Haidar menggarukkan kepala, “Yaudah, bengkel di Om Memet aja–”

“Nggak boleh juga!” Hasan menghardiknya lagi, suaranya tetap keras meskipun dia tidak berbicara di gagang telepon. “Ibu kerja di sana dulu karena hanya lulus SMP.”

Haidar kali ini menggarukkan kepala gusar, “Terus ngapain Haidar kalau nggak boleh semua? Ikut narik sapi sama Kakek?”

“Aku ingin kau lanjut kuliah.”

Haidar tertegun. Suara Hasan merendah saat itu.

“Kakakmu,” Bapak membuka suara, “ingin kali kau kuliah. Meneruskan impian Ibu yang nggak pernah tercapai itu.” Dia terdiam – pasti sambil tersenyum. “Lagipula, kau sepertinya juga punya keinginan yang sama, bukan? Terlepas dari impian Ibu itu.”

Haidar masih terdiam. Dia belum pernah berpikir untuk menjadi seorang insinyur. Benak itu terlalu jauh baginya yang hanya ingin menaiki pesawat, meskipun semua orang melihat potensinya.

“Kata Bu Siti, wali kelas Haidar, pas pembagian rapor kemarin,” Haidar membuka suara. “Nilai IPA Haidar…cukup bagus untuk masuk IPA nanti pas kelas sebelas.” Dia terdiam. “Om Memet juga bilang Haidar berbakat seperti Ibu. Tapi…”

Haidar masih terdiam. Kedua orang itu di ambang telepon tetap menunggunya.

“Jika Haidar kuliah,” suara Haidar mulai parau, matanya sedikit memanas, “Haidar akan melangkahi Bang Hasan.”

Semua orang bergeming.

“Astaga!” kali ini suara Hasan terdengar keras, sepertinya orang itu mengambil gagang telepon. “Kau bicara seperti itu udah kayak ada yang melamarmu aja!”

Tawaan Bapak terdengar keras meskipun sedang tidak berada di telepon.

“Tapi kalau ada yang melamarmu pun aku tak peduli,“ lanjutnya. “Kalau emang takdirnya seperti itu mau gimana lagi?”

Haidar tertegun. Kakaknya suka sekali membicarakan tentang takdir. Filosofi hidup Hasan ini tapi yang mungkin membuatnya menerima kematian Ibu lebih cepat dibandingkan dirinya.

“Ya sudah, begini aja.” Suara Bapak kemudian terdengar lebih keras, mengambil alih gagang telepon kembali, “Haidar, kau nggak perlu mikirin tentang hal itu sekarang. Kalau Bapak sih, sebenarnya terserah kau, mau lanjut kuliah atau langsung kerja seperti kakakmu. Tapi, apapun keputusanmu, Bapak akan mendukungmu. Kalau kau mau kuliah pun, uang menguli kami tetap cukup, kok. Mungkin jika kau sambil kerja paruh waktu buat uang makanmu.“

“Bapak, cepetan selesaikan,” suara Hasan terdengar panik. “Uang telepon udah mulai nunggak.”

“Haidar,” lanjut Bapak, “kau bisa mutusin di saat pembagian rapor semester duamu itu di bulan ketujuh nanti, ya.”

Setelah mereka berdua berpamitan singkat, sambungan telepon terputus.

Haidar masih memegang gagang telepon, dengan posisi kaki yang masih terselonjor. Pikirannya kemana-mana. Di umur sebesar ini, sepertinya benaknya tidak cukup hanya untuk memikirkan ingin menaiki pesawat.

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 12: Impian (2)

Next
Next

Bab 10: Mister Herman (1)