Bab 12: Impian (2)

“Always…working…on different me-mechanical projects,” Danar terbata-bata membaca sebuah teks berbahasa Inggris yang tertera di buku pelajaran dengan logat daerah kentalnya, “and kee-keeping up with scien…tific research, the Wright Brothers…closely fo-followed the…the research of Ger…man aviator…”

Beberapa murid mulai menguap – setiap Danar membaca sebuah teks berbahasa Inggris. Anak bertubuh besar dengan lengan talasnya itu entah kenapa berubah menjadi keong jika dia harus membaca sebuah teks berbahasa Inggris, meskipun paragraf yang dia baca hanya berisi empat baris, paling pendek di antara semuanya.

Biasanya Haidar juga menguap. Tetapi tidak dengan tema hari ini. Tentang Wright Bersaudara, penemu pesawat itu, yang selalu dia baca kisahnya berulang, bahkan dia lebih menghafal riwayat hidup tokoh tersebut dibandingkan nama bumbu sayuran di warung tetangga. Buku dongeng tentangnya pernah dihadiahkan oleh Ibu saat dia masih berseragam putih-merah.

“All right. Thank you, Danar,” Mister Herman, duduk di meja guru, membuka suara saat Danar sudah menyelesaikan bacaannya. “Let’s see…oh, the next one will be the longest. Uhm,” guru itu medongakkan kepala, mencari seseorang, “Putra? Would you please read it for us?”

Putra yang sudah setengah tertidur dengan kepala terjulur ke belakang langsung sigap membetulkan posisi duduk. Dia menguap sebentar – sengaja dikeraskan karena bacaan Danar barusan – kemudian memegang buku pelajaran, membacakannya lantang, “Wilbur and Orville set to work trying to figure out how to design wings for flight…”

Tentu saja, suasana kelas langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Semua murid selalu terlena jika Putra yang membacakan teks berbahasa Inggris itu seperti mendengarkan pidato Presiden Amerika, kecepatannya mengalahkan motor mogenya sendiri. Dan beberapa siswi biasanya bukannya ikut membaca teks, tetapi malah menoleh ke arah Putra. Danar juga menatap mejanya, dengan mata sinis penuh keirian, terutama yang membaca setelahnya adalah anak dengan nilai seratus di setiap ujian Bahasa Inggris. Haidar selalu menyengir menyaksikan itu semua di balik meja. Sudah seperti itu sejak SMP, bedanya sekarang ditambah tatapan seram Danar.

“Thank you for those who willingly read the text today!” Dengan suara girang khasnya serta logat Keluarga Ratu Inggris itu, Mister Herman menatap murid kembali. Dia melirik jam tangan, kemudian menatap buku pelajaran. “Because class is ten minutes left, section 3b will be for homework.”

Semua murid berseru mengeluh. Selalu begitu setiap mendapatkan PR, kecuali di pelajaran PPKn-nya Bu Leni.

“This won’t be much. Please do the section 3b and we’ll discuss the answers next week, and…” suaranya merendah, “I want you to write a short text.”

Seruan keluhan para murid mulai mengeras.

“A short text about your own dream.”

Suasana kelas langsung senyap.

“Dream, aspiration, future goal, whatever you want,” lanjut Mister Herman. “You don’t need to be shy, tell me even if your dream is to marry your favorite actor.”

Semua murid tertawa.

“A short text. One hundred words. Also please collect it next week.”

Kemudian, bel berbunyi nyaring tanda pulang.

+++

Haidar dan Chelsea sudah sibuk menggurati bulpennya, menulis teks bahasa Inggris di buku tulisnya sampai hampir memenuhi satu halaman. Putra, dengan gelas kedua es susu coklatnya, masih menatap kosong ke depan, bersandar di dinding ruang bermain game. Buku tulisnya baru terisi dua kata berbahasa Inggris; aku ingin.

Haidar memberhentikan guratan bulpennya, meskipun teks dia belum selesai – isi teksnya selama ini baru menceritakan tentang pesawat jet yang gambarnya dia temui di koran Bapak dahulu. Dia menatap Putra di sebelah, “Butuh gelas ketiga kau? Bisa aku samperin Mbak Nina.”

Chelsea juga memberhentikan guratan bulpennya yang isi teksnya sudah memenuhi satu setengah halaman. Dia terkekeh, menatap Putra yang juga di sebelahnya, “Kau seperti orang dewasa yang sedang mabuk. Termenung dengan beberapa gelas di hadapan.”

Putra berdecak, menatap kedua sahabat itu bergantian, “Nggak bisa aku kalau disuruh mikirin masa depan.” Dia menenggak es susu coklat, “Papah kalau nggak suruh aku ambil IPS pun aku nggak tahu mau ke jurusan apa.”

“Putra,” panggil Chelsea, “as he said, kau bebas menulis apapun, meskipun sebatas ingin menikahi artis favoritmu. Mungkin bagimu, kau punya keinginan memiliki suatu kamera?”

Putra memperbaiki postur duduk, rautnya mulai berubah, “Kamera yang kuinginkan, ada sih.” Dia menyunggingkan senyuman, “Pengen kali aku punya kamera SLR. Udah bosan sama kamera polaroidku yang sekali jepret pasti langsung kecetak. Habisin film aja…”

Sekarang, mereka bertiga tenggelam dalam teks masing-masing. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. PR minggu ini cukup banyak, membuat Haidar menginap di rumah Putra selama akhir pekan dan mengenakan kaos tidur mahal anak itu.

Haidar telah menulis kalimat terakhir, kemudian menaruh bulpennya dengan senyuman puas. PR terakhir yang mereka kerjakan hari ini akhirnya selesai. Saat dia tidak sengaja melirik Chelsea, anak itu juga sudah selesai, menaruh bulpennya di atas buku tulis. Mata mereka bertemu. Chelsea hanya menyengir, dengan pipi yang memerah. Haidar juga ikut tersenyum, kemudian mengambil es susu coklatnya untuk menutupi wajahnya yang juga memanas.

Chelsea menggeserkan pantat, menjulurkan kepalanya ke buku tulis Putra, “Kau menulis cepat sekali, sudah seperti wartawan saja.”

“Emang gitu dia, Chel, kalau nulis,“ kata Haidar. “Kalau ada guru yang dikte, cuma dia yang berhasil nulis sepenuhnya. Dulu aku mesti contek buku tulisnya.”

“Mendingan kau menulis ingin jadi wartawan saja,” kepala Chelsea terjulur ke buku tulis Putra lebih dekat.

Putra mendorong kepala Chelsea dengan sebelah tangan, “Kepalamu malah nutupin catatanku!” Masih dengan kekehan Chelsea, dia menatap mereka berdua, “Kalian kalau sudah selesai, bicarakan tentang yang lain aja. Jangan bicarakan tentang aku!”

Haidar dan Chelsea saling tatap, kemudian menyengir menyaksikan Putra yang sudah menggurati buku tulisnya kembali dengan pipi memerah. Anak itu paling tidak suka menjadi pusat perhatian, katanya merasa seperti makhluk langka.

“Kenapa sih kita harus punya mimpi?”

Putra masih menatap buku tulis dengan guratan di tangannya. Wajahnya berubah berkerut. “Padahal mimpi itu berubah tiap waktu. Tidak pasti.”

Haidar menggarukkan kepala. Jam sembilan malam, tanpa PlayStation, bagian otak berfilsafat anak itu mulai aktif. Selalu membuat Haidar bingung dengan kata-kata puitisnya.

Chelsea tercengang, “Kau sekarang betulan seperti orang dewasa mabuk. Berbicara sedalam itu.” Putra hanya meliriknya tanpa kata-kata, kemudian menatap buku tulisnya lagi, yang kecepatan menulisnya mulai melamban.

“Aku pernah baca sebuah kutipan,” suara Chelsea sekarang juga berubah serius. “Katanya, semua mimpi kita akan menjadi kenyataan, jika kita memiliki keberanian untuk mengejarnya.

“Keberanian? Tolak ukurnya darimana tapi?” Putra mengambil tip-ex untuk menghapus satu kata yang dia salah tulis. “Diri sendiri, bukan?” Dia menghembus cairan tip-ex di atas catatannya, “Subjektif.”

“Putra, betulan kusamperin Mbak Nina,” Haidar sudah ingin mengangkat pantat. Seperti biasa semakin bingung jika membiarkan Putra lanjut berbicara seperti itu.

“Udah, lah. Duduk aja,” Putra mengayunkan tangan. “Kebanyakan minum susu nanti aku malah mencret.”

Masih bahu-membahu dengan Putra, Chelsea bersandar di dinding dan berselonjor kaki, “Kau mengingatkanku kepada Daddy kalau dia sedang mabuk. Bapak itu sambil membaca buku-buku Karl Marx. Membuatku dan Mommy juga bingung.”

“Karl Marx itu siapa?” tanya Haidar.

“Tokoh filsuf.”

Haidar spontan tertawa, “Selain majalah National Geographic, mungkin bapakmu juga bisa pinjamin Putra buku itu.”

“Heh!” Putra membanting bulpen, wajahnya semakin memerah. “Udah kubilang, jangan bicarain tentang aku! Kalian kalau mau pacaran ke teras aja sana!”

“Wajahmu tapi kalau memerah malah lucu,” Chelsea menjulurkan lidah. “Jarang sekali kau seperti itu soalnya.”

Dua tetangga itu bertikai kembali, dengan tangan Putra sambil menulis kembali. Haidar terkekeh, menenggak sisa susu coklat di gelasnya yang es batunya sudah lama mencair.

“Kalian kebanyakan bicara,” Putra menaruh bulpen. “Udah selesai! Itu juga menulis kalimat terakhir sambil malas-malasan.”

Chelsea sigap mengambil catatan Putra.

“Achel!!” Putra mengangkat pantatnya untuk mengejar Chelsea yang sudah berlarian ke ujung ruangan. “Balikin catatanku!” Saat dia berlarian melewati Haidar, Haidar langsung mengambil lengannya, menahannya.

“Haidar!“ Putra melotot. “Sejak kapan kau jadi nggak bela aku??”

“Haidar, kau ingin membacanya juga?” Chelsea berdiri di ujung ruangan. “Kubacakan yang lantang, ya.”

“Astaga, kalian ini!” Putra berusaha melepaskan cengkraman Haidar, tetapi kekuatan Haidar tetap jauh lebih besar meskipun badannya lebih kecil darinya. “Sejak kapan kalian jadi bersengkongkol?”

“Bacakan, Chel, sebelum dia lepas,“ Haidar juga menyengir menahan geli di perut. “Untung aja lengan dia nggak sebesar lengan Danar.”

Chelsea menatap catatan, “Kubacakan kalimat terakhir, ya–”

“Jangan yang terakhir!!” seru Putra.

“Reaksimu membuatku semakin penasaran. Terutama kau bilang kau menulisnya sambil malas-malasan.”

“Achel, kuberikan kau dua gelas es susu coklat di kunjunganmu selanjutnya–”

“I never think about my future…”

Putra sekarang terjongkok di sebelah Haidar, membenamkan wajahnya yang semerah kepiting rebus.

“The only idea,” Chelsea kembali membaca lantang kalimat Putra, “that I have in my mind about the future, is that–”

Bacaan Chelsea terhenti. Wajahnya berkerut.

Putra merintih, “Mati lah, aku.”

Haidar yang masih mencengkram lengan Putra menoleh ke Chelsea.

Chelsea tersenyum dengan tatapan haru, menyelesaikan kalimat terakhir Putra, “is that photojournalism might be an interesting job.”

+++

+++

Catatan

Kutipan teks Bahasa Inggris pada Bab 12, paragraf 1 dan 5, sumber:

History.com Editors, https://www.history.com/topics/inventions/wright-brothers

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 13: Luka (1)

Next
Next

Bab 11: Hari Pembagian Rapor (1)