Bab 13: Luka (1)

Hari ini, bengkel Om Memet kedatangan sebuah mobil sedan dari keluarga PNS yang harus direparasi secepatnya supaya bisa dipakai kembali untuk urusan pekerjaan. Karena itu, seluruh orang bengkel diminta untuk meninggalkan aktivitas mereka dan berkutat dengan mobil berplat merah itu sampai selesai, bahkan jika butuh waktu sampai pagi buta. Termasuk Haidar, yang harusnya dia biasanya menghabiskan pekerjaannya dua jam saja, jadinya sudah empat jam pun masih berada di sini.

Langit mulai bewarna jingga menjelang gelap. Kicauan burung sesekali menggema dari cakrawala. Haidar sedang berdiri di luar, istirahat untuk menghirup udara segar. Saat dia memasuki bengkel kembali, lantunan lagu Linkin Park menenggelamkan suara dunia. Bengkel ini hanya menyetel lagu rock mancanegara jika menghadapi kasus yang cukup serius.

Haidar menghampiri segerombolan pria berkaos oli, berbicara heboh sambil berkutat dengan mobil sedan yang keempat bannya sedang dilepas. Katanya bocor, entah apa yang dilakukan keluarga PNS ini.

“Katanya dibawa ke hutan mobilnya,” suara seorang pekerja sayup-sayup terdengar di antara suara menggelegar sang penyanyi Chester. “Terus mobilnya nyungsep ke rawa-rawa. Minta tarik sampe manggil sekampung.”

“Lagian mobil macam ini kenapa dibawa ke hutan,” seorang pekerja lainnya yang sedang menambal satu ban menyahut. Saat dia melihat Haidar, dia berbicara, “Haidar, kau bisa bantu si Dadang ngecek mesin mobil di depan?”

Haidar mengangguk, kemudian berjalan mendekati Dadang yang wajahnya sudah menghitam karena berkutat dengan mesin sepanjang waktu.

“Haidar,” Dadang menoleh, “selama ini bongkar mesin motor aja? Yang ngerjain mesin mobil biar Akang aja. Tapi bantu kasih alat yang Akang minta, ya.”

Haidar mengangguk, “Butuh apa sekarang, Kang?”

“Kunci L. Bentukan bintang. 22 milimeter.”

Haidar berjalan ke sebuah tas koper besar terbuka yang tergeletak di sebelah mobil. Semua peralatan khusus untuk mobil sedan berserakan di sana. Sebagai orang awam, mencari alat yang dimaksud Dadang mungkin seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Namun, Haidar tangkas mencari-cari benda itu di tumpukan kunci lainnya, hingga menemukan kunci L yang dimaksud Dadang, dengan bentuk dan ukuran yang sama.

Haidar cepat memberinya ke Dadang, yang langsung diambil olehnya. Berkutat dengan mesin, tanpa suara. Pria muda ini yang juga hanya lulus SMP memang sangat lamban jika disuruh menghitung uang kembalian Bundo, tetapi otaknya secepat Putra membaca teks bahasa Inggris jika disuruh mencari kunci yang tepat.

Dadang terbatuk-batuk saat asap keluar dari mesin. Dia memberikan kunci L itu kepada Haidar tanpa menoleh, “Kunci nepel. Sepuluh kali dua belas.”

Haidar berjalan kembali ke tas koper, sekarang mencari kunci yang dimaksud Dadang. Setelah mendapatkannya, dia bergegas menuju Dadang, memberikannya.

Haidar tersenyum sepanjang kegiatan. Ini mungkin kegiatan bengkel terserunya, meskipun dia pernah juga membantu pekerja lain seperti menambal ban mobil jeep. Kegiatan bersama Dadang ini sudah seperti membantu seorang dokter di meja operasi.

“Dulu Kak Indah teh yang berkutat ama mesin,” Dadang membuka suara sambil memutar baut. “Akang belajar hafal kunci dari dia.”

Kegiatan mengoperasi mobil raksasa itu akhirnya selesai saat toa mesjid terakhir berkumandang dari kejauhan, dengan langit yang sudah gelap dan menunjukkan rembulan penuhnya. Haidar duduk di sebuah meja lipat di sebelah mobil berplat merah itu yang sekarang dengan empat ban utuhnya. Menunggu pemiliknya menjemputnya besok pagi.

Semua pekerja sekarang berkutat kembali dengan aktivitas masing-masing, entah mereparasi atau memodifikasi motor. Haidar mengelap keringat dengan handuk, waktu kerjanya sudah selesai. Karena sudah terlalu malam, Om Memet bersedia mengantarnya, bersama dengan dua pekerja lain yang akan membawa sepeda ontelnya. Meskipun sepedanya sudah punya lampu dinamo, bapak itu tidak tega membiarkannya menelusuri jalanan setapak di dalam hutan gelap sendirian. Takut diculik genduruwo.

Sambil menunggu Om Memet, Haidar duduk mengistirahatkan kakinya yang bolak-balik mengantarkan alat perkakas untuk Dadang. Di pelajaran Olahraga untuk mengelilingi lapangan sepak bola saja tidak seletih ini. Sambil menikmati lantunan Iwan Fals, kalau sudah menjelang malam lagu yang disetel adalah lagu-lagu beralunan akustik.

Seorang anak dengan seragam putih-merah dan ransel Power Ranger di punggungnya berlari menghampiri Haidar.

“Ki?” panggil Haidar. “Belum pulang kau jam segini?”

Pengki hanya menggeleng, mengambil tempat duduk di sebelah. Meja bundar memisahkan mereka. Sejak tadi siang kunjungan, entah kenapa anak itu terdiam seribu bahasa. Tidak ada teka-teki khasnya yang dia lontarkan, yang biasanya menemaninya membengkel. Bahkan dia hanya berkutat di ruang kantor pamannya, sibuk dengan buku mewarnai.

“Kau diam begini karena Putra nggak datang?” tanya Haidar. “Nggak bisa main ke sini dia hari ini. Disuruh nemenin ibunya bawa belanjaan.”

“Nggak,” Pengki menggeleng, rautnya masih cemberut sejak tadi siang.

“Nunggu Pakde juga kau buat anterin pulang?”

Pengki mengangguk.

“Tapi nanti Pakde singgah ke rumah Abang dulu.”

“Nggak apa.” Kemudian suara Pengki melirih, “Nggak pulang aku juga nggak apa.”

Haidar bergeming. Wajahnya berkerut.

“Kenapa kau nggak mau pulang?” Haidar mengambil botol air mineral dari dalam tas.

Pengki menggoyangkan kakinya yang tergantung, “Malas sama rumah.”

“Emangnya rumah kenapa? Rumah aja nggak malas sama kau.”

Pengki hanya menatap Haidar tanpa kata. Kemudian, dia memalingkan wajah, dengan suara sepelan mungkin – tapi tetap terdengar olehnya, “Nggak ada yang perhatian sama aku di rumah.”

Haidar berkerut. Sisi Pengki lain di balik raut cerianya pertama kali tampak.

“Bukannya bapak kau suka jemput kau?” tanya Haidar. “Kalau kau kesorean main ke sini.”

“Itu dulu. Sebelum Adek lahir sebulan yang lalu.”

Informasi dari Om Memet sejauh ini, Pengki adalah anak tunggal. Sama seperti Putra dan Chelsea. Tetapi sejak sebulan yang lalu status itu sudah tidak berlaku lagi.

“Sekarang Bapak yang malah nyuruh Pakde ngantar aku ke rumah,” lanjutnya, masih memalingkan wajah.

Haidar hanya terdiam. Kesedihan anak itu pernah dia alami. Delapan tahun yang lalu. Menangis meraung-raung di rumah bidan sambil menyumpahi adiknya yang masih merah, sambil didekap Hasan yang juga menitihkan air mata. Bayi yang telah merenggut nyawa Ibu.

“Ibu sama bapak,” akhirnya Haidar membuka suara, “pasti tetap perhatian sama kau.”

“Buktinya apa??” seru Pengki, menoleh. Dengan pipi yang sekarang basah.

Haidar terdiam. Membiarkan anak ini lanjut bersuara.

“Semenjak Adek lahir,” rintihnya, sesekali terisak, “Ibuk yang suruh aku rapiin kamar sendiri, cuci piring makan, siram bunga, setrika baju, sampe aku nggak punya waktu lagi buat main!” Dia mengusap pipinya, “Aku benci Adek.”

Aku benci Dedek!! Suara Haidar yang menggelegar berteriak di atas bukit delapan tahun yang lalu terngiang di kepala. Dengan gemuruh hujan deras.

“Pengki,” Haidar menggeser ransel di depan kakinya, “butuh pelukan kau?”

Pengki langsung beranjak menghampirinya. Kemudian dia membenamkan wajahnya di dekapan Haidar, membasahi kaos bengkelnya yang penuh bercakan oli dan bau asap.

“Ki,” Haidar mengusap kepala berambut cepak itu – sama sepertinya tapi punya Pengki berikal, “Abang pas seumur kau, Abang udah kerjain itu semua, bahkan sebelum adik Abang lahir. Mungkin Ibuk ingin kau mandiri, supaya kau jadi kakak yang hebat di depan adik kau.” Dia menatap mobil sedan di hadapan. “Tapi Ibuk tetap biarin kau main. Buktinya kau tetap bisa ke bengkel Pakde. Sampai semalam ini.”

Pengki masih menangis.

“Ki,” kali ini suara Haidar ikutan lirih, “meskipun nggak kelihatan, Ibuk dan Bapak tetap sayang kau.”

Pengki masih menangis, tetapi isakannya mulai reda.

“Rawat bayi masih merah emang makan waktu. Mungkin kalau adikmu udah lima bulan, Ibuk perhatian lagi sama kau. Adik Abang aja yang baru tujuh bulan udah suka main ekor cicak sendirian. Untung aja nggak sampai dimasukin ke mulut sama dia.”

Pengki menengadahkan kepala, pipinya basah dan matanya memerah. Dia berkerut.

“Adik Pengki,” katanya, “nanti juga main ekor cicak sendirian kalau udah tujuh bulan?”

Haidar tertawa, “Mana Abang tahu. Yang jelas, kalau adikmu udah mulai gedean dikit, dia nggak butuh perhatian lebih banyak lagi ketimbang sekarang.” Dia mengusap kepala anak itu cepat, “Tunggu aja, Ki. Nyumpahin boleh. Tapi…jangan selamanya, ya. Tetap sayangi adikmu, seperti kau sayang Bapak-Ibuk.”

Pengki mengangguk, menarik badannya. Dia mengelap wajah basahnya dengan tangan. “Pengki…akan sayang Adek.”

“Yaudah, sana cuci muka dulu.” Haidar berdecak, melihat kaosnya yang sudah membentuk Pulau Bali, “Sampai ingusmu ngotori kaos Abang. Untung aja ini kaos bengkel, tai cicak yang nempel pun Abang tak peduli.”

Pengki tertawa – untuk pertama kalinya di hari ini. Dia kemudian berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Haidar sendirian, yang menatap mobil sedan kembali. Dengan pikiran tentang perasaan atas kehadiran adiknya itu. Sebuah luka yang sebenarnya masih hanya dia tambal saja selama ini.

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 14: Mister Herman (2)

Next
Next

Bab 12: Impian (2)