Bab 14: Mister Herman (2)
Putra adalah anak yang jarang sakit seperti Haidar, tetapi jika dia jatuh sakit, alasannya selalu aneh, meskipun betulan terjadi. Seaneh alasan Bapak menyuruh Haidar masuk Negeri 36.
Sebelum Haidar berangkat ke sekolah, telepon di pagi hari berdering. Kakek yang mengangkatnya, telepon sepagi itu biasanya dari Pak Kades. Tetapi Kakek langsung memanggil Haidar, katanya telepon dari Putra. Saat dia mengambilnya, suara lirih anak itu terdengar, mengatakannya bahwa dia demam tinggi karena semalam diajak orangtuanya ke sebuah acara.
Haidar seperti biasa hanya mengangguk, meskipun heran karena suara Putra yang entah kenapa kedengarannya berbeda – hampir saja dia kira Pak Joko yang meneleponnya. Dari dia mengenal anak ini saat masih memakai seragam putih biru dongker, Putra akan jatuh sakit setelah dia dari sebuah acara yang orangtuanya kunjungi. Entah apa yang terjadi di acara tersebut, yang jelas katanya acara tersebut lebih ramai dibandingkan Pasar Pinggir. Membuat badannya meriang setelah itu.
Tanpa kehadiran Putra, bangkunya terasa sepi, meskipun anak itu tidak secerewet para siswi yang sedang berkumpul di kelas, atau seberisik Danar yang sedang mengumpul dengan siswa lainnya. Dan kelompok tersebut langsung bubar saat Mister Herman memasuki kelas.
Setelah penyambutan guru, Mister Herman seperti biasa mengabsen. “Aditama Putra…”
“Sakit,” Haidar yang menjawab.
Mister Herman menatapnya, juga beberapa murid lainnya. Haidar menelan ludah, baru kali ini ditatap seperti itu dari bangku mejanya, biasanya jika dia berada di ambang pintu karena telat kelas Bu Leni. Dan lebih anehnya lagi, Danar pun menatap bangkunya.
Haidar berdeham, berbicara kepada Mister Herman dengan bahasa Inggris yang patah-patah – dianjurkan berbicara bahasa asing itu di kelas dia, meskipun tidak wajib, “His mother called Bu Siti. He told me.” Dalam hati, dia merasa bahasa Inggrisnya cukup lancar. Pasti berkat dua sahabat berdarah campur itu, bahasa asing ini perlahan juga menjadi bahasa daerahnya.
“Thank you for the information, Haidar,” Mister Herman memberikan senyuman ramah khasnya. Kemudian, dia melanjutkan panggilan nama murid lainnya.
Suasana kelas Mister Herman entah kenapa sepi, mungkin karena tidak ada bacaan teks bahasa Inggris Putra hari ini, yang biasanya menjadi ikonik setiap pelajaran ini. Setiap siswi di kelas selalu menunggu gaya bicara pidato Presiden Amerika itu.
Suasana kelas lengang saat Mister Herman menyuruh para murid untuk mengisi sebuah kolom soal di buku pelajaran. Beberapa mulai bergerombol, mengerjakan bersama. Tanpa Putra, Haidar mengerjakannya sendiri, tetapi dia sudah biasa sendiri seperti ini.
“Dar.”
Haidar berkerut. Suara ketus itu entah kenapa tumben sekali memanggilnya di kelas. Dia mendongakkan kepala, menatap Danar yang sudah menghampirinya. Kepalanya menutupi lampu LED kelas.
“Kau pasti jago bahasa Inggris karena si cina,” dia menunjuk bangku kosong sebelah kiri Haidar. “Aku mau kerjain soal ini bersama.”
Haidar berdecak, “Duduk sana. Ngomong-ngomong, namanya Putra. Uyutnya aja yang dari Cina.”
Danar menarik kursi kosong Putra, kemudian meletakkan buku pelajarannya. Lengan talas itu yang seragamnya selalu terlipat sampai atas sikut hampir memenuhi sebagian meja Haidar. Dia berusaha menahan geli di perut, membayangkan jika Danar dan Putra sebangku dan tertukar meja. Bukan saling sikut lagi, tapi saling tinju seperti atlet wrestler yang dia pernah lihat di televisi.
“Nomor tiga,” Danar menunjuk soal dengan bulpen, “carinya dimana?”
“Itu,” Haidar menjulurkan kepala, melihat buku pelajaran Danar, “cari di paragraf ketiga, baris kelima.”
“Oh,” Danar membalikkan halaman, membaca teks yang dimaksud. Kemudian berkutat kembali dengan guratan bulpennya.
Haidar tercengang. Dia pikir anak preman ini hanya akan menjiplak bukunya saja. Tetapi, dia ingin berusaha mencari jawabannya sendiri. Sisi Danar yang tidak pernah Haidar ketahui.
“Si Putra,” kata Danar, mata menatap buku pelajaran, “tumben kali sakit. Anak itu kalau kutonjok biasanya tetap bisa berdiri.”
Haidar menoleh. Untuk pertama kalinya juga, Danar menyebut nama anak itu, meski tidak di depan wajahnya.
Setelah mereka mengerjakan soal bersama sampai terisi semua, Danar beranjak, kembali ke bangkunya yang berada di sudut ruangan lainnya. Sambil berjalan ke bangkunya, dia menoleh cepat ke Haidar, “Salam buat dia dariku.”
+++
Setelah bel pulang berdering, Haidar membantu Lili membawa buku tulis murid-murid, sambil berjalan di belakang Bu Nana, guru Matematika.
“Haidar,” kata Lili, “makasih ya, udah mau bantuin.”
Haidar hanya mengangguk – ketidakhadiran Putra entah kenapa membuat murid lainnya berbicara kepadanya. Masih menenteng sebagian buku tulis, dia berbicara, “Mana ada yang bisa bawa tiga puluh buku tulis sekaligus. Kecuali Ade Rai.”
Lili terkekeh. “Kau tidak buru-buru takut ketinggalan angkot, kan?”
“Aku naik sepeda. Pulang malam pun tak apa.”
Mereka bertemu dengan sebuah belokan, kemudian Bu Nana membuka sebuah pintu. Ruang guru.
Sebagai ketua kelas, Lili sudah bolak-balik masuk ruangan tak terjamah ini. Dia pun merangkap sebagai anggota OSIS. Tetapi ini pertama kalinya Haidar memasuki ruang sakral ini, dia pikir sampai lulus pun dia tidak akan memasukinya. Meja-meja kayu yang berjajaran di tengah ruangan dan depan dinding menyesakkan ruangan. Beberapa guru saling mengobrol, sambil melahap nasi bungkus atau makanan di kotak makan mereka. Di sudut ruangan, Pak Kodir dan Bu Leni terlihat berbincang santai. Tidak ada raut misterius dan raut galak dari wajah mereka. Seperti ini ternyata para guru di belakang murid. Layaknya manusia biasa.
“Liliati,” panggil Bu Nana, “tolong taruh buku catatannya di sudut ruangan sebelah sana.” Guru itu sambil menunjuk meja yang dimaksud.
“Baik, Bu.” Lili menoleh, “Ayo, Haidar.”
Haidar sekarang mengikuti punggung Lili yang murid itu lihai melewati para guru, sesekali menyapa mereka. Mereka menaruh buku tulis di sebuah meja yang terletak di sebelah pintu. Haidar melirik sekilas, pintu yang terbuka itu menunjukkan ruangan yang sama. Ruang guru lainnya.
“Haidar,” Lili mulai merapikan tumpukan buku, “Bu Nana biasanya menginginkan buku tulis anak-anak tertata sesuai absen. Kau boleh pulang. Aku bisa kerjakan sendiri.”
Haidar menggeleng, “Biar aku bantu. Berikan buku absen.”
Lili tersenyum. Dia memberikan buku absen yang langsung diambil Haidar.
“Dari bawah ya,” tangan Lili mulai menggeletakkan beberapa buku tulis.
“Dari Zara berarti,” Haidar membuka buku absen. Dia mulai membacakan nama anak kelasnya, “Zaratunnisa.”
Mereka mulai sibuk berkutat dengan pekerjaan, tidak menghiraukan beberapa guru yang melewati mereka di belakang, termasuk saat Bu Leni dan Pak Kodir melewatinya.
“Impian para murid menarik semua.”
Telinga Haidar melebar saat dia menangkap suara ramah dengan logat Kalimantan itu. Mister Herman sedang berada di ruang guru lainnya.
Suara tawaan Pak Gilang, guru Olahraga, terdengar. Sepertinya sedang berbicara dengan Mister Herman. Guru Olahraga di akhir kepala dua itu sebelumnya yang memecahkan rekor sebagai guru termuda di sekolah, yang akhirnya posisinya bergeser oleh Mister Herman.
“Beneran ada yang menulis ingin nikah sama artis,” Mister Herman kembali berbicara. “Ingin menikah dengan Ricky Martin.”
“Kayaknya setiap wanita ingin kali menikah dengan artis itu,” suara berat Pak Gilang terdengar. “Bahkan ibuku juga berbunga-bunga tiap nonton dia di televisi. Padahal udah bercucu gitu pula.”
Mereka berdua tertawa. Sepertinya mereka terdengar akrab, terlebih katanya Pak Gilang juga orang rantau yang berasal dari Nusa Tenggara.
“Haidar,” panggilan Lili memecah lamunannya. “Giliran siapa lagi sekarang?”
“Oh,” Haidar membaca buku absen, “Danar Sunandar.”
Lili berdecak, “Paling susah cari buku tulis Danar.” Dia kemudian berkutat dengan tumpukan buku tulis kembali.
“Man,” suara Pak Gilang terdengar lagi. “Masih cari beasiswa itu?”
Telinga Haidar seketika lebih melebar.
“Masih, lah Bang,” jawab Mister Herman, sambil terdengar suara halaman catatan yang dibuka. “Tapi aku tetap kumpulin duit dulu buat Ibu.”
“Bukannya kata kau ibu kau ada yang nemenin? Kakak kau itu yang juga di Kalimantan?”
“Iya. Tapi tetap aja nggak mencukupi. Lagipula…”
Para guru itu terdiam sebentar. Hanya menyisakan suara catatan.
“Selama ibuku masih sakit,” Mister Herman kembali berbicara, “aku tidak akan bisa meninggalkan negeri ini.”
+++
Haidar dan Chelsea, duduk berlesehan di atas lantai berlapis karpet, tercengang sepanjang waktu. Punggung mereka tersandar di dinding, menatap Putra dengan kain basah di atas kepalanya yang sedang membolak-balikkan buku pelajaran Haidar dan membuka punyanya, menandai bagian yang menjadi PR, di atas kasur besar yang bisa memuat mereka bertiga. Berbicara dengan suara ringannya seperti biasa. Tetapi kali ini terdengar berat.
“Aku,” Chelsea yang pertama membuka suara, “betulan lagi bersama Putra kan, sekarang?”
Haidar menggarukkan kepala, “Pantas aja tadi pagi kukira Pak Joko yang menelponku.”
Putra melirik mereka berdua, berdecak. Kemudian, membalikkan halaman kembali, kali ini tanpa suara.
Seusai dari kantor guru tadi siang, Chelsea sudah berdiri di ambang pintu, menunggunya. Dia mengetahui keberadaan Haidar dari anak-anak dengan jadwal piket mereka di kelas. Chelsea menawarkannya untuk menjenguk Putra, meninggalkan sepedanya dan nanti diantarkan Tante Dinda dengan motor ke sekolah sepulangnya.
Mereka menaiki angkot. Tidak seperti Putra jaman SMP yang dimana sebuah mobil selalu menunggunya sepulang sekolah, Chelsea dibiarkan pulang sendiri, menghafal nomor angkot dari Pak Joko, meskipun katanya ibunya selalu berada di rumah. Dia bilang, dari SD di Amerika pun dia selalu naik kendaraan umum ke sekolah sendiri. Dia juga yang membayarkan uang angkot untuk Haidar, karena ajakan ini adalah sebuah undangan. Haidar tidak perlu menggantinya.
Sebelum mereka mengunjungi rumah Putra, Chelsea menawarkan apakah Haidar ingin menelepon Om Memet terlebih dahulu. Haidar mengambil tawaran itu – terdengar ide bagus. Mendengar Putra sakit, bapak kepala bengkel itu sampai meliburkan jadwal bengkelnya hari ini.
Mereka kemudian mendatangi rumah Putra, dengan sekeranjang buah-buahan dari Tante Dinda, meskipun yang makan nanti adalah ibunya Putra, bukan anaknya yang sedang sakit. Dan benak Haidar sepanjang memasuki rumah besar Putra memikirkan perilaku Chelsea. Mempersiapkan uang jajan lebih untuk membayar angkotnya, serta menyuruhnya menelepon Om Memet, sikap itu mengingatkannya kepada Hasan. Penuh rencana dan persiapan, sisi Chelsea lainnya yang Haidar baru temui. Hal itu membuatnya semakin berbunga-bunga, apalagi dibandingkan dia yang tidak pernah mempersiapkan apapun. Belajar Ebtanas saja semalaman suntuk. Untung lulus.
“Mommy cerita,” suara Chelsea memecah lamunan Haidar. “Kata Tante Ning, suaramu pecah, jadi dokter bilang kau demam karena stres.”
Putra berdeham – katanya tenggorokannya juga sakit sepanjang hari. Suara ringan yang tapi rendah itu terdengar kembali, “Ditambah acara pernikahan anak teman kantor bapakku. Makin stres aku dibuatnya.” Tangannya masih sibuk menandai halaman buku pelajaran.
Chelsea tertawa cekikikan, “Tadi di angkot, Haidar cerita, kalau kau memang selalu sakit setiap mendatangi acara orangtuamu yang ramainya melebihi Pasar Pinggir.”
“Dia pernah kuajak ke acara pernikahan tetangga desa sebelah,” sahut Haidar. “Padahal itu udah ramai bagiku. Yang diundang sekampung. Tapi kata Putra, acara orangtuanya tiga kali lipat lebih ramai dari itu.”
“Putra, nanti bagaimana kalau kau mendatangi acara pernikahanmu sendiri?”
Sekarang Putra melototinya, sambil merapikan kain basah yang hampir terjatuh dari kepalanya. Stamina tubuhnya yang buruk saat ini tidak hanya membuat anak itu tidak bisa berbicara banyak, tetapi juga melemparkan kain basah itu kepada Chelsea. Membiarkan anak tetangga itu tertawa menggelegar, di kamar yang dindingnya penuh tempelan foto cetakan kamera polaroidnya. Haidar pernah membantunya menempel beberapa foto itu dahulu.
“Tra,” Haidar teringat sesuatu, “ada salam dari Danar.“
Chelsea langsung terdiam. Putra juga memberhentikan gerakan tangannya. Mereka menatap Haidar dengan mata membesar.
“Anak berlengan besar itu??” seru Chelsea. “Menitipkan salam kepada Putra?”
“Aku juga nggak percaya,” Haidar terkekeh. “Tapi betulan tadi dia bilang kayak gitu. Dia juga duduk di bangku Putra, minta bantuin ngerjain soal bahasa Inggris bersamaku. Entah kerasukan apa.”
Putra menatap buku pelajaran, tangannya bergerak kembali. Dia berdecak keras, “Demi Tuhan, nggak percaya aku.”
Setelah Putra selesai menandai buku-buku pelajaran, sisa kunjungan mereka habiskan untuk mendengar ocehan Chelsea tentang anak-anak kelasnya. Karena sakit, Putra tidak dibolehkan bermain PlayStation, jadi dia hanya berbaring, menumpu satu kaki di atas lutut, menatap langit-langit kamar, sambil memeras kain basahnya sendiri dari wadah di atas rak sebelah ranjangnya, menaruhnya di kepala. Haidar mendengarkan ocehan anak di sebelahnya itu, dengan hati yang entah kenapa girang. Mendengarkan Chelsea tanpa henti sampai mati pun tak apa.
“Melly,” kata Chelsea, “entah kenapa selalu menatapku sengit setiap pelajaran Fisika dan Bahasa Inggris. Padahal aku tidak melakukan apa-apa kepadanya.”
“Sejak upacara pertama kan, dia memang terkenal pintar,” jawab Putra. “Nilai Ebtanas SMP-nya masuk ke dalam sepuluh nilai tertinggi di Kota.”
“Oh begitu…tapi kenapa selalu menatapku sinis hanya di dua pelajaran itu?”
“Karena di dua pelajaran itu ada yang bisa ngalahin nilainya. Yaitu kau.”
“Ya terus, kenapa? Aku kan tidak bisa berbuat apa-apa. Bahasa Inggris memanglah bahasa ibuku, dan dari aku balita aku sudah diberikan buku-buku Teori Relativitas-nya Einstein sama Mommy.”
Putra menggarukkan kepala gusar, hampir menjatuhkan kain basah, “Nggak ibu, nggak anak, sama aja. Si Charles juga penikmat buku-buku Karl Marx. Keluarga macam apa kalian semua?”
Chelsea tertawa ngakak. Haidar juga terkekeh, terlebih geli mendengarkan gaya bicara Putra dengan suara barunya itu. Dengan suara melengkingnya, anak itu terdengar seperti anak lelaki biasa yang berisik. Tetapi sekarang, dengan gaya bicara yang sama, anak itu malah seperti kakak mereka. Toh, Putra juga paling tua di antara mereka bertiga.
Berbicara mengenai pelajaran Bahasa Inggris, Haidar teringat sesuatu.
“Aku,” dia akhirnya membuka suara, “ada cerita.”
Putra dan Chelsea sekarang menoleh.
“Aku tadi ke kantor guru, bantu Lili,” lanjut Haidar. “Nggak sengaja nguping pembicaraan Mister Herman dan Pak Gilang, meskipun di balik pintu, sih.”
“Sejak kapan kau suka nguping orang?” Putra memeras kain basah. “Udah kayak adik kau aja.”
Haidar berdecak tak acuh. “Ada pembicaraan mereka…yang menarik perhatianku.”
Dua orang itu terdiam.
Haidar berusaha mengutarakan benak yang terngiang sepanjang perjalanan di angkot. “Katanya, Mister Herman lagi cari beasiswa. Tapi mau kumpulin duit dulu buat ibunya yang sedang sakit. Terus…” Dia menghela nafas, “Katanya, selama ibunya masih sakit, dia nggak akan bisa meninggalkan negeri ini.”
Suasana kamar Putra lengang.
“Beasiswa? Meninggalkan negeri ini?” Chelsea bergumam. Kemudian dia tercengang, “Mister Herman mau study abroad?”
Haidar berkerut. Bagaimana bahasa Inggrisnya tidak bagus jika dia selalu mendengar kata-kata asing dari dua orang ini?
“Kuliah keluar negeri, Dar,” Putra yang menjawab. “Biasanya yang sudah lulus S1. Pemerintah suka kasih beasiswa buat yang mau lanjut kuliahnya ke luar negeri.”
Chelsea terbelalak, “Putra? Sejak kapan kau sekarang punya sejuta informasi?”
Putra melirik Chelsea, pipinya memerah. Dia memutar badan, membelakangi mereka semua, sambil masih memegang kain basah di kepala. “Aku baca koran Papah. Korannya Pak Joko isinya foto badan mutilasi semua. Buat aku mual.”
Kedua tetangga itu mulai bertikai kembali, meskipun sekarang Chelsea yang mendominasi, meledeknya sejak kapan otaknya dipakai untuk hal seperti itu. Dan Putra tetap membelakangi mereka sambil sesekali mengayunkan tangan, tak acuh.
Seperti biasa, Haidar hanya menatap pertikaian kedua tetangga itu. Tetapi benaknya memikirkan tentang Mister Herman. Tentang seorang guru…yang memiliki sebuah impian juga.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA