Bab 15: Hari Pembagian Rapor (2)
Semua mata di gedung sekolah tertuju kepada Keluarga Harun sejak mereka memasuki gerbang sekolah SMU Negeri 36.
Pertama-tama, tentu saja karena kehadiran Hasan. Selain Putra yang digosipkan para ibu tetangga sebagai menantu idaman – terlebih sejak Putra bermain ke rumah dengan suara barunya – Hasan juga menempati posisi itu, sejak dia menginjak remaja. Entah gen ketampanan darimana yang dimiliki kakak ini. Bapak setidaknya pernah bercerita bahwa Kakek dulu juga setampan Hasan di masa mudanya, terlebih Kakek dulu ikut menjadi pejuang melawan penjajah asing saat itu, tinggal selama menahun di sebuah hutan belantara penuh pohon beringin. Tinggi badan Hasan yang memang di atas rata-rata orang desa, bahkan melebihi Bapak, rambutnya yang selalu dibelah samping persis seperti Bapak dan Kakek juga, serta kulit cokelat yang seperti menunjukkan bahwa badan orang ini tetap bertahan di atas permukaan matahari sekalipun. Ditambah sejak menguli, badan kakak ini semakin tegap seperti tentara. Tinggal memakai seragam hijau dan membawa senapan, mungkin dia bisa menyelundup di area kemiliteran. Naik pesawat jet sekalian, supaya membuat adik pertamanya iri.
Dan tetap saja ketampanan kakak itu tidak berkurang, meskipun dia sejak lima menit yang lalu ternganga menatap gedung sekolah bertingkat ini. Menganga bersama Bapak di sebelahnya, dan Harika di sebelah lainnya yang tangannya digenggam olehnya. Untung saja adik bandel itu tidak ikut ternganga, yang ada dia hanya bersenandung, sambil mengamati lalu-lalang orang. Adik itu entah kenapa hanya tenang jika sambil bersenandung seperti ini, sejak dia memakai popok kain.
“Kalian berdua!” seru Haidar. “Mau sampai pagi menganga di sini? Memalukan nama keluarga aja.”
Hasan akhirnya berkutik, “Betulan ini gedung sekolah? Kali aja aku nyasar di asrama haji. Bapak, proyek pembangunan asrama haji empat bulan yang lalu juga nggak sebesar ini, kan?” Jawaban Bapak hanya kekehan khasnya.
Lebih banyak mata menatap kehadiran mereka saat mereka sudah berjalan menuju lorong, terutama saat mereka menaiki tangga sampai menuju lantai ketiga.
“BANG HAIDAR JELEK!!” Harika melolong, kepalanya dia julurkan ke bawah. Bapak menatapnya ngeri – seperti biasa setiap anak-anaknya tidak terkontrol. Hasan menahan badannya supaya tidak terjungkal, untung saja badan anak itu kecil, hanya kepalanya yang menongol dari tepi koridor yang pemandangannya tertuju ke halaman tengah sekolah.
“Dedek!!” Haidar tidak bisa menahan diri untuk menghardik anak itu yang masih berseragam merah-putih, dengan celana ketat di atas lutut yang panjangnya melebihi rok. “Suara kau terdengar sampai kantin belakang–”
“BANG HASAN GANTENG! BANG HAIDAR JELEEEKK!!”
Hasan tertawa ngakak, masih menahan badan anak itu sambil jongkok. “Dedek! Dikira lagi di atas bukit kau!”
Setiap orang yang melewatinya, pasti mata mereka otomatis tertuju kepada keluarga itu terlebih dahulu. Dan Bapak selalu membalasnya dengan senyuman, berharap keluarga ini tidak diusir dari gedung sekolah.
Mereka akhirnya sampai di pintu kelas Haidar. Harika dan Hasan menunggu di luar, lagipula katanya mereka ingin menaiki lantai empat, lantai teratas. Bapak mempersilahkan mereka, menyuruhnya bertemu di depan pintu kelas. Haidar mencak-mencak memohon mereka berdua untuk tidak melolong bersama seperti di bukit tertinggi Desa.
Para bangku di ruang kelas sudah digeser ke dinding, menyisakan dua meja dan tiga kursi. Bu Siti duduk di sebuah kursi, dua kursi di hadapannya untuk para orangtua dan murid.
“Bapaknya Haidar?” Bu Siti, setelah menjabat tangan Bapak, menyapanya dengan suara lembutnya. “Semester kemarin yang mengambil rapor Haidar beda soalnya.”
Bapak terkekeh, “Yang ngambil rapornya kemarin kakeknya.” Bu Siti hanya ber-ooh pelan, sambil masih tersenyum ramah. Wali kelas tertenang di gedung sekolah ini, yang sayangnya tetap berada di kelas X-3.
Kemudian, mereka membicarakan tentang nilai rapor Haidar.
“Nilaimu memang selalu bagus, Nak. Nggak pernah merah dari dulu,” Bapak membaca buku rapor Haidar. “Setidaknya mata Bapak segar, terlebih setelah ambil rapor adikmu itu.”
Wajah Haidar memanas dipuji seperti itu di depan guru. Di sisi lain, dia berusaha untuk mengontrol tawanya. Rapor adiknya sejak masuk SD sudah semerah seragam roknya. Hanya pelajaran Kesenian dan Olahraga yang tidak merah. Tapi untung saja anak itu tetap naik kelas.
“Di kelas juga, Haidar rajin mengerjakan PR,” lanjut Bu Siti. “Nggak pernah dihukum karena nggak mengerjakannya. Juga selalu menaati peraturan tata cara berpakaian.”
“Dari SMP juga dia memang rajin ngerjain PR,” celetuk Bapak. “Sama temannya itu…Putra, kan ya?”
“Iya, Pak. Si Putra.”
“Putra?” Bu Siti bersuara. “Oh, Aditama Putra? Barusan tadi dia ke sini sama ibunya.”
“Iya, dia, Bu,” kata Haidar. “Gimana saya nggak rajin? Sebelum kena marah guru, saya kena marah dia dulu karena menunda pekerjaan.”
Kemudian, ruangan berubah lengang. Pembicaraan mulai ke arah serius.
“Saya…” Haidar mengusap tengkuk, “sebenarnya ingin masuk IPA. Tapi kalau gagal pun tak apa.”
“Haidar,” Bu Siti sekarang yang memegang rapor. “Nilaimu memang biasa saja. Tetapi jika Ibu lihat dari semester sebelumnya, rata-rata nilaimu naik. Sebenarnya kamu bisa masuk kemana saja, IPA, IPS…” dia terdiam sebentar, “kecuali Bahasa dan Budaya, sih. Nilai pelajaran Bahasa kamu tidak sebagus mata pelajaran lainnya.”
Mata Haidar membesar. Jika dia bisa masuk IPS, dia bisa sebangku dengan Putra kembali. Pikiran itu membuat hatinya senang. Apa mungkin dia masuk IPS saja…
Aku ingin kau melanjutkan kuliah. Suara Hasan di telepon hampir enam bulan yang lalu terngiang.
Kakakmu…ingin kali kau kuliah. Meneruskan impian Ibu yang nggak pernah tercapai itu.
Suara Bapak dan Bu Siti yang sedang berbicara mulai terdengar seperti dengungan di telinga Haidar.
Pisah kelas sama aku udah kayak pisah negara aja.
Dengan bakatmu ini, bukan sepeda lagi yang bisa kau bongkar. Tapi badan pesawat.
Lagipula, kau sepertinya juga punya keinginan yang sama, bukan? Terlepas dari impian Ibu itu.
“Haidar?”
Haidar tersentak. Bapak sudah menatapnya, memanggilnya sampai tiga kali. Bu Siti juga.
“Kau,” lanjut Bapak, “sudah punya bayangan ingin ngapain setelah lulus?”
Pertanyaan itu. Keputusan yang harus Haidar buat di bulan ketujuh, Bapak memintanya di telepon enam bulan yang lalu. Sebenarnya, jawaban pertanyaan itu sudah muncul sejak dia membantu reparasi mobil sedan PNS tersebut. Saking serunya memberikan alat-alat perkakas kepada Dadang layaknya asisten dokter yang sedang di meja operasi, dia sampai tidak bisa tidur dibuatnya. Seseru itu ternyata membengkel. Seseru itu ternyata…mempelajari tentang mesin.
“Bapak,” panggil Haidar, “kalau aku kuliah, apa aku tetap bisa bengkel mesin seperti Kang Dadang dengan alat-alatnya?”
Bapak terdiam sejenak. Kemudian tersenyum. “Kata ibumu, jika kau kuliah, bukan bengkel mesin lagi yang kau kerjakan. Tapi merancangnya. Dengan tanganmu sendiri.”
+++
“Senang sekali saya bisa berkenalan dengan Pak Harun,” kata Tante Dinda. “Katanya, Bapak bekerja di luar kota, ya?”
“Iya, Bu,” Bapak mengangguk. “Di Provinsi Barat. Ratusan kilometer dari sini.”
Sekarang, Keluarga Harun sedang berada di kantin bersama ibunya Chelsea yang kebetulan masih di sekolah. Lolongan Harika dari lantai empat telah menarik perhatian Putra yang masih berada di gedung sekolah bersama Chelsea dan Tante Dinda. Ibunya Putra sudah lama meninggalkan anaknya karena urusan pekerjaan.
Para orangtua dan Hasan – entah kenapa kakak itu sok sekali ikut pembicaraan orang dewasa – berada di meja terpisah dengan empat anak sekolah, melahap cimol masing-masing. Kehadiran Bapak membuat anak-anaknya mendapatkan uang jajan, mungkin inilah pertama kalinya Haidar jajan di kantin.
“Padahal kami tadi di kantin, loh,” Chelsea melahap cimol tanpa sambal, hanya dengan kecap dan tusukan. “Terus kami dengar suara adikmu. Putra langsung bilang kayaknya Haidar lagi datang sama satu keluarga.”
Haidar menusuk cimol, “Udah kuduga, suaranya pasti sampai ke kantin.”
“Bang Putra,” Harika memanggil anak remaja di sebelahnya, “Abang kok pake garpu sih, makannya? Kak Achel aja tetap pake tusukan.”
Putra masih mengunyah cimol di mulut. Kemudian, “Abang nggak biasa makan pakai tusukan.”
“Oh gitu,” Harika mencocoli bulatan cimol dengan telunjuknya, kemudian melahapnya dengan tangan yang sudah berlumuran saos sambal, serta mulutnya juga.
Chelsea terkekeh melihat perilaku Harika. Dia menoleh, “Beda sekali dia dengan kau. Bahkan kakakmu juga tetap setenang kau.”
“Kakakku setenang aku??” Haidar melirik Hasan. “Kau belum lihat aja kalau dia berantem.”
Kemudian, Harika sibuk berbicara mengenai teman-teman kelasnya kepada Putra. Anak itu hanya mendengarkan, sambil melahap cimol bersaosnya juga, sesekali membalas pembicaraannya. Padahal adik itu tidak pernah berbicara tentang sekolah kepada dua kakaknya, pasti hanya bermain di luar sambil menangkap tikus sungai. Untung saja tidak pernah dibawa pulang.
Di sisi lain, keadaan Putra yang sedang terdistraksi membuat Haidar ingin membicarakan sesuatu kepada Chelsea.
“Setelah SMU,” Haidar berusaha memelankan suaranya, “kau udah ada bayangan mau ngapain?”
“Kuliah,” Chelsea menyuapi cimol. “Meskipun aku belum tahu mau kuliah dimana.”
“Oh gitu. Berarti memang udah mantap melanjutkan pendidikan?”
“Jika aku ingin mengejar impianku, tentu saja aku harus kuliah.”
Perkataan Chelsea masuk akal. Bekerja di lembaga penelitian astronomi pasti membutuhkan orang dengan latar belakang pendidikan yang tinggi. Lagipula, orangtuanya akademisi semua, tentu saja akan menular ke anaknya.
“Bagaimana denganmu?” tanya Chelsea. “Kau sudah tahu mau ngapain setelah lulus?”
“Awalnya aku nggak tahu. Tapi sekarang, aku udah tahu,” Haidar memberhentikan gerakan tusukan cimol. Dia menatap Chelsea, “Aku…akan nerusin impian Ibu. Jadi insinyur. Kuliah, meski juga belum tahu dimana.”
Mata Chelsea seketika membesar. Ditatap dengan keseluruhan iris coklatnya yang tampak, wajah Haidar seketika memanas.
Chelsea kemudian melirik Putra, “Katanya, Putra juga akan melanjutkan kuliah. Meskipun dia tidak tahu mau ambil apa. Lagi-lagi, bapaknya yang menyuruhnya.”
Putra masih mengobrol dengan adik itu. Sesekali mereka tertawa, dengan suara adiknya yang mendominasi.
“Jadi,“ kata Haidar, “kita semua akan kuliah?”
“Kita semua akan kuliah. Meraih impian masing-masing.”
Putra memberikan tisu kepada Harika. Adik itu telah menghabiskan cimolnya, mengelap tangan dan mulut.
“Haidar,” Gerakan tusukan Chelsea berhenti. “Kau masih ingat kutipan itu? Semua mimpi akan menjadi kenyataan jika punya keberanian untuk meraihnya.” Seluruh wajahnya memerah. “Dari semua orang yang pernah kutemui…kau…adalah orang paling berani.”
Haidar menatap kembali anak perempuan di sebelahnya, benaknya tetapi sedang menatap ke sebuah tempat. Sebuah tempat tanpa batasan…sebercak sinar matahari yang menyorot wajahnya langsung menutupi pandangannya. Sambil memikirkan bahwa selama ini dia hanyalah ingin menaiki pesawat. Menggambar pesawat jet berbadan buras semata-mata supaya nilai pelajaran Keseniannya tidak merah meskipun guru selalu bosan dengan karyanya.
Tetapi hari ini, terlebih semenjak jawaban Bapak di ruang kelas tadi, ada keinginan lain yang terbersit di benaknya selain naik kendaraan penerbangan raksasa itu. Haidar ingin menaiki pesawat. Dan merancang badannya.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA