Bab 16: Kelas XI-IPA-1
Kecuali Chelsea yang sekarang duduk di bangku sebelah kanan, Haidar kebanyakan tidak mengenali wajah-wajah para murid yang berada di kelas ini. Hampir semua siswa-siswi di sini berasal dari kelas Chelsea terdahulu.
Tetapi, Haidar juga tidak akan menyangka bahwa, pertama, dia akan sekelas dengan Melly, siswi berambut lurus sebahu dan berkacamata itu yang duduk tepat di depan meja guru, dengan wajah yang terkenal juteknya, sejutek Bu Leni.
Kedua, Wisnu. Satu-satunya anak geng motor Danar yang berada di kelas IPA.
Wisnu mengambil bangku tepat di depannya. Dia menoleh, mengangguk, “Achel. Haidar.” Kemudian dia berkerut, memanggil Achel, “Si Haidar, emang suka nganga begini, ya?”
Chelsea tertawa cekikikan, tangannya sedang mengeluarkan alat tulis dari kotak pensil yang ukurannya hanya setengah dari kotak pensil Putra, lebih minimalis, sambil melirik Haidar yang gerakan mengelap wajahnya dengan handuk terhenti dengan rahang yang masih terbuka.
“Haidar,” panggil Chelsea. “Meskipun Wisnu wakil ketua geng motor Danar, tetapi dia jago sekali, loh, di pelajaran Biologi. Katanya kedua orangtuanya bekerja di rumah sakit.”
Wisnu tidak menghiraukan seorang anak yang mengambil bangku di sebelahnya. “Kupikir si Putra juga akan masuk IPA.”
“Dia masuk IPS. Di kelas IPS-2.”
Wisnu spontan menutup mulut dengan punggung tangan untuk menahan tawanya. Kemudian, dia berdeham, “Itu kelasnya Danar juga. Semoga mereka berdua nggak ngelakuin hal aneh tanpa pantauan kita.”
Kebanyakan guru juga tidak ada yang ganti, termasuk guru pelajaran Fisika seperti Pak Kodir. Yang ganti hanyalah guru Matematika, Bu Candra. Karena Bu Nana mengajar di kelas IPS.
Tetapi, di pelajaran kedua, Fisika, Haidar tidak menyangka bahwa kelas pagi jam sembilan itu berubah menjadi forum diskusi antar-ilmuwan.
“Tidak bisa,” balas Chelsea. “Kau tidak bisa menyebut plastisin sebagai sebuah benda yang statis.”
“Plastisin, kan, juga seperti meja,” bantah Melly, kepalanya sudah berputar seratus delapan puluh derajad ke belakang. “Plastisin juga hanya akan bergerak jika ada gaya yang mempengaruhinya.”
“Tetapi bentuk sebuah plastisin juga berpengaruh, Melly,” wajah Chelsea juga terlipat sejak perdebatan dimulai sepuluh menit yang lalu. “Tidak dengan sebuah meja. Materi suatu benda juga berpengaruh, tapi saat ini kita sedang membahas gaya yang mempengaruhi dari luar.”
Dua puluh delapan kepala menatap kedua siswi itu secara bergantian. Termasuk Haidar sepanjang pelajaran Fisika. Pak Kodir hanya bersandar di sebelah papan tulis, tangan terlipat, membiarkan dua siswi itu bertikai begitu saja.
Wisnu menjulurkan kepala ke meja Haidar, berbisik, “Sejak Achel masuk kelas X-1 emang udah seperti ini tiap pelajaran Fisika.” Dia melirik bapak guru dengan decakan, “Guru itu sih, menikmati aja perdebatan macam begini. Katanya mengingatkan kenangannya sebagai asdos di jaman muda.”
Haidar mengusap wajah. Lebih baik dia sekelas dengan Danar dahulu yang selalu ditatap sinis setiap pelajaran Bahasa Inggris, atau mendengarkan perdebatan Dadang dan pekerja lainnya jika mereka sedang membongkar mesin sambil bertikai tentang ukuran kunci inggris yang tepat untuk membuka sebuah mur.
Haidar akhirnya bisa bernafas lega di jam istirahat pertama. Putra berdiri di ambang pintu kelasnya, menjemput mereka berdua. Wajahnya entah kenapa sekarang jauh lebih datar sejak memasuki tahun ajaran baru.
“Putra.” Chelsea menggigit roti jajanannya di kantin. “Siapa yang sekarang sebangku denganmu?”
Putra menggigit rotinya, mengunyahnya sebentar. Kemudian, “Danar.”
Spontan Haidar dan Chelsea tercengang. Kunyahan bolu di mulut Haidar hampir saja terjatuh.
Putra tiba-tiba tersenyum, “Kalian harus tahu apa yang terjadi sebelumnya.”
Haidar ingin menaikkan pantatnya, “Kalian tidak saling wrestler, kan? Bahkan Wisnu juga khawatir.”
“Wisnu sekelas dengan kalian? Aku sebelumnya udah ngambil bangku di belakang, dekat jendela. Seperti biasa, di sebelah kiri. Anak itu tiba-tiba nyamperin, ingin duduk di tempatku. Tukaran meja.”
Chelsea menyengir, “Haidar juga ingin sekali duduk di bangku belakang dekat jendela. Sebelah kiri juga. Aku, sih, tidak masalah.” Dia bergumam, “Yang penting nggak di sebelah Melly.”
“Kau ajak debat lagi sama anak itu?”
“Dia yang duluan. Padahal hari ini aku mau diam aja. Ya sudah, bagaimana lanjutannya tentang Danar?”
Putra meremas bungkusan roti yang telah kosong. “Aku malas debat dengannya. Tenggorokanku kadang masih sakit sejak pecah suara. Jadi aku tetap duduk di meja sebelah kanan. Pelajaran pertama adalah Sejarah. Bagian mendikte. Dia…”
Putra terkekeh. Haidar dan Chelsea ikut menyengir.
“Tentu saja kusikut badannya. Hampir membolongi tulang rusuknya,” lanjutnya. “Dan di akhir pelajaran, Danar baru aja nulis seperempat, anak itu katanya paling lemah kalau dengar guru mendikte. Dia…hampir aja bertekuk lutut ingin lihat catatanku. Ku kasih, lah, dengan syarat aku akan duduk di sebelah kiri. Sampai lulus.”
Haidar dan Chelsea tertawa, membayangkan wajah sangar Danar yang pasti berkerut seperti keong di kelas tersebut. Terlebih mereka telah menyaksikan kecepatan menulis Putra.
“Lama-lama kau direkrut pula di geng motornya,” sahut Haidar. “Tapi tidak dengan tonjokan lagi. Dengan bertekuk lutut.”
“Direkrut sih, tidak.” Putra menenggak botol air. “Tapi dia nawarin kalau kapan-kapan aku bisa singgah ke warung Mbok Juminten di belakang sekolah.”
Haidar dan Chelsea tercengang kembali. Haidar sampai memegang rahangnya, sejak masuk kelas dia sudah menganga setiap jam. Gen bapak satu ini terlalu kuat mengalir di darah anak-anaknya.
“Dan kalian berdua,” Putra menunjuk mereka, “diajak juga.”
+++
Di hari kedua tahun ajaran baru, mereka bertiga menerima tawaran Danar. Bersama Wisnu, mereka menelusuri gedung sekolah bagian belakang – Haidar belum pernah menginjakkan kaki di sini. Pangkalan ojek dan bajaj berderet menyesakkan trotoar, serta berbagai macam warteg yang menghiasi seberang jalanan. Pohon-pohon tua menghiasi jalanan sekolah belakang dengan ranting besarnya yang menjuntai.
Mereka duduk di sebuah warteg kecil yang hanya memuat lima belas orang. Dengan televisi kecil di sudut ruangan, suaranya dibiarkan menggema, tidak ada yang menontonnya, termasuk Mbok Juminten yang sedang berada di balik meja penuh lemari kaca jajanan, memotong sesuatu. Kipas kecil berdiri di sebelah rak kaca, satu-satunya sumber angin selain angin alam yang masuk dari pintu yang dibiarkan terbuka.
“Sikutnya ngalahin kapak punya bapakku!!” mata Danar hampir keluar. “Amit-amit kalau aku sampai tertukar bangku lagi sama dia.”
Haidar, patah-patah menggigit bolunya, duduk di hadapan tujuh orang familiar. Chelsea dan Putra duduk di sisinya, mengunyah jajanan masing-masing, sebuah roti berselai sus buatan Mbok Juminten sendiri.
Danar, duduk tepat di hadapannya, masih gusar menunjuk Putra – tetapi wajahnya tidak sesangar dulu. “Untung aja ada dia di kelasku. Apalagi kata Pak Beni, semua materi ujiannya keluar hanya dari mulutnya. Ngapain aku keluarin duit buat beli buku pelajaran Sejarah? Mendingan uangnya kupakai buat modif knalpot!”
Para anak buah Danar terkekeh sambil memukul pundaknya, menenangkan bos bertangan talas itu. Haidar juga tidak bisa menahan diri untuk menyengir. Benaknya tidak pernah membayangkan kalau suatu saat ketua geng motor ini sejinak itu di depan Putra. Sepertinya dia kerasukan penunggu pohon-pohon tua di sekitar.
“Kalian,” Chelsea membuka suara, menunjuk dirinya, “nggak apa-apa ajak aku juga?”
“Halah!” Wisnu mengayunkan tangan, duduk di sebelah Danar. “Muka kau memang lebih jinak dari Melly, tapi kalau debat Fisika lebih sangar dari Danar. Tiap di pelajaran Pak Kodir bulu kudukku pasti berdiri.”
“Untung aja aku masuk IPS,” kata Asep, anak geng motor lainnya. “Aku dulu minta izin ke toilet karena dengerin mereka berdua. Betulan terpipis-pipis aku. Mendingan disuruh nelusuri kuburan kota sama si Ansar di malam Jumat kliwon.”
Suara anak geng motor itu menggelegar di dalam warung kecil itu. Haidar dan kedua sahabatnya juga terkekeh melihat grup sangar ini.
“Dar,” panggil Danar. “Kata Putra, kau kerja di bengkel Om Memet, ya? Bapakku kadang juga suka bengkel motor di situ.”
Kunyahan bolu Haidar terhenti. “Kau kenal Om Memet?”
“Kau kerja sampingan di bengkel?” tanya Wisnu.
“Kata Om Memet, dua jam aja dia singgah. Tiap pulang sekolah,” Danar yang menjawab. “Tapi katanya anak ini udah sejago Kang Dadang. Pernah bantu operasi mobil sedan Pak Slamet yang nyungsep di rawa-rawa itu.”
Semua orang langsung menatap Haidar dengan gumaman penuh takjub. Haidar hanya mengusap tengkuk, terutama kali ini hampir tujuh pasang bola mata tersebut hampir keluar menatapnya.
Putra menyahut, “Bilang aja kalian mau modif motor sama dia.”
Danar mengangkat pantat lagi. “Sejak kapan kau bisa baca pikiran kayak Deddy Corbuzier??”
“Emang pesulap itu baca pikiran orang? Bukannya dia hanya membengkokkan sendok? Selalu gitu, suka nggak masuk akal kau kalau ngumpat.”
Anak geng motor itu menertawakan ketuanya sendiri. Mata Danar semakin membesar, dan Putra hanya terkekeh sambil santai menghabiskan sisa roti. Tetapi lengan bertalas itu tidak melayang seperti dahulu.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA