Bab 17: Table Manner
“Bulan depan si Achel ulang tahun,” kata Putra dari ambang telepon. “Orangtuanya ngajak kita semua ke sebuah restoran steak.”
Setelah bertelepon dengan Bapak dan Hasan, kedua tetangga itu langsung meneleponnya. Di malam dan waktu seperti ini, pasti teleponnya mengenai hal darurat. Buat Haidar, meskipun hanyalah pemberitahuan acara ulang tahun yang baru sebulan kemudian, tentu saja sudah darurat sekali, selama hal itu mengenai Chelsea.
“Restoran steak itu, katanya yang merekomendasikan bapakmu, Putra,” suara melengking Chelsea terdengar. “Katanya kalian sering ke sana.”
“Minimal setahun sekali. Setiap merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Selalu jadi nyamuk aku tiap ke sana. Dan pasti dilarang bawa kamera atau gameboy.”
“Astaga, Putra,” Chelsea jarang sekali mengumpat dengan bahasa Indonesia, membuat perut Haidar geli mendengarnya. “Itu kan, ulang tahun pernikahan orangtuamu. Masa kau tidak pernah menunjukkan rasa gembiramu bahwa mereka sampai saat ini masih bersatu?”
Putra hanya terkekeh, diiringi dengan sorakan geram Chelsea.
“Dar,” panggil Putra kemudian. “Ini bakal jadi pengalaman pertamamu makan steak, kan?”
“Steak…” Haidar bergumam, pernah mendengar kata asing itu di televisi. “Yang seonggok daging gepeng itu? Nggak dimakan pake nasi? Jangankan steak, aku makan daging cuma setahun sekali. Itu juga kalau Pak Kades bagi-bagi daging kurbannya. Sapi ternak Kakek sejauh ini nggak boleh dimakan.”
“Makanya, aku beritahu kau sebulan dari sekarang. Mengenai undangan ulang tahun Chelsea.”
“Memangnya kenapa?”
“Besok, setelah kita ngerjain PR, kita akan makan siang di meja makanku. Hanya bertiga.” Putra terdiam, sepertinya anak itu sambil menyengir, “Dar, kali ini kuajari kau makan pakai pisau.”
+++
Saat mendengarkan perkataan Putra semalam bahwa dia kali ini akan makan dengan pisau, bayangan Haidar adalah pisau kapak pencacah daging milik Kakek, atau pisau dengan bilah sebesar lengan orang dewasa punya Chelsea. Sepanjang perjalanan di belakang jok motor Putra, dia menahan pipis. Padahal mendengarkan cerita seram Kakek saja tidak membuatnya semerinding ini.
Saat mengerjakan PR di ruang bermain Putra pun, dua tetangga itu sampai memberhentikan gerakan bulpennya, menatap Haidar yang setiap lima menit menenggak es susu coklat. Sampai gelas kosong itu tetap dia angkat, tapi menyadari bahwa isinya sudah habis.
“Dar,” panggil Putra. “Mau kusamperin Mbak Nina biar dia buat es susu coklat lagi?”
Chelsea menatap buku tulisnya, “Padahal Haidar lebih cepat mengerjakan PR Matematika ini ketimbang aku.”
Haidar hanya menggeleng. Rasanya dia ingin pipis lagi – padahal sudah tiga kali dia pipis di rumah Putra. Matanya seketika memanas.
“Haidar?” Chelsea memegang pundaknya – membuat jantung Haidar spontan berdegup kencang. “Kau tidak apa-apa?”
“Achel,” panggil Putra. “Dia panik.”
Chelsea menatap Putra, kemudian menoleh kembali, “Apa?”
“Tapi kali ini aku nggak tahu alasannya kenapa. Soal Matematika kalian sesusah itu? Kudengar Bu Candra nggak galak juga.”
“Nggak, kok.” Chelsea menjulurkan kepala untuk melihat catatan Haidar. Dia terkesiap, “Bahkan dia udah hampir selesai di soal yang paling susah!”
“Haidar,” Putra sudah setengah jongkok, “betulan kusamperin Mbak Nina.”
Haidar cepat menggeleng. Kebanyakan minum susu juga membuatnya sakit perut. Dia menatap para sahabatnya itu yang juga menatapnya heran. Chelsea masih memegang pundaknya.
Haidar berdeham, menundukkan kepala, “Pisaunya…sebesar apa?”
Kedua orang itu tentu saja bergeming.
Ruang bermain yang senyap langsung pecah oleh tawa menggelegar Putra. Haidar mengusap wajahnya yang memanas, dan masih dengan mata yang berair,
dia melemparkan bulpennya ke anak itu. Putra tidak mempedulikan lemparannya, masih tertawa terbahak-bahak dengan wajahnya yang juga memerah.
“Putra!!“ Chelsea juga ingin melempar bulpennya. “Jangan mengejek!”
Haidar menimpali, “Aku sudah biasa diejek dia, kok.” Lagian dia juga sering mengejeknya terutama jika anak itu kehabisan nafas saat mendaki bukit.
Chelsea tidak mempedulikan Putra yang masih tertawa. “Pisaunya pisau makan. Hanya sebesar sendok-garpu, kok. Tidak begitu tajam juga, maksudku selama kau juga tidak mencoba memotong tanganmu sendiri.”
Haidar hanya ber-ooh, membayangkan pisau sekecil sendok-garpu. Nenek juga punya pisau sekecil itu untuk mengupas bawang. Tetap saja dia tidak punya bayangan jika pisau itu dipakai untuk makan.
Saat makan siang, Haidar berhadapan dengan sebuah daging bersaus dan kentang goreng. Serta garpu dan pisau di sisi piring, dengan bilah yang jauh lebih pendek dibandingkan pisau pengupas bawang Nenek. Putra duduk di sisi lebar meja, hanya satu kursi yang tertera di sana. Haidar duduk di sebelah kanan, Chelsea di sebelah kiri.
Putra menepuk gagang kursi, “Jarang-jarang aku duduk di singgasana bapak tua ini.”
“Astaga,” Chelsea terbelalak. “Kau bahkan memanggil bapakmu seperti itu?”
Sebelum Haidar mengambil alat makan itu, dia melirik dua sahabatnya. Garpu di tangan kiri, pisau di tangan kanan.
“Pisau ini, kalau di restoran steak, biasanya jauh lebih bergerigi,” Chelsea mengacungkan pisau. “Tetapi fungsinya tetap sama, kok.” Dia menoleh ke Putra, “Kupikir kalau orang kidal akan memegangnya terbalik.”
“Halah,” Putra sudah memotong sigap dagingnya. “Bapakku nggak kenal pengecualian. Orang nggak punya tangan aja tetap dia suruh makan pakai garpu.”
“Bapakmu betulan seketat itu kalau urusan table manner?? Kupikir Mommy hanya melebih-lebihkan saja saat menceritakan tentang dia kepadaku.”
Dua orang itu sudah mengayunkan senjata tajam itu ke dagingnya sambil masih berbicara. Haidar menatap piringnya kembali. Selama main dan menginap di rumah Putra, biasanya di meja makan, dia memanglah hanya makan bersama Putra dan ibunya. Kata anak itu, bapaknya dia usir dari meja makan, supaya tidak sakit mata melihat cara makan Haidar.
Haidar juga jarang sekali bertemu dengan bapaknya, pernah sesekali. Tetapi bapaknya Putra yang berasal dari Singapura itu sejauh ini tetap menyapanya, bahkan jika dia memanggilnya dengan sebutan om. Bapaknya Chelsea saja harus dia panggil dengan nama aslinya, Charles, meskipun di lidahnya sangat tidak biasa.
Haidar mulai menaruh pisau di atas daging, menggerakkannya cepat. Dentingan piring yang bertemu pisau melengking di ruang makan besar itu. Putra dan Chelsea langsung menyerngit.
Haidar menelan ludah, “Maaf.”
“Santai aja motongnya,” ujar Putra. “Itu daging biasa. Bukan ayam ternak Kakek.”
“Kau memotongnya tidak perlu sekuat saat kau memegang pisau dapur,” sahut Chelsea.
“Oh, gitu.” Entah kenapa ajaran Chelsea membuat Haidar lebih paham. Dia menggerakkan pisaunya kembali, kali ini lebih pelan. Daging itu akhirnya terpotong, tanpa pisaunya harus mendenting kembali di piring. Dia menyunggingkan senyuman penuh kepuasan, juga kedua sahabatnya. Saat dia ingin melahap potongan daging itu dengan garpunya, dia menaruh pisau di piring, mengambil garpu dengan tangan kanannya–
“Heh!!” Putra langsung menghardiknya – Haidar hampir saja melompat. “Siapa yang suruh garpu itu berpindahtangan??”
“Kau terlihat jauh lebih galak dibandingkan Bu Leni.” Chelsea mengunyah makanan di mulut.
Haidar menggarukkan kepala, “Mana ada orang yang makan pakai dua tangan.”
“Ada! Faktamu nggak valid.”
Chelsea tertawa ngakak, hampir saja daging di mulutnya keluar, tetapi Putra juga langsung menghardiknya.
Haidar patah-patah menukar posisi garpu ke tangan kirinya kembali. Dengan tangan yang jarang dia pakai, bahkan untuk membengkel sekalipun, dia berusaha menusuk daging dengan garpu di tangan kirinya itu. Otot tangan itu yang jarang dipakai bergetar, berusaha mengangkat garpu ke arah mulutnya–
“Lagi pada ngumpul, ya?”
Haidar hampir melemparkan garpu dengan potongan dagingnya itu saat suara ibu paruh baya itu muncul.
“Tante Ning!” sapa Chelsea. “Tumben sudah di rumah jam segini.”
Ibunya Putra, Tante Ning, berdiri tidak jauh dari ujung meja makan. Selalu memakai setelan jas dengan tas impor kulit hewan asli. Rambutnya juga selalu disanggul, menunjukkan bahwa ibu itu tetap berperilaku layaknya wanita Indonesia meskipun sudah belasan tahun menikah dengan pria berkewarganegaraan asing, yang membawa sebagian kulturnya ke rumah ini.
“Mamah,” Putra menaruh alat makannya – bahkan disusun sedemikian mungkin karena ada aturannya juga. “Jangan lama-lama di sini. Nanti Haidar betulan ingin makan steak pakai tangan aja di restoran Om Patrick.”
Tante Ning terkekeh – ibu ini jauh lebih lembut ketimbang anaknya. “Ya sudah, Tante pergi, ya. Putra, jangan galak sama Haidar, dong.”
“Tahu, nih, Tante,” Chelsea menunjuk Putra dengan pisau – yang langsung dipelototi Putra karena memainkan alat makan. “Sejak kelas sebelas, Putra jadi
semakin galak. Ketua geng motor di kelasnya saja sampai bertekuk lutut di depannya.”
“Achel! Nggak usah dibahas bagian itu! Udah, Mamah pergi aja.”
Chelsea berdecak, “Kau durhaka sekali.” Dan Tante Ning tentu saja hanya terkekeh dengan raut wajah ramahnya.
Kadang Haidar sering membayangkan kedua ibu sahabatnya berkumpul dengan ibunya yang hobi mengayunkan kunci inggris. Mungkin mereka berdua tetap sabar menghadapi Ibu, sesabar anak-anaknya mengajari Haidar memakai pisau sampai benar meskipun dia sering mengeluh ingin makan steak dengan tangan saja sambil membawa nasi dari rumah.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA