Bab 18: Tatapan Sinis Melly

Sejak UTS, Haidar merasa tatapan Melly ke meja mereka setiap pelajaran Bahasa Inggris dan Fisika semakin sinis, bahkan mengalahkan tatapan seram Danar dahulu. Ditambah lagi sejak Haidar dan kedua sahabatnya sering menghabiskan waktu istirahat mereka bersama geng Danar di warung Mbok Juminten yang kadang membuat mereka hampir telat masuk kelas. Untung keberadaan Chelsea membuat mereka diingatkan memasuki kelas tepat waktu, terutama jika pelajaran selanjutnya adalah praktikum di laboratorium. Telat semenit seramnya mengalahkan telat di kelas Bu Leni.

Jadi, Chelsea pun ikut disapa oleh Danar dan lainnya jika mereka berpapasan di koridor sekolah. Wisnu juga sering berkelompok bersama mereka jika mereka disuruh mengerjakan suatu soal di kelas. Dikelilingi oleh para anak lelaki yang disegani di gedung sekolah mungkin membuat Melly yang hanya berkelompok dengan tiga anak perempuan semakin naik pitam.

Namun, puncak kemarahannya terjadi saat mereka sedang praktikum di Laboratorium Biologi, pelajaran terakhir.

“Wisnu,” Melly mengenakan jaslabnya di depan pintu labor sebelum memasuki ruangan. “Segrup, yuk sama aku. Aku kurang seorang aja.”

Wisnu, terkenal paling pintar di pelajaran ini, menggeleng cepat. Dengan jaslab yang sudah dikenakan, dia menunjuk ke belakang dimana Haidar dan Chelsea berada, “Aku udah segrup sama Haidar dan Achel. Dan akan terus segrup sampai lulus.”

Mendengarkan hal itu, Melly langsung membesarkan mata. Wajah jutek itu bahkan membuat bulu kuduk Haidar berdiri saat melihatnya. Nenek jika sedang marah sambil menjewer Harika tidak seseram itu.

Setelah berdiri selama dua jam, berkutat dengan menyayat kodok, akhirnya murid IPA-1 itu bisa bernafas lega saat bel berbunyi tanda pulang menyaring. Semua orang mulai keluar sambil melepas jaslab mereka.

“Aku paling jijik kalau disuruh menyayat binatang,” Chelsea mengusap tengkuk, wajahnya masih terlipat sejak awal praktikum.

“Bukannya kata kau bapak kau kerja di hutan?” Wisnu menaruh jaslabnya sebagai tudung kepala.

“Iya, tapi keberanian dia terhadap binatang tidak turun ke aku.”

Haidar menghela nafas, “Aku mending nyayat kodok daripada nyayat steak di ultah Achel waktu itu.”

“Chelsea!!”

Mereka bertiga memberhentikan langkah. Suara perempuan jutek itu untuk pertama kalinya berteriak. Suaranya menggelegar di koridor, bersamaan dengan sayup-sayup langkahan kaki anak-anak yang bergegas pulang.

Mereka bertiga serentak memutar badan. Melly, masih mengenakan jaslab, berdiri sepuluh meter dari hadapan mereka. Wajahnya memerah. Dua anak di sisinya memegang lengannya, berbicara untuk menenangkannya.

“Kubilang, Melly,” kata Sonya, teman sebangkunya. “Nggak usah dihiraukan.“

“Iya, Melly,” Rina, di sebelah lainnya, menambahkan. “Anak buah dia banyak, loh. Anak laki semua lagi.”

“Halah! Kalian pikir aku takut sama dayang-dayang dia??” Melly menjawab teman-temannya dengan seruan. “Cuma menang otot doang. Ujian pasti selalu remedial!”

Haidar berkerut. Chelsea selama ini anak baik yang juga ramah kepada murid lainnya, termasuk Melly meski suka diajak debat. Tetapi amarah Melly menunjukkan seolah-olah Chelsea telah menyakiti lubuk hatinya.

Chelsea berjalan menghampiri Melly, dengan raut yang semakin bertekuk, “Melly? Kau kenapa?”

“Sok polos!!” hardik Melly. “Mentang-mentang rambut kau paling pirang di gedung sekolah ini. Pasti anak lelaki itu pada dekati kau karena kau sok kecantikan!“ Dia berdecak, “Danar, Putra, Wisnu …”

“Melly?” Chelsea semakin mempercepat langkahnya. “Kau iri? Karena aku dekat dengannya? Padahal kalau suka dengan mereka bilang saja.” Dia menggarukkan kepala, “Apalagi sama Putra. Bisa kubantu berkenalan, kok–”

“Nggak usah sok ramah sama aku, pelacur!!”

Chelsea bergeming. Dia sekarang hanya berdiri dua meter di depan Melly.

Beberapa murid yang sepertinya mendengarkan pertikaian itu mulai mengelilingi mereka, memenuhi koridor. Tidak jadi pulang. Selalu lebih seru melihat pertengkaran dibandingkan televisi. Terutama, sekarang ini adalah pertikaian antar perempuan. Jarang terjadi. Mungkin lebih seru melihat ini daripada pertengkaran Danar.

Danar dan anak gengnya dari kelas IPS berjalan mendekati Wisnu. Ketua geng motor itu memanggil anak buahnya, “Nu! Lama kali kau jalan dari lab ke parkiran….” Melirik kedua anak perempuan tersebut, dia merendahkan suaranya sambil menepuk pundak Wisnu, “Ada apa, Nu?”

Putra yang juga berjalan bersama Danar menepuk pundak Haidar, “Achel kenapa lagi sama Melly?”

Ruangan koridor senyap, meskipun sekarang sesak oleh para murid. Menunggu siapa yang berbicara duluan.

Pelacur?” Chelsea yang pertama membuka suara. “Kata itu…kasar sekali. Melly, kau kenapa semarah itu sama aku? Hanya karena Wisnu sekelompok sama kami? Padahal dia kok, yang memilih sendiri dari awal.”

“Melly,” Sonya menggoyangkan tangannya. “Anak buahnya pada datang semua. Udah yuk, pulang aja kita.”

“Iya, Mel,” Rina juga menepuk pundaknya. “Seram aku, ditatap para geng motor–”

“Sudah kubilang!” Melly menepis pegangan mereka berdua. “Aku tidak takut dengan mereka semua!!”

Dari kejauhan, Putra berdecak, “Ini kalau dibiarkan, sampai besok pun Melly pasti masih mengumpat. Kusamperin dia.”

Danar, dengan lengan talasnya, langsung mencengkram pundak Putra. “Jangan ikutan, kau,” berbisik – jarang terjadi. “Nanti kau kena semprot sama Melly!”

“Iya, Tra,” Wisnu juga menyahut. “Si Ansar, ketua geng motor se-Kota aja nggak pernah berani yang namanya debat sama perempuan. Mendingan tonjok-tonjokan sampai gigi patah sama anak lelaki.”

Putra menepis cengkraman Danar, entah kekuatan darimana. “Aku nggak menyelesaikan masalah sepeti kalian.”

Putra berjalan mendekati anak perempuan itu. Sonya dan Rina langsung mundur beberapa langkah, kecuali Melly yang sekarang mata sinisnya tertuju kepadanya.

“Melly,” panggil Putra. “Ada masalah apa kau sama Achel?”

“Nggak usah kau ikutan!” tukas Melly. “Mentang-mentang kau anak laki yang paling dekat sama dia! Pacar pun tidak.”

“Emang aku paling dekat sama dia. Rumah dia di depan rumahku.”

Danar langsung melotot dan menatap Haidar – masih berbisik, “Dar, mereka betulan tetanggaan??”

Haidar mengangguk patah-patah. Benaknya tetapi heran atas kelakuan Putra yang membeberkan rahasia itu begitu saja. Padahal anak itu sendiri yang mengatakan untuk tidak memberitahu kepada yang lain, termasuk di depan Danar.

“Melly,” panggil Putra lagi. “Kalau kau masih nggak bisa bilang ada masalah apa kau sama Achel, mendingan pulang aja. Dinginkan kepala kau, besok bicarakan kembali.”

Haidar mengusap wajah, rasanya dia menahan nafas sejak Melly memanggil Chelsea. Dia pernah melihat Ibu beradu mulut dengan para ibu tetangga atau Pak Kades, tetapi tidak pernah setegang ini. Karena biasanya langsung berhenti entah karena leraian Bapak atau seruan Hasan sambil ingin melayangkan kepalan tangannya.

Chelsea mengambil tangan Melly.

“Melly,” panggilnya. “Kau bisa bicarakan di lapangan upacara. Jangan di sini, menarik perhatian semuanya, termasuk guru nanti.”

Chelsea kemudian menarik tangan Melly tanpa menunggu balasannya. Dia menoleh, matanya berkaca-kaca, “Putra, aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Kau tidak perlu membantuku.”

+++

Haidar berjalan menuju lapangan upacara yang terletak di gedung sebelah kanan sekolah. Bersama Putra, geng Danar, dan teman-teman Melly. Berjalan bersisian.

“Si Melly,” Sonya berjalan di sebelah Haidar. “Katanya selama ini nggak pernah ada yang ngalahin nilainya sejak SMP. Jadi, katanya dia kesal saat Achel bisa ngalahin nilai Bahasa Inggris dan Fisika.”

“Ya mau gimana lagi,” Putra berjalan di sebelah Haidar lainnya. “Bahasa ibunya itu. Kalian nggak tahu aja seberapa berjuangnya dia kalau ngerjain PR Bahasa Indonesia. Hampir aja dia mau beli Kamus Besar Bahasa Indonesia.”

“Tapi kalian betulan tetanggaan, Tra?” Danar menepuk bahunya. “Kok nggak bilang?”

Haidar tidak bisa berkata apa-apa sejak pertikaian awal di koridor. Bibirnya entah kenapa terasa kaku. Dia tidak pernah mengajak atau diajak orang bertengkar seperti Hasan. Dia juga tidak sepengalaman Putra dengan otak lancarnya untuk mencari solusi secepatnya, atau Danar dengan lengan talasnya yang telah dia pakai untuk menonjok belasan rahang. Karena Bapak tidak pernah mengajarinya dengan cara seperti itu.

Jangan pernah balas penghinaan dengan kata-kata atau kekerasan, wejangan Bapak yang juga sebagai filosofi hidupnya. Tapi balas dengan pembuktian.

Namun, di situasi seperti ini, pembuktian apa yang harus Haidar tunjukkan?

Suara gemaan dua perempuan itu mulai terdengar.

“Kalau kau memang seiri itu sama nilai-nilaiku,” suara Chelsea, “aku bisa mengajakmu belajar bersama. Aku bahkan tidak peduli jika nilaimu kemudian jauh lebih tinggi dariku.”

“Kau pikir aku sudi belajar bersamamu??” suara Melly lebih mendominasi.

Haidar dan lainnya berhenti di ambang koridor. Dengan beberapa murid lainnya yang belum pulang.

“Terus kau maunya seperti apa?” Chelsea menggarukkan kepala gusar. “Masa aku sengaja menurunkan nilaiku demi memuaskanmu?”

“Tinggalin anak-anak lelaki itu!”

Chelsea menoleh ke mereka semua, matanya juga bertemu dengan Haidar. Mata coklat seterang rambutnya itu masih berkaca-kaca, hidungnya juga memerah. Satu tetes air mata berlinang, tapi dia langsung mengusapnya cepat. Dia menoleh balik, kali ini dengan wajah yang berkerut, seolah-olah menahan genangan air di matanya untuk tidak terjatuh terlebih dahulu sebelum dia mengutarakan benaknya.

“Aku…” suaranya bergetar, “tidak bisa meninggalkan mereka. Mereka adalah teman-temanku. Terutama Putra dan Haidar. Mereka…adalah sahabatku.”

Hujan turun membasahi lapangan. Rintikannya mulai terdengar lebat.

Para murid meninggalkan koridor, menyadari mereka akan pulang ke rumah dengan basah kuyup. Hanya grup Melly, anak geng motor, Putra dan Haidar yang masih berdiri di ujung koridor. Menunggu kapan mereka selesai bertikai.

“Ngapain pula kau sekolah di sini? Dengan rambut sepirang ini?”

Melly mulai berbicara kembali. Suaranya sekarang juga lirih di balik gemuruh hujan.

“Ini tempat bagi anak Indonesia. Bukan anak pirang seperti kau.”

Gemuruh petir menggelegar.

Dada Haidar nyeri. Belum pernah dadanya sesakit ini. Mungkin sama sakitnya saat mendengar kematian ibunya. Gemaan tawa para murid SD di satu gedung sekolah terngiang di benaknya setiap dia melangkahkan kaki menelusuri koridor saat itu. Karena rumor yang beredar bahwa ada anak yang ingin menaiki pesawat sebagai cita-cita belaka. Tawaan mereka memekikan telinga sampai rasanya hampir berdarah, seperti ingin mengatakan bahwa dia tidak berhak menginjakkan kaki di sekolah itu. Dia, anak dari desa dengan kedua orangtua yang tidak berseragam, tidak berhak bersekolah di Kabupaten Lembah. Dan tentu saja,

balasannya hanyalah diam membisu, membiarkan tawaan mereka menggelegar setiap melewati bangkunya. Terdiam, karena memanglah tidak ada bukti yang ditunjukkan kecuali membawa Kakek di setiap pembagian rapor dengan sendal anyaman di kakinya dan pakaian berbau tahi kambing.

Putra mendengus, “Mereka ini, sampai besok pasti tetap seperti itu. Biar kudatangi–”

Haidar melangkah keluar. Membiarkan seragam sekolahnya basah kuyup.

Danar berseru di belakang, “Haidar! Jangan ikutan! Ngapain kau–”

Haidar terus melangkah. Sebagai anak Pak Harun, dia paling tahan berada di bawah hujan. Diguyur hujan badai pun seharian tetap membuat badannya bugar. Dia terus melangkah, mendekati dua perempuan itu yang masih berdiri berhadapan, dengan rambut masing-masing yang basah kuyup. Serta kacamata Melly yang juga berembun. Entah apa yang merasukinya, membawanya keluar untuk mendekati mereka berdua. Tetapi, di dalam benaknya dia hanya ingin melangkahkan kaki keluar untuk mendatangi Chelsea.

Karena, sekarang dia memiliki bukti.

“Haidar?” Melly memanggilnya – pertama kali siswi itu menyebut namanya langsung. “Ngapain sekarang kau yang datang?”

Haidar masih belum menjawabnya, sampai saat dia berdiri tepat di sebelah Chelsea. Dengan benak hanya memikirkan perempuan di sebelahnya, dia baru menyadari bahwa tinggi mereka hampir sama, Chelsea dua senti lebih tinggi darinya.

Haidar kemudian menatap Melly, dengan tangan yang dimasukkan ke saku, serta kepalanya yang diguyur hujan, “Aku ingin membelanya.”

Melly menggertakkan gigi, menarik nafas untuk berseru kembali–

“Sebelum kau tahu bahwa ada pelajaran yang namanya Ilmu Pengetahuan Alam, Achel udah tahu pencetus teori gravitasi adalah Isaac Newton.”

Melly berhenti menarik nafas.

“Sebelum kau tahu bahwa tata surya kita memiliki sembilan planet, Achel udah tahu bahwa matahari kita adalah sebuah bintang. Seperti bintang lainnya yang kau lihat tiap malam.”

Danar dan lainnya menelan ludah. Putra hanya terdiam.

“Dan sebelum kau tahu bahwa kaum kita pernah menginjak bulan, Achel udah hafal bulan-bulan yang mengelilingi Planet Saturnus.”

Gemuruh hujan memekikkan telinga, menenggelamkan suara nafas masing-masing. Tetapi Haidar masih mendengar nafasnya sendiri.

“Chelsea,“ entah kenapa Haidar ingin menyebut nama asli itu. “Dia jago Fisika bukan untuk ngalahin engkau, jadi murid kesayangan Pak Kodir, atau bahkan menarik perhatian kami semua. Chelsea, jago Fisika, karena dia secinta itu sama pelajarannya, secinta dia kepada orangtuanya. Chelsea, seambisius itu, untuk meraih impiannya.”

Dada Haidar entah kenapa semakin sesak, sesesak saat dia ingin berteriak bahwa dia membenci adiknya di atas bukit sembilan tahun yang lalu. Tangan di dalam sakunya terkepal, memeras kain celananya.

“Chelsea,” suara Haidar bergetar, berusaha menahan emosi yang ingin meluap dari kepala. “Chelsea berhak sekolah di sini, sepirang apapun rambutnya. Dan aku…aku tidak akan membiarkan siapapun mematahkan impiannya. Termasuk kau, Melly.”

Haidar kemudian memegang pergelangan tangan Chelsea, seperti perempuan ini memegang pergelangan tangannya saat berfoto di kawah dan melihat kembang api dengan sentuhan lembutnya. Namun dia tersentak, saat di bawah derasnya hujan, tangannya seperti memegang tungku api.

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 19: Luka (2)

Next
Next

Bab 17: Table Manner