Bab 19: Luka (2)

Meskipun dengan keadaannya yang mendadak demam tinggi, Chelsea bersikeras tidak mau dibawa ke UKS. Jadi, Haidar dan Putra membawanya ke warung Mbok Juminten.

Haidar, memakai meja Mbok Juminten di balik rak kaca, sigap mengupas jahe. Dia memang lamban saat memotong daging steak di acara ulang tahun Chelsea itu, tetapi dia paling lihai memegang pisau dapur jenis apapun, termasuk pisau kapak pencacah daging Kakek, atau pisau berbilah sekecil jari kelingking kepunyaan Mbok.

“Nggak ada Paracetamol di UKS,” Wisnu duduk di depan rak kaca jajanan. “Padahal itu obat pertolongan pertama buat masuk angin.”

“Minuman nenekku juga semanjur Paracetamol,” Haidar menggeprek jahe dalam sekali pukulan, kemudian mencacahnya cepat.

Danar duduk di sebelah Wisnu, “Ternyata anak perempuan kalau bertengkar lebih sengit dibanding tonjokan sama Ansar. Bulu kudukku betulan berdiri sepanjang lihat mereka.”

“Mendingan lihat mereka debat di kelas Pak Kodir ketimbang berantem tadi.”

Mbok Juminten datang dengan segelas teh tubruk hangat di tangannya. Dia menaruhnya di sebelah Haidar.

“Mbok,” Haidar memasukkan potongan jahe ke dalam gelas, “Achel udah ganti baju?”

Mbok Juminten mengangguk, tapi rautnya berkerut, “Si Nduk masih muntah-muntah itu. Mbok khawatir.”

Wisnu menoleh, “Perlu kutelpon rumah sakit? Aku hafal nomor ambulans.”

“Nggak usah,” Haidar menggeleng. “Tunggu Achel ketemu ibunya dulu.”

Kemudia, Asep datang dengan seragam basah kuyupnya, juga Putra. Dari telepon umum pinggir sekolah.

“Udah kutelpon si Ansar,” Asep memasuki warung. Danar dan Wisnu mengangguk bersamaan.

“Dar,” Putra menghampiri meja belakang rak, “Pak Joko datang bentar lagi. Sekalian bawa handuk.”

“Motor kau nanti gimana?” Haidar memasukkan potongan jahe terakhir, kemudian mengaduk gelas.

“Kutinggalkan aja dulu di sana. Nanti kuambil sama kau.”

Suara pintu yang dibuka terdengar. Mbok Juminten bergegas ke belakang, suaranya menggema, “Nduk? Sini, Mbok bantu jalan, ya.”

Suara langkahan kaki mendekat. Putra yang masih berdiri di sebelah Haidar juga memasuki ambang pintu ruang belakang. Kemudian, sosoknya muncul, sambil merangkul Chelsea yang sekarang mengenakan kaos bengkel Haidar. Untung saja kaos itu tidak ikut basah kuyup di ranselnya.

“Achel, duduk situ,” Putra menuntunnya ke sebuah kursi panjang di belakang Haidar.

“Nar,” Wisnu menunjuk kipas angin di sebelah rak kaca, “Tolong matikan kipasnya.”

Haidar menghampiri Chelsea. Wajah pucat anak perempuan itu terlihat kehijauan. Tangannya menenteng segelas teh tubruk dengan potongan jahe. Minuman Nenek untuk menyembuhkan sejuta penyakit di rumah, termasuk untuk kaki terkilir.

“Achel, ini nggak pakai gula,” Haidar duduk di sebelahnya. “Agak pahit. Tapi tolong habiskan, ya. Perutmu pasti kosong sekarang.”

Chelsea, diam seribu bahasa sejak tragedi Melly sialan itu, terpatah-patah mengambil gelas dari tangannya. Haidar masih memegang pantat gelas saat Chelsea memegang gagangannya karena tangannya bergetar hebat.

“Wisnu,” Putra berdiri di sebelah Chelsea lainnya. “Kau bisa ukur tinggi panas dia hanya dari tangan kau?”

“Orangtuaku aja tetap butuh termometer.” Wisnu beranjak mendekati Chelsea. Dia menaruh punggung tangan di keningnya, “Astaga, ini tinggi, sih. Kulitku hampir kebakar dibuatnya.”

“Kalau sampai empat puluh, mau nggak mau harus dibawa ke rumah sakit.”

Haidar menaruh telapak tangan di dahi Chelsea, satu tangannya masih memegang pantat gelas untuk membantu dia minum, “Kayaknya nggak sampai empat puluh. Aku pernah pegang dahi tetangga yang sedang kerasukan, panasnya sampai empat puluh. Dia jauh lebih panas dari Achel.”

“Ya sudah.” Putra menatap para geng motor itu, “Kalian pulang sana. Kami bisa mengurusnya. Toh, aku juga tetangganya.”

Beberapa belas menit kemudian setelah anak geng motor sudah pergi, mobil Pak Joko berhenti di seberang jalan, tepat saat Chelsea sudah menghabiskan tehnya. Bapak supir itu menghampiri warung, sambil membawa beberapa helai handuk dan payung.

Hujan masih megguyuri Kota Lembah selama perjalanan, memburamkan kaca jendela depan. Putra duduk di jok depan, Haidar dan Chelsea di jok belakang. Kepala mereka semua tertutup oleh handuk. Haidar menumpuk beberapa helai di dadanya, supaya Chelsea bisa menaruhkan kepalanya di sana. Katanya kepalanya terasa berat.

“Achel,” Putra menoleh ke belakang. “Kalau kau mau muntah, bilang. Pak Joko juga kusuruh bawa kresek.” Chelsea hanya menggeleng pelan.

“Tante Dinda sekarang di rumah?” tanya Haidar. Sebelah tangannya merangkul pundak Chelsea sejak mereka memasuki mobil. Jempolnya sesekali mengelusnya jika dia terbatuk-batuk.

“Ibu itu selalu di rumah dua puluh empat jam.” Putra menatap ke depan kembali. “Untung aja dia kerja di rumah. Nggak kayak ibuku.”

Di sisa perjalanan, mereka hanya terdiam, tenggelam di benak masing-masing. Putra sesekali berbicara dengan Pak Joko, mengobrol tentang pemilihan koran sang supir itu yang selalu dengan foto seram. Haidar membiarkan telinganya mendengar suara hujan dari luar dan percakapan dua orang di depannya. Sebelah tangannya masih mengelus pundak Chelsea, sambil merasakan nafasnya yang seperti membakar dadanya meskipun sudah tertutup tumpukan handuk. Rasanya dia ingin terus merangkulnya, tidak peduli jika sampai mati sekalipun. Yang penting demam anak ini mereda.

+++

Sekarang dua anak lelaki itu duduk di sofa ruang tamunya rumah Chelsea. Haidar, seperti Putra, mengenakan kaos tidur Putra, menggantikan seragam mereka yang basah kuyup. Tadi Haidar juga menelepon Om Memet, kali ini dia yang ingin meliburkan diri. Untung saja bapak itu fleksibel sekali perihal jadwal kerjanya, toh dia dapat uang sangu jika masuk kerja saja.

Ibu paruh baya itu, sedikit lebih tua dari ibunya Putra, mendatangi ruang tamu. Berbeda dengan Tante Ning, ibu itu mengenakan blus dan celana tiga per empat, sambil mengenakan sendal rumah, dan potongan rambut sebahunya. Terlihat terlalu modis bagi seorang ibu rumah tangga, tetapi terlalu santai untuk seorang ibu pekerja kantoran. Satu keluarga Chelsea memiliki profesi yang cukup unik, setidaknya di mata Haidar sebagai anak desa.

“Kalian berdua,” Tante Dinda – gaya bicaranya juga menyesuaikan mereka – menghampiri sofa seberang, kemudian duduk. “Makasih, ya, udah antarin Chelsea.”

“Tante udah ngecek suhu badannya belum?” tanya Putra.

“Udah, kok. Tiga puluh delapan. Nggak perlu dibawa ke rumah sakit.”

Mereka berdua hanya mengangguk. Meskipun cukup tinggi, setidaknya lega jika Chelsea tidak perlu dilarikan ke rumah sakit.

“Padahal Chelsea kalau main hujan di Amerika biasa aja,” kata Tante Dinda. “Mungkin iklim yang berbeda mempengaruhi kali. Dulu aku juga masuk angin kalau main hujan di luar. Tapi…”

Tante Dinda menatap mereka berdua. Rautnya terlihat santai, tetapi tatapannya tajam. “Aku boleh menanyakan sesuatu?”

Haidar dan Putra mengangguk serentak.

“Chelsea…di sekolah tadi, bertengkar, kah?”

Haidar dan Putra tertegun.

Tante Dinda menghela nafas, memalingkan wajah. “Chelsea dari sejak Elementary School memang suka bertengkar, meskipun katanya kebanyakan orang lain yang mengajaknya duluan, bukan dia. Tapi setelah bertengkar, dia selalu jatuh sakit. Dua hari biasanya.”

Ruangan senyap, menyisakan rintikan hujan yang mulai mereda.

“Gen Charles yang ini kuat sekali. Bapak itu kalau bertengkar hebat sama aku, besoknya dia juga demam.” Tante Dinda menatap kedua anak remaja di hadapannya, tersenyum, “Tapi, ini pertama kalinya ada yang mengantarkannya pulang, dengan keadaan seperti ini. Dulu, dia tetap pulang sendirian naik bis, dengan suhu badan yang sudah tinggi.”

Tante Dinda menundukkan badan. Rambut sebahunya menutupi wajah.

“Sebagai ibunya Chelsea,” rintihnya, “terima kasih, ya. Sudah menjadi temannya...”

Putra seketika beranjak menghampiri ibu itu, “Tante nangis??” Dia duduk di sebelahnya, mengusap pundaknya. “Tante, dia sering nyumpahin aku. Tapi aku tetap akan berteman dengannya. Sampai mati.” Dia melirik Haidar, “Juga Haidar.”

Tante Dinda masih menundukkan badan. Satu tangannya sekarang menutupi wajahnya. Putra masih mengusap pundak ibu itu.

Haidar bergeming. Berusaha mencerna situasi ini. Chelsea, anak perempuan periang itu yang suka bertikai dengan Putra dan mengeluh tentang PR yang susah kepadanya, ternyata menyimpan sebuah luka yang menganga. Memeluk impian tingginya itu. Sendirian. Dengan jiwa yang begitu rapuh.

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 20: Kamar Chelsea

Next
Next

Bab 18: Tatapan Sinis Melly