Bab 20: Kamar Chelsea

Selama Chelsea tidak masuk sekolah, Haidar rela meliburkan diri di bengkel Om Memet supaya bisa menjenguknya, bahkan jika sampai kelulusan sekalipun. Dan saat memasuki kelas, entah kenapa dia tidak sudi melirik bangku Melly yang bertepatan di depan guru. Suasana hatinya begitu buruk memikirkan tentang Chelsea. Anak perempuan itu, saking baiknya, badannya pun sampai harus ikutan sakit menahan hinaan orang. Tega sekali orang-orang itu yang merendahkannya begitu saja.

Di pelajaran Bahasa Inggris, sesi absen, saat Mister Herman membacakan nama, dan giliran nama selanjutnya, “Chelsea Adinda Williams?”

“Sakit,” Haidar menjawab ketus.

Semua mata menoleh kepadanya, bahkan Wisnu sampai memutar kepalanya seperti burung hantu. Jarang sekali mendengar Haidar bersuara seketus itu.

“She won’t be going to school for two days,” Haidar menerangkan kepada Mister Herman tanpa tersendat-sendat. “Her mother has called Miss Ningsih.”

Saat ke warung Mbok Juminten bersama Wisnu pun, dimana anak-anak IPS sudah berada di sana, Danar dan lainnya menatap Haidar tercengang.

“Dar,” Danar menelan ludah. “Muka kau kenapa seseram ini?”

“Sampai pelajaran Bu Leni aja tadi, sama dia dijawab ketus,” Wisnu mengambil tempat duduk di sebelah Danar. “Untung aja nggak terjadi perdebatan macam Melly dan Achel.”

Haidar menghempaskan pantat di sebelah Putra yang sudah melahap roti dengan sus itu. Dia menaruh kotak makan, mengambil bolu, kemudian melahapnya sampai memenuhi mulut. Sama kakak atau adiknya sendiri saja tidak sampai seemosi ini. Kalau dia nekat mungkin sekarang dia sudah naik ke lantai empat gedung sekolah dan melolong seperti adiknya dahulu.

Putra hanya membiarkannya. Dia telah mengetahui alasan di balik raut Haidar. Setelah pertemuannya dengan Tante Dinda kemarin, raut Haidar sudah bertekuk seperti itu, sampai saat mereka menjemput kendaraan masing-masing. Dan sebelum dia mengendarai sepeda ontelnya, dia meneriaki sumpah serapah dan nama Melly bersamaan dengan rintikan hujan yang perlahan hilang.

Suara langkahan kaki terdengar. Para anak geng motor berkerut, semua anggota sudah berkumpul. Mungkin hanyalah anak tetangga sebelah yang ingin datang ke warung Mbok Juminten…

Melly memasuki warung Mbok Juminten. Dengan kedua dayang-dayangnya.

“Melly?” tanya Wisnu. “Ngapain ke sini?” Haidar yang melihat sosok perempuan itu langsung memalingkan wajah.

Melly berdeham, suaranya lirih – jauh berbeda saat dia menyumpahi Chelsea kemarin, “Aku…mau bicara sama Haidar.”

Semua anak lelaki menatap Haidar. Tapi dia masih memalingkan wajah, melahap bolu Nenek seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Dar,” Danar menepuk pundaknya. “Ngomong sesuatu.”

Haidar masih mengunyah. Setelah menelan, masih tidak menoleh, dia berbicara, “Aku tidak sudi.”

Semua orang melotot, kecuali Putra.

“Dar,” Wisnu menambahi. “Dia bukan anak geng motor. Dia anak perempuan–”

“Lantas kenapa?? Hanya karena dia anak perempuan?” potong Haidar. “Aku memperlakukan semuanya sama. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Bahkan jika Bu Kepsek sendiri yang menyumpahi Chelsea sesadis dia kemarin…aku tetap memperlakukannya sama. Seperti ibuku memperlakukan semua orang.”

Semua orang bergeming.

“Melly,” Putra akhirnya bersuara. “Haidar sungguh-sungguh dengan kata-katanya. Biarkan dia dinginkan kepalanya dulu sebelum dia mau bicara denganmu.” Suaranya merendah, “Kau juga. Kau nggak tahu sebesar apa dampak yang kau perbuat kepada anak itu kemarin.”

Melly mulai terisak.

“Sonya, Rina,” panggil Wisnu. “Tolong bawa dia. Maaf, kami juga nggak bisa bantu.”

+++

“Demam Chelsea masih tinggi,” Tante Dinda membuka pagar rumah. “Kalau sampai hari ketiga masih tinggi, harus aku bawa ke rumah sakit sih, mau nggak mau.”

Mereka memasuki rumah besar itu dengan perabotan minimalisnya.

“Putra,” panggil Tante Dinda. “Kau tahu, kan kamarnya? Chelsea tadi bilang kalau kalian datang, tinggal masuk saja. Dia juga udah biarkan pintunya setengah terbuka, kok.”

Putra mengangguk, kemudian mengajak Haidar ke lantai dua. Seperti bagian rumah Putra, lorong sempit di lantai atas menyambut mereka, dengan beberapa pintu di sisinya. Bedanya, lantainya tidak dilapisi karpet seperti rumah Putra. Hanya ubin biasa yang dinginnya menusuk kakinya yang beralaskan kaos kaki. Dan sekarang dia sudah terbiasa dengan ubin lantai sebeku es ini.

Putra berhenti di sebuah pintu yang dibuka setengah. Sebuah gantungan huruf bewarna-warni terbuat dari kayu menyambut mereka di depan pintu. Menunjukkan nama depan pemilik kamar.

“Kakek Indonesianya yang buat. Dia tukang kayu,” Putra menunjuk hiasan tersebut. Kemudian, dia mengetok, “Achel, aku dan Haidar masuk!”

Putra membuka pintu. Meja belajar di sudut ruangan adalah pemandangan pertama di kamar Chelsea yang terlihat.

Putra masih berdiri di ambang pintu, menjulurkan kepala, “Achel, nggak tidur, kan kau?”

“No.” Suara anak perempuan itu terdengar. Lengkingannya hilang, diganti dengan suara selemah badannya.

Haidar kemudian masuk. Langkahnya terhenti saat dia melihat isi kamar Chelsea yang sebesar punya Putra juga. Di depan meja belajarnya, terpampang sebuah poster hampir memenuhi dinding. Map rasi bintang.

Kasur Chelsea berada di sudut ruangan lain, hanya terlihat jika seseorang memasuki kamar sepenuhnya. Tidak sebesar punya Putra, bahkan hanya memuat dirinya sendiri. Tetapi rak buku di sebelah kasurnya dua kali lipat panjang ranjangnya. Penuh dengan buku-buku, kebanyakan berjudul bahasa Inggris. Serta beberapa tempelan foto cetak yang berada di dinding atas kasurnya, kebanyakan foto-foto keluarga. Foto mereka bertiga di Kawah Bening termasuk salah satunya. Satu-satunya teman Chelsea yang pernah dia punya di hidupnya.

Chelsea berbaring membelakangi mereka. Selimut dibiarkan kusut di tepi ranjang, tidak mau menutupi badannya yang memakai celana tidur panjang dan baju rajut. Kaos kaki berbahan wol membaluti kakinya. Kemudian dia memutar badan, menunjukkan wajah pertama kali. Masih dengan kulit pucat kehijauannya itu. Matanya sayu, seolah-olah untuk membuka setengahnya saja sudah menghabiskan tenaga.

“Haidar.” Chelsea tersenyum lemah. “Kau bisa ambil kursi di depan meja. Biarkan Putra duduk di lantai.”

“Kau sakit parah pun masih sempat nyebelin.” Putra yang mengambil kursi di meja, “Haidar, biasanya aku duduk di sudut ranjang. Kau aja yang duduk di sana, anak itu pasti senang.”

Chelsea hanya menatapnya, terlalu letih untuk membalas. Dia beranjak, menyandarkan diri di dinding. Dia menepuk kasur di hadapan, “Haidar, kau bisa duduk di sini. Aku ingin menunjukkan foto kakekku.”

Haidar duduk di atas kasur, berhadapan dengannya. Putra menarik kursi, duduk di sebelah tepi ranjang.

Chelsea menatap tempelan foto, jarinya bergoyang menelusuri, kemudian berhenti di sebuah foto tepat di depan Haidar, “This one.”

Sebuah foto seorang bapak tua, sebaya Kakek, terlihat setinggi Charles. Tangannya memegang sebuah alat tiup yang tidak Haidar kenali.

“Ini saksofon,” kata Chelsea.

Haidar mengagumi alat musik bewarna kuning itu. “Dia musisi?”

“Hobinya. Pekerjaannya,” Chelsea menunjuk poster raksasa, “pengamat bintang.”

Haidar menatap poster besar itu sekali lagi. Satu keluarga Chelsea betul-betul menarik.

“Achel,” Putra mengobrak-abrik ransel. “Ada salam dari anak geng motor. Ada hadiah juga buat kau.” Dia mengeluarkan beberapa bungkus Antangin.

Chelsea menerima bungkusan itu. Wajah pucatnya seketika memerah.

“Modif motor bisa,” Putra menghela nafas. “Tapi beri hadiah orang sakit nggak modal,”

“Kalau aku dikasih buah, pasti Daddy yang memakannya terlebih dahulu. Lagipula…” Chelsea langsung membuka satu bungkusan. “Aku pernah mengemil ini.”

Putra dan Haidar melotot. Chelsea tidak menghiraukan mereka, mengemut bungkusan ramuan itu dengan wajah riangnya, seolah-olah itu adalah permen terenak sedunia.

“Haidar,” panggil Chelsea. “Ada PR hari ini?”

“Aku kasih tahu aja di akhir pekan,” tukas Haidar. “Kau nggak perlu pikirin tentang sekolah selama dua hari ini.”

“Melly…gimana kabarnya?”

Putra berseru, “Anak itu pula yang kau pikirin!”

Chelsea kemudian meraih sesuatu di balik bantal. Sebuah benda elektronik berlayar, hanya seukuran telapak tangannya. Dengan kabel yang terhubung.

MP3-Player. Kau pernah melihatnya?” satu tangan Chelsea memberikan satu kabel dengan sebuah bulatan di ujungnya. “Kau menaruhnya di telingamu.”

Haidar menerima kabel dengan bulatan itu. Tidak pernah dia lihat di televisi atau di tempat bengkel Om Memet. Bahkan di rumah Putra sekalipun.

“Sebelahnya lagi biar buat aku,” Chelsea mensematkannya ke telinga. Tangannya menekan-nekan tombol benda itu, dengan satu tangan masih memegang Antangin. “Putra kita biarkan sendiri.”

Putra menyandarkan punggung, “Hari ini kubiarkan kalian pacaran di depanku…Heh! Nggak boleh memainkan makanan!”

Chelsea sudah melemparkan satu bungkus Antangin ke arah Putra. Dengan pipi yang semakin memerah.

Haidar mensematkannya di telinga, mengikuti gerakan Chelsea barusan. Lantunan alat instrumen mulai terdengar di telinga yang dia pasangkan dengan kabel bentukan bulat tersebut. Terdengar seperti trompet, tetapi lantunannya tidak memekikan telinga.

“Ini suara saksofon kalau dimainkan,” Chelsea menaruh MP3-Player di atas kasur. “Lagu jazz iconic dengan instrumen ini.”

Haidar mengangguk. Lagunya tidak memekikan telinga seperti lagu dangdut yang disetel di acara pernikahan tetangga di Desa atau lagu rock di bengkel Om Memet. Tetapi juga tidak setenang lantunan gitar Iwan Fals. Lagu ini punya daya tarik tersendiri.

“Menarik,” Haidar menyunggingkan senyuman. “Besok-besok kalau ada acara pernikahan tetangga desaku, kusuruh mereka setel lagu ini aja. Biar nggak menggema sampai ke atas bukit.”

“Ya udah,” kata Putra. “Disetel di acara pernikahan kalian aja…Achel! Kau main lempar makanan lagi??”

Chelsea telah melemparkan bungkusan Antangin lainnya. Masih ada sepuluh bungkus di pangkuannya. Sepertinya setiap anggota geng motor menyumbang setidaknya satu bungkus. Untung tidak satu geng motor seluruh kota, bisa-bisa Chelsea mesti buka warung.

Lima belas menit kemudian, Chelsea membaringkan kepalanya lagi di atas bantal. Pusing kembali.

“Selain buku-buku Einstein dan astronomi,” Haidar menunjuk rak, “kau punya buku apa lagi?”

“Novel science fiction,” Chelsea menaruh kain basah yang telah diperas Putra di atas keningnya. “Cerita fiksi tentang sains dan teknologi.”

“Kalau di sini,” tambah Putra, “bilangnya fiksi ilmiah.”

Haidar ber-ooh pelan. Sepertinya otak dia sudah pintar hanya dengan menghabiskan waktu bersama dua sahabat berdarah campur ini. Yang selalu penuh dengan sejuta informasi.

“Apakah aku…aneh?”

Haidar dan Putra menoleh. Chelsea sedang menatap langit-langit kamar, satu tangan masih memegang kain basah di keningnya.

“Dari Elementary School,” lanjutnya, “aku sudah dijauhi karena terlalu aneh. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan buku seperti itu ketimbang buku mewarnai. Karena…kata kakekku…itu cara supaya aku bisa mengenal para bintang.”

Chelsea masih menatap langit-langit. Dengan matanya yang mulai basah.

“Tapi, sejak aku berada di Indonesia,” dia terisak, “aku tidak pernah menyangka akan memiliki teman sebanyak ini. Danar dan gengnya…” Dia berdeham, “Bahkan, aku tidak menyangka…akan memiliki dua sahabat. Seerat ini. Yang tetap berteman denganku setelah mendengarkan impianku…yang kata orang-orang…impian itu terlalu tinggi untuk dicapai. Apalagi keluar dari anak yang masih sekolah. Pasti suatu saat…kata mereka…impian itu tidak akan kupikirkan kembali…jika aku sudah dewasa…”

Chelsea kemudian membalikkan badan. Wajahnya dia benamkan di bantal, membiarkan air matanya menetes di seprei. Kain basah di dahinya terjatuh begitu saja membasahi kasurnya. Bahunya bergetar. Mungkin sudah lama dia ingin mengeluarkannya. Setidaknya di depan seorang teman, yang baru dia punya saat ini.

Putra menggeser pantat, duduk di atas kasur juga, di sebelah kepala Chelsea. Dia meraih kain basah yang tergeletak di seprei, kemudian menaruhnya di atas kepala Chelsea. Tangannya sambil mengusap kepala berambut cokelat itu. Tanpa kata-kata. Chelsea masih menangis tersedu-sedu. Badannya menekuk, kedua tangannya memegang lengannya erat. Seolah-olah dia berusaha menenangkan dirinya. Dengan memeluk dirinya sendiri. Selama ini.

Haidar menggeser pantatnya juga, mendekatinya. Sekarang duduk tepat di belakang punggung Chelsea. Dia memanggilnya, “Achel, kau butuh pelukan?”

Chelsea seketika terdiam, masih membenamkan wajah di atas bantal. Putra memberhentikan gerakan tangan di atas kepala Chelsea, menatapnya.

“Itu ibuku yang selalu dia lakukan, jika lihat anak-anaknya nangis. Bahkan jika semua anaknya saat itu adalah laki-laki,” lanjut Haidar. “Ibu nggak pernah hardik kami…jika kami nangis. Bahkan jika Bapak nangis di depan kami. Ibu…pasti kasih pelukan.”

Chelsea beranjak. Seluruh wajahnya memerah, termasuk matanya. Terlalu lama menahan kesedihan yang sekarang dia baru luapkan semuanya hari ini.

Haidar membelakanginya, menepuk bahu, “Kupinjamin bahuku.”

Chelsea masih bergeming. Perlahan, dia mendekati Haidar. Lengannya dia lingkarkan di pinggangnya, wajahnya dia benamkan di punggungnya. Dia terisak kembali…perlahan mulai merintih…kemudian menangis meraung-raung. Getaran suaranya bisa Haidar rasakan di balik seragam sekolahnya, terutama saat Chelsea mengeratkan lingkaran lengannya. Putra yang memegang kain basahnya kembali menggeser untuk duduk di sebelah Chelsea. Dia menaruhnya lagi ke atas kepala Chelsea, dan juga melanjuti usapannya.

Dua lelaki itu hanya terdiam, tenggelam di benak masing-masing. Setidaknya, sejak hari ini, Chelsea tidak perlu memeluk dirinya sendiri lagi. Dengan impiannya itu, yang bagi Haidar justru membuatnya paling berani di antara mereka semua. Karena telah membuktikan bahwa sampai menjelang dewasa pun, dia masih memegang impiannya itu. Terus memegangnya…meskipun hanya sendiri.

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 21: Rencana (1)

Next
Next

Bab 19: Luka (2)