Bab 21: Rencana (1)
Melly tersentak saat Haidar tiba-tiba menghampiri mejanya. Secarik kertas tertera saat Haidar menjulurkan tangannya. Akhirnya sudi kembali menatap Melly hari ini, dia berbicara, “Nomor telepon rumah Achel.”
Melly masih bergeming. Sonya, teman sebangkunya juga ikut terdiam.
“Kalau nggak tahu mau bicara apa,” lanjutnya. “Tanya aja novel favoritnya, meskipun semua penulisnya asing di telinga kau.” Dia menunjuk Wisnu yang merangkul pundaknya, “Kata Wisnu, kau suka baca novel.”
“Itu Putra yang suruh,” sahut Wisnu. “Katanya juga, jangan lupa minta maaf terlebih dahulu.”
+++
Sebuah meja kantin penuh oleh segerombol anak-anak perempuan. Seperti sedang menonton taruhan ayam. Padahal, mereka hanya sedang menonton Chelsea dan Melly. Saling bertukar buku, tetapi buku-buku yang terlihat jauh lebih asing dibandingkan kamus bahasa Inggris Oxford di perpustakaan sekolah.
“Bumi Manusia?” Chelsea membaca judul buku patah-patah. “Pramoedya Ananta Toer?” Matanya berbinar, menatap Melly di hadapannya, “Aku pernah mendengar orang ini dari Mommy. Katanya dia sastrawan berpangaruh di Indonesia, ya?”
Melly mengangguk, wajahnya juga berbinar. Raut jutek itu entah kenapa musnah sejak masuk sekolah hari ini, “Buku-bukunya juga fenomenal. Tapi itu salah satu karyanya yang paling terkenal, kalau kau mau baca karyanya.”
Chelsea menatap buku itu di tangannya kembali, menelan ludah, “Aku rasa, membaca ini akan jauh lebih susah dibandingkan membaca teks Bahasa Indonesia di buku pelajaran. Tapi, aku sedang mencoba baca cerita berlatarkan sejarah, apalagi sejarah Indonesia. Bapakku juga suka historical fiction.”
“Oh gitu.” Melly sekarang mengangkat sebuah novel berbahasa Inggris, menelan ludah, “Novelmu ini, sepertinya jauh lebih seram.” Dia membaca judulnya, “I, Robot. Isaac Asimov. Bahkan aku belum pernah mendengar penulisnya. Satu-satunya Isaac yang kukenal adalah Isaac Newton.”
Chelsea terkekeh, “Itu dinobatkan sebagai buku science fiction klasik dari abad ke-20. Jadi kalau kau mau mengetahui tentang genre itu, kau bisa membaca itu terlebih dahulu.” Dia menggarukkan kepala, “Meskipun harusnya kau baca buku lainnya, sih, seperti soft sci-fi. Di rumahku hanya ada hard science. Gara-gara Mommy. Sisanya buku-buku Karl Marx bapakku.”
“Achel, kalau aku kembalikan buku ini setelah lulus gimana? Sepertinya aku akan baca selama itu.”
“Sama, Melly. Bahkan semoga aku bisa menyelesaikannya sebelum acara kelulusan. Kalau tidak, aku harus membeli Kamus Besar Bahasa Indonesia.”
Kedua anak penggemar baca novel itu tertawa hangat. Anak perempuan gerombolan lainnya masih menatap tumpukan koleksi buku yang dibawa kedua perempuan itu dengan mata nanar. Selama ini, mereka hanya membaca majalah GADIS sambil mengoleksi poster yang selalu diselipi di dalamnya. Bahkan orangtua mereka mungkin tidak pernah menyentuh buku-buku itu.
Dari kejauhan, Haidar dan Putra tidak bisa menahan diri untuk menyengir melihat pemandangan itu. Entah apa yang dibicarakan kedua orang itu di telepon kemarin, tetapi sejak hari ini, orang pertama yang disapa Chelsea saat memasuki kelas adalah Melly, dengan wajah sumringah seolah-olah tidak terjadi apa-apa di dua hari belakangan. Sambil menggebu-gebu berbicara dengan Melly bahwa dia tidak sabar untuk menunjukkan sesuatu di saat jam istirahat.
Fenomena itu, sampai membuat Haidar dan Putra ingin menyaksikannya dari kejauhan. Termasuk para anak geng motor yang duduk di sebelah mereka, jarang sekali mereka menginjakkan kaki di kantin sekolah. Dengan mata yang masih melebar, menyaksikan kedua perempuan itu seperti sudah dekat sejak masih memakai popok bayi.
“Begini ternyata kalau anak perempuan baikan,” Danar akhirnya membuka suara. “Nggak ada tonjok-tonjokan sama sekali.”
“Dan aku juga nggak nyangka,” Wisnu menelan ludah, posisinya setengah jongkok di atas kursi, “bahwa solusi Putra semanjur itu.”
Danar menatap Putra di sebelahnya, “Tra? Kau serius nggak mau jadi anak buah Ansar? Reputasi kau udah melejit di seluruh anak geng motor.”
Putra melahap cimol dengan garpu. “Nggak. Mendingan aku gaming ketimbang naik motor sampai pagi buta.”
Haidar terkekeh menatap anak geng motor itu yang sekarang wajahnya terlipat, tetap memohon-mohon kepada Putra, tapi anak dengan garpu di cimolnya itu memalingkan wajah, masih menolak mereka mentah-mentah. Mungkin ketujuh geng motor itu rasanya ingin bertekuk lutut di depan Putra, tetapi terlalu segan di kantin sekolah.
“Dar,” lamunannya buyar saat dipanggil Danar. “Kau ajalah yang jadi anak buah Ansar.”
Haidar menyerngit, “Motor aja nggak punya aku. Itu juga motor gigi keluaran lama Kakek yang ada di rumahku.”
“Nggak apa, pakai sepeda ontelmu aja,” tukas Wisnu. “Reputasi kau juga melejit di geng motor.”
“Kenapa kalian semua ngomongin tentang aku dan Putra?”
Semua anak geng motor itu terkekeh. Kemudian, Danar membuka suara, “Saat dia dengar cerita tentang kita bertengkar dulu di kelas sepuluh dan gimana kau ngomong sama Melly kemaren, bulu kuduknya langsung merinding. Mengingatkan cerita kakaknya.”
Haidar berkerut, “Kakaknya? Memangnya kenapa?”
“Dulu kakaknya sekelas sama satu orang anak. Namanya Hasan Harun.”
“Itu kakak sialan aku. Emang ngapain dia?”
“Saat pembagian rapor, ibu kau yang ngambil katanya, langsung dari tempat bengkel. Wali kelasnya ngejek ibu kau. Si Hasan kakak kau, pakai seragam SMP, cengkram kemeja bapak itu, nggak peduli katanya jika dia gagal naik kelas gara-gara itu.“ Danar menggarukkan kepala, “Tapi katanya, kejadian itu yang buat kakak kau dapat beasiswa penuh saat SMU, sampai lulus.”
+++
“Haidar!” seru Om Memet, mata hampir keluar dari kacamata. “Sudah kubilang! Pakai kaos bengkelmu. Bukan baju lebaran!!”
Haidar sudah mengenakan kaos bengkel sehari-harinya. Tetapi dengan warna putih menyala, membuat sakit mata jika dia berdiri di bawah sinar matahari.
Pengki, yang berdiri di sebelahnya, menggarukkan kepala, “Baju kokoh Pengki nggak seterang ini.”
Haidar menghela nafas. “Ini kaos bengkelku, Om. Tapi sama ibunya temanku, katanya dicuci pakai mesin cuci. Langsung dibawa dari Amerika.”
Tentu saja semua orang yang berada di bengkel itu, meskipun dengan lantunan lagu rock lokal, menengadahkan kepalanya, menatap mereka bertiga.
“Mesin cuci dari Amerika??” Dadang, berhenti menggerakkan kunci nepel, berseru. “Maneh teh temenan ama siapa? Anak presiden?”
Kemudian, deruan motor yang Haidar kenal bergema dari kejauhan. Motor moge El Knucklehead memasuki area depan bengkel. Dengan dua orang di atasnya.
Pengki berlarian – menyambut bapaknya tidak sampai segirang ini, “Bang Putra!!” Tetapi larinya langsung berhenti saat seorang siswi berambut coklat turun dari jok motor, membuka helmnya. Masih mengenakan seragam, tetapi bawahannya ditukar dengan celana training olahraga.
Semua orang berhenti beraktivitas. Bahkan Dadang tidak mempedulikan asap yang keluar dari mesin mobil, dengan tangannya yang masih menggenggam kunci nepel begitu saja.
Chelsea melambaikan tangan saat matanya menemui Haidar, “Haidar! Aku ikut Putra main ke bengkelmu.”
Putra memarkirkan motornya, membuka helm, “Nggak apa ya, Dar, mendadak. Anak ini hampir aja bertekuk lutut di depanku, ingin kali dia main ke sini.”
Suara serak – entah siapa penyanyinya – menggelegar di bengkel.
Om Memet menghampiri Haidar, merangkul pundaknya dan melepaskan kacamatanya. Matanya membesar, sekarang membuka suara, terbata-bata, “Indah…bukan menangis lagi pasti. Sampai terpipis-pipis dia di sini, jika tahu anaknya punya pacar secantik ini.”
Spontan semua orang bersiul meledek, suaranya bahkan mengalahkan penyanyi rock. Termasuk Pengki dengan suara yang sama menggelegarnya seperti adik bandel itu jika berteriak di atas bukit. Putra tentu saja tertawa puas menyaksikan itu semua, sementara Chelsea bersembunyi di balik Putra dengan pipi semerah celana seragam Pengki.
Haidar langsung mengambil kunci inggris sebesar lengan orang dewasa, ingin mengetok semua kepala satu-satu, tetapi dengan wajah lebih panas daripada saat dia membantu Nenek memasukkan kue ke dalam tungku api.
+++
“Katanya, orangtuanya hanya meliriknya jika mendapat nilai bagus,” Chelsea melahap nasi padang dengan sendok plastik. “Makanya Melly seambisius itu untuk mendapatkan nilai tinggi.”
Hadiar dan Putra hanya ber-ooh. Lantunan lagu rock terdengar sayup-sayup dari ruang kantor.
“Haidar,” Chelsea memotong sebagian gulai otak sapi itu. “Aku tidak biasa memakannya semua. Kau mau sebagian?”
Haidar, yang duduk di hadapannya, di singgasana pemilik bengkel, menyodorkan nasi bungkusnya supaya Chelsea bisa menaruhnya.
“Bang Haidar,” Pengki menunjuk Chelsea dengan tangan berlumuran nasi. “Kakak ini yang ibunya punya mesin cuci dari Amerika?”
“Iya,” Haidar melahap nasinya dengan tangan, satu-satunya alat makan yang paling lihai baginya.
“Kakak Achel,” Pengki memanggilnya. “Aku juga mau baju kokohku dicuci sama mesin cuci dari Amerika.”
“Heh!” Putra, duduk di antara Chelsea dan Pengki, menghardiknya. “Belum sampai sejam kenalan udah minta cuci baju. Nggak ada sopan-sopannya!”
Chelsea menyengir, “Putra, aku tidak tahu kalau kau bisa seramah itu dengan anak kecil. Termasuk ke adiknya Haidar saat pembagian rapor.”
“Aku juga bingung,” Haidar melahap otak gulai sapi pemberian Chelsea bulat-bulat. “Adikku kalau jatuh dari pohon pun, yang ngobatin lukanya dia, bukan aku.”
“Lagipula,” Putra melotot. “Kau ini kayak nggak niat jadi kakak. Lebih baik membiarkan anak itu menangis sampai besok karena kakinya yang masih berdarah.”
Pengki juga melotot, “Bang Haidar kayak gitu?”
Haidar ingin melempar sisa tulang ayam di bungkusannya. “Kau nggak usah ikut campur.”
Setelah Pengki menghabiskan nasi bungkusnya – kunyahan anak itu lebih cepat daripada motor mogenya Putra – anak itu berkutat dengan buku mewarnainya di ujung ruangan, bertelengkup di lantai kotor. Tiga anak remaja itu masih sibuk menghabiskan sisa nasi padang yang dibelikan Om Memet.
“Dar.” Putra melahap gulai nangka. “Aku sebenarnya ingin bicara sesuatu penting.”
“Putra,” sahut Chelsea, nasinya masih termakan sebagian – paling lama kalau disuruh makan makanan lokal, apalagi berbumbu seperti nasi padang. “Dia menemui solusi perihal masalah Mister Herman itu.”
Gerakan mengais tangan Haidar terhenti. Dia mendongakkan kepala, menatap dua sahabat di hadapannya itu.
“Ini tapi akan jauh lebih susah ngelakuinnya dibanding saat cari lowongan kerja di koran,” lanjut Putra. “Dan kayaknya kita nggak bisa ngelakuinnya hanya bertiga.”
Haidar masih belum melanjuti suapannya. Telinganya melebar.
“Lingkaran pertemanan kita udah mulai besar” Putra menaruhkan sendok-garpu plastik itu sedemikian rupa – peraturan table manner. “Sepertinya, anak-anak harus tahu hal ini juga jika kita butuh bantuan mereka. Itu pun, bisa jadi mereka justru nggak mau bantu kita.” Dia menatap Chelsea dan Haidar, “Karena nggak semua orang mengejar impian seambisius kalian.”
Suasana ruang kantor hening. Pengeras suara di luar entah kenapa juga sedang tidak menyetel lagu rock. Hanya guratan krayon Pengki, sesekali anak itu bersenandung lagu dangdut.
“Kita coba.”
Putra dan Chelsea menatap Haidar. Haidar belum melanjuti menyuapi nasinya yang tinggal tiga suap saja. Matanya menatap kedua sahabat itu.
“Kalau perlu, aku bisa yang menceritakan tentang hal ini,“ lanjutnya. “Bagaimanapun hasilnya, kita coba.”
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA