Bab 22: Rencana (2)

Meskipun saat ini warung Mbok Juminten sudah sesak ditempati hampir lima belas orang, tetapi suasananya jauh lebih hening dibandingkan jalan raya di depannya yang dikelilingi pohon-pohon tua tersebut. Hanya menyisakan suara televisi yang sedang menayangkan FTV dan potongan pisau Mbok Juminten. Serta nafas masing-masing.

Haidar baru menggigit ujung bolunya sejak bercerita. Belasan mata masih menatapnya, dengan raut yang tidak berubah. Mereka bahkan belum menyentuh jajanan masing-masing.

“Serius juga masalahnya.”

Wisnu yang pertama membuka suara. Semua mata sekarang tertuju kepada anak yang duduk di atas meja sebelah, bersama Danar.

“Rencana kalian cukup rumit,” lanjut Wisnu, dengan wajah yang terlipat – menyayat kodok waktu praktikum tidak sampai seserius ini rautnya. “Apalagi, kita hanyalah anak sekolah.”

“Kau tahu ini juga dari nguping, kan?” sahut Asep. “Aku malah takutnya kita ikut campur.”

Anak geng motor itu mulai berbicara, mendiskusikan tentang perihal rencana Haidar. Belum pernah mereka berdiskusi seserius ini selain membicarakan tentang Ansar, ketua geng motor mereka.

Haidar menoleh ke Putra dan Chelsea bergantian yang duduk di sisinya. Mereka juga menatapnya tanpa kata-kata. Di jadwal mengerjakan PR akhir pekan yang lalu, mereka sudah membicarakan tentang hal ini; untuk memberitahukan rencana mereka kepada anak-anak. Tidak peduli jika ujung-ujungnya bahkan adalah tolakan mentah-mentah, yang penting mereka akan mencoba memberitahunya. Karena niat mereka di balik rencana ini semata-mata untuk membantu seseorang mencapai impiannya. Meskipun itu adalah seorang guru.

“Tapi kalau Mister Herman memanglah ingin studi ke luar negeri, kurasa dia berhak mendapatkannya.”

Anak geng motor itu berhenti mengobrol, sekarang menatap kepada Melly dan ketiga anak perempuan lainnya yang duduk di ujung meja, sambil melahap roti selai sus Mbok Juminten. Geng Melly juga diajak ke warung ini sejak seminggu yang lalu, menemani Chelsea yang kadang masih sungkan berada di sini sebagai perempuan satu-satunya.

“Selama aku duduk di bangku sekolah,” lanjutnya. “Terlepas dari guru pelajaran apapun, aku belum pernah menemui guru yang seantusias itu mengajari pelajaran. Terlihat sekali dari cara mengajarnya.”

“Iya,” Rina mengangguk patah-patah, belum pernah dia ditatap oleh anak geng motor seserius itu. “Malah gara-gara Mister Herman, aku jadi suka nonton film mancanegara. Padahal sebelumnya mana mau aku, termasuk film Home Alone yang suka disetel di televisi setiap akhir tahun.”

“Lulusan Sastra Inggris juga, bukan?” Sonya menolehkan wajahnya ke Melly, menggigit rotiya. “Harusnya Mister Herman di perpustakaan Universitas Oxford sekarang.”

“Rencana kalian,” Lili – termasuk geng Melly meskipun dia sekarang berada di kelas Bahasa – membuka suara, “bisa coba kuusulkan di OSIS.”

Semua mata langsung tertuju kepada Lili, satu-satunya anak di sini yang mengikuti OSIS.

“Tapi,” wajah Lili berubah serius, “aku butuh informasi lebih lanjut. Sejauh ini, informasinya masih ambigu. Mungkin aja yang dimaksud Mister Herman saat menyebut beasiswa dan meninggalkan negara ini bukan karena studi di luar negeri.” Dia bergumam, menatap roti di tangannya, “Meskipun satu-satunya yang terlintas di benakku itu, sih.”

Putra membenarkan postur duduk, “Rencana ini jika diwujudkan akan butuh waktu lama, mungkin juga keburu ibunya guru itu sembuh. Tapi, bukan berarti kita

punya waktu selamanya.” Dia berdeham, “Waktu kita setidaknya hanya sampai kelulusan. Dua tahun. Itu juga kalau guru itu masih selama itu mengajarnya.”

“Tentang berapa lama Mister Herman mengajar aku bisa menanyakannya kepada anak OSIS. Aku dengar juga, sebenarnya Mister Herman guru sementara di sini.”

Semua membesarkan mata, mengetahui informasi baru itu.

“Pantas,” Haidar menggigit bolunya. “Para guru di sekolah negeri kebanyakan lulusan Sarjana Pendidikan.”

“Oke,” Putra berbicara kembali. “Kalau gitu, kita harus merencanakan informasi apa yang harus dikumpulkan terlebih dahulu. Pertama, informasi mengenai berapa lama guru itu ngajar di sini. Terus, meyakinkan tentang fakta bahwa Mister Herman betulan ingin studi keluar negeri tapi terkendala karena ibunya sakit.” Dia menoleh ke Lili, “Yang pertama, kau bisa mencarikannya untuk kami?”

Lili mengangguk, “Kak Sofi, anggota OSIS, dia tiap hari ke ruang guru. Aku bisa menanyakannya.”

“Yang kedua, kalau tanya Mister Herman langsung, jadinya kita terlihat ikut campur. Maka dari itu, kita harus tanya orang terdekatnya. Pak Gilang.”

“Pak Gilang guru Olahraga?” tanya Rudi, anak geng motor lainnya. “Mereka berdua emang kelihatan dekat, sih. Aku sering lihat mereka pergi ke kantin bareng di jam pulang sekolah.”

“Dua orang itu,” sahut Fajar, “satu-satunya orang rantau di sekolah ini yang dari luar pulau, katanya.”

“Tapi,” Asep menggarukkan kepala. “Siapa yang mau tanya?”

Saat Putra menatap satu siswa, semua orang mengikuti arah matanya. Danar.

Danar melotot, “Kenapa aku??”

“Kau paling dekat sama dia,” kata Putra. “Kau pasti yang disuruh mbantu bawa peralatan olahraga sama Pak Gilang.”

“Pelajaran Olahraga dia emang dari SD udah bagus juga,” celetuk Wisnu. “Siapa yang nggak tertarik sama anak berbadan bongsor tapi larinya ngalahi orang dikejar anjing?”

Danar, masih melotot, berdecak gusar, “Nggak bisa aku jadi mata-mata.”

“Udah lah,” Wisnu menepuk pundaknya, “buat Ansar bangga kali-kali.”

Wajah Danar langsung melunak. Dia mengusap tengkuk, berbicara lirih, “Harus tanya apa aku?”

“Itu bisa aku kasih tahu di kelas,” jawab Putra. “Pertanyaannya lebih banyak dibandingkan quiz dadakan Pak Beni.”

Para anak IPS yang mengetahui maksud Putra langsung tertawa terbahak-bahak. Danar sudah ingin mengangkat pantatnya, melotot, tapi untung dicegat Wisnu dan Asep. Haidar dan Chelsea juga terkekeh. Putra menceritakan perihal itu di jadwal bertelepon mereka minggu lalu.

Melly menjulurkan kepala kepada Chelsea di sebelahnya, “Emangnya berapa banyak quiz pelajaran Sejarah itu?”

Chelsea, masih menyengir, menjawab, “Dua puluh.”

“Rencana ini tapi betulan diwujudkan?”

Tawaan berhenti. Semua orang menatap Haidar saat dia membuka mulut kembali. Dengan bolu yang sudah termakan habis.

Haidar berdeham, “Kedengarannya…seperti seolah-olah kalian juga ikut bantu kami.” Dia menundukkan kepala, menatap meja, “Padahal, ini rencana untuk ngumpulin duit buat ibunya Mister Herman yang sedang sakit supaya dia bisa studi keluar negeri. Benar kata Wisnu, rencana rumit.”

Suasana senyap kembali. Menyisakan suara tangisan pemain FTV di televisi karena kekasihnya yang tertabrak mobil.

“Sudah kubilang, Mister Herman berhak mendapatkannya.”

Melly bersuara, dan semua mata tertuju kepadanya.

“Meskipun kita juga hanyalah anak sekolahan yang mungkin pemberian kita tidak seberapa,” lanjutnya, “aku tetap ingin membantunya. Guru itu berhak berada di tempat yang dia inginkan.”

Semua bergeming. Anak berkacamata itu dengan nilai bagusnya bisa berbicara sebijak itu. Mungkin karena melahap buku-buku Pramoedya Ananta Toer.

“Aku sama Rina, sih ikut Melly aja.” Sonya menoleh ke Lili, “Kau pasti juga, kan Li?” Lili mengangguk.

“Haidar,” panggil Wisnu. “Aku memang belum punya cita-cita, nggak seperti kau yang ingin kali naik pesawat, atau Achel yang ingin jadi ilmuwan. Palingan aku ikut kedua orangtuaku yang jadi perawat, atau jadi tenaga kesehatan lainnya.” Dia terdiam. “Tapi, membantu seseorang menggapai keinginannya, kenapa tidak? Lagian Mister Herman juga baik kali ngasih ujian, raporku di pelajaran itu nggak pernah merah lagi sejak sama dia. Kalau dia segalak Bu Leni mungkin aku tak peduli.”

“Aku sih, ikut Wisnu,” Asep menyahut, menunjuk wakil ketua. Para anak geng motor lainnya mengiyakan.

“Danar,” Wisnu menepuk bahu lebar di sebelahnya. “Gimana dengan kau?”

Danar melirik Wisnu dengan decakan. “Aku selalu ikut kau. Kau nggak pernah tonjok orang, tapi kau otak geng kita. Makanya Ansar suruh kau jadi tangan kananku.” Dia menatap Haidar dan kedua sahabatnya, “Wisnu aja nggak punya cita-cita, apalagi aku. Satu-satunya keinginan yang kupunya hanya ketemu dengan si pembalap Valentino Rossi itu.” Dia menyengir – jarang terjadi, “Tapi rencana mata-mata ini, kayaknya seru. Seseru balapan sama Ansar. Makanya, aku juga ikutan.”

+++

Haidar membawa sebagian buku tulis, membantu Melly di sebelahnya. Mereka berjalan bersisian dengan Mister Herman ke kantor guru, menelusuri koridor yang penuh dengan para murid yang bergegas pulang ke rumah.

“Kalian berdua,” di luar kelas, logat Kalimantan itu terdengar kembali. “Nilai writing comprehension pasti selalu bagus. Kalian suka baca buku mancanegara?”

Haidar dan Melly saling bertatapan, tidak menduga perihal percakapan ini. Kemudian, Melly membuka suara, “Kalau Haidar emang karena sudah berteman dengan Putra yang blasteran itu sejak SMP. Kalau aku…mungkin karena novel Chelsea yang dari Amerika itu. Baca buku dia pasti harus menyiapkan kamus juga.”

Mereka hati-hati menuruni tangga. Setelah menelusuri lorong sampai ujung, mereka memasuki ruang guru. Para guru sedang melahap nasi bungkus atau isi kotak makan mereka sambil mengobrol santai dengan satu sama lain.

Mejanya Mister Herman tertera di ruangan sebelah. Haidar memasuki ruangan itu untuk pertama kalinya. Keadaannya jauh lebih lengang dibandingkan ruangan utama, hanya beberapa meja yang tertera di tengah ruangan. Dinding dibiarkan kosong, hanya tertera foto para murid angkatan di acara kelulusan sejak sepuluh tahun yang lalu.

Pak Gilang yang sedang berdiri di depan mejanya – sebelahan dengan meja Mister Herman – menyapa guru tersebut, “Man.” Dia tersenyum saat melihat dua murid di belakangnya, “Melly, Haidar.” Dua murid itu menyapanya balik.

“Duluan aja ke kantin, Bang,” Mister Herman berbicara santai dengan rekannya meskipun di depan para murid. “Aku harus beresin buku anak-anak dulu.”

Bapak dari Nusa Tenggara dengan celana training dan stopwatch terkalung di lehernya itu menepuk bahu Mister Herman. Dia tersenyum ramah sekali lagi kepada dua murid, “Mari, Melly, Haidar.”

Setelah punggung bapak Olahraga itu menghilang di ambang pintu, Mister Herman berbicara kepada kedua murid, “Kalian nggak apa-apa jika saya meminta bantuan untuk menyortir buku para anak-anak?” Dia menatap tumpukan buku yang berserakan di hadapannya, “Padahal saya hanya mengajar satu angkatan, tapi nggak nyangka bahwa sebanyak ini murid-muridnya.”

Melly mengangguk, “Nggak apa, Mister. Saya nggak buru-buru.” Dia menoleh Haidar, “Kau juga, kan?” Haidar ikut mengangguk.

Mereka bertiga membereskan buku-buku tulis satu angkatan itu, menyortir setiap jurusan terlebih dahulu. Mister Herman adalah guru yang sangat ramah, dia sesekali mengobrol, menanyakan tentang latar belakang mereka berdua. Melly dan Haidar tentu saja senang sekali diperlakukan seperti itu, membuat guru itu sudah seperti teman sebayanya tanpa berkurang rasa hormat mereka.

“Saya juga punya saudara, Mister,” kata Haidar, menumpuk beberapa buku tulis. “Kakak saya sepantaran Mister. Saya dulu hampir kira Mister teman sekolah dia, perawakannya juga mirip soalnya. Namanya juga sama, Ferdi Irawan.”

“Bukan dari Kalimantan tapi?” tanya Melly, menata tumpukan buku yang sudah tersortir.

Haidar menggeleng, “Lahirnya di dukun beranak tetangga desa sebelah.”

Melly terkekeh. “Aku hampir lupa kalau di daerahmu masih mengandalkan dukun beranak.”

“Daerah saya juga seperti itu, kok,” Mister Herman menyengir, sambil menulis sesuatu di sebuah buku tulis bersampul tebal. “Semua saudara saya, termasuk saya, juga lahir di dukun beranak.”

“Mister emang berapa bersaudara?”

“Tiga juga seperti Haidar. Saya anak terakhir, satu-satunya lelaki.” Haidar dan Melly ber-ooh pelan.

“Mister,” panggil Melly, menggeserkan tumpukan buku tulis yang sudah rapi di sudut meja. “Katanya Mister lulusan Sarjana Sastra.” Dia terdiam. “Mister…ada rencana lanjut S2, kah?”

Haidar menatap Melly, berusaha menahan diri untuk tidak melotot. Tidak menyangka bahwa anak ini akan berbicara mengenai tema itu.

Mister Herman untungnya saja hanya tersenyum, “Ada, kok.”

Haidar dan Melly berusaha untuk tidak saling menatap penuh makna, melanjutkan aktivitas masing-masing.

“Dimana, Mister?” tanya Melly lagi. “Di kampus yang sama?”

Mister Herman menggeleng. “Rencananya mau di luar negeri. Di Britania Raya.”

Sekarang Haidar dan Melly tidak bisa menahan diri untuk saling menatap.

“Negaranya Harry Potter?” sahut Haidar. “Baru nonton saya filmnya sama Putra dan Chelsea.”

Melly spontan tertawa ngakak, untung ruangan guru sedang sepi. Setelah itu dia hanya ber-ooh antusias. “Pantas aja Mister ngomongnya seperti orang mereka. Karena mau ke sana ternyata.” Dia berdeham, suaranya mulai hati-hati, “Udah ada rencana, Mister, kapan mau ke sana?”

“Belum tahu, sih. Tapi saya lagi ngejar beasiswa LPDP.”

“LPDP?” Haidar berkerut, belum pernah mendengar kata itu.

“Beasiswa dari pemerintah, Dar,” Melly yang menjawab. “Untuk yang mau melanjutkan S2 atau S3 ke luar negeri.”

Haidar ber-ooh pelan. Melly juga punya sejuta informasi seperti kedua sahabatnya.

“Tapi kalau nggak salah,” lanjut Melly, “yang menggunakan beasiswa itu, setelah lulus wajib balik ke Indonesia lagi, ya Mister?”

“Betul, Melly,” Mister Herman mengangguk, tangannya berhenti menggurati bulpen. Dia menutup buku tulis bersampul tebal itu, “Tapi saya memang hanya berniat kuliah aja di sana. Tidak perlu menetap.”

Haidar dan Melly ber-ooh pelan, sambil diam-diam saling menatap lagi.

Mister Herman menyandarkan punggungnya, menatap ke sebelah. Wajahnya terlihat tenang, tetapi ada sebercak rasa antusias dari mata sayunya itu.

“Saya memang selalu ingin kuliah ke luar negeri,” gumamnya. “Impian saya sejak kecil.”

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 23: Teropong

Next
Next

Bab 21: Rencana (1)