Bab 23: Teropong

Haidar hati-hati melewati kerumunan orang. Kadang bahunya bertabrakan dengan bahu lainnya, membuatnya hampir terpelanting. Matanya sambil tetap fokus melihat ketiga anak lelaki di depannya. Hilang di Pasar Pinggir Lembah ini bisa-bisa dia tidak bisa pulang sampai pagi. Ramainya melebihi Pasar Kabupaten, juga bagian pasar swalayannya. Berbagai macam barang, tidak hanya makanan saja, tertera di sini. Lantunan lagu berbagai macam toko kaset, mulai dari dangdut sampai lagu mancanegara, menggema di setiap jalanan pasar, seolah-olah saling beradu koleksi lagu siapa yang paling lengkap.

“Untung aja kakakku suka naik gunung,” kata Danar, badannya yang bongsor malah membuat orang-orang hampir terpelanting jika menabraknya. “Jadi aku tahu toko langganan dia.”

“Aku hanya tahunya lensa kamera,” sahut Putra, berjalan di sebelah Danar. “Beda sekali dengan lensa teropong.”

“Si Haidar, sekalinya ngasih kado buat anak perempuan, susah kali permintaannya,” Wisnu berjalan di sebelah Putra. Saat dia menoleh ke belakang, dia melotot, “Haidar! Udah kami bilang, jangan ternganga kau di sini!”

Dua minggu yang lalu sebelum liburan akhir tahun, Putra mengabarinya bahwa di hari tahun baru, dia akan berkunjung ke rumah saudara bapaknya di Singapura bersama kedua orangtuanya. Hal tersebut membuat mereka tidak bisa melakukan ritual membakar sate itu. Tetapi, Chelsea mengambil peluang ini untuk menghabiskan waktu bersama Haidar di Desa Bukit Berbaris, ingin melihat kembang api di atas bukit. Orangtuanya bahkan membiarkan anak perempuannya menginap selama mungkin, meskipun sampai tahun ajaran baru sekalipun, saking percayanya pada Haidar. Mendengar berita ini di ambang telepon, hampir saja membuat Haidar menangis saking paniknya tapi juga girang secara bersamaan. Untung saja saat itu adiknya sedang mencuci piring di belakang rumah, tidak melihat reaksi wajahnya itu.

Kunjungan Chelsea seminggu lagi di akhir tahun itu membuat Haidar memiliki ide. Dia ingin memberinya kado ulang tahun meskipun sudah telat tiga bulan. Hampir saja dia juga ingin membeli baju batik baru di Pasar Pinggir Lembah untuk menyambut anak itu, tetapi untung saja langsung dicegat oleh ketiga anak lelaki di hadapannya.

“Lagipula,” Putra sekarang menoleh ke belakang, menatapnya. “Teropong malam hanya bisa digunakan untuk lihat kelelawar di hutan. Nggak bisa lihat bintang.” Danar dan Wisnu tertawa.

Haidar mengusap tengkuk, wajahnya memanas. “Cuma bisa kebeli itu. Pokoknya paling mahal harus seharga steak yang dibelikan Achel waktu itu.”

Putra hanya bergumam dengan wajah datarnya, tetapi Haidar tahu sekali anak itu sedang menahan diri untuk menyengir penuh ledekan sejak dia menjemputnya di Desa.

Setiap akhir pekan pertama liburan, tidak ada jadwal mengerjakan PR di rumah Putra. Jadi, setelah Putra berkomunikasi dengan Danar lewat telepon, mereka berempat berencana untuk bertemu di Pasar Pinggir Lembah akhir pekan ini. Untung saja di hari yang sama, Chelsea dan orangtuanya pergi mengunjungi tempat kerja bapaknya, jadi anak itu tidak begitu curiga kepada dua sahabatnya yang punya rencana lain, terlebih juga bertemu dengan Danar dan Wisnu. Dia mungkin berpikir bahwa kedua sahabat itu ingin mengunjungi pangkalan balapan motor anak-anak.

Mereka berempat berhenti di sebuah toko. Jendela etalasenya menampakkan berbagai macam alat pendakian, mulai dari teropong monokular sampai ransel gunung. Mereka memasuki toko yang jalurnya hanya memuat dua orang. Berbagai macam jaket hujan yang tergantung di langit-langit menyambut mereka.

“Danar?” seorang pria paruh baya menyapanya. “Si Dwiki baru aja datang kemaren. Katanya dia naik gunung di Jawa Timur bulan ini.”

Danar menyalami bapak tersebut. Dia menunjuk Haidar, “Temanku cari teropong malam. Barang bekas pun tak apa, yang penting bisa dipakai.”

Bapak itu – sepertinya salah satu penjual – ber-ooh pelan. “Teropong malam yang kayak gimana? Buat cari hantu?”

Putra berdecak. “Teropong malam biasa aja, Bang. Yang buat lihat hewan noktunal.”

“Tra,” Wisnu menepuk bahunya. “Kata Haidar kau berani, ya, kalau lihat hantu? Si Ansar ngajakin keliling kuburan kota lagi minggu depan. Kali aja kau mau ikut, dipinjam senter sama dia nanti.”

“Iya, Tra!” Danar sudah menepuk bahu sebelahnya antusias, untung tidak sampai membuat Putra terpelanting. “Si Ansar aja katanya masih suka takut kalau ketemu pocong.”

Putra menggoyangkan badan gusar, melepaskan pegangan kedua anak itu, “Sudah kubilang, aku nggak mau ikut kalian! Mendingan gaming sampai pagi!”

Haidar terkekeh. Putra memang seberani Hasan. Bedanya, kakak sialan itu katanya akan tertawa jika betulan melihat sosok hantu, sedangkan Putra yakin sekali kalau sosok astral itu tidak akan memunculkan diri kecuali di layar televisi.

Bapak penjual tersebut kemudian menggeletakkan tiga teropong malam di meja etalase. Dua berwarna hitam, satunya berwarna coklat. Haidar langsung mendekati meja etalase, menatap tiga benda itu berbinar, tetapi canggung untuk menyentuhnya.

“Pegang aja, Dek. Nggak apa, kok,” kata bapak penjual.

Haidar mengambil salah satu teropong itu yang bewarna hitam, memegangnya hati-hati seperti saat dia pertama kali memegang kamera polaroid Putra.

“Masing-masing berapa harganya, Bang?” tanya Danar. “Sekalian ada diskon, nggak? Si Dwiki aja Abang kasih diskon.”

Bapak penjual itu terkekeh. Saat dia menyebut angka dari harga teropong malam yang Haidar pegang, Haidar langsung menggeletakkannya. Tidak mau menyentuhnya lagi. Harganya lebih mahal daripada jumlah tabungan membengkelnya.

“Ada yang lebih murah lagi nggak, Bang?” tanya Haidar, sambil menyebut angka sesuai kebutuhannya.

Bapak itu bergumam. Dia mengambil teropong coklat di atas meja, “Yang ini sih, Dek. Barang bekas tapi ini, keluaran lama juga.”

“Nggak apa, Bang,” Haidar menerima teropong coklat itu, mengamatinya. “Yang penting bisa dipakai. Setidaknya buat liat semut di malam hari.”

“Diskon dong, Bang!” celetuk Danar. Kemudian suaranya merendah, setengah berbisik, “Buat gebetannya, Bang.”

Hadiar berusaha menahan diri untuk tidak mengetok kepala Danar dengan teropong di tangannya, sambil merasakan wajahnya yang memanas. Anak geng motor itu tertawa menggelegar, termasuk Putra dengan tawa meledeknya.

“Oh gitu,” bapak penjual malah antusias. “Suka main ke hutan gebetan kau? Padahal anak perempuan biasanya maunya dikasih boneka beruang sebesar anak balita itu.” Dia juga menyengir, “Yaudah, Abang kasih diskon dua puluh persen. Kau sepertinya juga teman dekatnya Danar.”

“Lebihin, dong Bang!” celetuk Danar.

Bapak penjual itu sekarang yang ingin mengetok kepala Danar dengan teropong hitam di atas meja, “Nggak dapat untung aku!”

Dua hari sebelum kedatangan Chelsea, Haidar membersihkan kamarnya sepanjang hari. Nenek sampai tercengang, berdiri di ambang pintu sambil melipatkan tangannya di dada. Dua cucu termudanya paling susah kalau disuruh membersihkan kamar, harus dijewer terlebih dahulu.

“Si Achel nanti kusuruh tidur di sini aja,” Haidar membereskan buku-buku pelajaran di meja kayunya yang masih tergeletak sejak UTS. “Biar aku tidur di sofa.”

“Kau tidur di kamar Harika pun tak apa,” Nenek menunjuk ke belakang sembarangan. “Nanti Kakek pinjam matras Pak Kades.”

Haidar menggeleng cepat, “Mana bisa aku tidur karena dengkurannya.”

Kemudian, sosok Kakek muncul, berdiri di sebelah Nenek. Dia terkekeh – kekehan khas Bapak. “Padahal dulu pas Putra nginap di sini aja kamarnya dia biarkan berantakan.”

“Iya,“ Nenek mengangguk. “Nanti kalau anak itu datang, kusuruh dia datang ke sini tiap hari. Biar kamarnya selalu bersih.”

Haidar melototi kedua pasangan tua itu yang sekarang terkekeh-kekeh. Saat dia memberdirikan kasur kapuk di atas ranjang bambu, dia langsung terbelalak, “Tikus mati!!”

Nenek berdecak, “Itulah akibatnya jika kau bersihin kamar setahun sekali!”

Haidar patah-patah membawa bangkai tikus berukuran besar itu ke halaman belakang, menenteng ekornya. Untung saja bangkai itu tidak berlalat dan bau amis, sepertinya baru mati hari ini.

Di malam sebelum kedatangan Chelsea, anak itu menelepon Haidar. Pertama kalinya mereka bertelepon berdua. Haidar sudah mengusir adiknya itu untuk ke belakang rumah, supaya tidak melihat wajahnya yang sepanjang hari sudah memanas.

“Aku datang ke halte bis yang kau maksud itu jam sepuluh pagi,” kata Chelsea. “Aku akan menaiki bis kota.”

“Tante Dinda nggak akan ngantarin?” tanya Haidar. “Lagian bukannya perjalanannya hampir sejam?”

“Aku sudah terbiasa sendiri. Jangan khawatir.” Dia tertawa cekikikan, “Ajaran Mommy, kalau ada orang berperilaku aneh kepadaku, tinggal kusemprot pakai pepper spray.”

Haidar tertawa. Anak perempuan ini betul-betul unik, membuat hatinya semakin berbunga-bunga setiap mengetahui sisi keunikannya.

“Tapi tidak apa, kan,” lanjut Chelsea, “jika aku menginap di tempatmu sehari?”

Haidar mengangguk, “Nggak apa-apa. Adikku pasti juga senang, ada temannya.” Kau menginap selamanya pun tak apa.

Chelsea berseru antusias. “Kalau gitu, sampai besok, Haidar. Aku harus tidur cepat malam ini, supaya bisa ke halte bis tepat waktu.”

Setelah mereka saling berpamitan, sambungan telepon terputus.

Haidar berjalan ke kamarnya, menutup pintu. Sebuah bungkusan dengan kertas koran bekas Kakek tergeletak di atas meja belajarnya yang sekarang kosong selain hanya barang tersebut. Dia duduk di atas ranjang. Badannya membungkuk untuk mengambil sebuah kotak sepatu bekas di kolong kasur.

Saat Haidar membuka isinya, puluhan amplop berderet. Terakhir dia menghitungnya saat memasuki tahun ajaran baru kelas sebelas, jumlahnya setara dengan uang iurannya. Dalam hatinya, dia berteriak girang. Setelah kelulusan pasti dia bisa menaiki pesawat, meskipun belum tahu kemana.

Haidar menggeser amplop-amplop itu. Dia mengambil bungkusan di atas meja dan menaruhnya di sebelah para amplop. Supaya saat Chelsea datang ke rumah besok, dia tidak akan melihat bungkusan itu terlebih dahulu. Karena Haidar akan memberikannya di bawah langit malam Desa, dengan hiasan kembang api dari Kota Lembah.

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 24: Desa Bukit Berbaris

Next
Next

Bab 22: Rencana (2)