Bab 8: Keponakan Om Memet

“Rantai kayak ieu mah banyak stok di sini,” Dadang mengamati rantai yang menjuntai itu, tangan menghitamnya semakin kotor saat memegang komponen besi tersebut. “Bentar ya, Haidar. Akang ambilin.”

Haidar mengangguk. Sepeda ontelnya sekarang terbaring di sebelah motor yang frame-nya sedang dibongkar sepenuhnya, hanya menyisakan mesinnya yang masih menempel. Lantunan lagu Pas Band dan deruan knalpot seperti biasa menggema di tempat bengkel itu.

Putra, masih memakai seragam sekolah, mengamati sekitar. Meskipun ini pertama kalinya dia ke sebuah bengkel, tapi dia seperti biasa tidak menunjukkan raut penuh keengganan. Tidak mempedulikan seragamnya yang masih rapi dimasukkan ke celana ikut kotor karena debu.

Haidar menoleh ke belakang, dimana sekarang Om Memet sejak hampir setengah jam yang lalu membungkuk menatap motor moge Putra dengan bola mata hampir keluar dari kacamata bulatnya.

“Ini…El Knucklehead,” Om Memet akhirnya bersuara. “Ini…bukannya langka sekali?”

“Mana aku tahu, Om. Punya bapakku itu,” kata Putra. “Bapakku kolektor barang antik. Apapun itu barangnya. Gading gajah mammoth dari zaman es batu aja pasti dia koleksi kalau ketemu.”

Telunjuk Om Memet yang masih tergantung bergetar. “Boleh Om sentuh?”

“Coba naik pun nggak apa-apa, Om.”

Om Memet langsung melompat ke atas jok. Dia menaruh tangan di pegangan, bergumam penuh takjub mengamati badan motor dari perspektif pengendara.

“Kak Indah kalau liat ini makin nangis dia,” tuturnya. “Untung aja keturunannya sering naik ini, jauh lebih bagus ketimbang punyaku.”

“Gimana, Om?” panggil Haidar. “Putra dibelikan nasi padang, nggak?”

Sekarang, kedua remaja lelaki itu duduk di ruang kantor Om Memet, melahap nasi padang masing-masing, bedanya punya Putra tidak memakai gulai otak sapi. Om Memet sedang pergi mencari gembok buat sepeda Haidar, supaya sepedanya tidak akan cepat tergencet lagi.

Haidar, sudah dengan kaos membengkelnya, menduduki kursi singgasana bapak pemilik bengkel itu, dengan satu kaki terangkat. Putra duduk di hadapan, melahap nasi bungkus itu dengan sendok-garpu plastik – mungkin hanya dia di dunia ini yang makan nasi padang dengan alat makan. Satu bungkus lainnya tertera di ujung meja.

Pintu ruangan terbuka. Seorang anak lelaki berseragam putih-merah dengan rambut ikal cepaknya masuk, menenteng ransel bergambar Power Ranger di belakang.

“Bang Haidar,” anak itu berlarian menghampirinya, “dimana Pakde?”

“Cari gembok buat sepedaku.” Haidar menyodorkan tangan kiri, “Maaf, ya, tangan kanan Abang kotor.”

Anak lelaki itu menyalami tangan kiri Haidar. Dia bergeming saat menemui sosok Putra.

“Sahabat Abang ini. Kenalin,” Haidar menunjuk Putra. “Salam sama dia. Tangannya bersih.”

Anak itu sekarang berlarian mendekati Putra, menjulurkan tangannya. Saat Putra memberikan tangan kanannya, anak itu menatap ragu-ragu, “Padahal abis dari toilet tadi aku udah cuci tangan.”

“Udah, lah. Salam aja,” Putra sigap mengambil tangannya. “Aku aja sering salaman sama adik Haidar yang tangannya dipakai habis tangkap tikus sungai.”

Sambil menyengir menatap Putra, anak itu mengambil bangku yang sudah terletak di ujung meja. Dia menaruh ransel Power Ranger-nya sembarangan, kemudian duduk dan membuka bungkusan nasi dengan wajah berbinar.

“Ki,” panggil Haidar. “Belum kenalan kau sama Putra. Nama dia juga panjang, tapi nggak sepanjang kau.”

Putra mendecak, “Kubilang namaku itu normal. Naik haji pun bisa, udah menuhin tiga kata. Sama kayak Achel.” Dia menatap anak itu, melahap daging di sendoknya, “Emangnya apa nama panjangmu?”

“Muhammad Ali Sulaiman Ridwan,” anak itu mengunyah nasi, “Kidung Rangga Padmawijaya Mangunkusuma Sidaruhusada.”

Putra ternganga. Hampir saja daging di mulutnya keluar. Untung tidak sedang di hadapan orangtuanya. Sedangkan Haidar sudah membenamkan wajah di lengan kaosnya.

“Astaga,” Putra akhirnya berbicara, “kereta antar-kota aja nggak sepanjang nama kau.”

“Kata Pakde, namaku nggak cuma bisa naik haji aja. Aku naik roket ke bulan pun bisa.”

“Fakta darimana itu? Yang ada tukang jahit seragam astronot kau menangis bordirin nama kau. Benang jahitnya nggak cukup.”

“Bang Haidar,“ anak itu menunjuk Putra dengan jari berlumur nasi, “Abang ini lucu juga. Sering-sering ajak ke sini.”

“Dipanggil apa, kau?“ Putra mengais nasi dengan sendok, wajahnya sudah melunak. “Kidung, kah? Tadi Haidar panggil kau Ki.”

Anak itu menggeleng. “Pengki, Bang.”

+++

“Pengen cepat pulang aku malah terseret lagi sama anak ini,” Putra menyandarkan punggungnya di kursi lipat. “Untung aja PR-nya Bahasa Inggris.”

Putra dan Pengki sedang duduk di ujung ruang bengkel, meja bundar memisahkan mereka dengan beberapa buku yang terbuka di atasnya. Suara knalpot dan lagu rock lokal seperti biasa menggema, tetapi Haidar yang sedang membongkar mesin motor bersama Dadang bisa mendengarkan percakapan mereka berdua. Sesekali juga ikut menimbrung.

“Abang jago bahasa Inggris?” mata Pengki berbinar, tangan masih memegang pensil.

“Bahasa sehari-hari, malah,” sahut Haidar, mata fokus kepada gerakan obengnya. “Macam bahasa daerah dia aja.”

“Serius, Bang?? Aku di rumah disuruh ngobrol Bahasa Jawa sama Bapak aja masih suka nggak ngerti. Cuma bahasa kasar aja aku taunya.”

“Heh! Kecil-kecil malah belajar bahasa umpatan,” Putra melotot. “Mana yang belum diisi? Mumpung Abang di sini, kali aja nilai raport Bahasa Inggris kau jadi dapat seratus.” Dia bergumam, “Kayak Achel dengan Fisika-nya. Tapi mikirin itu malah buat bulu kudukku merinding.”

Haidar terkekeh, melepas sebuah paku dari mesin. Wajahnya tapi memanas saat nama anak tetangga Putra itu disebut. Entah kenapa.

“Ini, Bang,” Pengki menggeser bukunya. “Ceritanya aku harus isi nama buah-buahan. Pake bahasa Inggris.”

“Ya sudah. Bacakan buat Abang.”

Pengki berdeham, menarik nafas dalam. Dia mengangkat buku pelajaran ke hadapannya, membacanya patah-patah dengan logat daerah yang kental, “My body is round, large and green. The content of my body is red and tastes sweet. What am I?”

“Itu,” Putra memasukkan tangan ke saku celana, “banyak dijual di Pasar Pinggir. Lebih besar dari kelapa.”

“Iya, Bang? Buah apa lagi yang lebih besar dari kelapa?”

“Kayaknya sebesar helm Abang itu. Kalau buah itu hantam kepala kau, kepala kau yang malah pecah, bukan buahnya.”

Pengki bergumam. Kemudian dia menaikkan pantat, “Semangka, Bang!!”

“Bahasa Inggrisnya apa?”

“Apa, ya, kata Miss Lina…melon…melon…”

Watermelon,” kata Putra dengan logat yang seperti di film Hollywood. “Tahu kan, tulisannya gimana?”

Pengki menggurati pensil, “Tau, Bang. Water itu air, kan ya…watermelon…” Dia tersenyum puas setelah menuliskan kata asing itu. “Masih ada lagi, Bang. Kubacakan, ya. My body is round, hairy and red. The content of my body is white and tastes sweet. There is a seed inside of my body. What am I?

“Kayak kelengkeng itu. Bisa dikupas, warna dagingnya juga sama.”

Hairy itu apa emang, Bang?”

“Yang ada di atas kepalamu.”

Pengki memegang kepala, “Oh, rambut, Bang? Kalo gitu…rambutan, Bang! Bahasa Inggrisnya apa?”

“Sama, kok.”

“Oh gitu…” Pengki menggurati pensil kembali, takjub dengan PR bahasa Inggris-nya yang untuk pertama kali terisi semua. “Bang, aku sendiri juga punya teka-teki bahasa Inggris.”

Haidar kali ini menoleh cepat, gerakan tangnya terhenti, “Sejak kapan kau punya teka-teki bahasa Inggris??”

“Jawab ya, Bang. What fruit can laugh?

Putra menyerngit, “Buah yang bisa ketawa maksud kau?”

Haidar juga ikutan berpikir. Keponakan Om Memet ini memang suka sekali berteka-teki, otaknya menyimpan lebih banyak teka-teki ketimbang buku TTS.

“Apa?” decak Putra. “Jangankan buat ketawa, buah aja nggak punya mulut.”

“Tapi ada jawabannya. Bang Haidar tahu?”

“Rumit kali teka-tekimu kali ini,” Haidar meringis saat memutar kunci inggris. “Mendingan Abang bongkar motor aja. Kang Dadang, tahu jawabannya?”

“Disuruh itung kembalian nasi padang Bundo sampe besok Akang teh belom selesai.”

“Yaudah, Pengki, nyerah semua kami. Apa jawabanmu?”

Pengki tertawa sendiri, “Jawabannya, BUAHahahahaa!!”

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 9: Janji

Next
Next

Bab 7: Lengan Talas Danar