Bab 7: Lengan Talas Danar
“Untung aja telingaku udah terbiasa dengerin ocehan Harika yang kayak toa mesjid itu,” Haidar melepas satu kancing kerah seragamnya, berjalan menyusuri koridor sekolah yang sekarang sesak oleh murid lainnya, bergegasan ingin cepat pulang ke rumah. “Setiap pulang dari bengkel, di rumah aku jadi ikutan budeg dibuatnya. Suara Nenek manggil buat makan malam jadi nggak kedengaran. Sampai hampir dijewer, padahal biasanya Harika yang langganan dijewer Nenek.”
Putra berjalan di sebelahnya. “Aku jadi mau ke tempat bengkelmu.”
“Bawa motor mogemu sekalian. Om Memet pasti menangis lihat motormu, cinta mati kali dia sama Harley Davidson. Untung aja kaca spionnya nggak dia bawa sampe tidur. Tenang aja, Om Memet nggak main tonjok, kok, kalau dia iri. Malah dibelikan nasi padang sama dia.”
Mereka sudah sampai di ujung koridor. Suara motor menggema dari gerbang sekolah, para siswa berderu keluar dari wilayah sekolah sudah seperti lomba balapan. Asap knalpot bersatu dengan udara.
Haidar menggenggam tali ransel di dada. Semenjak kerja di tempat Om Memet selama tiga bulan ini, isi ranselnya semakin banyak. Selain buku-buku pelajaran dan dua bekal Nenek, dia juga membawa handuk dan kaos bekas, sesuai saran bapak tua itu.
Langkah Haidar terhenti. Sepeda ontelnya tergeletak di tempat parkiran dengan roda depan bengkoknya, untuk yang kedua puluh kali di hidupnya. Dia berlarian, meninggalkan Putra begitu saja, menghampiri sepeda ontelnya yang sudah terkapar, dengan helmnya yang masih tersangkut di frame, untung tidak ikut penyet seperti rodanya. Roda penyet biasanya tidak masalah, bisa dia pompa lagi, Pak Dodo punya alatnya.
Haidar menelan ludah. Rantai sensitif itu putus.
“Maaf.”
Suara ketus itu terdengar dari atasnya. Haidar menengadahkan kepala, mengenali suara itu yang selalu menggelegar jika sedang tidak ada guru di kelas.
Danar.
Anak itu menggarukkan kepala, wajahnya masih judes dan garang, “Lagian sepeda kerempeng gitu parkir di sebelah motorku. Gimana nggak kelindes.” Tangannya memegang helm, berdiri di belakang sebuah motor bebek yang sudah dimodifikasi dengan frame bewarna hijau seterang lampu lalu lintas. Singgasananya.
Ini pertama kalinya Danar berbicara kepadanya. Selama ini juga Haidar enggan untuk berbicara kepada anak itu, yang ujung seragamnya selalu dikeluarkan sampai jika dia dihukum oleh guru. Tetapi entah kenapa dia ingin membalas anak ini.
Haidar memberdirikan sepedanya, “Aku selalu parkir sepedaku di sini. Sejak upacara penyambutan siswa baru.”
“Emang aku peduli?” Danar memasang helm di kepala. “Lagian ini parkiran motor. Bukan sepeda.”
“Aku bayar iuran sekolah juga. Suka-suka aku mau parkirin dimana. Paling ujung di sini aman buat sepedaku.”
Danar melepas helm, menaruhnya di atas jok. Dia melipat tangan di dada, beberapa kancing seragam sudah terbuka, memperlihatkan kaos dalam hitamnya. Dia menatap Haidar, badan bongsornya hampir menutupi sinar matahari di langit.
“Banyak cakapnya juga kau,” Danar berjalan mendekatinya. “Kupikir kau bisu selama di kelas. Kecuali sama guru atau sama anak sipit itu.”
Haidar tetap bergeming. Dia masih menggenggam pegangan sepeda, menatap matanya balik, “Anak itu punya nama. Dan aku memang enggan ngomong dengan siapapun kecuali sama Putra. Habisin energi, udah capek aku ngayuh sepeda dari rumah.”
Wajah Danar memerah. Dia mengangkat lengan yang sebesar talas itu, tetapi badannya langsung ditahan oleh anak lainnya, dengan perawakan lebih kecil. Wisnu, anak kelas sebelah, yang merangkap jadi tangan kanannya juga.
“Udah, Danar,” Wisnu menahannya dari belakang. “Buang-buang energi debat sama anak ini. Biarin aja dia sampe lulus sekolah.”
Danar menatap Wisnu yang sekarang di sebelahnya dengan pelototan. Dia melepaskan diri dari cengkraman, “Belum ada yang pernah melawanku dengan muka sesantai ini! Berani-beraninya dia.”
“Memang berani aku,” sahut Haidar. “Ular berbisa di rawa-rawa aja pernah kupegang. Apalagi buat bicara dengan kau.”
Haidar tertegun. Selama ini dia hanya diam saja jika ditertawakan satu gedung sekolah perihal mimpi konyolnya itu. Tetapi, sejak berteman dengan Putra, kemudian Chelsea, serta bekerja di tempat Om Memet, dia merasa bahwa dia tidak sendiri. Ada banyak orang yang berada di sisinya, mendukung mimpi konyolnya itu selain keluarga.
Deruan nafas Danar seketika cepat. Dia melayangkan kepalan tangannya, dan kali ini Wisnu sampai tidak bisa menahannya. Haidar masih bergeming, reaksi tubuhnya tidak secepat itu jika untuk menghindari tonjokan, belum pernah bertengkar dengan siapapun selama ini–
Badan Haidar ditarik ke samping. Pegangan sepeda ontelnya lepas. Danar hampir saja terjungkal ke depan saat sepeda itu jatuh mengenainya. Haidar juga kaget saat badannya ditarik begitu saja. Dia menoleh, Putra sedang mencekram lengannya.
“Sialan kalian berdua!!” seru Danar. “Eh, cina! Ngapain kau ikutan?”
Putra berdecak, “Nginjak kaki aja di sana nggak pernah. Suka nggak masuk akal kau kalau ngumpat.”
Tentu saja Danar gusar mendekati mereka, tapi kali ini dua siswa lainnya selain Wisnu menahannya, sudah seperti menahan harimau kabur dari kandangnya. Beberapa siswa mulai mengelilingi mereka, tidak jadi pulang ke rumah. Lebih seru menonton pertengkaran dibandingkan televisi, apalagi jika pertengkaran itu dengan Danar.
“Haidar memang parkirin sepedanya di ujung sini dari upacara pertama,” Putra menunjuk tempat parkiran yang dimaksud. “Bukannya motor kau biasanya diparkir di ujung lainnya? Kenapa hari ini di sini?”
“Bu Kepsek bawa mobil baru,” Wisnu yang berbicara, menunjuk sebuah mobil jeep yang berada di ujung. “Jadi si Danar parkir di sini.”
“Oh gitu. Ya sudah, besok-besok kau hati-hati parkir motor di sini. Haidar parkir sepedanya di sini. Masalah selesai. Ayo, Haidar.”
“Heh!! Suka gitu ya kau!” teriak Danar. “Ngomong baik-baik, dibilang masalah selalu selesai. Kau pikir dengan gitu emosiku mereda, apa??” Dia menunjuk Haidar, “Apalagi aku disamain sama ular rawa-rawa!”
“Siapa suruh kau ngumpat sesuka hati. Emosi kau, tanggung jawab kau. Dinginkan kepala sendiri. Masalah ini sudah diselesaikan. Haidar, ayo kita pergi.”
Haidar hati-hati mendekati sepeda ontelnya. Danar masih ditahan oleh tiga orang, termasuk Wisnu. Dia memberdirikan sepedanya, berdecak melihat rantainya yang tergantung. Dia menuntunnya, mendekati Putra yang menunggu, sambil dengan benak bagaimana caranya dia menyambungkan rantai sepeda Bapak ini. Mereka berjalan meninggalkan geng motor itu, memunggungi mereka–
“Danar!!”
Teriakan Wisnu membuat Haidar dan Putra menoleh, dan spontan lengan talas itu melayang ke wajah Putra.
Putra tersungkur. Haidar bergeming. Danar memang paling jago di pelajaran olahraga, kalau berlari sudah seperti melayang dan tak terdengar meski memakai sepatu bola.
“Astaga, Danar!” seru Wisnu. “Udah kubilang, nggak usah diteruskan lagi!”
Para murid yang masih menyaksikan pertengkaran ini malah bersorak layaknya berada di arena lapangan sepak bola.
Haidar menjatuhkan sepeda ontelnya begitu saja, keadaannya memang sedang rusak ini. Dia menghampiri Putra yang masih terkapar di tanah, mengulurkan tangan, “Putra, nggak apa-apa kau?”
Putra mengambil tangannya sigap, meringis, “Udah kebal otot wajahku ditonjok sama dia.”
“Mau lagi kau, hah??” Danar melotot. “Sama aja kalian berdua ini. Banyak kali cakapnya!”
Danar ingin melayangkan kepalan tangannya lagi, tetapi langsung ditahan oleh Wisnu dan dua orang itu, yang justru dia semakin menggoyangkan badannya.
Haidar berdiri di depan Putra. Dia tidak sepintar sahabatnya untuk menyahut ketua geng motor itu. Dia hanya terdiam, menatap Danar sambil masih merentangkan satu tangannya…
Pegangan Wisnu lepas. Lengan talas itu sekarang mendarat di wajahnya.
Haidar tersungkur ke belakang, untung saja ditahan oleh Putra. Hatinya berdegup kencang, belum pernah badannya dihantam tenaga sebesar itu. Otaknya tidak bekerja sesaat. Sebelah kiri rahangnya mulai perih.
Masih menahan badan Haidar, Putra berbicara, “Kau kalau dendam sama aku aja, jangan sama dia!” Danar malah berseru ingin melayangkan kepalan tangan selanjutnya, tapi kali ini lima orang menahannya.
“Udah, Danar!!” Wisnu teriak di sebelah telinganya. “Keburu Pak Dodo datang sambil bawa pentungan! Pulang aja kita, nanti telat ketemu Ansar.”
Sebelum para lelaki itu saling menyahut lagi, seorang siswi berlarian menghampiri mereka, “Haidar?? Putra??”
Mereka semua menoleh. Chelsea mendatangi Haidar dan Putra.
“Kalian berdua tidak apa-apa?” tanyanya.
Satu geng motor itu langsung bergeming. terutama Wisnu. Tapi Danar masih melotot.
“Danar, pulang aja kita. Nggak berani aku sama Achel,” Wisnu setengah berbisik.
“Iya, Nar,“ kata anak buah lainnya. “Muka polos gitu tapi otaknya sangar.”
Danar menggerakkan badan gusar, melepas pegangan teman-temannya. Hanya dia yang memang berbeda kelas dari yang lain, “Emang kenapa si anak pirang itu?”
“Kau masih belum tahu rumor tentangnya? UTS Fisika Pak Kodir kemaren, yang sepuluh halaman itu.“ Wisnu menelan ludah, “Nilai dia…ngalahin Melly. Dapat nilai seratus, lagi.”
+++
“Betulan kau dapat seratus??” suara Putra menggelegar di UKS, sambil memegang rahangnya. “Padahal tiga perempat siswanya remedial semua!”
Para anak lelaki itu sekarang duduk di atas ranjang UKS. Chelsea, duduk di kursi berhadapan dengan mereka, sedang memeras kain basah di sebuah wadah di pangkuan.
“Kau lebih baik diam dulu. Nanti sendi rahangmu bergeser,” Chelsea memberikan satu kain basah ke Putra. Setelah Putra menerimanya, dia melirik Haidar, “Masih ada kain basah lagi di dalam air. Sebentar, Haidar.”
Haidar, masih memegang rahangnya yang nyeri, menatap Chelsea. Otaknya juga memikirkan tentang UTS Fisika Pak Kodir yang guru itu terkenal penuh misterius dalam mengajar. Tidak pernah ada PR, suka menulis di papan tulis, memberikan para muridnya catatan rapi. Penjelasan dia baginya pun cukup dimengerti. Hanya saja guru itu juga tidak pernah memberikan kisi-kisi, jawaban yang dia katakan jika ditanya mengenai perihal itu adalah; semua yang berhubungan dengan Fisika.
Tetapi, perlakuan dia berubah seratus delapan puluh derajad saat memberikan Ujian Tengah Semester bulan kemarin. Sepuluh halaman kertas ujian, setiap halaman hanya memuat satu soal. Tetapi jawaban yang diminta harus memenuhi halaman tersebut, bahkan guru itu sudah menyiapkan kertas HVS jika ada yang membutuhkan. Bukan UTS SMU lagi yang Haidar rasakan, tetapi ujian semester Insititut Teknologi di Kota Lembah.
Pengalaman pertama mengerjakan soal Pak Kodir tentu saja membuat lebih dari setengah anak kelas sepuluh itu remedial, termasuk Putra yang sudah belajar sebulan sebelumnya. Haidar untung saja tidak termasuk, meskipun jika kurang dua nilai mungkin nilainya juga merah. Ditambah bekerja di bengkel mengambil sebagian waktu belajarnya.
Lamunannya buyar saat Chelsea memberinya kain basah. Dia memalingkan wajah, pipinya memerah, “Ini, Haidar.”
Haidar patah-patah mengambil kain basah yang terasa dingin di kulitnya itu, mengalahkan kipas UKS. Dia menaruh kain itu di rahang, nyerinya mulai berkurang.
“Udahlah Pak Kodir nggak pernah ngasih PR.” Putra menoleh ke Chelsea, “Kenapa kau nggak bilang-bilang kalau kau pintar di pelajaran itu? Kepinteran malah. Kayak cucu Albert Einstein.”
“Wah, kau mengenal dia?” wajah Chelsea antusias – belum pernah dia seantusias ini. “Aku punya bukunya. Sudah kutamatkan berkali-kali sejak aku masih duduk di Elementary School.”
“Astaga, bacaan kayak gitu yang kau lahap? Seumur itu aku masih baca dongeng Buto Ijo.”
Chelsea mengusap tengkuk, menatap ubin lantai. Pipinya masih memerah, “Maaf ya, baru bilang sekarang. Besok-besok kita bisa belajar bersama jika ada ujian Pak Kodir lagi.”
“Iya, Chel! Kusuruh Mbak Nina buatkan dua gelas es susu coklat kalau kau mau.”
“Sepertinya aku akan memanfaatkan kebaikanmu setiap mendekati ujian Pak Kodir.”
Putra mengangkat kain basah, “Tetangga sialan ya kau!!”
Chelsea sudah tertawa terbahak-bahak. Gerakan Putra terhenti saat dia mengaduh, menaruh kain basah ke wajahnya lagi.
Haidar kali ini tidak tertawa menatap dua tetangga itu yang sedang bertikai. Dia masih terdiam, tetapi matanya sekarang menatap Chelsea. Selama belajar bersama, dia terlihat selalu meminta bantuannya. Haidar selama ini mengajarkan para tetangga itu. Tetapi dia tidak mengetahui kalau ada satu pelajaran, yang kebetulan tidak pernah ada PR-nya saja, yang Chelsea kuasai. Sangat dia kuasai. Bahkan hal itu seperti kegemarannya. Seperti dirinya yang suka memainkan alat perkakas dan menatap langit setiap ada pesawat yang lewat.
Hati Haidar berdegup kencang. Entah kenapa.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA