Bab 6: Bengkel Ibu

“Koran macam apa ini yang Pak Joko beli,” mata Putra dari tadi melototi halaman demi halaman koran yang penuh dengan gambar dan tulisan judul besar nan merahnya. “Pembunuhan, penculikan, orang hilang…astaga, ini koran apa dokumen kepolisian??”

Haidar dan Chelsea yang duduk di sebelahnya tertawa melihat pelototan Putra, sepertinya anak itu belum mengedip sama sekali sejak mereka duduk di sini. Koran masing-masing juga terpegang di tangan mereka, tetapi korannya terlihat jauh berbeda dibandingkan koran yang Putra bawa.

Chelsea menatap halaman koran kembali, sambil menggigit jajanan rotinya di genggaman, “Aku pikir otaknya hanya dipakai untuk bermain game.” Haidar hanya terkekeh sambil membalikkan halaman koran yang dia minta dari Kakek.

“Udah fotonya serem semua lagi,” Putra menggigit rotinya yang baru dia sentuh. “Nggak mau lah aku kerja di kepolisian. Disuruh foto badan mutilasi pula nanti.”

“Di Amerika, Haidar,” Chelsea meliriknya, “banyak anak sekolah seumuran kita yang juga bekerja sampingan. Kebanyakan di restoran cepat saji atau bagian pos. Tapi, kata Mommy hal tersebut belum umum di Indonesia.”

Mereka sudah tiga hari ini berkutat dengan koran setiap jam istirahat, mengecek lowongan pekerjaan. Sejauh ini, lowongan pekerjaan hanya tertera untuk seseorang yang minimal sudah lulus SMU.

“Padahal dulu Ibu baru lulus SMP,” mata Haidar membaca sebuah kolom, sempat melebar karena terlihat seperti kolom lowongan pekerjaan, tetapi dia menghela nafas kecewa karena ternyata kolom tersebut berisi resep kue lapis legit.

“Kau membandingkan zaman puluhan tahun yang lalu. Di era orangtuamu, belum banyak yang mengenyam pendidikan tinggi.”

“Apa aku jadi tukang kuli aja kayak Bapak dan Bang Hasan? Tapi di Kabupaten lagi nggak ada pembangunan.”

“Terlalu berat untuk seusiamu. Nanti staminamu terkuras untuk mengerjakan PR di rumah.”

Putra tiba-tiba menaruh koran cepat, membuat Haidar dan Chelsea tersentak, terutama matanya masih saja melotot.

“Tempat kerja ibumu, Dar!” serunya. “Katanya dia dulu kerja setelah lulus SMP, kan? Kau kenapa nggak coba melamar ke sana?”

+++

Haidar baru beberapa belas meter dari tempat bengkel itu, tetapi lagu Jamrud sudah menyambutnya. Suaranya mengalahkan acara pernikahan anak-anak Pak Kades yang juga menyetel lagu dangdut, dimana orang yang sedang berada di atas bukit pun bisa mendengarkannya.

Haidar memelankan sepeda, sambil berpikir bahwa mungkin ini yang buat ibunya dulu suka berbicara keras-keras. Jika bekerja sambil mendengarkan lagu yang memekikan telinga, tentu saja memanggil para rekannya harus lebih keras.

Meskipun Haidar pernah dibawa Ibu bekerja ke sini saat dia belum memakai seragam sekolah, tetapi dia ingat lokasi tempat pembengkelan ini yang terletak di Kabupaten Lembah. Sebuah pangkalan bengkel yang dari luarnya terlihat kecil, tetapi jika masuk ke dalam seperti memasuki pintu kemana sajanya Doraemon, mobil jeep pun masuk seluruhnya. Biasanya mereka menerima modifikasi motor, tetapi mereka juga menerima reparasi mobil. Semua pekerjanya para pria, saat itu Ibu hanyalah seorang wanita sendiri, tetapi suaranya mengalahkan knalpot motor Harley Davidson milik Om Memet.

Haidar turun dari sepeda ontel. Bau oli mulai semerbak di udara, serta asap knalpot yang berterbangan keluar. Dia menuntun sepedanya, berjalan menghampiri bagian depan bengkel. Lagu Slank kali ini gantian memekikan telinga.

Seorang pria paruh baya yang sedang sibuk membongkar frame bagian motor mendongakkan kepala saat melihat sosok Haidar, “Halo, Dek!” Dia melirik sepeda ontel, “Butuh dibengkel sepeda kau? Terima sepeda juga kok kami.”

Haidar menggeleng, sepeda ontelnya sudah berkali-kali dia reparasi sendiri. “Ada…Om Memet?”

Pria itu memberhentikan gerakannya. Tangannya masih memegang alat perkakas, “Kenal Memet, kau?”

“Teman Ibu dulu. Suka main ke rumah.”

Pria itu terdiam. “Boleh tanya namamu siapa?”

“Haidar Harun.”

Pria itu entah kenapa langsung membanting alat perkakas dan berlarian ke dalam, teriakannya lebih keras daripada Kaka yang masih menyanyi dari kaset, “Memet!! Anak Indah datang!! Cepetan kau keluar!”

+++

Seorang pria beberapa tahun lebih muda dari Bapak, dengan rambut keriting panjangnya dan kacamata bulat bewarna coklat, menghisap rokok di ruangan kecil yang pintunya dibiarkan terbuka. Selalu mengenakan jaket kulit dengan tulisan Harley Davidson di belakangnya itu sejak Haidar dahulu mengenalnya. Rantai tergantung di saku celana jeans, dengan beberapa cincin batu akik di jemari, mengalahkan jumlah kepunyaan Pak Kades. Meskipun dengan perawakannya yang sesangar tukang begal, namun wajahnya menegang sepanjang waktu.

Pria berambut panjang itu, Om Memet, akhirnya membuka suara, “Betul kata Kak Indah dulu. Sampai dia mati pun, keturunannya menghantuiku.”

Haidar, duduk di kursi lipat besi, sebuah meja kayu sederhana memisahkan dia dan Om Memet, menggarukkan kepala. Entah apa yang Ibu lakukan dulu di sini sampai para pekerjanya terlihat ketakutan setiap menyebut nama wanita itu.

“Memangnya,” Haidar membuka suara, “ibuku dulu ngapain?”

“Ingin kali dia naik motor Harley Davidson-ku itu,” Om Memet menunjuk sembarangan dengan puntung rokoknya. “Tapi keburu bunting dia, jadinya nggak bisa. Sampai mati. Dia ngancam sebelumnya kalau arwahnya akan menghantuiku supaya bisa naik motor itu. Kalau nggak, ya, keturunannya.”

Haidar hanya menyengir, membayangkan wajah Ibu saat mengatakan hal itu di depan Om Memet. Pasti dengan suara menggelegar dan tangannya yang mengayunkan kunci inggris berukuran lengan orang dewasa.

“Sudah besar, ya kau, Haidar. Sudah SMU,” wajah Om Memet melunak, badannya juga tidak tegang lagi. Dia terkekeh, menampakkan satu gigi depan emasnya – kecelakaan karena terlalu liar menaiki motor bapaknya saat masih duduk di bangku STM, “Betulan mirip Kak Indah kau makin besar. Tapi antengnya tetap kayak Bang Harun, sejak dulu kau masih pakai popok kain.”

“Keributan Ibu turun ke adikku semua.”

“Oh? Si Harika, adikmu itu, ya? Pasti tetap ramai rumahmu. Lebaran nanti aku main ke rumah lagi, deh.” Om Memet menaruh puntung rokok di asbak yang sudah terbakar sepenuhnya. “Jadi mau ngapain ke sini? Katanya kau ke sini bukan untuk naik motorku, terus juga bukan karena bengkel sepedamu.” Dia menggarukkan kepala, “Kalau mau kunjungan, tahu gitu aku beli nasi padang sebelumnya. Aku nggak punya apa-apa sekarang kecuali kopi tubruk.”

Haidar menggeleng cepat. Matanya melirik, mengamati ruangan kecil ini yang penuh dengan rak berisi dokumen dan ubin putih kotornya, serta satu lampu LED. Dia berdeham, tidak berani menatap mata bapak di balik kacamata bulatnya itu, “Om…ada lowongan kerja?”

“Selalu ada. Apalagi sejak tahun ini. Geng motor anak sekolahan mulai merajalela, pada minta modif semua. Makin sibuk kita.” Suara bapak itu merendah, “Apalagi sejak peninggalan ibumu. Dulu pintar kali dia utak-atik mesin motor, udah kayak ibuku lagi racik bumbu aja.”

“Lowongan kerjanya…terima anak SMU juga?”

Spontan Om Memet melepas kacamata. “Kau…mau gantiin posisi Indah?”

Haidar mengusap tengkuk, “Nggak bisa aku, Om, ganti posisi Ibu. Terlalu mahir dia. Tapi…” dia menelan ludah, “aku lagi cari kerja. Buat ngumpulin duit supaya bisa naik pesawat.”

Om Memet tersenyum. “Masih ada keinginan itu, ya. Tiap aku berkunjung ke rumah dulu pasti kau asik aja bilang ingin naik pesawat sambil lompat-lompat di atas sofa.”

“Masih, lah. Lagipula, Ibu yang suruh untuk mimpi setinggi mungkin. Meskipun sederhana di mata orang-orang.”

Suasana di ruangan hening sejenak, menyisakan sayup-sayup lagu rock yang menemani tukang bengkel di luar.

“Baiklah,” kata Om Memet. “Tapi ada syaratnya.”

Haidar melebarkan telinga, berusaha mendengarkan seseksama mungkin, lebih fokus daripada dia mendengarkan guru di kelas.

“Adat kami sebelum terima pekerja,” Om Memet menyunggingkan senyuman, gigi emasnya berkilau, “bongkar sepeda terlebih dahulu. Dan kami menghitungnya secepat apa kau bisa membongkarnya.”

+++

“Astaga, anak itu,” seorang pekerja mengelus dada, “bongkar sepeda udah kayak ngupas salak aja.”

“Betulan anak Indah, dia,” kata pekerja lainnya. “Tangkasnya turun semua ke dia.”

Puluhan pekerja telah meninggalkan aktivitasnya, sekarang mereka berdiri mengelilingi Haidar yang sedang membongkar sebuah sepeda bekas milik bengkel yang hanya dipakai untuk adat terima pekerja. Seragam Haidar kotor, bau oli dan keringat dari mengayuhkan sepeda semerbak di udara, bercampur dengan bau keringat para pekerja lainnya. Tapi kegiatan ini, saking sakralnya, kaset yang menyeruakan lagu-lagu rock lokal itu sampai dimatikan.

Haidar mengambil sebuah tang, tapi dia mencari tang lainnya yang berserakan di dalam tas alat perkakas itu, “Butuh yang lebih kecil…mirip rantai sepeda Bapak…agak sensitif…”

Haidar telah berkali-kali mengamati Ibu menggunakan alat perkakasnya, mulai dari membengkel sepeda Bapak sampai ikut memanjat ke genteng untuk menambal atap rumah. Di saat anak-anak sebayanya bermain kelereng, dia malah memegang berbagai macam obeng, sambil ditatap ngeri oleh Bapak supaya matanya tidak tercolok, sedangkan Ibu sudah berteriak girang membiarkan anaknya memainkan benda itu.

Haidar akhirnya berhasil melepas rantai, menggeletakkannya hati-hati di sebelah gir serta bagian sepeda lainnya yang sudah berserakan, dengan tangan yang sekarang berlumur oli rantai. Nafasnya tersengal-sengal, tetapi sunggingan bibir menghiasi wajahnya. Belum pernah dia membongkar sepeda seseru ini. Mungkin karena bukan sepedanya.

Om Memet cepat mematikan stopwatch di tangannya seperti guru olahraga sekolah. Dia berbicara dengan puntung rokok yang terselip di bibir, “Lima menit empat puluh sembilan detik…Dadang, cepet catat.”

Dadang di sebelahnya menggurati bulpen di buku tulis. Dia berseru, “Hampir sama ieu cepetnya kayak Indah!! Beda tiga detik aja, sih. Kak Indah tetap pegang rekor sampe sekarang.” Beberapa orang mulai heboh mendekati Dadang, mendongakkan kepala untuk ikut melihat buku tulis.

Om Memet menghampiri Haidar yang masih terjongkok dan mengatur nafasnya, “Pernah bongkar sepeda bapak kau sendiri?”

“Belasan kali, malah,” Haidar mengusap wajah dengan lengan seragam, tidak mempedulikan bajunya semakin kotor. “Suka kegencet motor dulu pas aku parkirin di sekolah. Pinjam alat perkakas Pak Satpam.”

“Oh gitu,“ Om Memet sekarang ikut jongkok di sebelahnya. “Dengan bakatmu ini, bukan sepeda lagi yang bisa kau bongkar. Tapi badan pesawat.”

Haidar tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Dan hati yang juga berbunga-bunga mendengar ucapan Om Memet yang memvalidasi impiannya, meskipun sampai sekarang dia hanya berpikir untuk menaikinya, bukan sampai membongkarnya.

“Ya sudah,” Om Memet berdiri kembali. “Kau istirahat dulu di sini. Biar kusuruh Dadang belikan nasi padang di Bundo Kanduang.” Dia memutar badan, “Dadang! Belikan satu, lauk lengkap.” Dia menoleh, “Pake gulai otak sapi? Kesukaan ibumu juga itu.”

Haidar mengangguk cepat. Makan nasi padang dengan gulai otak sapi jauh lebih mewah daripada makan lontong opor ayam di rumah Pak Kades yang disajikan hanya di setiap lebaran.

Setelah Om Memet dan Dadang saling bertukar uang, dan pria itu berlalu sambil masih memegang buku tulis, Om Memet menghampiri Haidar lagi, menjulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

“Kau tunggu di ruanganku, ya,” Om Memet menuntunnya ke ruang kantornya yang serba putih itu. “Mulai besok, kau udah bisa kerja di sini sepulang sekolah. Jangan lupa bawa kaos bekas, aku nggak mau seragam kau jadi hitam kena oli. Susah hilangnya dicuci pake tangan. Indah pernah banting ember cucian katanya, gara-gara pake baju lebaran pas bengkel.”

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 7: Lengan Talas Danar

Next
Next

Bab 5: Kawah Bening