Bab 5: Kawah Bening
Mentari belum muncul di langit. Namun, keluarga Chelsea beserta Putra dan Haidar sudah berada di garasi. Dia menemui orangtua Chelsea untuk pertama kalinya, perawakannya sama seperti di foto. Dengan bapak bule berambut coklat itu yang juga tinggi seperti bapaknya Putra, serta ibunya yang terlihat ayu dengan rambut sebahunya.
“Oh, jadi ini toh yang namanya Haidar,” ujar ibunya Chelsea, Tante Dinda, dengan bahasa Indonesia yang tetap terdengar santai meski sudah berpuluh tahun menetap di Amerika.
Haidar, menyalaminya, mengiyakan sambil tersenyum sopan. Dengan isi pikiran bahwa tahu begitu dia membawa batik kemarin. Apalagi saat dia menyalami bapaknya, sang bapak itu bersikeras bahwa Haidar tidak usah mencium punggung tangannya.
Setelah menaruh perlengkapan piknik, keluarga tersebut melaju ke perbatasan Kota Lembah. Udara yang masih dingin dan segar memasuki mobil yang jendelanya dibiarkan terbuka.
Chelsea hanyalah anak tunggal dan kedua orangtuanya juga berkarir seperti Putra, tetapi hubungan dengan orangtuanya berbeda ketimbang hubungan Putra. Mereka menghidupkan radio keras-keras dan menyanyikan lagu Pop mancanegara bersama yang kata mereka sedang terkenal di Amerika. Mereka saling berdebat apakah penyanyinya sudah menikah atau belum. Mereka tertawa saat mengetahui fakta unik tentang penyanyinya. Putra yang mengerti apa yang mereka bicarakan dan memang lancar berbicara dengan bahasa Inggris karena bahasa keduanya kadang ikut menyelutuk. Haidar yang tidak tahu-menahu tentang gosip dari mancanegara hanya bisa mendengarkan mereka sambil menikmati pemandangan, membiarkan angin membelai wajahnya lembut. Suasana di dalam mobil sangat ribut, tetapi dia tetap menikmatinya.
“Haidar,” panggilan Tante Dinda membuyarkan lamunannya, “ceritakan tentang dirimu. Kami ingin mendengarnya.”
“Pakai bahasa Indonesia juga tidak apa-apa kalau keberatan,” ujar Chelsea yang duduk di antara Haidar dan Putra. “Daddy paham sedikit bahasa Indonesia.”
Haidar berdeham, giliran dia yang sekarang membuka mulut. Suasana mobil mulai hening. Dia berusaha berbicara dengan bahasa Inggris patah-patahnya, mempraktekkan apa yang sudah dipelajari di sekolah sejak SD, “Saya…tinggal bersama adik perempuan dan Kakek-Nenek di sebuah desa, terletak puluhan kilometer dari Kota Lembah. Nama desanya…Desa Bukit Berbaris.”
“Bukit Berbaris?” Bapaknya mengulang dua kata terakhir dengan bahasa Indonesia tapi aksen Amerika yang kental, kemudian berbicara dengan bahasa ibunya kembali. “Nama yang unik untuk sebuah tempat.”
“Mengapa disebut Bukit Berbaris?” tanya Tante Dinda.
Haidar menjawab pertanyaan itu yang dia tahu dari Bapak dahulu, “Karena…banyak perbukitan.”
“Desa kami…dikelilingi oleh perbukitan,” lanjutnya. “Ada sekitar dua puluh perbukitan dengan ketinggian yang beragam, antara lima puluh sampai tiga ratusan meter. Perbukitan tersebut dipakai buat kebun teh.”
Chelsea dan kedua orangtuanya mulai ribut lagi ingin berkunjung ke sana dan menjelajahi semua bukit satu per satu.
“Tetapi kalian hanya bisa mengendarai mobil sampai ke depan jalanan setapak,” beritahu Haidar. “Sisanya kalian harus berjalan kaki, bahkan sebelum sampai di kaki bukitnya.”
“Tidak masalah, Haidar,” Tante Dinda masih terdengar antusias. “Di Amerika, kami terbiasa berjalan kaki dan selalu pergi hiking setiap musim panas.”
“Oh, begitu. Karena dulu, saat saya mengajak Putra ke bukit terkecil yang tingginya hanya lima puluh meter, dia selalu kehabisan nafas dan minta istirahat setiap lima menit.”
Sesampainya mereka di wilayah Kawah Bening, mereka sarapan terlebih dahulu di sebuah warteg bubur ayam yang sudah dibuka sepagi ini untuk para pengunjung. Meskipun masih pagi, tetapi wisata alam tersebut sudah ramai oleh pengunjung karena akhir pekan, yang tetap tidak sesesak Pasar Pinggir. Udaranya juga dingin, untung Putra juga meminjamkan jaketnya ke Haidar yang dia tidak mau membayangkan berapa harga pakaian ini. Kaos tidur anak itu saja seharga baju batiknya.
“Itu sate usus ayam. Kau belum pernah lihat?” Haidar menatap Chelsea yang memandang keheranan sate usus tersebut. Saking herannya, bubur ayamnya belum tersentuh sama sekali.
Chelsea yang duduk di sebelah menatapnya balik, “Apakah ini…enak?”
“Aku, sih suka. Cobain aja dulu, kalau nggak suka nanti bisa kasih aku.”
“Kau lihat sate usus itu udah kayak lihat kecoa mau terbang tapi nggak jadi-jadi,” Putra, duduk di seberang mereka, melahap sate telur puyuhnya bulat-bulat.
Chelsea hati-hati menggigit bagian ujung usus itu sambil memejamkan mata. Wajahnya spontan langsung sumringah.
“Kubilang apa,” Haidar tersenyum melihat raut Chelsea. “Enak, kan?”
Chelsea mengangguk antusias, langsung melahap sate itu sampai setengahnya. Dia menoleh ke ibunya yang duduk di meja sebelah, “Mommy, nanti tolong bungkuskan sate ini. Aku belum pernah melihatnya di Kota.”
Kedua orangtua Chelsea terkekeh. Tante Dinda bertanya, “Mau dibungkus berapa tusuk, honey?”
“Sepuluh tusuk.”
Setelah sarapan, mereka pergi ke kawah. Haidar ternganga saat mereka tiba. Pemandangan yang biasanya hanya dia lihat di televisi kini membentang di depan matanya. Putra sudah tenggelam dengan kamera polaroidnya, mengelilingi kawah seolah-olah dia datang ke sini sendirian. Bapaknya Chelsea yang mempunyai kamera digital juga sibuk memotret keluarganya. Haidar berjalan di pesisir dalam diam, menikmati pemandangan asap yang keluar dari ujung kawah, sesekali mengeratkan jaket Putra.
Saat Haidar tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba Chelsea berlari menghampirinya dan menarik pergelangan tangannya. Haidar tersentak, membiarkan dirinya terseret ke arah Putra yang sedang menatap cetakan foto polaroidnya. Perempuan itu juga langsung mengaitkan tangannya ke lengan Putra, yang anak itu langsung tersentak karena sentuhan dadakan itu.
Chelsea berteriak kepada bapaknya yang berdiri tidak jauh dari mereka, “Daddy, take us a picture please!”
Putra menggerakkan lengannya, “Apa ini–”
Suara cekrekan kamera digital terdengar dari depan.
Saat menyadari bapaknya Chelsea memegang kamera di hadapan, Putra langsung berseru, “Belum siap aku, Achel!!”
Chelsea tertawa cekikikan, masih mengaitkan tangannya ke lengan Putra dan memegang pergelangan tangan Haidar, “Katanya kau kalau difoto harus tanpa sepengetahuanmu.”
“Tapi nggak dengan cara gitu juga!! Achel, lepaskan tanganmu, kulitku mendadak gatal.”
Sekarang, Chelsea yang memegang kamera bapaknya. Dia memotret kawah, sesekali juga memotret Putra yang selalu langsung dihardik olehnya. Haidar seperti biasa hanya tertawa melihat pertikaian mereka berdua.
“Haidar,” Chelsea mengangkat kameranya, “giliran kau yang belum difoto.”
Haidar menggeleng cepat, “Aku juga nggak suka difoto kayak Putra.”
“Setidaknya satu saja. Buat bapak kau. Supaya dia tahu kalau anaknya baik-baik saja.”
Setelah puas mengambil gambar dan mengelilingi kawah, keluarga itu melaju kembali ke Kota Lembah, mengunjungi Taman Tua. Matahari sudah terletak di puncaknya. Mereka mengelilingi taman kota tersebut yang keramaiannya lebih menyesakkan dibandingkan di Kawah Bening dan Pasar Pinggir. Pangkalan jajanan dan atraksi dimana-mana, beberapa pengamen juga ikut menyuarakan keributan dengan ukulele mereka. Orang dengan semua umur hadir, seolah-olah semua penduduk kota sedang berkumpul di sini.
Ini pertama kalinya Haidar mengunjungi Taman Tua. Sepanjang perjalanan, dia ternganga melihat keramaian dengan berbagai macam orang tersebut. Untung saja keluarga itu sesekali berhenti jika ibunya atau Chelsea ingin difoto. Putra juga berkutat kembali dengan kameranya, memotret setiap atraksi. Kadang gara-gara dia, keluarga itu melamban, jadi Chelsea harus menyeretnya, lebih kasar daripada saat dia menyeret Haidar di Kawah.
Kemudian, mereka mengunjungi sebuah rumah makan terbuka. Orangtua Putra sudah duduk di salah satu meja, sepertinya para orangtua telah berkomunikasi. Setelah makan siang, para orangtua masih duduk di sana dan berbicara seputar pekerjaan dan tema berat lainnya. Anak-anak menghampiri sebuah gerobak penjual es potong, menikmati es tersebut di sebuah kursi panjang di dekatnya.
“Aku penasaran, bagaimana cara membuat es ini,” Chelsea, duduk di antara para lelaki, mengemut esnya sambil sesekali meliriknya. Dia menoleh ke kiri, dimana Haidar berada, “Kau tahu?”
“Kau nggak tanya aku?” Putra, duduk di sebelah kanan Chelsea, menggerutu, sambil mengemut esnya.
“Masak air saja kau tidak bisa!”
Sebelum mereka ribut kembali, sebuah atraksi topeng monyet muncul dari kejauhan, menginterupsi mereka.
Putra berjalan menjauhi mereka, mulai memegang kamera polaroid yang tergantung di lehernya. Dia menoleh cepat ke belakang, menunjuk atraksi, “Aku ke sana bentar. Jangan tinggalin aku!”
Putra sudah bersatu di keramaian, menyisakan Haidar dan Chelsea di kursi panjang itu, menatap atraksi itu dari kejauhan sambil menghabiskan es potong masing-masing.
Sebuah suara menggelegar dari langit, satu-satunya suara yang lebih menarik perhatian Haidar ketimbang atraksi di hadapan. Sebuah pesawat yang tidak mengeluarkan garis putih terbang melintang di cakrawala, tetapi suaranya tetap terdengar sampai bawah. Pesawat penumpang, kata Putra dahulu saat dia menunjukkan foto-foto dari bandara. Tidak perlu menjadi tentara terlebih dahulu untuk menaikinya. Siapapun bisa menaikinya, selama punya uang untuk membeli tiketnya.
Lengkingan suara Chelsea membuyarkan lamunan. Dia bernyanyi, dengan berbahasa Inggris yang fasih seperti di film mancanegara. Terbang ke bulan…bermain-main dengan para bintang…kalimat pertama dari lagunya yang Haidar ngerti. Matanya tertuju ke cakrawala, kepalanya bergerak kesana-kemari, sesekali menyebut beberapa planet yang pernah Haidar dengar saat pelajaran IPA di bangku SD dahulu.
Saat suaranya mencapai nada terendah, Chelsea menoleh, cengiran menghiasi wajahnya. “Kau lama sekali melihat langitnya. Aku menambahkan backsound supaya terlihat dramatis seperti di film.”
Haidar tertawa. “Backsound-nya…terlalu bagus. Itu lagu dari Amerika? Belum pernah aku dengar.”
“Fly Me to the Moon. Aku menyanyikan versi Frank Sinatra. Lagu jazz, sudah terkenal sebelum kita lahir.”
“Lagu jazz? Belum pernah dengar. Aku tahunya hanya rock dan dangdut.”
“Lagu jazz memang tidak begitu populer di kalangan anak muda. Kakekku yang di Amerika mengenalkanku pada jazz saat masih kecil. Dia pemain saksofon, pernah dengar?”
Haidar menggeleng pelan. Kata saksofon terdengar seasing Hollywood dan spaghetti bolognese.
“Kapan-kapan aku tunjukkan. Aku punya foto Grandpa dengan saksofonnya.” Chelsea melirik langit, “Ngomong-ngomong, kau tadi serius sekali melihat pesawatnya.“
Haidar ingin membuka suara, tetapi dia mengurungkan niatnya. Mimpi konyolnya…pasti akan ditertawakan Chelsea, terutama anak ini pasti pindah ke Indonesia dengan menaiki pesawat. Tetapi, di sisi lain, dia terlihat sama baiknya seperti Putra. Mungkin dia tidak akan menertawakannya seperti Putra dahulu.
“Aku,” Haidar menelan ludah, berusaha menatap matanya, “ingin kali naik pesawat.” Dia mengusap tengkuk, “Kedengarannya…konyol. Tapi aku dari desa. Naik pesawat itu…mewah sekali.” Wajahnya mulai memanas.
“Oh, begitu.”
Mata Chelsea melebar. Kemudian, dia menyengir, “Keinginan itu…pasti tercapai. Aku mendukungmu, Haidar.”
Haidar tercengang. Suara topeng monyet di hadapan mereka entah kenapa senyap. Tertutup oleh perkataannya yang terdengar indah. Sampai kemudian telinganya menangkap suara di sekitar kembali saat hentakan kaki Putra mendekati mereka dengan mata yang juga melebar. Padahal atraksi topeng monyet belum selesai.
“Dar!” panggil Putra. “Aku tiba-tiba kepikiran solusi…cara dapatin tiket pesawat.”
Mata Haidar melebar. Mereka pernah membicarakan itu saat liburan pasca-Ebtanas SMP. Di rumah Putra sambil bermain game.
“Kau bilang kau nggak pernah dapat uang jajan, kan?” lanjutnya. “Jadi, nabung pun tak bisa.”
Haidar mengangguk patah-patah. Jantungnya berdegup kencang, tidak sabar mendengar solusi Putra yang selalu terdengar magis di telinganya.
“Koran,” kata Putra. “Minggu depan bawa koran terbaru. Aku juga bakal bawa, ambil dari Pak Joko. Achel, kau juga bawa koran ya, ke sekolah. Kita ketemuan di kantin saat jam istirahat.”
Chelsea sekarang berkerut, jarang melihat Putra dengan wajah serius bahkan jika mereka sedang mengerjakan PR sekalipun, “Kenapa kau butuh koran terbaru?”
Putra menyengir, “Kita cari lowongan kerja buat Haidar.”
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA