Bab 4: Tetangga Baru Putra (2)
Suara motor moge yang menggelegar di seluruh desa memecahkan kesunyian akhir pekan pagi jam sepuluh. Ini kedua kalinya Putra datang ke sini dengan kendaraan yang dia naiki sejak duduk di bangku SMU. Dahulu, kalau mau main ke sini biasanya Haidar mesti jemput dia dulu di halte bus wilayah pinggir desa dengan sepeda ontelnya.
Kedatangannya sejak dulu sudah seperti kedatangan seorang artis. Para ibu tetangga dengan daster dan rol rambut gulungnya langsung memunculkan kepala mereka, melihat anak muda misterius itu yang suka datang ke rumah Keluarga Harun. Apalagi, kali ini dengan motornya. Para ibu tetangga mulai bergosip ria, sambil menunjuk-nunjuk anak muda itu sebagai menantu idaman.
Haidar yang sedang mengelap meja makan seusai sarapan berlarian keluar saat mendengar deruan knalpot motor itu. Terlihat Putra sedang memarkirkan motor mogenya di sebelah motor gigi Kakek.
“Baru selesai sarapan aku, Tra,” panggil Haidar saat Putra sudah melangkah memasuki pagar bambu. “Belum cari koran bekas di gudang.”
“Santai ajalah,” Putra menenteng helm di sebelah tangan, satu tangannya lagi dia julurkan untuk memberikan salam khas mereka berdua; menjabati tangan dengan menyilangkannya kemudian menyentuh kepalan tangan masing-masing – anak ini juga yang mengajari, katanya dia temui di film Hollywood.
Sosok Nenek keluar sambil memegang sapu, tersenyum sumringah, “Eh, Nak Putra. Udah lama nggak main ke sini. Apa kabar, Nak?”
Putra menyalami tangan Nenek, “Baru aja dua minggu yang lalu aku ke sini. Baik, Nek.”
Putra memasuki rumah dan duduk di sofa. Sudah seperti itu sejak kedatangannya pertama kali, tanpa keengganan saat menemui keadaan rumah berdinding dan berlantai rotan sederhana ini meskipun berbeda seratus delapan puluh derajat dengan rumahnya.
Nenek menaruh sapu di halaman depan, “Nak Putra, mau minum apa? Biar Nenek buatkan–”
“Abang Putra!!”
Suara menggelegar itu selalu bisa terdengar meski sosoknya belum muncul. Beberapa menit kemudian, sosok Harika muncul, berlarian dengan sendal anyaman serta kaki yang kotor sampai menutupi betis. Saat baru melepas sendal dan menginjak teras, Haidar dan Nenek yang untung saja masih berdiri di ambang pintu langsung mencegatnya.
“Dedek! Cuci kaki kau dulu!!” Haidar memegang lengannya, meringis menatap kakinya yang penuh lumpur itu. Untung saja cacing tanah tidak terlilit di sana.
“Harika! Main di rawa-rawa lagi ya?” Nenek sudah ingin meraih gagang sapu melihat tingkah cucunya itu.
“Justru karena masih pagi banyak tikus sungai,” Harika mengelak. Dia melambaikan tangan saat melihat Putra yang berdiri di depan sofa, “Abang!”
Putra melambaikan tangannya. “Dengerin kata kakakmu, Harika. Cuci kaki kau dulu, kali aja masih ada lintahnya.”
Harika melepaskan diri dari pegangan Nenek dan Haidar. Dia mengambil sendal kotornya, berlari ke belakang lewat halaman samping, “Iya, Bang!”
Nenek terkekeh melihat tingkah laku cucu satu itu, “Harika, Harika. Kakaknya ini Putra apa Haidar?”
“Entah!“ ujar Haidar. “Bang Hasan aja nggak dia dengerin!”
Setelah Haidar berkutat di dalam gudang penyimpanan koran bekas, melewati perdebatan panjang karena kekecewaan Harika yang baru saja mencuci kakinya tetapi Putra mesti pergi kembali, dua remaja itu pergi ke Kota Lembah dengan motor moge Putra.
Di balik helm yang kaca depannya dibuka, Haidar menikmati deruan angin yang meniup wajahnya. Hal yang paling dia sukai di dunia ini salah satunya adalah menaiki motor Putra. Dia bisa menikmati udara terbuka yang menyentuh kulitnya seperti mengendarai sepeda, di waktu yang bersamaan dia bisa melaju kencang dan tiba di tempat tujuan dengan waktu singkat seperti mengendarai angkot atau bis kota.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di perumahan kompleks elit itu. Dengan perumahan yang tingginya hampir sama seperti gedung sekolah, serta beberapa mobil besar terparkir di depan garasi.
Motor Putra berhenti di sebuah rumah dengan pagar terbuka. Rumah tiga tingkat dengan halaman yang seperti setengah bukit, serta teras yang harus ditempuh dengan tangga dengan ubin mengkilapnya. Dahulu saat Haidar pertama kalinya ke sini, dengan kaos rumahan serta celana kainnya, rasanya dia ingin kembali lagi ke rumah untuk ganti baju dengan batik, tetapi Putra sudah menyeretnya masuk.
Seorang pria paruh baya sedang mencuci mobil di garasi, mengenakan setelan seragam bewarna hitam. Seragam seorang supir.
“Udah sampai, Putra,” bapak tersebut, Pak Joko, menyambutnya dengan senyuman dibalik kumis lebatnya. “Oh, ada Haidar lagi!”
Haidar menyalami tangan Pak Joko. Saat liburan panjang seusai Ebtanas SMP beberapa bulan yang lalu, Haidar memang hampir setiap hari main kemari untuk bermain PlayStation sampai semua para pekerja di rumah Putra mengenalinya sebagai satu-satunya tamu anak-anak yang rajin menyalami para pekerja rumah tangga.
“Dar,” Putra menuntun motornya ke dalam garasi, “kita mesti jemput Achel dulu.”
Mereka sampai di depan pagar tinggi sebuah rumah yang ukurannya hampir sama seperti rumah Putra, dengan teras yang terletak di bagian bawah tanpa harus menaiki tangga untuk meraihnya. Hanya sebuah motor vespa yang terparkir di garasi.
Putra memencet bel rumah yang terletak di samping pagar. Tidak sampai tiga detik, pintu rumah terbuka, menampakkan gadis berambut coklat bergelombang itu dengan kaos rumahan dan celana pendek. Wajahnya terlihat sebal.
Gadis itu menempelkan wajah di sela-sela pagar, menatap Putra galak. “You’re late!”
Putra melirik jam tangan, “Berlebihan. Cuma lima menit aja!”
“Hanya lima menit keterlambatan tetap saja berpengaruh buat transportasi umum seperti di Jepang atau di Eropa.”
“Ini Indonesia, telat sejam pun orang tak peduli. Lagian aku kan mesti keluar kota buat jemput Haidar. Tadi macet.”
“Omong kosong,” Haidar menimbrung. “Pasar Pinggir aja udah bubaran tadi, buat jalan sepi senyap.”
Putra melototi Haidar, “Kenapa malah kau nggak bela aku?”
Gadis itu tertawa puas. Setelah itu, dia menatap Haidar, “Kau yang namanya Haidar? Putra cerita banyak tentangmu.” Dia menjulurkan tangan dari balik pagar, “Namaku Chelsea. Tapi panggil saja aku Achel.”
Haidar mengangguk, patah-patah menyalami tangan itu yang kulitnya juga sama terangnya seperti Putra. Ditambah dengan matanya yang irisnya bewarna coklat terang di bawah sinar matahari, senada dengan warna rambutnya. “Haidar.”
+++
“We did it!” Chelsea berseru girang sambil meregangkan tangannya setelah mereka mengerjakan PR Biologi lima puluh soal itu dalam tiga jam, berkutat di ruang bermain PlayStation Putra yang kadang juga dirangkap untuk ruang belajar bersama.
“Selalu begitu Bu Dewi,” Putra membenamkan wajah di atas buku tulisnya yang masih terbuka. “Sekali ngasih soal langsung lima puluh. Yang penting jangan pas ujian aja. Bisa mati aku di tempat.”
Chelsea menatap Haidar yang duduk di sebelahnya, “Terima kasih, Haidar. Aku pikir aku juga tidak akan selesai dalam waktu dua minggu. Putra is always useless.”
Putra mendongakkan kepala, “Udah tahu aku nggak suka semua pelajaran! Makanya aku panggil si Haidar terus. Ngomong-ngomong, perutku lapar. Kayaknya udah masuk jam makan siang. Mau aku samperin Mbak Nina?”
“Makan di rumahku saja,” Chelsea membereskan buku dan peralatan tulis. “Kemarin aku sehabis belanja bersama Mommy. Mungkin ada bahan yang bisa dipakai.”
Mata Putra melebar, “Kau akan masak buat kami, Chel??” Dia langsung beranjak, berlarian keluar dari ruang mainnya. Langkah kakinya bergema sampai ke dalam, hingga akhirnya memudar.
Chelsea menggarukkan kepala, “Anak itu. Yang punya rumah siapa, yang duluan keluar siapa.”
Haidar dan Chelsea keluar rumah, mendapati Putra dengan raut sebal berdiri di depan pagar Chelsea. Dua tetangga itu bertengkar kembali, Putra menuduhnya bahwa mereka telat, tapi Chelsea membantah karena dia tidak membuat perjanjian, jadi ketelatannya sama sekali tidak berlaku. Putra tetap tidak menerima alasan itu, terus berdebat sampai mereka bertiga memasuki rumah Chelsea.
Haidar, berjalan di belakang mereka, terpatah-patah menginjakkan kakinya di lantai ubin yang dingin karena AC di sudut ruangan. Isi rumahnya mirip dengan rumah Putra, bedanya di rumah Chelsea tidak ada barang-barang antik, tidak seperti rumah Putra yang katanya bapaknya kolektor barang antik. Dia menjinjitkan kaki – di rumah Putra dia juga seperti itu meski anak itu sudah mengatakan tidak perlu berjinjit seperti berjalan di rawa-rawa. Berjalan tanpa alas di atas lantai ubin tidak biasa baginya, selama ini kakinya menginjak tanah liat atau lantai rotan. Lagipula, perumahan di sini suka sekali menaruh AC dimana-mana. Sedangkan di rumahnya, jangankan AC, kipas pun tidak ada. Satu-satunya alat mengipas hanyalah kipas anyaman untuk membakar sate, itu juga dipakai Nenek untuk memanggang kue di dalam tungku api.
Mereka sampai di dapur. Chelsea menyuruh para lelaki itu duduk di meja makan, sedangkan dia akan membuat suatu makanan luar negeri bernama spaghetti bolognese – Haidar tidak pernah mendengarnya di televisi sekalipun. Meskipun pada akhirnya Haidar menawarkan diri untuk membantunya setelah menyaksikan Chelsea berseru ria memantau masakan daging sambil mengayunkan pisau dan spatula secara bersamaan, dan rentetan umpatan berbahasa Inggris yang tidak pernah Haidar dengar di sekolah.
“Achel,” Haidar meninggalkan meja makan, “ada bahan yang belum dipotong? Bisa kubantu.”
Chelsea yang sedang mengaduk daging cacahan di teflon tersentak. “Kau bisa menggunakan pisau?”
“Pertanyaan macam apa itu? Aku bisa masak,” Haidar cepat mengambil pisau yang tergeletak, dengan bilah seukuran lengan orang dewasa. Dia mulai mengupas bawang bombai yang terlihat masih utuh di tatakan, “Kau pantau dagingnya aja. Biar aku yang motong bawang. Aku mesti motong kayak gimana?”
“Potong dadu, Haidar. Kau bisa?”
“Bisalah. Potong segitiga juga aku bisa.”
Membiarkan Putra tenggelam dengan game boy di meja makan – anak itu mungkin tidak bergeming jika ada gempa bumi sekalipun – Haidar dan Chelsea berbicara mengenai keluarga Haidar yang semua orang, kecuali Kakek, bisa memasak. Informasi itu ternyata mengejutkan Chelsea sebagai orang yang baru menetap di Indonesia selama satu bulan, dan ini adalah kunjungan pertamanya ke negara ini.
“Ibuku juga kerja, kayak ibumu,” Haidar mengesampingkan potongan bombai – jadinya berbentuk segitiga atas keinginan Chelsea. “Katanya dulu kerja di bengkel sebagai perempuan cukup kontroversial. Tapi emang sering kali dulu Ibu debat sama ibu-ibu tetangga. Katanya suka nelantarin anak-anaknya. Padahal aku dan kakakku malah asik-asik aja main di bukit.”
Chelsea menaruh potongan bawang ke teflon. “Kata Putra…ibumu sudah meninggal tujuh tahun yang lalu. I wish I can meet her, she sounds awesome.” Dia menatap Haidar, “Aku turut berduka cita.”
“Makasih, Achel. Aku udah santai, kok sekarang…”
Haidar meneteskan air mata.
Chelsea melotot. “Gara-gara aku, kau jadi menangis seperti ini.”
Haidar mengelap wajah dengan lengan kaos, “Mataku panas. Kan aku habis potong bawang.”
“Lama kali kalian masak!” Suara Putra tiba-tiba terdengar, sosoknya mendekati mereka, “Padahal berdua. Mbak Nina masak nggak selama ini.”
Spatula di tangan Chelsea terayun kembali. “Sudah tidak ikut membantu, malah bertanya kapan selesainya. Kau tidak tahu diri sekali!”
“Achel, kau kan tahu aku nggak bisa masak. Kau pernah lihat aku kan, pas aku masak indomie sampai gosong.”
“Ada yang lebih parah lagi,” sahut Haidar.
“Serius??” Chelsea melotot kembali, menatap Haidar. Putra juga menoleh dengan wajah berkerut, sepertinya lupa dengan rekor masak terburuknya sendiri.
“Pernah, Chel,” Haidar menyengir, “Putra panasin air di dalam panci kecil sampai airnya beruap semua karena dia tinggal main PlayStation. Untung aja pancinya nggak sampai meleleh, kalau nggak rumahnya mungkin juga ikutan meleleh.”
Putra langsung gusar ingin menjitak Haidar, tapi Haidar sudah berlari menjauh sambil masih memegang pisau bilah raksasa itu. Chelsea tertawa lepas menyaksikan mereka berdua, dengan spatula kembali mengaduk isi teflon.
Sekarang, mereka berada di meja makan berisi empat kursi – tidak seperti di rumah Putra dimana jika satu keluarga Haidar termasuk Hasan dan Bapak dibawa tetap saja kursinya sisa. Haidar terpatah-patah menyendokkan pasta bersausnya dengan garpu. Rasanya dia ingin mengambilnya dengan tangan saja, seperti jika dia memasak mie instan dan memakannya dengan nasi, tetapi dia terlalu segan untuk melakukan hal itu di rumah ini. Orangtua Chelsea sedang pergi keluar, tapi tetap saja dia malu jika kedua orangtuanya tiba-tiba datang, melihat anaknya mengajak seseorang yang menyendokkan pasta dengan tangan. Dia melahapnya dengan tangan bergetar. Untung saja dulu Putra mengajarinya menggunakan garpu.
“Achel,” berbeda dengannya, tangan Putra seperti menari-nari melilit pasta itu dengan garpu. “Minggu depan kau sama ibu-bapak kau mau keliling kota lagi. Kan, udah.”
Chelsea menelan pasta di dalam mulut, “Memang sudah, yang waktu itu bersama orangtuamu.”
“Terus mau kemana lagi?”
“Ada sebuah kawah yang terletak di pinggir kota. Kawah Bening,” Chelsea melilitkan pasta di garpu, sama lihainya seperti Putra. “Daddy disarankan oleh teman kerjanya, katanya kawah itu objek wisata alam yang bagus. Daddy ingin mengajak kami ke sana, sudah lama kami tidak pergi ke wisata alam, apalagi dahulu kami tinggal di dekat pesisir danau.”
“Memangnya dulu kau tinggal di kota mana?” tanya Haidar penasaran meskipun dia tidak akan mengenali jawabannya.
“Sebuah kota kecil. Nama negara bagiannya New York.”
Haidar hanya ber-ooh pelan. Setidaknya dia pernah mendengarnya saat menonton film-film Hollywood bersama Putra. Kata Hollywood juga dia ketahui dari anak itu.
“Terus,” lanjut Chelsea, “Mommy mengusulkan untuk mengajak kalian, Putra. Kau tertarik, tidak?”
“Tentu aja aku mau!“ Raut Putra berubah kecut, “Tapi Mamah-Papah nggak gitu suka pergi ke wisata alam.”
“Sayang sekali. Sebenarnya tidak masalah, kami tetap akan pergi. Kau bisa ikut kami. Tapi, apakah orangtuamu megizinkanmu?”
“Aku sering diam-diam main ke rumah Haidar sampai berhari-hari. Orangtuaku nggak pernah ke polisi buat lapor anak hilang. Tapi, tetap kuberitahu kali ini. Kali aja Mamah nanti ngontak Tante Dinda kalau mau ketemu. Nanti malam kukabari kau lagi ya, di telepon.”
Tangan Chelsea menari-nari, sambil masih memegang garpu, yang langsung dihardik oleh Putra untuk tidak memainkan alat makan itu. Suatu kebiasaan Putra lainnya yang menurut Haidar menarik.
“Haidar,” kali ini Chelsea menoleh ke arahnya. “Aku ingin mengajakmu juga. Kau mau ikut?”
Haidar melotot, menunjukkan dirinya patah-patah, “Kau…serius mengajakku?”
Putra berseru antusias, hampir saja menaikkan pantatnya, “Ikut aja kau! Biar aku ada temannya! Capek aku bertikai dengan Achel terus sepanjang perjalanan.”
Chelsea menatapnya sinis, “Lagian, kau ini sumbernya keributan.”
Dua tetangga itu ribut kembali. Haidar hanya menatap mereka bergantian sambil menyelesaikan sisa pastanya. Daerah terjauh yang pernah dia tempuh selama hidupnya hanyalah gedung sekolah SMU-nya.
“Tapi kita akan berangkat pagi buta,” suara Chelsea membuyarkan lamunan Haidar. “Kau…kewalahan, kah, jika kau pergi dari rumahmu ke sini?”
“Haidar nginap aja di rumahku malam sebelumnya,” kata Putra. “Kalau pulangnya nanti kemalaman, kau nginap di rumahku lagi aja. Bawa seragam kau, baju tidur pinjam dariku, seperti biasa. Sepeda juga kau tinggalin di sekolah.”
“Seru sekali!! Putra, malam sebelumnya ayo kita bermain PlayStation, bersama Haidar. Aku jadi ingin menginap di rumahmu juga.”
“Nginap di rumahku? Tidur di teras depan tapi.”
Chelsea hampir saja melemparkan piring kotornya, dan Putra sekarang mengangkat pantatnya juga, menghardiknya untuk tidak bermain dengan piring. Perdebatan kedua tetangga itu terjadi kembali. Haidar hanya menatap mereka dengan tawanya. Dan hati yang berbunga-bunga, membayangkan pengalaman baru ini, berekreasi dengan teman-temannya.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA