Bab 3: Tetangga Baru Putra (1)

“Bapak! Izinkan saya masuk dulu!” Haidar berteriak, mengayuh sepeda dengan kecepatan setinggi mungkin. Gara-gara berebut bolu dengan adiknya tadi pagi dia jadi telat.

Pak Dodo, satpam sekolah yang tidak pernah berekspresi dan berbicara sekenanya malah sengaja mempercepat tarikannya. Haidar menggertakkan gigi, menggerakkan seluruh otot pahanya, lihai menyelip gerbang sekolah yang celahnya sudah beberapa puluh senti saja.

Haidar menghela nafas keras telah berada di dalam wilayah sekolah. Dia bergegas memarkirkannya di parkiran sepeda motor…

Suara bunyi klakson sepeda motor menggema. Haidar mengenali suara klakson itu, menoleh ke belakang.

“Bapak! Izinkan saya masuk!” suara melengking Putra menggelegar di balik helm yang kaca depannya sudah terbuka. Roda motor moge bagian depannya tersangkut di gerbang sekolah.

Pak Dodo malah berlalu, “Kau telat. Kau nggak boleh masuk.”

“Astaga! Cuma beberapa senti aja ini…Haidar! Cepetan kau kesini. Bukain gerbang buatku!”

Haidar menghampiri gerbang, tetapi malah berdiri mematung di baliknya. “Jarang-jarang ada siswa yang motornya kejepit gerbang sekolah.”

Putra membuka helm sepenuhnya, “Kau nggak ingat pelajaran pertama siapa?”

Pertanyaan Putra membuat tawaan Haidar berhenti. Dia langsung berlari, menarik gerbang sekolah yang beratnya melebihi menarik sapi ternak Kakek. Putra langsung melaju kencang dan memarkirkan motornya di sebelah sepeda ontel Haidar.

Mereka berlarian di lorong kelas yang sudah lengang. Saat mereka membuka pintu, suara wanita galak serta pelototan mata menyambut mereka.

“Bukankah kalian tahu apa yang harus dilakukan siswa yang telat masuk di kelas saya?” sambut Bu Leni dengan pertanyaan khasnya.

Haidar dan Putra bergeming di ambang pintu. Dua puluh delapan kepala siswa juga menoleh ke arah mereka, memberikan tatapan iba.

Haidar berdeham, “Bu, maaf, tapi sebenarnya saya datang tepat waktu.”

“Bu,” Putra juga ikut angkat suara, “saya juga sama seperti Haidar. Cuma sepeda motor saya tadi tersangkut–”

“Haidar! Putra! Keluar sekarang juga!!”

Selama empat puluh menit pelajaran, dua siswa itu harus menunggu di luar kelas.

“Nggak masuk akal guru itu kadang,” Putra jongkok di lantai sambil bersandaran di dinding. “Jangankan betulan telat masuk, telat karena ke toilet sebentar aja tetap nggak dibolehin masuk sama dia!”

Haidar ikut jongkok, meraih sebuah handuk kecil di tas dan mengelap wajah dan leher yang bersimbah keringat, “Kau jadi telat gara-gara aku. Maaf ya, Tra.”

“Nggak peduli juga aku, Dar,” Putra mengayunkan tangan. “Biar aja aku dihukum. Kan aku paling nggak suka sama pelajarannya.”

“Kalau gitu kutinggalkan aja kau terjepit di gerbang Pak Dodo! Kau nggak tahu seberat apa gerbang sekolah itu.” Haidar bergumam, diselingi dengan kekehan Putra, “Pantas aja Pak Dodo pelit kali bukain gerbangnya. Mungkin cuma kakekku yang bisa buka karena sering narik sapi.”

Putra masih memberikan kekehan khasnya, sambil memasukkan tangan ke saku celana sekolahnya. Haidar sibuk mengelap keringat di rambut cepaknya sekarang. Kebiasaan membawa handuk kecil ini muncul tiga tahun yang lalu, karena saran dari teman sebangkunya ini yang masih saja mereka duduk bersama hingga memakai seragam putih abu-abu. Teman sebangku…sekaligus sahabat karibnya.

+++

“Kemarin aku kedatangan tetangga baru. Kata Mamah, dari Amerika.” Sambil mengunyah bakso di kantin, Putra merogoh sesuatu dari saku celana. Dia mengeluarkan sebuah foto hasil dari kamera polaroidnya.

Haidar meraihnya, satu tangannya lagi masih memegang bolu Nenek. Di dalam foto tersebut, dua keluarga kecil bersandingan di depan pagar rumah Putra. Dia mengenali orangtua Putra sejak diajak main ke rumahnya. Putra berdiri di depan orangtuanya dengan wajah yang tidak niat difoto. Anak ini memang susah sekali disuruh foto meskipun sangat menggemari fotografi.

Di sebelah mereka terdapat satu keluarga lagi. Seorang bapak yang terlihat bule dengan rambut coklatnya, namun ibunya terlihat asli Indonesia. Anak perempuan di depan mereka tersenyum girang, terlihat sebaya dengan Putra dan Haidar. Rambutnya bergelombang dengan warna yang sama seperti rambut bapaknya, namun raut wajahnya mengambil keayuan ibunya.

“Oh, darah campur juga anak ini?” Haidar masih menggenggam foto.

“Iya. Katanya mereka pindah kesini karena ibu itu kontakan dengan Mamah,” Putra menyeruput kuah bakso langsung dari mangkuk – cara makan yang tidak biasa bagi Haidar. “Namanya Chelsea. Dipanggilnya Achel tapi.”

“Kok Achel? Nama udah bagus-bagus gitu juga.”

“Soalnya takut ketukar sama Chelsea pemain sinetron itu.”

Haidar tertawa ngakak. Dia mengetahui sinetron yang dimaksud Putra. Sinetron itu, Nenek suka sekali menontonnya, sampai rebutan remot dengan adiknya setiap malam.

“Masuk sekolah ini juga, Dar. Minggu depan. Dengar-dengar bakal ditaruh di kelas sebelah.”

Minggu depan, satu sekolah heboh karena kedatangan murid baru itu. Tetangga baru Putra persis seperti berada di foto. Seorang siswi dengan seragam putih abu-abunya dan rambut cokelatnya yang tergerai.

Putra dan Haidar hanya menatap keramaian orang itu dari sudut kantin. Melahap makanan masing-masing.

“Udah kayak kedatangan walikota aja,” Putra melahap cimol dengan garpu yang dia pinjam dari penjualnya. “Si Achel bahkan belum tegur sapa samaku.”

“Sampai si Danar juga ikutan nimbrung,” Haidar menatap seorang siswa berbadan bongsor itu, sedang mengobrol dengan siswi baru. “Padahal tiap istirahat pasti dia ke warung Mbok Juminten. Ngumpul sama anak gengnya.”

“Entah. Dar, jangan bilang-bilang kalau aku tetanggaan sama dia. Pasti aku kena tonjokan si Danar karena dia iri.”

Sejak memasuki bangku SMU dan mengenal ketua geng motor itu, Danar, Putra dan anak itu suka bertengkar karena Putra selalu menolak mentah-mentah ajakan geng motornya, padahal katanya motor warisan bapaknya itu keluaran paling jarang. Harus dipamerkan di satu jalanan kota.

“Padahal aku ingin kenali kau ke Achel juga,” Putra melahap cimol terakhirnya.

“Santai ajalah. SMU masih tiga tahun lagi. Kenalan pas baru di acara kelulusan pun tak apa.” Lagipula, Haidar sudah dari dulu bukan anak seterkenal Danar atau Putra. Danar dengan geng motornya, serta Putra dengan rumor bahwa orangtuanya adalah salah satu keluarga terkaya di Kota Lembah. Haidar hanyalah anak desa dengan sepeda ontelnya, jadi keberadaannya sedikit tenggelam di sekolah ini. Sampai sekarang, hanya Putra yang sudi mengobrol dengannya, terlebih karena mereka juga berasal dari SMP yang sama.

Di suatu malam, saat Haidar sibuk mencuci piring di halaman belakang rumahnya, dengan air yang mengambil dari sumur, telepon berdering. Dia memberhentikan kegiatannya, karena mengetahui sekali siapa yang suka bertelepon di hari dan jam seperti ini. Dia memasuki rumah, melewati adik berambut ikal itu yang berdiri di belakang sofa dengan mulut yang masih belum dibersihkan dari makan malamnya yang sudah selesai setengah jam yang lalu. Nenek duduk di hadapan, seperti biasa menonton sinetron jadwalnya yang pemainnya si Chelsea itu.

Haidar menaruh gagang telepon di telinga, “Halo, Putra?”

“Kau ingat PR Biologi lima puluh soal dari Bu Dewi itu?”

“Masih, lah. Baru tadi siang dikasihnya. Kenapa emang?”

“Ayo kita kerjain akhir pekan ini!”

Haidar menggarukkan kepala, “Suka kali kau ngerjain PR saat ini juga. Baru dikumpulin dua minggu lagi.”

“Suka kali kau nunda-nunda pekerjaan!”

Sejak mengenal Putra, Haidar memang sudah tidak pernah dihukum oleh guru lagi karena tidak mengerjakan PR. Anak ini meskipun tidak suka semua pelajaran, tapi belajar buat ujian pun sudah dipersiapkan sebulan sebelumnya. Sedangkan Haidar bergadang semalaman pun tidak apa-apa, dan tidak peduli nilainya juga. Tapi tetap saja nilai Haidar jauh lebih bagus daripada dia.

“Terus ada tugas Geografi,” suara Putra masih terdengar. “Yang disuruh cari bencana alam itu.”

“Yang disuruh dikipling itu? Itu bukannya sebulan lagi baru dikumpulin?”

“Kerjain juga kita akhir pekan! Nggak mau tahu aku!”

“Yang tugas Geografi itu kan bisa nyicil, minggu depannya. Kau ingin ngerjain PR udah kayak kebelet pipis aja!”

“Nggak bisa aku akhir pekan depan.“ Suara Putra merendah, “Orangtuaku dan orangtua Achel ingin keliling kota bersama, katanya. Aku disuruh ikut sama Achel juga.”

Haidar spontan tertawa, membayangkan wajah melas Putra saat mengatakan hal itu, “Habis lamaran kau sama dia?”

Putra pasti sedang melotot saat ini meskipun tidak terlihat. “Pokoknya, besok kujemput di rumah jam sepuluh pagi. Kau kumpulkan koran bekas Kakek itu, ya. Oh, besok Achel juga ikut belajar bersama kita. Salam buat Harika dariku.”

Putra menutup sambungan. Kebiasaan orang ini tidak pernah memberikan salam dan pamitan di telepon.

Saat Haidar menaruh gagang telepon, dia mendapati adiknya sekarang sudah menatapnya, bukan ke layar televisi.

“Nguping lagi ya kau? Kebiasaan, lah.” Haidar berjalan ke arah teras belakang untuk melanjutkan cucian piringnya, “Ada salam dari Putra! Besok dia mau ke sini juga.”

Harika mengejarnya. “Abang, aku denger Bang Putra sebut Achel terus. Itu siapa?”

“Astaga, telingamu setajam itu? Padahal suara Putra nggak sekeras kau.”

Sesampai Haidar di teras belakang, Harika berlari kembali, menyebut-nyebut bahwa dia mendengar suara tokek yang sebenarnya isi rumah hanya diisi dengan suara sang pemain sinetron. Entah kenapa indra pendengaran adik itu memang lebih tajam daripada kebanyakan orang. Pernah menemukan tikus tanah di rumah yang sedang bersembunyi karena dia mendengar langkahan kakinya.

Tapi tetap saja, suasana rumah rotan berubah drastis sejak kepergian Bapak, Hasan, terutama Ibu. Kehadiran Kakek dan Nenek tidak bisa menyamainya. Apalagi adik itu. Butuh waktu lama baginya untuk tidak mengutuk kehadirannya yang telah merenggut nyawa Ibu.

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 4: Tetangga Baru Putra (2)

Next
Next

Bab 2: Teman Sebangku