Bab 2: Teman Sebangku

Haidar selalu ingin cepat-cepat keluar dari sekolah SD-nya. Meninggalkan para murid dan guru di gedung itu yang selalu menertawakan keinginannya untuk menaiki pesawat.

Terutama, sejak Ibu meninggal. Sejak adik perempuannya lahir.

Saat itu, Hasan hampir saja tidak bisa meneruskan sekolah karena uang bertani Bapak yang tidak mencukupi. Untung saja, kakaknya mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan SMU di Kabupaten Lembah, entah apa yang dilakukan kakak itu. Selama ini Haidar hanya melihatnya bercocok-tanam sepanjang hari, atau menggambar sesuatu di buku sketsanya dengan pensil raut.

Orangtua Bapak, Kakek dan Nenek, dipanggil ke Desa Bukit Berbaris untuk menetap supaya bisa merawat Haidar dan adiknya yang masih merah. Kakek yang berternak akhirnya mengubah kebun belakang rumah menjadi peternakannya. Nenek mengurus rumah tangga. Dan Bapak meninggalkan bertaninya untuk menjadi tukang kuli bangunan di Provinsi Barat, ratusan kilometer terpisah dengan anak-anaknya. Hanya pulang tiga bulan sekali, sisanya berkomunikasi lewat telepon.

Setelah Hasan lulus SMU, dia memutuskan untuk ikut Bapak, supaya Haidar bisa bersekolah di Kota Lembah. Mereka ingin anak keduanya menempuh pendidikan lebih bagus, terlebih nilai Ebtanas SD-nya yang menjadi salah satu tertinggi di Kabupaten Lembah. Meskipun untuk menempuh sekolahnya, dia harus mengayuh sepeda ontel bekas Bapak selama satu jam, sambil mengenakan salah satu helm Kakek yang setidaknya menutupi pucuk kepalanya.

Tetapi Haidar tidak peduli. Dia sudah muak dengan Kabupaten. Membuat kenangan buruk di kepalanya.

Di hari pertama Haidar menginjakkan gedung sekolah, dengan seragam putih biru dongkernya yang sudah bersimbah keringat – untung saja staminanya cukup tinggi karena selalu main di bukit desa – dia hampir saja ternganga sepanjang upacara bendera. Gedung sekolah negeri bertingkat tersebut menampung ratusan murid, diisi oleh wajah-wajah berbeda yang tidak dia temui di sekolah Kabupaten, serta kantin yang besarnya sudah seperti Pasar Pinggir, menghidangkan berbagai macam jajanan, meskipun dia tidak pernah membelinya. Bolu buatan Nenek sudah cukup untuk mengenyangkan perutnya di saat jam istirahat.

Sebulan menempuh di sekolah ini, tentu saja tidak ada yang sudi menyapanya, bahkan duduk di bangku sebelahnya. Seragamnya bau keringat dan wajahnya dekil karena terkena asap kendaraan. Sepeda ontelnya yang terparkir di jajaran motor para guru kadang tergencet. Untung dahulu Ibu pernah mengajarinya membengkel sepeda Bapak ini.

Tetapi Haidar tidak peduli, selama orang-orang ini tidak ikut campur dengan urusan impiannya yang ingin naik pesawat. Lagipula, lebih baik tidak usah berteman dengan mereka sampai lulus SMP, supaya tidak ada yang tahu tentang impiannya itu.

+++

Di sebuah pelajaran Kesenian, para murid disuruh menggambar sebebas mungkin, bahkan jika itu hanyalah dua bukit dengan matahari di tengahnya. Semua murid antusias, berkutat dengan buku gambar masing-masing. Beberapa dari mereka membuat grup, menggambar bersama sambil saling meminjamkan alat tulis. Guru Kesenian mereka, seorang bapak tua yang sebentar lagi pensiun, duduk di meja guru, dengan sebuah majalah di hadapan.

Haidar tentu saja duduk sendirian, di pojok ruangan sebelah jendela. Tidak seperti Hasan yang jika menggambar tangannya seperti menari-nari, dia tidak begitu menyukai menggambar. Kecuali satu, yaitu menggambar pesawat jet yang fotonya pernah dia temui di koran bekas Bapak. Sejak saat itu, setiap kelas menggambar, dia hanya menggambar benda itu sampai guru bosan dengan karyanya.

Haidar melirik bangku seberang di sebelah. Sebuah grup yang paling besar sedang mengelilingi seorang anak lelaki dengan kulit paling putih di gedung sekolah. Rambut depan lurusnya menutupi dahi, matanya berkutat dengan buku gambar, diam seribu bahasa, tidak menghiraukan murid-murid lainnya yang mengelilinginya. Di setiap pelajaran Kesenian, anak itu selalu dikelilingi. Katanya paling jago di pelajaran itu.

Haidar tidak tahu namanya – dia sudah dari awal tidak mau menghafal nama teman-teman kelasnya – tetapi di matanya, anak itu cukup menarik. Tidak hanya dari perawakannya yang berbeda dari wajah para orang-orang yang dia temui kebanyakan, dengan kulit cerahnya seperti tidak pernah berjemur di matahari, namun dia juga selalu diam seribu bahasa meskipun anak-anak kelas mendekatinya, terutama para perempuan. Teman sebangkunya yang juga sering mengajaknya berbicara kadang tidak dia hiraukan. Pendiam. Misterius. Seperti Haidar di kelas ini…

Ujung pensil Haidar patah.

Haidar berdecak. Pesawat jet baru saja tergambar mocongnya, tetapi pensilnya sudah patah. Dia meraih ransel bekas kakaknya, mencari-cari peraut yang dia baru beli, karena tidak boleh membawa silet ke sekolah. Dia berdecak sekali lagi. Ketinggalan di rumah.

Haidar celingak-celinguk. Para murid pada duduk bergerombolan, jauh dari bangkunya. Di ranselnya hanya ada bulpen dan penghapus. Matanya mulai memanas. Dia berpikir apa dia pura-pura izin ke kamar mandi supaya bisa ke kantin untuk meminjam silet–

“Pakai perautku.”

Haidar tersentak saat mendengarkan sumber suara, yang pertama kalinya di kelas ini, berbicara kepadanya selain guru. Anak misterius itu, dengan wajah pucatnya, menengadahkan tangan ke arahnya dari jauh. Memegang sebuah benda asing.

“Pakai perautku,” katanya sekali lagi dari kejauhan, suara ringannya itu masih terdengar. “Sebelum jam pelajaran selesai.”

Haidar beranjak, patah-patah melangkah untuk mendekatinya. Tangannya bergetar, memegang benda asing yang belum pernah dia lihat. Sebuah benda seperti kotak kecil dengan bagian bawahnya transparan, serta bagian atasnya terdapat sebuah bolongan. Di belakangnya ada sebuah pemutar berbentuk seperti kunci alat bengkel.

Haidar berkerut, duduk di bangkunya kembali sambil masih menatap benda itu. “Ini…peraut?”

Wajah anak misterius itu juga berkerut. Tetapi, setelah itu berubah melunak. Dia beranjak, meninggalkan bangku dan murid-murid yang duduk di sana. Dia mendekati meja Haidar, “Berikan peraut itu. Dan pensilmu.”

Haidar menaruh peraut di meja kosong sebelahnya, serta pensilnya yang tumpul. Anak itu berdiri di ujung meja, mengambil pensilnya dan meraih peraut. Dia memasukkan pensil itu ke dalam bolongan, dan saat dia menekan sisi kotak, cangkangnya memanjang, menahan badan pensil. Kemudian, dia meraih pemutar.

Suara rautan pensil terdengar. Haidar ternganga melihat benda itu. Di televisi rumahnya pun tidak pernah menunjukkan benda canggih itu.

“Itu…betulan peraut?” Haidar masih ternganga.

Tangan anak itu masih berputar, meliriknya dengan mata berukuran kuaci itu, “Memangnya kau biasanya pake peraut apa?”

“Yang kecil itu…,“ Haidar menunjukkan ukuran dengan bulatan jarinya. “Tapi seringnya pake silet.”

Gerakan anak itu terhenti. Dia meliriknya kembali, tapi dengan mata membesar.

“Silet??” serunya. “Bukannya itu buat bungkusan roti? Bisa dipake buat menajamkan pensil??”

Haidar ingin menyengir. Anak pendiam seribu bahasa itu untuk pertama kalinya terdengar banyak cakapnya.

“Bisa, kok,” kata Haidar. “Bisa kuajari kau kalau mau. Pinjam silet ibu kantin di belakang tapi.”

Anak itu terdiam kembali. Tetapi bibirnya perlahan menyunggingkan senyuman.

Anak itu menghentikan gerakan memutarnya. Dia mengeluarkan pensil Haidar dari peraut canggih itu dan memberinya. Haidar patah-patah menerimanya sambil menelan ludah, runcingannya jauh lebih tajam daripada paku payung.

“Di sini… lebih sunyi,” anak itu bergumam, matanya kali ini melihat jendela di sebelah Haidar. Dia menunjuk meja, “Di sini…apa selalu kosong?”

Haidar berkerut, terutama melihat wajah pucatnya yang mulai memerah. Dia mengangguk.

Anak itu berdeham, masih menunjuk meja, “Aku…boleh duduk sini?” Dia menoleh ke belakang, menatap bangkunya yang masih dikelilingi, “Ramai kali di sana. Nggak bisa berkonsentrasi aku dibuatnya.”

Haidar rasanya ingin meneteskan air mata. Dia menggeser buku gambar, “Tentu aja.”

Anak itu langsung membalikkan badan, meninggalkan peraut canggihnya. Tanpa berbicara dengan yang lain, dia mengambil buku gambar dan kotak pensil yang sebesar tas belanjaan Nenek ke pasar. Dia mengambil kursi kosong di sebelahnya, masih dengan sunggingan bibir di wajah, yang jarang sekali Haidar lihat selain wajah datar sehari-harinya.

Dia menaruh buku gambar, tetapi tangannya terhenti saat melihat pegangan pensil Haidar. “Kau gambar pake tangan kanan?”

Haidar mengangguk, tetapi dengan benak yang heran, “Semua orang kan emang gambar pake tangan kanan.”

Anak itu sekarang menatapnya, “Kita…boleh pindah bangku? Supaya selama gambar kita nggak saling sikut.”

Haidar beranjak. Mungkin inilah alasannya anak ini pendiam seribu bahasa. Gaya bicaranya terdengar sedikit aneh, setidaknya di telinga dia yang sebagai anak desa. Mungkin semua orang Kota berbicara sepertinya.

Mereka pindah tempat duduk, dan sekarang anak itu yang duduk di sebelah jendela. Wajahnya melunak kembali, sambil menaruh buku gambar.

Haidar spontan melotot melihat gambarannya. Sebuah kakaktua yang terlihat persis seperti di televisi, dengan guratan helai bulu dan bayangannya yang terlihat seperti sebuah foto.

Saat anak itu meraih pensilnya kembali, menggambarnya dengan tangan kiri, Haidar hampir saja menaikkan pantat, “Kau gambar sebagus itu pake tangan kiri??”

Anak itu tersentak. Dia menoleh, kemudian berdecak, “Aku emang kidal. Lagipula, kenapa sih semua orang bereaksi setiap lihat cara nulisku? Dikira aku harimau sumatera apa.” Dia berkutat dengan gambarannya kembali, sambil bergumam, “Untung aja tombol kamera ada di bagian kanan. Nggak kelihatan makhluk langkanya aku.”

Anak itu tenggelam dalam guratan pensilnya. Tangan Haidar masih terhenti meskipun dengan pensil yang sudah tajam. Dia menyengir, menahan geli di perut setelah mendengarkan gaya bicara murid di sebelahnya ini. Bahasanya mirip kakak dan ibunya.

“Kau gambar apa emang?” Anak itu masih menggerakkan pensil, melirik ke arah buku gambar Haidar, “Oh, pesawat jet kah itu? Terlihat dari moncongnya.”

Haidar menyadari bahwa dia sejak belasan menit yang lalu tidak meneruskan guratan pensilnya. Dia melanjutkan gambarannya juga, “Iya. Kau bisa tahu, padahal gambaranku nggak bagus-bagus amat. Kata kakakku, gambaranku malah kayak buras dengan sayap pesawat. Moncongnya aja yang bagus, selebihnya nggak.”

Anak itu menyengir. Dia melirik gambaran Haidar kembali, “Kenapa kau milih pesawat jet?”

Haidar sudah membuka mulutnya, tetapi langsung tidak jadi. Dia hampir saja mengutarakan mimpi konyolnya itu.

“Kau…” Haidar menunjuk gambaran kakaktuanya, “kenapa gambar itu?”

“Malah balik tanya kau!” Anak itu merogoh sesuatu di saku celana, kemudian menaruh sesuatu di meja. Sebuah foto dengan burung kakaktua bewarna hijau. Hewan yang Haidar lihat dari televisi.

“Aku jiplak aja dari situ,” katanya, kembali menggambar.

Haidar masih menatap foto itu. “Kau potret?” Dia menelan ludah. “Kau lihat burung itu dimana?”

Anak itu mengusap tengkuk. “Saat kunjungan ke saudara bapakku. Di Singapura.”

“Singapura? Kota sebelah mana itu?”

Gerakan tangan anak itu terhenti lagi. “Itu negara sendiri.”

Sekarang pantat Haidar terangkat seluruhnya, tidak peduli gerakan geseran kursinya melengking.

“Kau keluar negeri??” Haidar melotot. “Berarti kau naik pesawat ke sana??”

Anak itu tersentak lagi. Dia menatap Haidar dengan wajah yang semakin memerah, “I-iya. Dari Bandara Ibukota.” Dia berdeham, “Bapakku dari sana.”

Haidar hanya ber-ooh, tetapi masih menatapnya. Dia perlahan mengambil kursi kembali yang untung saja tidak terpelanting ke belakang. Dia sekarang berkutat dengan gambarannya yang badan pesawat burasnya baru tergambar setengah, “Kau punya darah campur? Pernah dengar aku ada kasus kayak gitu dari gosip tetangga.”

“Kasus? Betulan kayak harimau sumatera aku dibuatnya.”

Haidar terkekeh, sambil berusaha menyelesaikan gambarannya karena waktu tinggal dua puluh menit lagi, “Beruntung kali, kau. Suka naik pesawat berarti.” Tangannya sekarang menggambar roda, “Aku…gambar pesawat jet karena ingin menaikinya.”

Entah kenapa mulutnya berbicara begitu saja. Tangan Haidar langsung berhenti saat menyadarinya.

Anak itu menatap Haidar tanpa kata-kata. Guratan tangannya juga berhenti, tinggal menyisakan gambar kaki burungnya saja.

Wajah Haidar langsung memanas. Pasti dia akan ditertawakan satu gedung sekolah lagi. Seperti dulu.

“Oh gitu…”

Anak itu malah berkutat kembali dengan gambarannya.

“Aku punya banyak fotonya di rumah,” katanya. “Foto di bandara sama pas naik pesawat. Bisa kubawa besok kalau kau mau.”

Mata Haidar melebar.

“Bisa kukasih juga kalau kau mau. Hasil jepretanku, aku nggak gitu suka taruh di dinding kamar.”

Haidar berusaha menyelesaikan gambaran roda pesawatnya. Sambil menahan air matanya yang ingin terjatuh. Perkataannya…terdengar indah, seperti kalimat Ibu di malam terakhir dia hidup. Berani meraih mimpinya setinggi mungkin. Meskipun di mata orang lain sederhana.

“Namaku Putra.”

Haidar menoleh. Anak itu sudah selesai menggambar, sekarang menatapnya.

Haidar berdeham, menggurati roda pesawat yang hampir selesai, “Haidar.”

Mereka terdiam. Putra, anak di sebelahnya, sepertinya menunggu gambarannya selesai. Setelah Haidar sudah berhenti dengan guratannya, Putra berbicara kembali, “Betulan aku bawa besok foto-foto pesawatku. Mau…lihat?”

Wajah Haidar berbinar. “Tentu aja. Bawa semua, termasuk yang belum dicetak.”

Putra tersenyum sumringah. Dia menunjuk meja di hadapannya, “Tapi mulai besok, aku duduk sini, ya. Dan seterusnya.”

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 3: Tetangga Baru Putra (1)

Next
Next

Bab 1: Impian (1)