Bab 1: Impian (1)

Haidar sudah ingin menaiki pesawat sejak dia masih mengenakan popok kain.

Mungkin itulah ingatan pertamanya, saat dia menemani Bapak dan Hasan sedang bercocok tanam di kebun belakang rumah mereka. Panas terik matahari di Desa Bukit Berbaris saat itu menyengatkan kepala, membuat siapapun yang berada di luar meskipun baru saja dari sumur seusai mandi langsung keringatan kembali. Bapak dan kakaknya mengenakan topi anyaman, sibuk menundukkan kepala untuk bercangkul dan menaruh bebijian. Ibu berada di dalam rumah, memasak. Haidar bermain-main dengan tanah gundukan bekas mencangkul.

“Masuk aja ke dalam, Dik!” Hasan berceletuk setiap Haidar memasukkan gundukan tanah bekas mencangkulnya ke dalam lubang yang dia gali. “Udah nggak bantuin, buat kerusuhan lagi!”

Bapak terkekeh sambil mengayunkan cangkul. Anak sulungnya yang masih duduk di bangku SD suka bergerutu jika adiknya menemani mereka.

“Bapak,” Hasan menaruh cangkulnya di atas tanah begitu saja. “Suruh Haidar masuk aja ke dalam, nemenin Ibu. Sampai besok pun belum selesai-selesai bercocok tanam kita karena si adik ini.”

“Lebih parah si Adik disuruh ke dalam nemenin Ibu ketimbang di sini,” kata Bapak. “Udah tahu Ibu nggak pernah mau ada orang di dalam rumah kalau dia lagi masak. Makanya kita bercocok-tanam, berpanas-panasan demi dia.”

Hasan berdecak, masih belum melanjutkan cangkulannya. Berdiri di hadapan adiknya, mengambil cangkulnya kembali untuk menumpu badannya. Adik berambut cepak itu sekarang menutupi seluruh lubang galiannya yang dia susah-susah buat.

“Ya sudah, Hasan,” Bapak menunjuk cangkulannya. “Kau bagian memasukkan biji. Biar Bapak yang gali tanah.”

Hasan langsung berlarian meninggalkan mereka dengan seruan girang, menaruh cangkul di sebelah teras belakang rumah yang lantainya terbuat dari rotan. Dia memang paling malas bagian mencangkul, cangkulannya saja lebih panjang dari badannya.

Saat Hasan sudah sigap mengambil keranjang jerami berisi bebijian dan Bapak mulai mencangkuli lubang yang ditutupi Haidar, serta Haidar yang masih bermain gundukan tanah dengan popok kain yang sudah kotor, suara dari langit menggelegar.

Mereka bertiga serentak menengadahkan kepala. Melihat langit siang cerah dengan sebuah garis putih yang melintang di cakrawala.

“Itu…pesawat jet, bukan?” Hasan menunjuk sebuah benda terbang yang menghiasi langit dengan garis putih tersebut. “Kata teman Abang di sekolah. Nggak bawa penumpang, cuma tentara aja di dalamnya.”

“Iya, Nak,” Bapak juga menengadahkan kepala, kemudian menundukkannya kembali, melindungi mata dari sengatan matahari. Tangannya mengayunkan cangkul lagi. “Kau banyak belajar juga di sekolah. Bapak aja baru tahu kita bisa terbang pas Bapak udah nikah sama Ibu.”

Bapak dan anak itu tenggelam dalam kesibukan mereka, hingga mereka tidak menyadari bahwa lubang-lubang yang telah mereka gali kali ini dibiarkan begitu saja.

Gerakan Haidar telah lama terhenti. Dia masih menengadahkan kepala, tidak peduli jika sinar matahari membakar matanya. Menatap garis putih itu yang perlahan mulai memudar. Tapi tidak dengan ingatan suara pesawat jet yang menggema itu.

+++

Di saat anak-anak sebayanya menyebutkan serentetan profesi orangtuanya sebagai impian belaka, Haidar hanya ingin menaiki pesawat. Tidak lebih.

Di desa yang terletak di suatu perbukitan di Indonesia, tinggallah sebuah keluarga yang cukup berbeda dibanding penduduk lain. Berisi sepasang muda yang hanya lulus SMP namun mampu menyekolahkan anak-anaknya di Kabupaten Lembah, di antara anak tetangga yang jangankan sekolah di luar desa, mereka kebanyakan hanya sampai menempuh pendidikan tingkat SD. Di saat para anak lelaki kemudian membantu para orangtuanya yang kebanyakan bertani, atau para anak perempuan membantu ibunya di rumah sambil ikut mengurus para saudaranya hingga jika ada yang meminang mereka, Hasan dan Haidar setiap pagi ikut bersama Ibu ke Kabupaten dengan seragam sekolah mereka. Sebagai seorang kepala rumah tangga, Pak Harun justru membersihkan rumah lebih sering karena pekerjaan bertaninya di desa yang hanya dia tempuh kebunnya dengan sepeda ontel. Sedangkan si istri bekerja di Kabupaten, menjadi tukang bengkel sejak melepas rok biru dongkernya, hanya di rumah untuk memasak dan melerai dua anak lelakinya yang suka memainkan ekor cicak. Jika sepeda ontel sang suami rusak, dengan tangan lincahnya, si istri memperbaikinya dengan telaten, sehati-hati dia memasang popok kain ke anak-anaknya.

Jadi, jika anak-anak sekolah dengan seragam merah putih mereka ingin mengikuti jejak orangtuanya seperti dokter, polisi, jaksa, atau profesi terpandang lainnya, pikiran Haidar yang terlintas adalah mungkin mengikuti Bapak bertani atau bekerja bersisian dengan Ibu di bengkel. Namun, keinginannya untuk menaiki pesawat jauh lebih besar ketimbang mengikuti jejak orangtuanya.

“Cita-cita…sangat penting bagi kita,” Bu Pia, wali kelas mereka, memecah lamunan Haidar yang sudah terkantuk-kantuk karena jadwal pertemuan wali kelas ini sebelum bel pulang sekolah berbunyi.

“Cita-cita…menentukan masa depan kita,” guru itu berjalan mengelilingi tiga puluh bangku. Tangan tergenggam di belakang punggung, badan tegap dan dagu terangkat, serta sol berhaknya menggema di lantai ubin. “Cita-cita menentukan, apakah kehidupan kita menjadi gelap atau terang.”

Biasanya Haidar tetap saja terkantuk-kantuk mendengarkan guru SD ini yang gaya bicaranya seperti sebuah pidato proklamasi. Tetapi temanya kali ini membuat matanya melebar.

“Anak-anak,” Bu Pia berjalan menuju ke depan papan tulis. Dia melirik jam tangan, “Waktu kita hampir usai. Sebelum bel pulang berdering, Ibu ingin tahu cita-cita kalian. Rena, dari kau dulu.”

“Aku mau jadi koki seperti bapakku yang kerja di hotel. Masak makanan enak.”

“Aku mau jadi dokter, biar bantu orang sakit kayak ibuku.”

“Aku mau jadi tentara kayak pamanku.”

Suara-suara para murid antusias bergema di kelas, menyebutkan lantang keinginan belaka mereka. Meskipun entah impian itu masih menetap saat mereka sudah tidak bersekolah lagi, tetapi setidaknya mereka mempunyai gambaran masa depan. Karena orangtuanya.

“Haidar!”

Haidar tersentak, mendapati Bu Pia dengan tatapan tegasnya. Dua puluh sembilan kepala murid-murid juga menoleh ke arahnya.

“Haidar, tinggal kau belum nyebut cita-citamu,” kata Bu Pia. “Apa yang kau cita-citakan?”

Haidar menelan ludah. Keringat membasahi kening meskipun ada dua kipas angin tergantung di atap. Di seluruh gedung sekolah ini, hanya dia yang tidak berasal dari Kabupaten Lembah. Dengan hidup sederhananya di rumah rotan, serta kedua orangtuanya yang juga tidak berseragam, melainkan dengan kaos kerja yang selalu bau minyak atau bersimbah keringat sepulangnya.

Haidar menggarukkan kepala berambut cepaknya itu – rambutnya entah kenapa tumbuhnya selambat lidah buaya. Dia berdeham, “Nggak…nggak tahu, Bu.”

Tawaan serentak dari dua puluh sembilan murid itu menggetarkan dinding kelas.

Bu Pia juga terkekeh sambil menggelengkan kepala, seolah-olah muridnya tidak bisa diharapkan, “Ada-ada aja kau. Marilah, kalau begitu kita tutup pelajarannya–”

“Ada, Bu!”

Tawaan menggelegar itu senyap. Bu Pia juga menatapnya kembali, saat Haidar sudah berdiri di belakang mejanya, menatap wali kelasnya dengan berkerut. Berusaha memberanikan diri untuk mengatakan isi kepala sebenarnya.

“Aku…ingin kali naik pesawat.”

Tawaan menggelegar itu kembali bergema, kali ini lebih keras. Diiringi dengan lengkingan bel dari koridor sekolah.

Bu Pia menghela nafas, “Itu bukan cita-cita. Tinggal kau beli aja tiket pesawat ke Bali. Ketua kelas, mohon disiapkan.”

+++

“Ingin kujejel sisa sambal balado ke mulut guru itu!” Ibu meremas-remas gusar nasi yang tercampur ikan lele balado. “Jangankan beli tiket pesawat. Dikira nginjak ke bandara aja udah kayak singgah ke kondangan anak Pak Kades!”

“Bu Pia emang udah nyebelin, kok! Wali kelas Hasan dulu juga sama dia,” Hasan melahap nasi. “Katanya Bu Pia emang kaya-raya, suaminya pemilik pasar swalayan yang ada di Pasar Pinggir itu. Anak-anaknya aja sekolah di Kota–”

“Husssh! Sudah, sudah,” Bapak berusaha meredamkan amarah anak sulung dan istrinya yang tersulut itu sejak cerita Haidar di sekolah tadi siang. “Hasan, sejak kapan kau suka gosip kayak tetangga sebelah? Bu, marahmu nggak membantu menenangkan anakmu ini.” Kemudian, dia menatap Haidar di seberangnya, “Ya sudah, Haidar, mengkin mereka nggak bisa ngerti keadaan kita. Diamkan aja orang seperti itu, buang-buang energi untuk menjelaskan keadaan kita.”

“Haidar! Jangan biarkan orang-orang seperti itu merendahkanmu!” suara keras Ibu menggema kembali. Dia ingin mengangkat satu kakinya di kursi – kebiasaan makannya – tetapi langsung mengaduh, “Duh, lupa aku kalau lagi hamil tua.”

“Ibu, kebiasaan lah!” Hasan berdecak, sambil menenggak air di gelasnya sampai habis, menurunkan lele yang dia lahap bulat-bulat ke tenggorokan. “Minggu kemarin hampir aja bawa motornya Om Memet. Untung aja dia cegat. Motornya motor moge lagi. Yang ada si Dedek langsung brojol pengen keluar.”

“Keluaran Harley Davidson terbarunya itu. Siapa yang nggak mau naik motor dia?” Ibu kemudian menatap Haidar, suara kerasnya berubah lembut, “Adik, mau nambah lagi lelenya, Sayang? Sebelum kakakmu yang habiskan.”

Haidar yang dari tadi diam saja di ruang meja makan menyodorkan piringnya yang masih setengah dihabiskan. Dengan suasana hati seperti ini, rasanya dia ingin makan lele balado Ibu sampai satu kolam ternak tetangganya sekalipun.

Setelah mereka selesai makan, Bapak membereskan piring-piring kotor, membawanya ke sumur di belakang rumah. Jika Ibu yang memasak, Bapak akan mencuci, begitupun sebaliknya. Semua tugas rumah dibagi, termasuk kepada anak-anaknya. Hasan mengelap meja makan, dan Haidar biasanya mengelap piring bersih. Tetapi karena suasana hatinya buruk, tugas dia diliburkan malam ini.

Sekarang Haidar duduk di sebelah Ibu di sofa mereka, satu-satunya barang mewah di rumah rotan ini selain televisi di hadapan. Ibu merangkul pundaknya dan mengelusnya. Satu tangan lainnya mengelus perutnya yang sudah hamil delapan bulan. Seorang adik perempuan yang sebentar lagi ikut meramaikan rumah keluarga Harun, rumah paling berisik di satu desa.

Kehidupan keluarganya memanglah sederhana. Dengan kedua orangtuanya yang hanya lulus SMP, tinggal di atap rotan yang kadang bocor saat hujan, terlebih selama delapan bulan ini Ibu tidak bisa memanjat ke atas genteng untuk menambalnya karena sedang hamil. Tetapi, kehidupan seperti ini sudah cukup bagi Haidar. Dia tidak perlu memiliki orangtua yang berseragam.

Karena di dunia ini, hanya merekalah yang mendukung impiannya.

“Adik…atau bentar lagi, Abang, deh,” Ibu menepuk bahunya. “Tolong ambilin gelas Ibu, Nak.”

Haidar beranjak, mengambil gelas air Ibu yang tertera di atas meja bambu, beserta beberapa toples kue yang selalu tersajikan meskipun tidak sedang lebaran.

Ibu menenggak airnya sampai habis, kemudian menaruh gelas kosongnya di sebelah. Dia menoleh dengan senyuman hangat, “Siap, nggak, jadi kakak?”

Dengan suasana hati seburuk ini, Haidar hanya mengangguk patah-patah.

Ibu terkekeh, mendekapnya supaya Haidar bisa bersandar di dadanya, “Kalau siap, kamu harus jadi seorang kakak yang berani. Berani bermimpi, setinggi apapun.”

Haidar hanya terdiam. Telinganya menikmati detakan jantung Ibu yang selalu menenangkan.

“Ibu namain kamu haidar supaya kamu jadi anak yang pemberani,” Ibu mengusap kepalanya. “Karena itu Ibu yakin, bagaimanapun keadaan kita, kamu pasti bisa raih mimpimu. Kamu bisa naik pesawat, walau hanya sendiri. Tanpa Ibu, Bapak, Hasan, atau adikmu ini yang bentar lagi hadir. Tetap yakin, Nak, karena kamu adalah anak Ibu paling berani. Dan selalu menjadi anak Ibu yang paling berani. Berani bermimpi, setinggi mungkin. Meskipun sederhana di mata orang-orang.”

Saat itu, waktu menunjukkan pukul delapan malam. Bapak masih sibuk mencuci wajan di belakang rumah. Hasan sudah tenggelam dengan belajarnya di kamar, karena sebentar lagi dia akan mengikuti Ebtanas SMP. Kata-kata indah Ibu itu, hanya Haidar yang mendengar. Diiringi dengan lantunan jangkrik di luar rumah, menghiasi malam itu.

Haidar memeluk erat Ibu, satu tangannya juga sambil mengelus perut buntingnya. Ikut memeluk adiknya yang masih di dalam kandungan. Dia sudah tidak sabar dengan kehadirannya, pasti adiknya itu juga sama berisiknya seperti Ibu dan kakaknya.

Namun, malam itu adalah pelukan terakhirnya bersama Ibu.

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 2: Teman Sebangku

Next
Next

Daftar Isi