Bab 37: Realita

Haidar membuka mata. Kelopaknya terasa berat. Hal pertama yang panca indranya tangkap adalah suara tit suatu mesin yang seperti ketukan, mengingatkannya kepada sebuah sinetron dimana pemeran utamanya sedang di rumah sakit karena kecelakaan. Setelah persepsinya mulai memberikan lebih banyak sinyal ke otak, Haidar merasa ada sesuatu di atas wajahnya. Dengan matanya yang masih setengah terbuka, dia melihat sebuah masker oksigen menempel di wajah. Udaranya terasa sejuk di dalam hidung.

Masih belum tahu dia berada dimana, suara pintu yang bergeser terdengar. Sosok berbaju hijau mendekatinya, seorang pria sebaya bapak. Saat melihat Haidar, wajahnya langsung terkejut. Dia meraih sebuah ponsel dari saku, berbicara, “Sudah siuman, Dok.”

+++

Haidar meringis saat merasakan kaki sebelah kirinya yang eksistensinya seperti menusuk otak.

“Sebentar ya, Haidar,” bapak perawat itu sedang menyuntikkan sesuatu di cairan infusan. “Om kasih analgesik dulu.”

Haidar hanya terdiam, sambil merasakan udara yang sejuk itu di hidungnya. Udara di atas bukit tidak sedingin ini.

Meskipun dia masih hanya bisa membuka matanya setengah, Haidar sudah bisa mengamati ruangan yang dia tempati. Keadaannya setengah remang, dengan AC di sudut yang tidak membekukan. Matras dan bantalnya jauh lebih empuk ketimbang yang berada di kamar Putra, serta selimut yang menutupi seluruh badannya kecuali kaki kirinya. Kakinya itu seperti ditutup oleh kain yang bahannya lebih kaku, tetapi dia tidak mau memikirkannya karena merasakan nyerinya saja sudah membuatnya hampir gila.

Sepertinya penawar rasa sakit mulai bekerja. Akhirnya dia bisa fokus ke benda yang menempel di badannya selain sebuah baju tanpa celana. Selang dan jarum terhubung di badan, ada beberapa plaster yang melekat di dada. Mesin berbunyi tit itu masih menggema.

Haidar sendirian di ruangan yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan kamar Putra. Namun, dia tidak begitu mempedulikan, otaknya terlalu lelah untuk berpikir. Tadi, selain bapak perawat yang mendatanginya, ada seorang pria sebaya lainnya, mengenakan kitel. Mereka berdua mengobrol cukup serius, sesekali menyebut nama Bapak. Anehnya, seperti sang perawat, dokter itu juga menyebut dirinya sebagai om. Hal tersebut menggelitikkan benak Haidar, padahal ketemu saja belum pernah. Apa para tenaga kesehatan mungkin memanggil mereka dengan sebutan om dan tante jika menghadapi pasien yang masih sekolah?

Pasien? Haidar baru menyadari bahwa dia sedang berada di rumah sakit.

Terlalu lelah untuk berpikir kenapa dia bisa terbaring di rumah sakit dengan selang dan jarum melekat di badan, Haidar memejamkan mata kembali, hanya ingin merasakan sejuknya udara dari masker oksigen itu. Sejuknya mengingatkannya kepada sebuah kenangan. Di pagi hari, untuk pertama kalinya menaiki bukit tertinggi itu, dengan pohonnya yang sendiri. Bersama Ibu, hanya berdua.

Kenangan itu entah kenapa terputar di kepalanya menjadi sebuah mimpi yang panjang sebelum dia terbangun di ruangan remang ini. Di umurnya yang baru lepas dari popok kain, Ibu mengajaknya ke bukit tersebut, menelusuri kebun teh yang para petani masih belum terlihat batang hidungnya. Saat itu hari libur, mereka baru selesai sarapan. Hasan pergi bersama Bapak ke kebun bertani. Ibu mengajak Haidar ke bukit dengan kabut yang jarak pandangnya hanya dua meter, tetapi kaki Ibu selincah tangannya mereparasi mesin motor, menelusuri jalan setapak tanpa takut untuk menyasar.

Sesampai mereka di atas bukit, Ibu berteriak ria. Aku cantik!! Itulah yang selalu Ibu teriaki sepanjang waktu di atas bukit, membuat Haidar tertawa. Saat Ibu menyuruhnya gantian berteriak, Haidar pun berseru; aku mau naik pesawat!! Dan saat matahari mulai menyapu para kabut, pesawat jet melintasi langit, menghiasi cakrawala dengan garis putihnya.

Haidar menyunggingkan senyuman dari balik masker. Saat itu, dia tidak mau menuruni bukit, sampai Ibu membujuknya. Dia masih ingin menatap langit dengan garis putih itu, sampai sudah memudar pun dia masih ingin berada di situ. Dia masih ingin merasakan keberadaan Ibu. Tetapi, entah kenapa, dengan badan kecilnya yang belum mengenakan seragam sekolah, otaknya berpikir bahwa tempatnya bukan di sini. Maka, dia memutuskan untuk menuruni bukit kembali, yang anehnya kali itu dengan seragam SMU melekat di badan. Serta sendirian.

Pintu terbuka, membuyarkan lamunan.

“Haidar?”

Haidar membuka mata – meskipun masih setengah – saat mendengarkan suara pria tertenang sedunia itu.

Sosok Bapak mendekatinya. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumannya lebar, seperti ada kelegaan yang dia rasakan. Dia duduk di sebuah kursi di sebelah. Tangannya hati-hati memegang tangan Haidar yang tidak tersambung jarum infusan.

“Gimana keadaanmu, Nak?” suara Bapak lirih, membelai kepala Haidar.

Haidar merasa berat untuk bersuara, memberikan anggukan pun terlalu lemah. Maka, dia hanya mengedipkan matanya pelan, sebagai jawaban.

Kemudian, pintu terbuka lagi. Muncul sosok Hasan dengan raut khawatir.

“Lama kali kau koma!” berbeda dengan Bapak, Hasan malah menyambutnya dengan hardikan. “Sepuluh hari lamanya nggak tidur aku!”

Bapak yang biasanya menenangkan anak tertuanya itu jika mencak-mencak justru malah terkekeh, sambil mengusap ujung mata.

“Kakakmu ini…betulan nggak tidur. Bolak-balik dia beli kopi sachetan di warung tetangga,” Bapak menunjuk Hasan yang masih berdiri dan bersandar di dinding. “Nggak hanya memikirkanmu aja, tapi juga mengurusi sumbangan uang yang masuk kepada kami buat pengobatanmu, sampai bolak-balik ke sekolah dan nemuin ibu kepala sekolahmu. Kakek sama Nenek mana paham begituan, Bapak juga. Dia bahkan lebih cekatan dibandingkan sekretaris Pak Kades.” Bapak menyengir, “Udah kayak direktur aja si Hasan.”

“Halah, Bapak. Ketinggian gelarku itu,” Hasan melambaikan tangan. Kemudian, dia menatap Haidar, “Kau nggak usah mikir yang macam-macam dulu. Katanya kau mesti dua hari di sini, sebelum bisa dipindahin ke kamar lain. Dokter masih mau monitor kondisimu.” Dia terdiam, menatap jendela yang tertutup tirai, “Lingkaran pertemananmu besar kali. Saking besarnya, aku pikir satu kota bantu kita. Entah apa yang kau lakukan di sekolah. Katanya, ketua OSIS aja nggak.”

Haidar ingin sekali tertawa, namun hanya sunggingan senyuman yang bisa dia berikan, meskipun tidak terlihat oleh Hasan dan Bapak.

“Di kamar ini, apa namanya…” Bapak menoleh ke Hasan. Setelah Hasan menyebut sesuatu, Bapak menatap Haidar balik, “Ruang ICU. Pengunjungnya terbatas. Hanya Bapak dan Hasan yang boleh ke sini. Nenek sama Kakek ingin kali lihat kau, tapi hanya bisa kalau kau sudah pindah kamar.”

“Nggak juga Kakek sama Nenek, teman-temanmu juga,” Hasan menambahkan. “Putra, Chelsea, terus teman-teman lainnya yang Abang lupa namanya. Oh, ngomong-ngomong, dokter sama perawat yang tadi ke sini katanya itu bapaknya temanmu juga, loh.” Hasan terdiam, matanya melirik atap kamar, “Ada satu orang juga yang mau ketemu kau. Bukan temanmu tapi.”

“Oh, itu,” Bapak menoleh ke Hasan. “Gurunya dia itu, ya? Yang ngasih uang ke kita secara personal. Lupa juga Bapak namanya siapa.”

Mereka masih bercakap-cakap, menjelaskan situasi, yang bagi Haidar pembicaraan mereka hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Pembicaraan mereka terhenti saat bapak perawat itu masuk kembali. Jam besuk sudah berakhir.

Bapak berdiri, tangannya masih menggenggam tangan Haidar. Hasan mendekatinya, berdiri di sebelah Bapak, menatapnya dengan tatapan teduh. Baru kali itu kakaknya memberikan raut seperti itu kepadanya.

“Adik.”

Haidar berusaha menajamkan indra pendengaran. Hasan jarang memanggilnya seperti itu, kecuali jika orang itu sedang emosional. Kakak itu ikut menggenggam tangannya, sambil tersenyum. Senyuman yang mirip dengan Bapak.

“Terima kasih, ya,” Hasan mengeratkan pengangannya, “sudah berani ke realita kembali.”

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 38: Jatuh

Next
Next

Bab 36: Anak