Bab 28: Hujan
Empat hari ini, Haidar hanya menatap jendela dalam diam setiap jam istirahat. Enggan untuk memakan bolu Nenek. Juga enggan untuk keluar kelas. Chelsea duduk di sebelah Haidar, di bangkunya. Di hadapan Haidar, bangkunya Wisnu, dipakai oleh Putra yang posisi duduknya terbalik dengan kursi bangkunya. Sudah empat hari ini mereka menemani Haidar seperti ini, rela tidak jajan di kantin,
sampai Putra keluar dari kelas itu jika bel berdering kembali. Menemaninya. Juga hanya dalam diam.
Melly dan gengnya berkumpul di meja Melly di hadapannya, makan jajanan mereka di kelas, menatap tiga orang itu dari jauh. Danar dan gengnya berdiri di ambang pintu kelas, juga menatap ketiga orang itu.
“Udah dioperasi,” jelas Wisnu kepada para anak gengnya. “Permasalahan dengan keluarga brengsek itu udah kelar sejak dua hari yang lalu.” Dia menyandarkan punggung di dinding, “Padahal kalau dibawa ke RS Kabupaten Selatan, mungkin bisa dibantu sama kedua orangtuaku.”
“Katanya adiknya sekolah dekat situ,” kata Fajar, “Makanya dibawanya ke Utara.” Anak geng sesekali harus bergeser jika ada anak kelas yang ingin memasuki ruangan.
Melly dan anak perempuan lainnya menghampiri mereka, sambil membuang bungkusan jajanan mereka ke tong sampah yang tertera di sudut ruangan.
“Padahal sudah kutawarkan tentang uang sumbangan Mister Herman itu,” Melly berbicara kepada anak geng motor. “Tapi dia tetap nggak mau terima. Katanya itu tetap untuk Mister Herman, meskipun sebagiannya ada dari uang tabungannya juga.”
“Achel juga sampai nawarin buat jual balik teropong pemberiannya itu,” sahut Wisnu. “Tapi dia juga nggak mau.”
Danar menggarukkan kepala. “Terus harus ngapain kita? Padahal aku juga udah bilang Ansar, anak motor bisa labrak satu keluarga itu. Diizinin sama dia.” Dia berdecak, mata melihat Haidar, “Tapi anak itu juga nggak mau.”
Bel berdering. Putra bangkit dari bangku Wisnu, menepuk pundak Haidar, kemudian meninggalkannya.
Para anak geng motor yang kebanyakan sekelas dengan Putra menunggu orang itu di luar dinding. Beberapa teman Melly berpamitan, sisanya masih berdiri di ambang pintu, hati-hati untuk tidak menutupi ambang pintu yang sekarang banyak anak mulai memasuki kelas.
Saat Putra keluar dari kelas, Danar langsung memanggilnya, “Gimana, Tra? Kami mau bantu, tapi anak itu nolak semua.”
Putra menatap Melly dan Sonya yang juga menunggu responnya, kemudian menatap Danar dan anak gengnya sebelum dia berjalan meninggalkan kelas. “Udah kubilang. Biarkan Haidar. Dia nggak perlu bantuan. Dia hanya perlu kita semua biarin dia sampai dia sudi berbicara kembali.”
+++
Hujan mengguyuri satu wilayah saat bel pulang berdering.
Tanpa kata-kata, Haidar bangkit dari bangku, meninggalkan Chelsea dan Wisnu begitu saja. Dia menelusuri koridor yang sesak oleh anak-anak sekolahan, yang sesaknya juga seperti dadanya saat ini. Dia hati-hati menuruni tangga yang lantainya sudah mulai basah karena tampias air hujan.
Haidar sigap mengambil kunci gembokan sepeda. Hujan mengguyuri kepala dan seragamnya. Dia bahkan menaiki sepeda ontelnya begitu saja dan melaju saat Putra menghampiri motornya yang terparkir di sebelah sepedanya.
Hujan semakin deras, tetesannya seperti menusuk kepalanya meskipun memakai helm. Haidar sedang berhenti di Perempatan Lampu Merah, menunggu lampu lalu lintas dengan kendaraan bermesin lainnya. Dia langsung mengayuh sepedanya cepat saat lampu hijau muncul di tengah langit mendung.
Hujan hari ini deras sekali, sampai memburamkan pandangannya karena tetesan yang mengguyurkan wajahnya saat melaju. Angin dari belakang punggung menghembusnya, seolah-olah seperti mempercepat kayuhan sepedanya, yang pemandangan jalan trotoar sudah mulai menampakkan perbukitan meskipun puncaknya tidak terlihat karena berkabut.
Haidar membelokkan sepedanya saat dia menemui jalanan setapak. Kayuhannya melambat karena tanah basah, percikannya membasahi ujung celana seragamnya. Gemericik tetesan hujan yang mengenai dedaunan memekikan telinga. Bau tanah liat tercium di udara.
Saat Haidar keluar dari jalanan setapak itu, menampakkan perumahan rotan, dia belok. Tidak mau pulang ke rumah hari ini.
Haidar terus menelusuri jalanan setapak yang di sisinya adalah jajaran perumahan, di sisi lainnya hutan. Jalanan yang sama saat dia memboncengi Chelsea di malam tahun baru. Semakin mendekati tujuannya, dadanya semakin sesak. Mengingatkannya emosi yang sama sembilan tahun yang lalu. Bedanya, dulu dia hanya berlari dengan kakinya yang membiru karena berlari terlalu lama.
Haidar sampai di sebuah tiang lampu. Dia turun dari sepeda, kemudian membantingnya begitu saja, tanpa menguncinya. Pun kalau rusak, dia bisa memperbaikinya sendiri. Dia juga melepas helmnya sembarang.
Haidar menelusuri jalanan setapak yang mulai menanjak. Tanaman daun teh menemani di sisinya. Haidar melangkah lebih cepat, sesekali hampir terpeleset karena menginjak tanah liat, tetapi dia tidak peduli jika dia jatuh menggelinding sekalipun.
Haidar hanya ingin naik ke atas. Tujuannya.
Saat kebun teh mulai tertinggal di belakang, dadanya semakin sesak. Dingin karena seragamnya yang basah mulai menusuk kulit. Tapi Haidar tetap tidak peduli. Dia berlarian kecil, kali ini kadang dia terjatuh. Celananya kotor. Tapi dia terus berlari, tidak peduli jika seragamnya penuh lumpur sekalipun. Toh dia yang mencucinya sendiri.
Haidar sampai di sebuah padang rumput. Hampir setengah tahun yang lalu, padang rumput itu sesak oleh penduduk desa dengan keranjang piknik dan tikar mereka, dengan langit malam yang menemani. Sekarang, padang rumput itu hampa, menyisakan suara rerumputan terkena air hujan. Namun baginya, semakin hampa semakin baik. Situasi yang sama juga sembilan tahun yang lalu.
Haidar menelusuri padang rumput, daunnya menyapu sebagian lumpur yang mengotori sepatu. Ranselnya terasa berat, mungkin buku-bukunya sudah tergenang air di dalam. Pemandangan di depannya yang biasanya terlihat atap-atap rumah penduduk tertutup kabut, seperti berada di atas awan.
Dari kejauhan, pohon yang satu-satunya berdiri mulai terlihat. Seolah-olah menunggu kehadirannya. Untuk sendirian bersama.
Haidar berjalan gontai. Intensitas air yang semakin naik seperti memukuli punggungnya dengan tetesan lebatnya. Dia juga tidak berhenti bergerak sejak meninggalkan sekolah, hanya sekali saat berada di Perempatan Lampu Merah. Nafasnya tersengal-sengal, suara hujan menenggelamkan suaranya, meskipun deruan nafasnya memekikan telinganya sendiri. Tidak hanya karena raganya yang mulai letih, namun dadanya yang mulai sakit. Menunggu isinya untuk dikeluarkan.
Dan saat tangan Haidar meraih batang pohon, menumpu badannya, dia membuka mulut, setelah lima hari ini membisu kecuali kalau ditanya guru. Mengeluarkan isi di dada yang telah dia pendam sejak selesai bertelepon bersama Bapak dan Hasan. Badai hujan dan petir yang bergemuruh tidak akan mampu untuk meredamkan suaranya itu.
Haidar akhirnya berteriak. Tidak peduli jika suaranya sendiri menulikan indra pendengarannya. Membiarkan dadanya berdarah kembali. Luka yang hanya dia tambal selama sembilan tahun ini.
“AKU BENCI DEDEK!!”
+++
Haidar sekarang sedang duduk, punggungnya bersandar di bawah pohon, meskipun kepalanya masih saja diguyuri tetesan air yang seperti mengetoknya karena intensitasnya yang semakin tinggi. Kabut di hadapannya semakin tebal, bahkan sekarang dia tidak bisa melihat langit. Dan hujan sederas ini selalu menyesakkan dadanya.
Sendiri. Bersama pohon di belakangnya yang juga sendiri sejak dia menemui tempat ini saat sudah bisa berlarian menelusuri bukit sendiri, menunggu pesawat jet yang melewati langit Desa. Ranselnya yang basah kuyup tergeletak begitu saja di atas rumput, sudah tergenang air, tapi dia tidak peduli jika buku tulisnya sampai hancur sekalipun saking basahnya.
Haidar tidak tahu sudah berapa lama dia berada di sini. Kabut yang menutupi pandangannya tidak menunjukkan posisi matahari. Yang jelas, selama ini dia hanya berteriak, menumpahkan semua isi dadanya yang masih menyakitkan. Tidak peduli jika pita suaranya sampai putus sekalipun.
Haidar masih berteriak, sesekali terinterupsi karena isakannya. Dia terus berteriak, sampai suaranya menenggelamkan langkahan kaki yang mendekatinya.
Suara langkahan kaki yang bergeser dengan rerumputan basah semakin terdengar saat Haidar berhenti berteriak. Dia tidak menoleh, hanya menatap kabut di hadapannya. Bang Hasan? Mungkin datang untuk menjemput lagi? Seperti sembilan tahun yang lalu, kakaknya yang malam-malam sudi menjemput adiknya yang masih berteriak sampai malam meskipun Ibu sudah disemayamkan di kuburan. Kakaknya yang tetap mendatanginya dengan hujan yang juga mengguyur badannya, tidak peduli jika dia jatuh sakit di hari Ujian Nasioanal keesokkan harinya.
Sosok yang mendatanginya akhirnya muncul. Haidar masih tidak menoleh, tetapi sosoknya tetap terlihat di balik ujung matanya.
“Haidar?”
Haidar tertegun saat yang dia dengar adalah suara perempuan melengking familiar itu. Berbicara selembut saat di malam tahun baru.
Haidar menoleh, menatap sumber suara. Chelsea, dengan seragam dan celana olahraga sekolah, berdiri di sebelah pohon. Jas hujan melindunginya dari tetesan, meskipun ujung rambutnya yang dibiarkan tergerai ke depan basah olehnya. Satu tangannya memegang payung yang terkuncup.
“Aku bersama Putra,” Chelsea menunjuk ke belakang pohon. “Tapi dia masih tertinggal jauh. Aku berlari ke sini, untung tidak jatuh.” Dia terdiam. “Putra mana mau memegang tanganku kalau aku menggelinding di tengah kebun teh.”
Suara hujan masih memekikan telinga. Tapi entah kenapa tetesan lebatnya tidak meredamkan suara Chelsea yang pelan itu. Dan lembut.
Chelsea membuka payung, lebarnya hampir menyamai dedaunan pohon di atas kepala Haidar. Dia mendekati Haidar, kemudian berlutut di hadapannya. Gagang payung berada di antara mereka, melindungi tetesan hujan yang mengguyuri kepala Haidar. Membuat badannya terasa lebih ringan.
“Kau hari ini jauh lebih membisu dibandingkan hari kemarin,” Chelsea menengadahkan kepala untuk melihat posisi payung. Celana olahraganya mulai kotor karena tanah basah, tapi dia terlihat tidak peduli. “Aku dan Putra khawatir, jadi kami berniat untuk mendatangi bengkel Om Memet. Tapi, kata bapak itu, selama lima hari ini kau tidak datang ke bengkel. Semua orang di sana juga mengkhawatirkanmu.”
Haidar memalingkan wajah, matanya terasa perih sekarang. “Buat apa? Aku ke sana hanya buat ngumpulin duit tiket pesawat.”
Mereka terdiam sebentar. Menyisakan suara hujan yang masih memekikan telinga.
“Aku tahu pesawat masih akan ada sampai aku beruban,” suara Haidar serak – terlalu banyak berteriak. “Tapi tetap aja rasanya sakit lihat uang itu musnah dalam sekejap di atas meja administrasi. Apalagi uang itu dipakai bukan karena keinginan sendiri.”
Chelsea masih terdiam. Tetapi badannya semakin mendekat. Tangannya memegang lengan Haidar, terasa hangat di kulit padahal anak itu tidak sedang demam. Meredakan rasa sakit di dada Haidar.
Suara langkahan kaki lainnya sekarang terdengar. Mendekati mereka.
Haidar dan Chelsea tetap terdiam, sambil mendengarkan langkahan kaki yang semakin keras, bersatu dengan hujan yang belum kunjung reda. Sampai sosok lainnya dengan jas hujan muncul. Putra, dengan celana olahraga sekolah yang ujungnya kotor oleh lumpur dan kaos rumah, berdiri di sebelah Haidar lainnya. Nafasnya sedikit tersengal-sengal, tetapi tidak sekeras dahulu saat Haidar dulu sering menyeretnya ke puncak bukit teratas ini. Setelah dia mengatur nafasnya, dia membungkukkan badan, duduk di sebelah Haidar di bawah payung besar Chelsea dan menyandarkan punggungnya di batang pohon. Tidak mempedulikan jas hujan di pantatnya yang kotor karena tanah basah.
“Adik itu,” Haidar terisak. “Udahlah renggut nyawa Ibu, sekarang renggut uang tabunganku.”
“Adik kau nggak salah,” kata Putra.
“Kau bela anak itu??”
“Aku nggak pernah bela siapapun jika kalian bertengkar, termasuk jika kalian rebutan bolu Nenek di depanku dulu. Kepalamu lagi panas aja. Makanya kau nyalahin siapapun, termasuk adikmu itu. Seperti ibu sialan itu yang nyuruh kalian bayar biaya pengobatan anaknya.”
“Putra…Putra benar, Haidar,” Chelsea menyahut, jempol di lengan Haidar membelainya. “Kau sedang emosi saja. Dan itu…tidak apa-apa. Kami tetap menemanimu. Bahkan…” Dia menyodorkan gagang payung ke Putra, “Kau mau mengambil alih?”
Putra mengambil gagang payung sigap. Mereka bertiga masih terlindung di bawah tetesan hujan. Sesekali gemuruh petir dari kejauhan bergema di tengah kabut.
Kemudian, Chelsea mendekatkan badannya ke Haidar. Tangannya dia julurkan ke depan, lengannya melingkar di pundak Haidar. Dia menariknya ke dekapannya, membiarkan kepala Haidar bersandar di bahunya yang tertutup jas hujan itu.
“Kali ini,” bisik Chelsea, mengeratkan dekapannya, “kupinjamkan bahuku kepadamu.”
“Kau juga boleh berteriak di sebelah kami,” sahut Putra. “Suara adikmu tetap jauh lebih keras dibanding teriakanmu.”
Tetesan air membasahi pipi Haidar. Entah karena dari air hujan yang mengalir dari rambutnya, atau air matanya yang keluar.
“Kau…berani kali naik ke atas,” suara Putra lirih. “Entah mengajakku naik bukit malam-malam meskipun kau kadang nggak bisa bedain antara jalanan setapak atau tebing. Atau…untuk raih impianmu itu.” Dia terdiam. “Aku udah ketemu banyak orang ambisius. Tapi hanya keambisiusanmu yang nggak buat aku takut. Aku justru ingin kali mendukungmu, mencapai keinginanmu itu. Saking inginnya, aku...”
Putra terdiam sebentar. Membiarkan gemuruh hujan mengisi kesunyian di antara mereka.
“Aku,” lanjutnya, “sampai takut...gimana kalau kau suatu saat terjatuh...”
Intensitas air masih berderu di atas payung mereka. Tetapi di telinga Haidar, gerimisnya seperti perlahan mulai mereda.
“Jadi, semoga...” kata Putra. “Semoga...kau tetap membiarkanku sebagai sahabatmu untuk menemanimu di saat kau juga sedang terjatuh.”
Badai hujan hari ini sama seperti sembilan tahun yang lalu. Saat Haidar berteriak di bawahnya sampai malam, hingga Hasan menjemputnya dan menyeretnya pulang tanpa kata-kata. Berjalan menuruni bukit yang gelap tanpa lampu, tetapi jalanan setapak itu jauh lebih melekat di ingatan mereka berdua ketimbang disuruh Ibu belanja sayuran di warung tetangga.
Namun, hari ini ada yang berbeda. Meskipun Ibu sudah lama meninggalkan dia, serta tidak ada kehadiran Hasan yang menyeretnya pulang, Haidar justru merasa tidak kesepian dengan sesakan dadanya itu ketimbang sembilan tahun yang lalu. Pelukan Chelsea yang seperti tungku api menyala di tengah hujan, serta kata-kata filosofis Putra yang kali ini gampang tercerna di otaknya, perlahan menutupi lukanya yang menganga itu selama bertahun-tahun.
Dan di saat itu, Haidar juga menyadari satu hal lainnya. Meskipun keluarganya tidak lengkap, dia tidak pernah sendirian. Sejak mengenali anak jago menggambar kakaktua dengan tangan kirinya itu yang juga memberinya foto-foto pesawat. Dan sejak seseorang bersedia ikut naik bersamanya, dengan telunjuknya yang menggurati bintang di langit malam.
Haidar mengangkat lengan, melingkarkannya di pinggang Chelsea dan menariknya ke dekapan, sambil membenamkan wajahnya di bahu Chelsea yang tertutup jas hujan. Masih terisak, sesekali berteriak, tetapi tidak sekeras sebelumnya. Juga sambil merasakan tepukan di bahunya yang lembut, sentuhan yang sama selama lima hari ini setiap bel selesai waktu istirahat berdering, tetapi kali ini lebih lama.
Haidar tidak sendirian. Hal itu sudah cukup untuk menyembuhkan lukanya.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA