Bab 27: Takdir

Haidar, dengan seragam sekolahnya, duduk di atas ranjang kamar. Tangannya sibuk menghitung jumlah uang sangu dari bengkel yang dia simpan di kotak sepatu bekas.

“Abang!!” sayup-sayup suara Nenek terdengar karena pintu kamar dibiarkan terbuka dua senti. “Bolunya udah Nenek taruh di tempat bekal!”

“Iya!” seru Haidar, disela-sela gumamannya menghitung uang dan tangannya yang memegang lembaran uang.

“Haidar??” Nenek berteriak kembali, suaranya masih terdengar jauh. “Sampai kapan kau di kamar? Nanti kau telat!”

“Sebentar, Nek!” Tinggal beberapa lembar uang lagi di tangannya, wajahnya berkerut, berkonsentrasi di hitungannya. Tidak ada pelajaran Bu Leni sebagai pelajaran pertama di semester ini, jadi dia telat pun tak apa.

Suara langkahan kaki mulai terdengar, menghampiri kamarnya, “Haidar! Ngapain kau di situ?” Pintu terbuka, menampakkan sosok Nenek yang langsung terbelalak, “Astaga! Malah hitung uang kau!”

Di saat yang bersamaan, Haidar melompat-lompat kegirangan. Dengan lembaran uang di genggaman serta lembaran lainnya berserakan di atas kasur.

+++

“Meskipun uang tabunganku berkurang karena beli kado Achel dan nyisihin untuk sumbangan Mister Herman,” Haidar berdiri di parkiran motor. “Tapi udah kuduga, di awal tahun ajaran baru, jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat iuran sekolah.” Dia menghirup nafas, berusaha mengontrol rasa kegirangannya itu, “Dan kau bilang…jika uang tabunganku mencapai tiga kali lipat iuran sekolah, aku bisa naik pesawat!”

“Hmm,” Putra hanya mengangguk, berdiri di sebelah motornya. Meski dengan wajah datarnya, tetapi matanya terlihat berbinar. “Memang kau mau kemana?”

Haidar terdiam. “Nggak tahu.”

“Nggak ada orang yang naik pesawat tanpa tujuan. Kau harus rencanain destinasinya dulu.”

“Kenapa kau jadi kayak Bang Hasan?”

Putra meraih helm yang digantungkan di pegangan motor. “Naik pesawat nggak kayak naik angkot atau bis kota yang destinasinya masih kau kenal. Naik pesawat, kau turun di kota asing, atau bahkan pulau. Habis itu, kau mau jadi gelandangan di tempat antah-berantah?”

Haidar terdiam lagi. Benaknya memikirkan kata Putra yang terdengar masuk akal.

“Kau masih punya waktu setahun lebih untuk mikirin destinasinya.” Putra memasang helm, membiarkan kaca depan masih terbuka. “Aku harus pergi, Dar. Hari ini Mamah butuh aku untuk bawa belanjaan lagi.”

Haidar mengangguk. Dia mengangkat tangan, “Hati-hati, Tra.”

Putra menjabati tangan Haidar yang terangkat, menyilangkannya kemudian mereka menyentuh kepalan tangan masing-masing. Setelah motor Putra meninggalkan gerbang sekolah, Haidar menghampiri sepeda ontelnya yang terkunci di sebuah tiang. Jabatan tangan khas mereka, sudah lama sekali tidak mereka lakukan sejak mereka berbeda kelas dan geng Danar dan Melly memasuki lingkaran pertemanan mereka.

Haidar, seperti biasa, melaju di pinggir trotoar, bersatu dengan kendaraan bermesin lainnya di jalan raya, termasuk di Perempatan Lampu Merah yang selalu dia lewati sejak memulai bersekolah di daerah ini lima tahun lalu. Sebuah perempatan jalan raya terbesar di Kota Lembah.

Setelah sukses melewati udara penuh asap knalpot yang membuat wajah dan seragamnya kusam – tetapi dia tidak begitu peduli karena sudah pulang sekolah – akhirnya dia memasuki kawasan Kabupaten Lembah. Pasar swalayan yang berdiri megah di pinggir kota itu menjadi tanda perbatasan, tempat belanjanya para orang kelas atas.

Selama mengayuh sepeda, entah kenapa baru kali ini dia ingin menikmati jalanan yang dia lewati selama tiga tahun ini. Sejak tadi pagi, setelah menghitung jumlah uangnya, hatinya berbunga-bunga, memikirkan tentang impiannya yang bisa dia wujudkan setahun lagi. Impian yang selama ini dia pegang sejak mengenakan popok kain. Impian yang selama ini juga direndahkan oleh banyak orang, tetapi juga didukung oleh lainnya. Hanya setahun…akhirnya bisa dia tunjukkan bahwa dia bisa meraih impiannya ini.

Memberikan bukti. Membuat Ibu bangga di Surga.

Sayup-sayup lantunan lagu rock terdengar dari kejauhan, memecahkan lamunannya. Belasan meter dari bengkel, Haidar menuruni sepeda ontel. Rautnya berkerut saat dia mampu mendengarkan lagu lebih jelas. Lagu rock mancanegara.

Haidar cepat mengunci sepedanya di sebuah tiang listrik di dekatnya, tetapi gerakannya terhenti ketika ada yang memanggilnya, “Haidar?”

Haidar menoleh. Dadang.

“Nggak perlu dikunci.” Wajah Dadang menghitam, sepertinya dia berkutat dengan mesin mobil rusak lagi. “Cepetan maneh ke Memet di kantor.”

Haidar berkerut. Wajah Dadang terlihat serius, nadanya juga terdengar buru-buru. Namun, tanpa berkata apa-apa, dia meninggalkan sepedanya begitu saja, bergegas ke dalam bengkel dan menuju ke ruang kantor yang terletak di paling dalam. Di dalam pun, semua orang berkutat dengan mesin motor atau mobil masing-masing, tidak ada yang saling berbicara sedikitpun. Hanya lantunan penyanyi asing dan deruan knalpot memekikan telinga. Bengkel yang berisik namun hangat ini entah kenapa terasa tegang hari ini.

Saat Haidar hanya beberapa meter dari kantor, Om Memet malah duduk di atas jok motornya di depan pintu ruangan itu.

“Om,” panggil Haidar. “Kang Dadang suruh aku samperin Om langsung. Sampai nggak usah kunci sepeda–”

“Cepat kau naik ke atas jok,” Om Memet menunjuk belakangnya dengan jempol.

Haidar semakin berkerut. Om Memet memotongnya, belum pernah dia berbicara seperti itu kepadanya meskipun dia jauh lebih tua darinya. Suaranya pelan, wajah sangar di balik kacamata bulatnya tidak tampak, melainkan digantikan dengan raut yang tidak bisa dibaca.

Haidar menggarukkan kepala, “Hari ini kenapa?”

Om Memet malah menyodorkan helm ke arahnya. “Nanti Om jelasin. Naik ke belakang dulu.”

Haidar menerima patah-patah helm itu. Dalam diam dia mengenakan helm, meskipun gerakannya lamban karena masih bingung. Kemudian dia menaiki motor Harley Davidson itu. Saat pantatnya terhempas di atas jok, bapak tua itu menoleh, berbicara sebelum memasang helmnya, “Kakek kau telepon aku tadi. Aku disuruh bawa kau ke Rumah Sakit Kabupaten Utara.”

+++

Ini pertama kalinya Haidar memasuki sebuah rumah sakit dengan parkiran dan gedung sebesar bank negeri di Kota Lembah waktu itu. Om Memet, berjalan di depannya, menelusuri lorong rumah sakit dengan cat dinding dan ubin lantai serba putih. Lalu-lalang cepat para perawat dengan seragam putih mengabaikan mereka. Jajaran lampu LED sepanjang koridor menyilaukan mata. Gelindingan roda dari ranjang dengan pasien yang tergeletak dan tiang infusannya memekikan telinga. Bau obat semerbak di udara, jauh lebih menyengat ketimbang senyawa yang dia campur di praktikum kimia di sekolah. Berbagai macam orang dengan raut yang berbeda menghiasi kursi di sepanjang lorong atau sudut, entah terbatuk-batuk atau menitihkan air mata. Gedung ini jauh lebih menyesakkan ketimbang rumah bidan yang dia kunjungi sembilan tahun yang lalu.

Om Memet memutar saat dia berada di sebuah belokan. Sayup-sayup suara terdengar dari kejauhan.

“Saya tidak mau tahu!” suara seorang wanita seperti sedang menghardik. “Cucu kalian harus bertanggung jawab!”

“Nenek, Kakek...” suara seorang anak perempuan familiar terisak. “Percaya Harika, kan?”

Haidar melebarkan matanya. Adik itu, sejak bisa berjalan sendiri, tidak pernah menangis. Setidaknya di depannya.

“Iya, Dedek. Kakek percaya,” suara lembut Kakek terdengar.

“Kalian percaya omongan anak seperti itu?? Anak perempuan bandel begitu!” hardik ibu itu lagi. “Lagipula, mana orangtuanya, hah? Saya ingin menghadap orangtuanya, bukan kakek-neneknya!!”

Haidar mempercepat langkahnya, menyajajari Om Memet. Kakinya tapi ingin melangkah lebih cepat, yang akhirnya dia meninggalkan bapak tua itu di belakang.

Di kejauhan, keluarga kecilnya sedang berkumpul, berhadapan dengan keluarga kecil lainnya yang hanya beranggotakan seorang ibu dan seorang anak perempuan berseragam SMU. Perhiasan emas tergantung di leher dan tangannya menenteng sebuah tas bermerk asing. Anak perempuannya duduk di belakang ibunya, tangannya memegang sebuah ponsel dan mengetik dengan kedua jempolnya, kabel earphone yang tersambung dari benda itu tersemat di kedua telinganya. Matanya tidak melirik ke arah ibunya sama sekali.

Suara langkahan kaki Haidar menginterupsi mereka.

Kakek yang pertama menatap mereka. “Haidar? Sama Memet, kah–”

“Bang Haidar!!” Harika langsung berlarian menghampirinya.

Haidar terdiam, menatap adik itu yang masih menitihkan air mata dan terisak menghampirinya. Dengan badannya yang kecil, dia hanya bisa memeluk pinggangnya. Seragam sekolahnya kotor, satu tangannya menggenggam secarik kertas. Sebuah lukisan yang robek.

“Abang...” Harika menengadahkan kepala, pipinya basah. “Aku nggak ngapa-ngapain. Betulan, Bang.”

“Oh, ini kakaknya??” ibu itu sekarang melototi Haidar. “Mana orangtuamu? Punya anak kok sebandel itu, pasti nggak pernah diajarin sopan santun!”

Haidar masih terdiam, menatap ibu itu dengan wajah berkerut. Ibu itu memang terlihat lebih seram dibandingkan Danar yang dahulu ingin menonjoknya, atau Melly dengan tatapan sinisnya. Tapi, dia tidak takut. Dia justru bingung.

Om Memet kemudian muncul, berdiri di sebelah Haidar.

“Anda bapaknya??” Ibu itu menunjuk Om Memet, dengan jemari yang penuh dengan cincin emas.

“Saya hanya pamannya,” Om Memet melepas kacamatanya. Suaranya terdengar serius, jarang sekali seperti itu bahkan jika sedang mengadakan meeting para pekerja bengkel. Dia berdeham, kemudian melanjuti, “Bu, dengan segala hormat, saya kira anak Ibu jelas-jelas terluka karena perbuatannya sendiri.”

Haidar menoleh ke bapak di sebelahnya. Terluka?

Mata Ibu itu semakin membesar, terutama dengan riasan di kantung matanya. “Apa kau bilang?? Kau hanya pamannya. Nggak usah ikut campur!”

Beberapa orang administrasi menghampiri mereka, menenangkan ibu itu dan memintanya untuk merundingkan permasalahan ini di luar, tetapi ibu itu menghardik mereka, “Satu rumah sakit ini bisa kubayar! Aku juga berani menghadapi bos kalian!”

Haidar menatap ibu berwajah seram itu. Ibu itu…seperti berasal dari keluarga atas. Seperti Putra dan Chelsea. Tetapi sikapnya berbeda jauh

dibandingkan kedua sahabatnya itu, serta orangtua mereka. Ibu itu justru mengingatkannya kepada Bu Pia, wali kelas sialan itu yang menyuruhnya tinggal beli tiket pesawat ke Bali. Meremehkan impiannya begitu saja.

Haidar mengangkat tangan, memegang pundak adiknya yang masih menangis tersedu-sedu.

“Kau!” Ibu itu memanggil Haidar, menunjuknya dengan kipas lipat. “Sekolah dimana?”

Haidar menelan ludah. “Negeri 36, Bu.”

“Negeri 36??” Ibu itu terbelalak. “Itu kan sekolahnya anak kelas berada juga.” Dia menatap Kakek-Nenek di hadapannya, “Harusnya kalian juga bisa bayar biaya pengobatan anak saya!”

“Ibu, sudah saya bilang tapi,” suara Kakek lirih. “Kami nggak punya uang sama sekali untuk membiayai anak Ibu. Uang kami betul-betul hanya cukup untuk bayar iuran sekolah kedua cucu kami.”

“Nggak punya uang tapi bisa sekolahin cucunya di Kota. Dasar orang miskin, banyak ngelesnya!”

Dada Haidar tiba-tiba sesak.

Om Memet berjalan menghampiri Kakek-Nenek. Dia menghardik ibu itu, “Jaga mulut Ibu!”

Om Memet dan ibu bermulut sembarangan itu akhirnya bertikai. Kakek sesekali menengahi, berusaha menenangkan Om Memet, tetapi dia mengelak dan tetap ingin membela keluarga Harun itu yang katanya memang tidak salah. Nenek masih terdiam sepanjang pertikaian, tangannya memegang lengan kakek di sebelah dengan wajah yang terlipat. Anak perempuan SMU itu masih duduk tenang di belakang ibunya, sibuk menggerakkan jempol di ponselnya itu, kepalanya sesekali mengangguk-angguk, mungkin mengikuti irama musik yang dia sedang dengar.

Haidar masih berkerut. Situasi ini cukup membingungkan, tetapi jauh lebih seram dibandingkan menghadapi lengan bertalas Danar, tatapan sinis Melly, atau ular berbisa di rawa-rawa sekalipun. Dia mendekap bahu adiknya, untuk pertama kalinya.

+++

“Bajingan!!” umpatan Hasan di ambang telepon terdengar sampai menggema di ruang tamu, sampai Kakek harus menjauhi gagang telepon dari telinganya saking kerasnya suara cucu termuda ketiganya itu.

Haidar duduk di sebelah Kakek, ingin mendengarkan suara kedua pria di ambang telepon itu meskipun sayup-sayup. Nenek duduk di depan sofa, mengambil kursi rotan dari meja makan. Harika mengurung diri di kamarnya sejak seusai makan malam, tugas mencuci piringnya hari ini diliburkan.

Haidar telah mengetahui cerita utuhnya. Teman kelas Harika iri dengan lukisan Harika yang mendapatkan nilai seratus di pelajaran Kesenian. Sepulang sekolah, mereka berdua, serta anak perempuan lainnya, berjalan di tepi ujung jembatan. Teman yang iri itu ingin merebut lukisan adiknya, tetapi adiknya mengelak, berusaha membela diri. Anak lainnya pun turut membantu teman iri itu dengan menarik tubuhnya. Lukisan pun robek, tetapi di waktu yang sama, temannya tersungkur di tepi jembatan, tergelinding sampai membuat kepalanya terantuk pohon.

Saat dibawa ke Rumah Sakit, kondisi anak itu baik-baik saja, setidaknya tidak ada konsekuensi yang membahayakan nyawa. Tetapi anak itu perlu biaya operasi karena kepalanya yang bocor. Keluarganya tidak mau membiayainya, sebaliknya mereka melemparkan tanggung jawab itu ke keluarga Harun karena mereka menganggap penyebab itu diakibatkan oleh perbuatan Harika, anak perempuan yang memang terkenal bandel di sekolah, meskipun hanya karena suara menggelegarnya.

“Kalau mau lempar tanggung jawab, harusnya ke teman-temannya yang ikut narik badannya!” Hasan menghela nafas gusar. “Dedek bahkan nggak ngapa-ngapain di situ. Jika dia membela diri, itu memang naluri alamiahnya!”

“Udah, Hasan,” suara Bapak yang terdengar lebih jauh muncul. “Bapak nggak mau diusir dari wartel karena suaramu itu. Penjaga wartel tadi udah ngetok-ngetok pintu kita. Kemarikan gagang teleponnya.” Suara gerusukan terdengar, kemudian suara Bapak sekarang terdengar lebih jelas, “Bapak, maaf sekali, Harun dapat gajian masih dua minggu lagi. Hasan juga.”

“Tapi keluarga itu hanya beri kita waktu dua hari, sampai akhir pekan. Operasi anak itu nggak dilaksanakan tanpa uang yang diberi terlebih dahulu,” suara Kakek bergetar. “Kalau nggak bisa setor uang, mereka akan ngangkut seluruh perabotan rumah ini, termasuk telepon dan televisi. Uang ternakku juga selama ini hanya cukup untuk makan, kalau dikasih semuanya, cucu-cucu nggak akan makan selama seminggu ini.”

“Jual motor atau sepeda ontel itu nggak bisa?”

“Motor itu tetap kubutuhkan buat ngantar hasil ternak ke Pasar Kabupaten. Kalau sepeda, nanti gimana Haidar berangkat ke sekolah? Pun jika nebeng denganku tidak bisa. Kayuhan sepedanya jauh lebih cepat ketimbang motorku.”

“Ingin kudatangi ibu sialan itu,” suara Hasan terdengar sayup-sayup, sudah tidak sekeras awal. “Tapi uang ke Desa aja nggak punya.”

“Memet katanya bersedia bantu,” Kakek bersuara lagi. “Tapi dia hanya bisa nyumbang seperempat dari jumlahnya aja.”

“Memangnya masih butuh berapa lagi?” tanya Bapak.

Kakek menyebutkan angka. Haidar langsung melotot saat itu.

“Besar…besar kali,” suara Bapak lirih. “Hampir dua kali lipat uang sekolahnya Haidar.” Dia terdiam, “Apa perlu…dijual aja televisi di rumah itu?”

“Jangan, Harun,” Kakek menggeleng. “Televisi ini, kan peninggalan Indah. Hadiah ulang tahun pernikahan kalian. Sama telepon rumah ini.”

Suara ambang telepon terdengar senyap. Sepertinya Bapak dan Hasan sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing. Serta Kakek juga yang terdiam di ambang telepon.

Haidar menatap televisi itu yang saat ini sedang tidak dinyalakan, padahal jam sekarang waktunya Nenek menonton sinetron si Chelsea itu. Tetapi Nenek juga terlihat enggan sekali, hanya menundukkan kepala sepanjang waktu, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca sejak mereka sampai di Desa kembali.

“Cincin pernikahanku,” suara Bapak kemudian terdengar kembali, “bisa kujual.”

“Bapak!” seru Hasan, suaranya setengah khawatir. “Itu kan satu-satunya kenangan paling besar sama Ibu! Katanya kalian ngumpulin duitnya bareng-bareng saat masih SMP.”

“Semua kenangan Bapak bersama Ibu, udah tersimpan di kepala Bapak.”

Saat itu, Haidar tiba-tiba teringat sesuatu. Dia meminta Kakek untuk menyerahkan gagang telepon itu kepadanya. Setelah Kakek memberinya, Haidar berbicara, “Bapak? Bang Hasan?”

“Haidar? Kau di sana sepanjang waktu?” Hasan terkejut. “Ngapain kau ikutan pembicaraan orang dewasa?”

“Aku kan juga termasuk dalam keluarga,” jawab Haidar.

Suara di ambang telepon senyap kembali.

“Haidar,” suara Bapak muncul, “ada apa, Nak?”

Haidar terdiam sebentar. Dia menatap Kakek dan Nenek, kemudian menoleh balik ke hadapannya yang hanya telepon yang tertera. “Bapak nggak usah jual cincin pernikahan.”

“Terus mau cari duit itu darimana lagi?” tanya Hasan gusar.

“Dari uang tabungan membengkelku.”

Kedua pria ambang telepon itu terdiam. Kakek, di sebelahnya, membesarkan mata. Nenek mengangkat kepala, menampakkan mata berkaca-kacanya.

“Haidar,” kata Bapak. “Tabungan kau, biarkan saja. Itu kan hasil jerih payahmu untuk raih impianmu itu yang ingin naik pesawat.”

“Kata Bang Hasan,” Haidar berusaha bersuara meskipun dadanya sesak kembali. “Kata si Abang, Bapak juga ingin jual cincin pernikahan untuk biaya gedung masuk SMP aku dulu. Bapak ingin kali aku masuk sekolah itu di Kota yang lagi-lagi alasannya karena sering lihat gedung itu. Tapi, aku tahu, selama ini Bapak sebenarnya ingin nyekolahin aku di sekolah terbaik.” Dia terdiam. “Meskipun hal itu harus matahin impian Bang Hasan yang juga ingin kuliah saat itu.”

“Dik,” suara Hasan terdengar – kakak itu sudah tidak pernah memanggilnya dengan sebutan itu sejak Harika lahir. “Udah kubilang, aku nggak harus kuliah untuk mencapai impianku. Meskipun butuh waktu yang lebih lama.” Dia menghela nafas pelan, “Kau nggak perlu merasa bersalah karena hal itu.”

“Dan aku juga nggak harus naik pesawat setelah lulus SMA.”

Mereka terdiam.

“Aku pun belum tahu destinasi yang ingin kutuju,” lanjut Haidar, suaranya bergetar menahan emosi yang semakin menyesakkan dada. “Mungkin sampai aku kuliah pun, aku masih nggak tahu aku ingin kemana dengan pesawat. Lagian kendaraan itu pasti masih tetap ada sampai aku beruban sekalipun.”

Haidar kemudian menoleh ke Kakek, “Tadi pagi kuhitung tabunganku, uangnya cukup buat nutupi kekurangan biaya itu.” Dia menoleh ke Nenek, “Biar televisi nggak perlu dijual supaya Nenek bisa nonton sinetron si Chelsea itu.” Dia menoleh balik, menatap telepon, “Juga nggak perlu jual telepon supaya Pak Kades

dan teman-temanku masih bisa hubungi aku yang tinggalnya di pelosok hutan.” Dia terdiam, suaranya berubah lirih, “Juga motor Kakek, sepeda Bapak, cincin pernikahan Bapak…”

Satu air mata jatuh membasahi pipi Haidar.

“Haidar,” suara Hasan juga terdengar lirih. “Jika itu menyakitkan, kau nggak perlu melakukannya. Kita masih ada waktu dua hari–”

“Solusinya udah di depan mata!” seru Haidar, air mata lainnya mulai mengalir, membasahi pipinya. “Dan jika anak-anak Pak Harun ditakdirkan untuk nunda mewujudkan impiannya, ya sudah.”

Haidar mengelap wajahnya yang basah dengan lengan kaos. Kakek menggeser badannya, merangkul pundaknya. Suara ambang telepon juga senyap, sepertinya Hasan juga menjauhkan telinganya dari gagang telepon wartel.

“Haidar,” Bapak mengambil alih telepon genggam. “Kau…ikhlas, kan?”

Haidar berdeham. Lehernya seperti tercekik karena dadanya yang terasa penuh, membuatnya jangankan untuk bersuara, berteriak pun tak bisa. Seperti kenangan Bapak bersama Ibu yang tetap tersimpan di kepalanya, impiannya juga akan tetap tersimpan di kepala meski dia nggak akan punya uang selembar pun.

Masih menaruh gagang telepon di telinga dengan tangannya yang bergetar memegangnya, Haidar membuka suara, “Iya, Pak.”

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 28: Hujan

Next
Next

Bab 26: Rencana (3)