Bab 26: Rencana (3)
“Kontrak Mister Herman selesai seusai angkatan kita lulus.” Lili melahap batangan cokelat.
Warung Mbok Juminten lengang, menyisakan kunyahan anak-anak yang memegang batangan cokelat di tangan masing-masing. Tentu saja dengan suara televisi yang dibiarkan, kipas angin di sebelahnya, dan potongan pisau pemilik warung di belakang rak jajanan kaca. Empat belas anak duduk melingkar, sudah seperti sidang kenegaraan. Bedanya, tumpukan batangan cokelat berserakan di tengah meja.
Asep mengambil batangan cokelat yang kedua, “Aku mau lah, Hari Valentine tiap hari. Biar dapat cokelat terus dari Putra.”
Rudi mengambil bungkusan cokelat, sebatang cokelat lainnya berada di tangan. “Mahal semua lagi. Nggak pernah aku lihat ini di warung. Dibaca pun tak bisa.”
“Nggak pernah bilang ya, kau,” Wisnu sudah melahapi cokelatnya habis. “Kalau tiap Hari Valentine pasti kau dikasih cokelat satu pabrik.”
Putra, satu-satunya yang memegang roti jajanan di tangan, bersuara, “Selama ini aku kasih ke Haidar semua.”
“Lindt?” Chelsea membaca sebuah bungkusan, mulutnya mengunyah cokelat. Dia terkesiap, “Bukannya ini cokelat mahal dari Eropa??” Dia menyodorkan kepada Putra di sebelahnya, “Kau bahkan tidak mau menyentuhnya?”
Putra menelan roti. “Cokelat dari bulan pun tak akan kusentuh.”
“Putra, aku baru ingat sesuatu,” Lili bersuara kembali. “Gara-gara aku sering main sama kalian, anak-anak OSIS jadi pada menitipkan salam kepadamu. Salam dari Kak Sherly juga.”
“Sherly?” Melly, di sebelahnya, juga mengunyah cokelat, berkerut. “Dia bukannya ketua OSIS? Anak XII-IPA-1?”
“Jangan-jangan cokelat Lindt ini dari si Sherly itu,” Wisnu membuka bungkusan cokelat kedua. “Katanya anaknya dari keluarga berada.”
Semua orang bersiul meledek Putra. Putra hanya berdecak, melahap sisa rotinya bulat-bulat, memenuhi mulutnya.
“Salam balik,” Putra bersuara kembali setelah menelannya. “Dan bilang ke dia aku nggak tertarik.”
Danar mengelus dada. “Tra?? Langsung kau tolak anak perempuan itu mentah-mentah? Ketua OSIS padahal!”
“Memang begitu dia dari SMP,” Haidar, duduk di sebelah Chelsea, mengambil sebagian batangan coklat di tangan Chelsea. “Anak pejabat pun mungkin tetap dia tolak mentah-mentah. Cuma PlayStation yang menarik perhatiannya.”
“Astaga, Tra,” Danar melotot. “Nanti susah kau cari jodoh!”
“Biarin,” Putra meremas bungkusan roti. Wajahnya sudah memerah sejak tadi karena menjadi pusat perhatian. Dia berdeham, “Ngomong-ngomong, kenapa jadi bicarain aku? Kita kan, mau bahas tentang Mister Herman!”
“Membahas tentangmu jauh lebih seru,” Chelsea menjulurkan lidah. “Apalagi dengan wajahmu yang memerah.”
Semua orang tertawa meledek kembali.
Putra mengusap wajahnya yang semakin memerah, sambil mendecak kesal. Dia menjulurkan kepala untuk melihat Haidar, “Dar! Diam aja kau. Bela aku!”
Haidar hanya menyengir, mengambil batangan cokelat di tangan Chelsea lagi, “Nggak.”
“Udah lah, nggak usah berharap sama Haidar lagi!” Wisnu mengayunkan tangan. Dia menunjuk Haidar dan Chelsea, “Haidar bela Achel sekarang. Buktinya makan cokelat berdua.”
Sekarang semua orang bersiul meledek mereka berdua. Wajah Haidar memanas, dan pipi Chelsea juga memerah.
“Achel kan bilang tadi, dia nggak pernah habis makan cokelat.” Haidar berusaha membela diri, tangannya tetap mengambil bagian cokelat Chelsea. “Jadi biar kubantu.”
“Halah!” tukas Putra. “Kau paling nggak bisa kalau ngeles. Apalagi di depanku.” Dia meraih sebuah kotak cokelat dengan merk asing, memberinya kepada Haidar, “Ini sepertinya cokelat mahal juga. Kalian bisa makan berdua, mumpung di Hari Valentine.”
Haidar mengambil kotak cokelat sigap, rasanya ingin dia lemparkan lagi kepada Putra, apalagi semua orang masih bersiul meledeknya. Dia menatap kotak, “Ini kayaknya tiap tahun pasti selalu ada. Kukasih ke adik sialan itu, biar dia bagi-bagi sama teman-temannya. Daripada ngasih tangkapan tikus sungai.”
“Jadi, balik ke tema,” Putra berdeham. Dia menatap Danar, “Yang kau bilang tadi di kelas, betul kata Pak Gilang, kalau ibunya Mister Herman sedang di rumah sakit karena kanker?”
Semua bergeming, menatap Danar serentak.
Danar mengusap tengkuk, mengambil bungkusan cokelat – keempatnya. “Iya.” Dia membuka bungkusan, mendengus, “Gara-gara ini, jadi selalu panas dingin aku tiap pelajaran olahraga.”
Wisnu menepuk bahunya, “Tapi si Ansar minggu lalu ngajak balapan sama anak Institut Teknologi. Saking bangganya sama kau.” Danar hanya berdecak, menyikutnya, sambil mengunyah cokelat.
“Jadi, kita punya waktu satu setengah tahun,” Putra melipat tangan di dada. “Menurutku, waktunya pas. Satu setengah tahun, kita bisa ngumpulin duit cukup banyak. Dengan kondisi ibunya, pasti butuh biaya yang banyak.”
“Jadi kita akan memberikan uangnya di saat mendekati kelulusan?” tanya Melly.
“Setidaknya akhir tahun ini.”
“Putra…aku punya saran.”
Semua orang menoleh ke arah Lili.
Putra juga menoleh, “Apa, Li?”
“Rencana ini…entah kenapa aku rasa lebih baik kita simpan bersama aja. Sepertinya anak OSIS tidak usah ikut campur.”
“Memangnya kenapa?” tanya Wisnu.
“Jika kegiatan sumbangan ini atas nama OSIS,” jelas Lili, “pasti aku harus meminta persetujuan dari banyak anggota terlebih dahulu. Terus, urusannya jadi lebih ribet. Mereka pasti akan menanyakan Mister Herman langsung, dan nanti rumor ini jadi tersebar, perihal ibunya yang sakit.” Dia terdiam. “Kurasa, sepertinya Mister Herman juga nggak mau informasi ini tersebar, bukan? Sejauh ini yang tahu juga hanya Pak Gilang.”
Semua mengangguk. Saran Lili masuk akal.
“Ya sudah,” Putra bersuara. “Kita juga bisa melakukannya sendiri, kok.”
Semua orang berkerut.
“Acara Pensi, dua bulan lagi,” lanjutnya. “Kan suka ada bagian meja sumbangan. Kebanyakan dari luar, entah buat panti asuhan, pembangunan desa, atau lainnya. Salah satu dari kita bisa berada di sana, nulis sumbangan untuk seseorang yang sedang di rumah sakit. Tidak lebih.”
Semua mulai saling menatap satu sama lain.
“Kemudian,” Putra sekarang menoleh ke Haidar. “Di mesjid desa kau, katanya suka ada kotak sumbangan, bukan?”
Haidar tercengang, “Kau menyuruhku untuk membuat kotak yang sama?”
“Iya.” Dia menoleh ke yang lain, “Kalau yang rumahnya di dekat tempat ibadah atau sejenisnya, dimana selalu dikunjungi orang ramai, mungkin bisa buat yang sama juga.”
“Eh, Fajar,” Wisnu memanggil teman gengnya. “Di tempat minimarket kau bekerja, katanya suka ada kotak sumbangan di sebelah kasir, ya?”
“Iya,” kata Fajar, mengunyah cokelat. “Bisa kubuat kotak kedua. Yang punya minimarket nggak bakal masalahin, sih. Sepupu sendiri ini.”
“Acara Pensi…” Danar mengusap dagunya, berpikir – jarang terjadi. “Kayaknya sekolah lain juga ngadain acara Pensi.”
“Kenapa kau bicarakan sekolah lain?” tanya Wisnu.
“Anak geng motor lain.”
Semua anak geng motor tercengang. Termasuk Haidar dan Putra.
“Kau,” Putra menelan ludah. “Mau suruh anak geng lainnya ikut bantu rencana kita?”
“Ya, kan biar lebih banyak duit yang terkumpul,” kata Danar. Kemudian dia menyengir, “Tapi jika kau bersedia menemui Ansar, Tra.”
Putra menghela nafas, melipatkan tangan di dada. Dia mengangguk. “Selama aku nggak direkrut dan diajak ke kuburan, kutemui dia. Demi sahabatku.”
Danar sudah melompat-lompat, hampir saja naik ke meja. Dan juga anak geng motor lainnya. Suara mereka menenggelamkan suara televisi dan kipas angin. Geng Melly sampai harus menutupi telinga mereka.
Haidar menoleh ke Putra, cokelat di tangannya tergenggam begitu saja. Putra menatapnya, dengan wajah datar itu. Tidak seperti Chelsea yang menggebu-
gebu mendukung impiannya, Putra memang tidak pernah mengatakan hal yang sama. Dia selama ini hanya mendengarkan ribuan ocehan Haidar tentang ingin menaiki pesawat. Dalam diam.
Tetapi, dukungan Putra selalu dalam bentuk lain. Memberikan foto-foto pesawat yang dia ambil di bandara, mencari setiap solusi perihal impiannya itu, dan sekarang membantunya mewujudkan keinginannya untuk membantu Mister Herman.
Padahal, memikirkan tentang impiannya sendiri saja tidak pernah.
+++
Warung Mbok Juminten di siang hari berubah menjadi seperti sebuah markas penyelundupan.
Mbok Juminten memunculkan kepalanya dari balik kaca, “Banyak amat uangnya, Le. Buat siapa itu?”
“Buat Pak Guru, Mbok. Ibunya sakit,” Danar membongkar sebuah kardus kecil dengan cutter. Mbok Juminten hanya ber-ooh pelan sambil melanjuti potongan sayurnya kembali.
Para anak geng motor yang pertama terlebih dahulu berada di meja, membongkar kotak sumbangan dari sekolah anak anggota lainnya. Ketujuh anak itu menyusun uang recehan di atas meja, menyortirnya.
Haidar dan Putra, dengan ransel masing-masing, mendatangi warung.
“Achel, Melly, dan lainnya nanti nyusul,” Haidar memasuki warung. “Lili nggak bisa ikut karena jadi panitia Pensi.”
Putra mendatangi meja penuh recehan. “Banyak juga.”
“Tapi kayaknya baru bisa kebeli baju aja ini,” Asep menyortir recehan. “Banyak koin. Nanti si Rina kalau bawa berat.”
“Nanti kita tukar di bank. Sesuai rencana.” Putra duduk di sebelah Danar, menoleh kepadanya dan Wisnu, “Kalian bisa bawa yang lain, kan?”
“Haidar sama aku,” mata Danar fokus kepada gerakannya menyortir koin. “Melly sama Wisnu, Rina dan Sonya nanti sama Asep dan Rudi.”
Haidar yang sudah berdiri di dekat meja mengangguk. Dia merogoh sesuatu dari ransel, kemudian wajahnya meringis karena mengangkatnya dan menaruhnya ke meja.
Semua mata tertuju kepada benda yang ditaruh Haidar, gerakan tangan mereka terhenti. Sebuah kotak sumbangan terbuat dari kayu beserta gemboknya.
“Kakakku ini yang buat,” Haidar membuka gembok dengan kunci yang dia pegang. “Dia memang tukang buat beginian. Rak dan meja di rumah pun dia yang buat.”
“Si Bang Hasan itu, Dar?” Danar tercengang.
“Iya,” Haidar merogoh sebagian uang receh. “Awalnya mau pakai kardus bekas, tapi langsung dihardik sama dia, bilang pasti nggak akan awet sampai akhir tahun. Jadi sama dia dibuat desain dan dicari kayunya. Aku hanya bantu pasang engsel dan paku.” Dia menghela nafas, menaruh tumpukan koin di tengah meja. “Sampai buat kotak sumbangan aja direncanain. Hidupnya nggak tenang tanpa rencana.”
Suara langkahan kaki terdengar. Chelsea dan geng Melly muncul, dengan sebuah kardus sumbangan di tangan Melly, bertuliskan Sumbangan untuk Tetangga di Rumah Sakit.
Wisnu berdecak, “Siapa yang tulis itu? Malah bohong pula kita.”
“Tetanggaku emang ada yang di rumah sakit, kok,” Sonya menyengir. “Tapi ya…uangnya memang bukan buat dia, sih.”
“Udah lah, biarin aja,” Fajar mengayunkan tangan ke arah Wisnu. “Susah jadi mata-mata.”
“Putra,” Danar memanggil anak di sebelahnya yang sedang sibuk menghitung uang, sambil menggurati bulpen di buku tulis. “Si Ansar mau ngajakin ke kuburan cina. Dia cuma mau ke situ kalau kau ikut. Paling takut dia sama kuburan cina katanya.”
Putra menghela nafas. “Udah kubilang. Aku nggak akan ke kuburan sama kalian.”
“Cinta mati kali kau sama PlayStation itu,” Wisnu menyodorkan tumpukan kertas uang untuk dihitung. Dia melirik ke arah para anak perempuan yang duduk di meja lain, “Kotak itu sekalian dihitung juga, ya.”
“Rina yang hitung,” Chelsea, bersama anak perempuan lainnya, menyortir lembaran uang dan koin. “Putra, kalau kau sudah selesai hitung, nanti kasih hasilnya ke Rina.”
“Nanti ajak Haidar pun tak apa,” Danar, kembali ke topik awal, menunjuk Haidar di hadapannya. “Si Ansar juga mau ketemu sama adiknya si Hasan itu katanya.”
“Mana mau dia,” sahut Putra, jemarinya memencet kalkulator. “Ke kuburan ibunya aja cuma mau siang-siang.”
“Masa kau setakut itu juga, Dar?” tanya Wisnu.
Haidar mengusap tengkuk, memberikan sisa koin kepada Rudi untuk disortir. “Gara-gara cerita kakekku, aku jadi nggak sudi nginjakkin kaki ke kuburan malam-malam.” Dia menengadahkan kepala, menatap grup anak perempuan, “Rina, nggak apa-apa, kah, kalau semua uang disimpan olehmu?”
Rina menoleh, tangannya menggurati bulpen di buku tulis. “Nggak apa-apa, Haidar. Sudah kubilang, keluargaku kan punya brankas. Aku juga udah minta izin sama mereka.”
“Biarkan, Haidar. Rina senang kalau disuruh ngurus uang.” Melly tersenyum penuh makna kepada teman di sebelahnya. “Rina mau jadi petugas bank, katanya.”
Rina, dengan wajah memerah, memukul lengan Melly halus, “Melly, kau nggak usah bahas itu.”
“Rina mau jadi petugas bank?” mata Chelsea berbinar, menyortir lembaran uang di hadapannya.
“Tantenya kerja di bank negeri,” sahut Sonya. “Dia ingin kayak tantenya.”
“Udah, Sonya! Nggak usah diteruskan.” Rina ingin memukul Sonya dengan bulpen di tangan, wajahnya semakin memerah.
Para anak perempuan terkekeh. Haidar yang masih menyaksikan mereka tersenyum. Perlahan-lahan, dia juga mengetahui keinginan dari teman-temannya masing-masing, dan hal itu membuatnya bahagia. Meskipun mereka kebanyakan memanglah tidak seambisus dia, setidaknya dia tidak merasa bahwa dia mengejar impiannya sendiri.
Setelah selesai menyortir uang dan menghitungnya, mereka semua pergi ke sebuah bank negeri yang terletak di bagian pusat, berkendara di atas motor anak geng tersebut. Haidar menatap keramaian jalan raya di balik helm dan motor besar Danar yang rasanya seperti menenggelamkan dirinya. Pemandangan yang sama saat dia pergi ke Taman Tua di dalam mobil orangtuanya Chelsea. Jalanan disesaki oleh kendaraan dan penjual pinggir jalan, asap bercampur dengan udara, dan suara knalpot dan klakson yang memekikan telinga. Berbeda sekali dengan jalanan Kabupaten Lembah, apalagi di dekat Desa.
Mereka sampai di tempat parkiran bank, sebuah gedung tinggi yang puncaknya seperti menyentuh langit. Tempat parkirannya juga lebih luas daripada lapangan sepak bola dan lapangan upacara dijadikan satu.
“Padahal yang masuk ke dalam cuma Rina sama Putra.” Wisnu, bersandar di jok motornya, menghela nafas. “Tapi yang ngantar satu kampung.”
“Si Rina pakai celana training lagi.” Melly, juga mengenakan celana olahraga dan atasan masih seragam sekolah seperti anak perempuan lainnya, menggarukkan kepala. “Semoga nggak diusir sama satpam.”
“Untung si Putra udah di atas umur,” celetuk Danar.
“Tapi dia nggak buat KTP,” sahut Chelsea. “Setelah lulus, sama bapaknya disuruh jadi kewarganegaraan Singapura.”
“Oh gitu?” Wisnu berkerut, disertai dengan wajah lainnya yang juga ikutan. “Ke Indonesia nanti harus buat visa, dong…”
“Si Fajar,” kata Haidar. “Betulan dia mau bawa sepedaku ke Om Memet?”
“Adiknya sekolah dekat Negeri 36. Biasanya mereka pulang bareng. Rumahnya juga di Kabupaten,” jawab Danar. “Lagian, aku juga mau ketemu bapak itu.”
“Danar akan ikut juga?” mata Chelsea berbinar. “Nanti semakin ramai di bengkel!”
“Kau ikut juga, Chel?”
“Hari ini jadwalnya keponakan Om Memet datang. Aku dan Putra biasanya main ke sana, sambil membantunya mengerjakan PR Bahasa Inggris.”
“Keponakannya…si Kinan itu?”
“Bukannya namanya Pengki?”
“Hah? Pengki??” Danar menggarukkan kepala gusar. “Tiga tahun yang lalu kenalan sama aku, dia panggil dirinya Kinan.”
Setelah urusan di bank selesai dan para anak perempuan juga diantarkan ke rumah masing-masing demi keamanan, terutama Rina, motor Danar dan Putra melaju ke Kabupaten, bengkel Om Memet.
Di ruang kantor, keempat siswa SMA dan seorang siswa SD melahap nasi padang masing-masing. Keadaan kantor tetapi jauh lebih berisik dibandingkan lantunan lagu rock lokal di bengkel.
“Tahun depan dipanggil apa lagi kau, hah?” Danar menunjuk bocah di hadapannya, panjang meja memisahkan mereka, dengan jemari berlumuran nasi, serta mata yang melotot. “Udah suka ganti-ganti nama, nggak ada nyambungnya sama nama panjang kau!”
“Tahun depan,” Pengki mengais nasi bungkus, “aku mau dipanggil Franky, biar kayak orang Amerika. Biar bisa belikan mesin cuci Amerika buat Ibuk. Celana bekas berak Adek susah kali hilangnya.”
“Heh!!” Putra mengayunkan sendok plastiknya saking tidak bisa mengontrol emosinya. “Lagi makan malah bicara begituan! Udahlah samping-depanku pada makan otak binatang lagi.”
Chelsea menyodorkan potongan gulai otak sapinya ke arah Putra, “Kau tidak mau mencobanya? Enak sekali, loh–”
“Achel!! Jangan mainkan makanan!”
Semuanya tertawa, termasuk Danar yang gigitan otak di mulutnya hampir saja keluar, membuat Putra hampir melemparnya dengan sendok plastik berlumuran sambal.
Haidar masih tertawa, sampai berusaha keras menghabiskan nasinya karena menahan geli di perut melihat pertikaian antara Putra, Danar dan Pengki. Dia sesekali menyengir jika matanya bertemu dengan Chelsea di hadapannya, yang juga tersenyum karena tingkah laku tiga orang tersebut.
Jarang sekali Haidar sebahagia ini. Acara Pensi yang membuat sekolah tidak ada pelajaran, jalannya rencana dia, serta makan nasi padang dengan teman-temannya membuat emosi bahagianya meluap-luap. Dia berharap bahwa dia bisa sebahagia ini selamanya.
+++
+++
KEMBALI KE HALAMAN UTAMA