Bab 25: Impian (3)

Chelsea sedang memakai baju yang dia bawa dari rumah, sambil menatap isi kamar Haidar yang ukurannya setengah dari kamarnya, tetapi ruangannya juga sesesak kamarnya. Dinding dan lantai rotan menghiasi kamar ini, serta rak baju dan ranjang yang terbuat dari bambu. Lima foto pesawat dari kamera polaroid, satu foto Haidar di depan Kawah Bening, dan beberapa kertas tertempel di depan meja belajar kayunya; tempelan gambar sketsa sebuah ruangan, dan sebuah poster yang menampilkan berbagai macam alat perkakas dan nama-namanya. Guratan kegemaran Haidar.

Namun, sketsa itu adalah hal yang baru. Dia mengetahui dari Putra bahwa Haidar buruk sekali dalam menggambar, termasuk gambaran pesawat jet yang belasan kali dia gambar sejak SD. Hanya moncongnya saja yang bagus, sisanya seperti sebuah makanan buras.

“Harika!!” Sayup-sayup suara Nenek terdengar dari luar. “Udah Nenek bilang, pakai baju!”

Harika membalasnya dengan rengekan, “Mumpung Abang lagi nggak di rumah!”

Chelsea memakai celana panjangnya – sudah dia persiapkan untuk mendaki bukit. Dia tertawa cekikikan. Tadi sore saat dia ingin mandi, dia berhadapan dengan sebuah bilik sebelah sumur tanpa pintu. Katanya itulah kamar mandinya. Chelsea yang malu sekali karena harus mandi di sebuah tempat terbuka akhirnya ditawarkan untuk mandi bersama Harika supaya dia tidak merasa sendiri. Haidar juga menawarkan dirinya untuk pergi ke tempat peternakan Kakek, katanya Kakek pulang setelah langit sudah malam. Dia akan mendatangi rumah jika Harika memanggilnya.

Setelah Chelsea selesai mengenakan pakaian, Harika memanggil kakaknya di kebun peternakan yang tidak jauh dari halaman belakang. Haidar datang bersama Kakek.

Setelah makan malam dengan lele balado buatan Nenek, Nenek membuat lemper untuk piknik malam mereka di atas bukit. Haidar membantu mengisi daging ayam, Harika membantu melipat daun pisang, dan Chelsea membantu menusukkan bungkusan ujung daun pisang dengan tusuk gigi. Kakek berada di gudang belakang, mempersiapkan tikar.

Kakak-beradik itu masih saja bertikai, suaranya mengalahi suara televisi yang dinyalakan begitu saja untuk menemani rumah mereka.

“Dedek!” Haidar melototi Harika di sebelahnya. “Jangan dikemili lemper-lempernya!”

Harika justru melahap satu lemper, mulutnya juga sudah kotor dengan ketan. Haidar meringis ingin mengetoknya dengan sendok. Harika berlarian menjauhi, sambil memegang lemper lainnya yang belum dibungkus. Nenek menghardik cucu termuda itu untuk kembali lagi ke dapur.

Chelsea tertawa sepanjang menyaksikan pertikaian itu. Keluarga ini ramai sekali, jauh lebih ramai dibandingkan acara natalan dia bersama orangtua Daddy di Amerika Serikat dahulu.

“Achel,” panggil Haidar, tangannya memipih adonan ketan dan menyendokkan suwiran ayam – gerakannya selihai dia membengkel sepedanya sendiri. “Kau bawa jaket, kah?”

Chelsea melotot, teringat sesuatu. “Jaketku ketinggalan di atas kasur!”

“Ya sudah, nanti kupinjamkan punyaku.”

Chelsea mengangguk. Dia memalingkan wajah, tangannya masih hati-hati menusuk bungkusan. Wajahnya memanas.

“Haidar,” kali ini Chelsea memanggilnya, matanya masih menatap gerakan tangannya. “Sketsa di kamarmu…itu karyamu?”

Haidar tertawa. “Gambaranku nggak sebagus itu. Itu karyanya Bang Hasan. Kamarku dulu kamarnya.”

Chelsea ber-ooh antusias.

“Kakakku suka kali gambar,” lanjut Haidar. “Anehnya, dia hanya jago gambar benda yang nggak begitu banyak lekukan. Lurus, seperti sebuah ruangan. Atau bangunan.“ Dia menaruh bulatan lemper yang sudah terisi ke wadah, siap dibungkus oleh Harika. “Gen itu…sepertinya gen campuran. Nenek dari ibuku dulu katanya bikin batik tulis. Ibuku tukang bengkel. Kedua bakat itu mungkin tercampur dan turun ke kakakku.”

Chelsea terkekeh. Dia menusuk bungkusan lainnya, yang setelah itu dia taruh di sebuah keranjang anyaman. “Semua keluargamu…unik sekali.”

Wajah Haidar memerah. “Keluargamu juga, Achel.”

“Nenek!” seru Harika. “Kapan selesainya? Harika udah denger petasan.”

“Petasan darimana?” Haidar berceletuk. “Abang cuma denger embekan kambing Kakek di belakang.”

“Ih, Abang!” Harika menaruh bungkusan lemper, mengambil lemper telanjang selanjutnya. “Betulan Harika denger petasan! Kayaknya Fina lagi main sama yang lain.”

“Astaga! Fina kan, tujuh rumah dari sini!”

“Abang nggak percaya.” Harika kemudian berlari meninggalkan dapur, tangannya memegang lemper telanjang itu yang kali ini tidak dia lahap, mendekati teras rumah depan. Nenek kali ini hanya terkekeh melihat tingkah laku cucu termuda itu.

Haidar juga menggelengkan kepala. Dia menoleh ke Chelsea lagi, “Adikku. Telinganya udah kayak kelelawar. Tajamnya bukan main.”

“Tapi kalau ditanya apa dia denger tawaan kuntilanak,” sahut Nenek, mengaduk spatula, “pasti langsung sembunyi di balik selimut.” Nenek dan cucu itu tertawa terbahak-bahak.

Chelsea tertawa juga, terlebih melihat tingkah laku keluarga ini. Rasanya dia ingin berada bersama keluarga unik ini. Lebih lama. Dan memikirkan hal itu membuat pipinya memanas.

+++

Pasangan tua dan Harika menaiki motor gigi Kakek sambil menenteng keranjang anyaman yang berisikan cemilan kue basah dan tikar. Haidar dan Chelsea menaiki sepeda ontel, menenteng senter masing-masing. Ransel sekolah Haidar berada di punggung, berisikan bungkusan koran itu.

Mereka menyusuri jalanan malam yang hanya diterangi oleh lampu minyak orang-orang yang berlalu-lalang. Sesekali mereka menyapa Haidar. Lampu senter dinamo sepeda Haidar menerangi jalanan di hadapan. Beberapa anak kecil bermain petasan sambil menertawakan teman-temannya yang lari ketakutan.

Malam ini, semua orang berjalan menuju ke arah yang sama. Perbukitan.

“Ini udah kayak ritual penduduk Desa, Chel,” cerita Haidar sambil mengayuh pedal. “Ke atas bukit di malam tahun baru. Lihat kembang api dari Kota dan Kabupaten Lembah sambil piknik sekeluarga.”

“Sederhana, tapi sama serunya seperti membakar sate di rumah Putra dulu,” kata Chelsea. “Putra pernah diajak juga?”

“Pernah, sekali.” Haidar terkekeh, “Tapi besoknya langsung masuk angin. Nggak biasa kena angin malam di atas bukit. Makanya sejak saat itu aku yang main ke rumahnya.”

Chelsea tertawa. Dan Haidar tersenyum mendengar tawaan anak perempuan di belakangnya itu. Suara dia hari ini sedikit berbeda dibandingkan di sekolah atau saat bermain ke rumah Putra. Suara melengkingnya hari ini terdengar lebih lembut.

Mereka sampai di sebuah tiang lampu – satu dari beberapa lampu di Desa. Haidar mengunci sepedanya, kemudian mereka mulai menelusuri jalanan setapak yang mengarah ke suatu bukit.

“Kita akan ke bukit tertinggi,” kata Haidar, berjalan di depan Chelsea, sambil memegang senter. “Semoga kau nggak kaget. Pertama kali ke rumahku, langsung diajak ke bukit tertinggi.”

Chelsea berjalan mantap, senter di tangannya bergoyang, “Siapa takut! Aku sering mendaki bukit, kok sama Mommy dan Daddy… No!!

Chelsea menginjak tanah liat yang tak terlihat, hampir terpeleset. Haidar memutar badan, langsung mencengkram pergelangan tangannya. Mereka terdiam sebentar, saling menatap satu sama lain, dengan wajah Haidar yang memanas, dan wajah Chelsea yang memerah dari bawah cahaya rembulan.

Masih memegang pergelangan tangannya, Haidar membuka suara, “Kita...lagi di kebun teh. Jadi banyak tanah liat.” Dia menelan ludah. “Aku lupa kasih tahu.”

Chelsea mengangguk patah-patah, “Oh…begitu.“ Dia menyengir, pipinya masih memerah, “Selama ini aku hanya mendaki di siang hari.”

Haidar masih memegang pergelangan Chelsea. Lalu pegangannya berpindah ke tangannya.

“Pegang aja tanganku. Sampai kita di puncak bukit,” katanya. “Kalau Putra sih, dia tergelinding di kebun teh pun aku tak peduli. Tapi nggak aku biarkan jika itu kau.”

Mereka menelusuri jalanan setapak yang remang-remang itu dengan senter masing-masing. Sambil saling berpegangan tangan.

Belasan menit kemudian, mereka sampai di puncak bukit. Terlihat kerumunan orang yang sudah menggelar tikar, dengan lampu minyak dan senter di sekitar mereka. Melahap makanan piknik masing-masing, sambil mengobrol dengan grup lainnya.

Haidar menyapa beberapa orang yang wajahnya dia masih kenali dari balik cahaya lampu remang. Chelsea berjalan di belakangnya, mengeratkan ujung jaket

Haidar, berjalan hati-hati supaya tidak menginjak kaki orang. Anak ini tidak terdengar kehabisan nafas. Staminanya betulan cukup tinggi untuk mendaki, berbeda sekali dengan Putra yang masih saja sampai sekarang kehabisan nafas di setiap belasan meter.

Mereka sampai di sebuah keluarga yang sudah beralaskan tikar. Menghadap langsung ke pemandangan luar.

“Kita tepat waktu nih, sampainya,” Kakek melambaikan tangan, sambil mengunyah lemper Nenek. “Makanya bisa dapat tempat di sini.”

Harika, seperti biasa, sudah melolong, sambil melahap lemper Nenek. Tetapi lolongannya selalu seperti mengiringi suara jangkrik dan hembusan angin di dedaunan. Berirama.

Haidar dan Chelsea mengambil tempat, tikar yang Kakek bawa cukup besar. Jika semua orang berselonjor kaki, masih ada sisa tempat untuk duduk.

Mereka mengobrol tentang keluarga Chelsea. Anak itu menceritakan tentang profesi setiap keluarganya yang membuat Kakek dan Nenek ternganga sepanjang cerita. Diiringi dengan lolongan Harika sesekali, anak itu hanya berhenti jika mengunyah lemper. Haidar terkekeh melihat raut wajah Kakek dan Nenek sepanjang waktu, sepertinya dia mengetahui sumber gen menganga Bapak itu.

“Kakek,” panggil Haidar. “Bawa tikar kecil yang kumaksud itu, kan?”

Kakek mengangguk. Dia meraih sebuah tikar tipis terlipat di bawah keranjang anyaman, memberinya kepada Haidar.

Haidar kemudian beranjak, “Achel, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Bawa sebagian lempernya,” Nenek menyodorkan keranjang anyaman. “Sebelum dihabiskan Dedek semua.”

Haidar menaruh sebagian lemper di ranselnya. Setelah itu, mereka berjalan kembali. Tanahnya kali ini menanjak.

“Aku kira kita sudah berada di puncak,” Chelsea mengeratkan ujung jaket Haidar, menatap pemandangan dari bawah dengan mata membesar.

“Tempat itu memang puncak bukit,” Haidar berjalan di depannya. “Tapi ada yang lebih puncak dibandingkan itu.” Dia menoleh, “Sayangnya di sana nggak bisa bawa satu keluarga. Hanya bisa sendirian. Atau…berdua.”

Mereka akhirnya sampai di sebuah rerumputan dengan satu pohon yang berdiri di tengah. Chelsea tercengang saat menatap pemandangan di hadapan. Langit malam penuh bintang terlihat jelas dengan rembulan yang menghiasi di tengah. Di bawahnya, terlihat lampu-lampu jalanan dan perumahan yang seperti kunang-kunang.

“Indah sekali!!” Chelsea berseru, suaranya menggelegar. “Jauh lebih indah dibandingkan hutan tempat kerja Daddy!”

Haidar tersenyum sambil menggelar tikar kecil di depan pohon. Belum pernah dia melihat Chelsea segirang itu.

“Puncak tertinggi di Desa Bukit Berbaris,” Haidar mulai duduk, menyandarkan punggung di batang pohon. Tangannya menaruh para lemper di atas tikar, supaya Chelsea tidak mengambil makanan itu langsung dari ranselnya. Tidak mau ketahuan.

Chelsea melangkah mendekatinya. Setelah melepas sepatu, dia duduk di sebelah Haidar, mengambil lemper di atas tikar. “Aku belum pernah melihat langit sejelas ini di Indonesia, termasuk jika sedang berada di hutan tempat kerja Daddy.” Dia menggigit lemper, “Apalagi dari rumah. Bulan pun kadang tidak terlihat.”

“Si Putra, saat lihat langit malam secerah ini, ingin kali dia memotretnya,” Haidar menggigit lemper, menatap langit. “Tapi kamera polaroidnya nggak begitu jelas nangkap gambarnya.”

“Aku bisa membayangkan wajah melasnya.” Chelsea menatap langit, melahap sisa lemper, “Ya sudah, mungkin dia harus menunggu untuk memiliki kamera dengan lensa lebih bagus.”

Mereka akhirnya berbicara mengenai masa sekolah terdahulu. Tentang Chelsea di sekolah Amerika, dan Haidar di sekolah Kabupaten Lembah.

“Iya, wali kelas sialan itu bilang gitu di depanku!” Haidar berdecak, melahap lemper bulat-bulat. “Dibilang beli aja tiket pesawat ke Bali. Bukan cita-cita itu, katanya.”

Wajah Chelsea juga terlipat, ikut melahap lemper bulat-bulat. “Guru macam apa itu? Harusnya dia tidak usah menjadi guru!” Dia mendengus, menghempaskan punggung ke pohon, membuat bahu mereka bersentuhan. “Ada guru juga yang mirip, di Elemtary School. Saat aku bilang bahwa aku ingin bekerja di lembaga penelitian astronomi, dia juga menertawakanku. Bilang bahwa tidak masuk akal sekali untuk seorang anak berumur sepuluh tahun punya mimpi setinggi itu.”

“Halah! Bilang aja guru itu iri, karena nggak pernah nginjakkin kakinya keluar untuk lihat bintang. Hanya di rumah dan nonton televisi dengan acara nggak jelas. Macam kegiatan Pak Kades tiap malam.”

Mereka berdua tertawa, sambil terus membicarakan tentang orang-orang yang telah merendahkan mimpi mereka. Hati Haidar berbunga-bunga, dia belum pernah membicarakan tentang hal ini kepada orang lain, selain keluarganya. Putra adalah anak yang tidak begitu antusias untuk memikirkan masa depan, jadi dia juga tidak bisa membicarakan hal ini. Chelsea adalah orang pertama. Dan baru dia saja.

Setelah semua lemper termakan, mereka terdiam. Masih menatap langit malam penuh bintang itu. Membiarkan suara orkestra hewan noktunal bergema, serta gesekan dedaunan dan rerumputan yang tertiup angin. Serta nafas masing-masing.

“Achel,” panggil Haidar, masih menatap bintang. “Kau bisa lihat rasi bintang dari sini?”

Chelsea menatap langit. Wajahnya terlihat serius, tetapi matanya yang bersinar di balik rembulan terlihat teduh. “Let’s see…karena kita berada di ekuator, mungkin kita bisa menemui beberapa rasi bintang…” Jarinya terangkat, menelusuri bintang-bintang di angkasa, seperti dia menelusuri foto-foto di dinding kamarnya, bergumam dengan bahasa Inggris yang tidak Haidar pahami. Wajahnya tiba-tiba antusias, “Haidar, kau beruntung sekali! Kau bisa melihat Orion, rasi bintang tertua yang dikenal umat manusia.”

Tangan Chelsea masih terangkat, telunjuknya menunjuk ke suatu arah.

Chelsea mendekatkan wajah, supaya telunjuknya menyejajari mata Haidar. “Kau lihat jajaran bintang sebelah sana? Seperti seseorang yang sedang memegang busur.” Dia menoleh, wajah mereka hanya sejengkal, “Orion adalah seorang pemburu.”

Haidar berusaha menatap jajaran bintang yang ditunjuk Chelsea. Chelsea menggoyangkan telunjuknya, jarinya seperti menggambar sebuah garis yang menyambungkan titik-titik bintang tersebut, membantunya mengimajinasikan bentuk rasi bintang itu. Seorang pemanah.

“Aku bisa melihatnya sekarang,” Haidar mengangguk, wajahnya sumringah. Dia menoleh, menatap Chelsea yang wajahnya masih berjarak sejengkal, “Kenapa dia seorang pemburu?”

“Dari mitologi Yunani,” cerita Chelsea. “Dia dikisahkan sebagai seorang pemburu yang sombong karena dia merasa dia bisa membunuh semua hewan di muka bumi ini. Jadi, seorang dewi murka kepadanya dan mengutus seekor kalajengking, Scorpio, untuk membunuhnya.” Dia menatap langit kembali. “Katanya, jika kau menemui rasi bintang Scorpio, kau tidak akan menemui Orion. Karena Orion akan lari ketakutan menghadapinya.”

Haidar tertawa. Dongeng tersebut jauh lebih menarik ketimbang dongeng seram Kakek dari kehidupan mudanya dahulu.

“Jadi,” kata Haidar, “tiap rasi bintang punya cerita masing-masing? Memangnya berapa jumlah rasi bintang?”

“Delapan puluh depalan.”

Haidar melotot. “Jadi ada delapan puluh delapan cerita yang berbeda??”

Chelsea tertawa. “Iya. Kebanyakan dari mitologi Yunani.” Suaranya pelan, “Cerita dongeng sebelum tidurku dahulu. Oleh kakekku yang sebagai pengamat bintang.”

Haidar menatap langit malam kembali. Rasanya dia ingin berada bersama keluarga unik Chelsea. Dengan waktu yang lama. Dan memikirkan hal itu membuat pipinya memanas.

“Aku,” Haidar memberanikan diri untuk menyatakan sebagian isi pikirannya. “Ingin kali mendengar semua cerita itu. Delapan puluh delapannya.”

“Tentu saja aku bisa menceritakan kepadamu.” Chelsea menoleh. “Jika kita menemui rasi bintang yang lain, dan di belahan bumi lainnya.” Dia menyengir, “Dan jika aku memiliki teleskop bintang.”

Haidar tiba-tiba teringat sesuatu. Dia tidak tahu pukul berapa saat ini, tetapi mungkin ini adalah waktu yang tepat.

“Achel.” Haidar merogoh ranselnya kembali, “Aku…ada sesuatu untukmu.” Dia meliriknya, “Kado ulang tahun. Meskipun udah telat tiga bulan.”

Chelsea hanya menatapnya dalam diam. Matanya melebar, dan pipinya memerah.

Haidar meraih bungkusan koran itu. Dia menatap Chelsea sebentar, kemudian memberikan bungkusan itu kepadanya, “Ini.”

Chelsea menerimanya hati-hati, menatap bungkusan itu antusias.

“Itu barang bekas. Dan pakai koran bekas Kakek.” Haidar mengusap tengkuk, “Tapi…aku niat sekali memberimu itu.”

Chelsea menatapnya kembali, matanya berkaca-kaca, “Aku…percaya sekali.” Dia mengangkat bungkusan itu, “Boleh kubuka sekarang?” Haidar mengangguk.

Chelsea langsung merobek bungkusannya cepat, berbeda sekali saat Putra membuka bungkusan majalah National Geographic dengan gerakan hati-hati. Hal itu membuat Haidar tertawa.

Gerakan Chelsea berhenti saat bungkusan koran itu sudah terobek sepenuhnya. Menunjukkan sebuah teropong binokular berwarna cokelat.

“Itu…teropong malam,” Haidar mengusap tengkuk lagi – ragu-ragu apakah Chelsea menyukainya. “Benda itu hanya bisa lihat hewan malam. Nggak bisa lihat bintang.” Dia memberanikan diri untuk menatap Chelsea, “Semoga…tetap cukup bagimu. Karena aku juga mendukung impianmu.”

Chelsea menatapnya. Satu tetes air mata jatuh di pipinya.

“Benda ini,” Chelsea mengangkat teropong itu. “Aku tidak perlu rebutan teropong malam lagi sama Daddy kalau berada di hutan tempat kerjanya.” Dia tersenyum lebar, dengan air mata yang semakin berlinangan, “Aku sekarang punya sendiri.”

Haidar tertegun. Tidak menyangka bahwa Chelsea akan segirang itu.

Chelsea mengelap wajah dengan lengan jaket Haidar. Dia terisak, tetapi senyuman lebar masih tersungging di bibirnya. Dia menempelkan matanya di teropong itu, melihat ke arah pemandangan, “Biarkan aku yang memiliki teropong bintang. Dari pekerjaan masa depanku. Dan aku bisa menunjukkan rasi bintang lainnya kepadamu.” Dia menurunkan teropong, menoleh ke Haidar dengan mata basah, “Seperti saat Grandpa dahulu menunjukkan sebuah komet kepadaku dengan teropongnya. Ingatan pertamaku.”

Suara jangkrik dan burung malam masih menggema. Hembusan angin malam meniup wajah mereka.

“Sejak saat itu,” lanjutnya, tangannya mendekap teropong malam di dadanya. “Impian itu lahir. Aku…ingin sekali melihat benda angkasa lainnya. Tidak hanya bulan atau bintang-bintang yang tidak kukenali.” Dia mengangkat tangan, telunjuk menghadap ke angkasa, “Aku ingin mengenali mereka semua. Mereka yang menemaniku di kesendirian.”

Suara kembang api pertama terdengar.

Haidar dan Chelsea menoleh serentak ke langit di hadapan mereka yang sekarang terhiasi kembang api berwarna-warni. Sayup-sayup suara penduduk Desa di belakang mereka menggema, bersorak melihat kembang api dengan berbagai macam bentuk itu. Kembang apinya tidak sebagus punya keluarga juragan di komplek elit yang mereka lihat dari rumah Putra. Tetapi, ini adalah malam tahun baru terbaik yang pernah Haidar alami. Seorang anak perempuan di sebelahnya, yang merubah perspektifnya terhadap langit malam Desa yang selama ini hanya dia lihat sebagai langit dengan rembulan dan bintangnya. Yang dia lihat sekarang adalah sebuah benda angkasa yang mempunyai setiap cerita. Seperti umat manusia yang tinggal di muka bumi ini, mempunyai cerita masing-masing.

Chelsea masih menatap langit penuh kembang api. Teropong malam berada di dekapannya. Badannya menggigil menahan dinginnya angin malam meskipun dengan jaket yang sudah terkancing rapat.

Haidar menjulurkan lengan, merangkul bahunya, dan menarik ke dekapan. Saat ini, dia tidak mau mempertanyakan reaksi tubuhnya itu. Membiarkan otaknya yang mengontrol badannya, dengan hatinya yang juga ikut campur. Chelsea tidak berkata apa-apa, membiarkan dirinya dirangkul, kepalanya sambil bersandar di dada Haidar yang juga terlapisi jaket. Masih menatap langit malam penuh kembang api, dan teropong malam di dekapannya. Seolah-olah barang bekas itu adalah harta karun paling berharganya.

“Ceritakan kepadaku suatu saat,” Haidar akhirnya bersuara, matanya masih menatap kembang api, serta tangannya yang mengelus pundak Chelsea. “Tentang semua cerita di balik bintang yang kau lihat.”

+++

+++

KEMBALI KE HALAMAN UTAMA
Previous
Previous

Bab 26: Rencana (3)

Next
Next

Bab 24: Desa Bukit Berbaris