Tentang ‘Commonplace Book’: Ensiklopedia Pribadi Darimu & Untukmu

Maraknya note-taking digital di era modern saat ini seperti Obsidian, Notion, atau bahkan sesederhana Notes App yang ada di Smartphone-mu, serta informasi yang sekejap mata saja bisa didapatkan hanya dengan mengetik satu-dua kata di Google, menggerakkan orang-orang untuk menyimpan segala informasi dan pemikiran mereka di satu arsip pribadi. Arsip ini mempunyai nama kerennya tersendiri. Commonplace Book, atau singkatnya CPB, kalau dilihat sekilas mungkin seperti para bookmarks yang kamu simpan di browser-mu, atau justru malah seperti catatan sekolah atau universitas. Namun, memiliki CPB tidak seserius memiliki catatan sekolah, yang justru malah menjadi hobi tersendiri (seperti para YouTubers di luar sana, coba saja ketik di search engine “commonplace book”). Atau justru, note-taking dengan nama keren ini sebenarnya sudah kamu terapkan, tetapi baru tahu saja kalau apa yang kamu lakukan selama ini ternyata ada nama kerennya.

Memiliki commonplace book bukanlah sebuah gerakan baru. Metode note-taking ini sudah lahir sejak zaman Yunani Kuno.


APA ITU ‘CPB’?

Dulu saat masih duduk di bangku SD, aku masih ingat banget tugas sekolah yang bernama “kliping”. Yaitu, kami harus mencari berita tertentu (temanya sang Guru yang menentukan) di sebuah koran, kemudian artikelnya digunting dan ditempelkan ke kertas HVS, dan semua kumpulan kertas HVS tersebut dilaminating. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin kata kliping ini berasal dari kata Bahasa Inggris clipping (yang kalau diartikan, sih, adalah “menjepit”).

Siapa sangka, sang Guru ini (aku sampai lupa apakah beliau ini ‘bapak’ atau ‘ibu’) ternyata telah menerapkan commonplace book – padahal saat itu masih awal tahun 2000an (wah, ketahuan umur saya lol). Secara garis besar, commonplace book adalah “kumpulan informasi dari luar yang ingin kamu simpan”. ‘Informasi’ di sini harfiahnya luas banget; mulai dari papers akademi, Wikipedia, berita, hingga kutipan seseorang dari buku atau podcast. ‘Informasi’ di sini juga tidak mesti selalu dalam bentuk tertulis, namun bisa juga dalam bentuk pengamatan visual; karya seni, foto, hingga bentuk dedaunan menarik yang kamu temukan saat jalan-jalan santai di taman kota.

Dalam sejarah (singkat dan padat), commonplace book sudah lahir sejak zaman Yunani Kuno, terutama di komunitas antar-filosof. Metode note-taking ini kemudian mulai dikenali dan diterapkan oleh masyarakat pada abad ke-17 dan 18, dimana percetakan buku mulai beredar dan bisa dijamah oleh khalayak umum. Saat itu, orang-orang merasa ‘diledakkan’ oleh berbagai macam informasi – apalagi saat di era itu, di Eropa sedang terjadi gerakan Age of Enlightenment. Jadi, untuk mampu memilah-milih informasi yang beredar sesuai dengan kebutuhan sendiri, maka orang-orang mulai memiliki catatan pribadi dan mengoleksi para informasi yang ingin mereka simpan di satu buku tulis. Isi buku tulis yang campur-aduk mengandung resep makanan bersebelahan dengan kutipan puisi dari sastrawan terkenal bersebelahan dengan daftar metric system yang berlaku merupakan hal yang lumrah saat itu.

Gerakan memiliki commonplace book mulai beredar kembali di zaman sekarang (setidaknya kalau kamu berseliweran di YouTube dan menonton konten yang berhubungan dengan review buku tulis fancy). Eranya internet dimana berbagai macam informasi bisa berseliweran bahkan tanpa kamu cari membuat orang-orang, seperti di abad ke-17 dan 18, merasa ‘diledakkan’. Jadi, bagi yang merasa isi otak ‘kepenuhan’ dan ingin memiliki commonplace book, mulai darimana?


BAGAIMANA CARA MENYIMPAN COMMONPLACE BOOK?

Pertama, jika kamu punya ratusan bookmarks di browser-mu, atau ibu atau nenekmu punya buku tulis kumpulan resep turn-temurun, sebenarnya hal itu sudah termasuk commonplace book. Atau bagimu yang suka screenshot kutipan-kutipan di sosial media yang menggugah hati, hal itu sudah termasuk dengan commonplace book. Hanya saja, apakah kamu akan membuka situs-situs yang kamu bookmark itu kembali? Atau membuka foto-foto screenshot berisi para kutipan di Smartphone-mu? Commonplace book itu dasarnya mempunyai tujuan; sebagai referensi. Referensi untuk kehidupanmu sendiri. Nah, yang namanya referensi itu, pasti kandungannya akan dilirik kembali, bukan? Dibaca kembali? Jadi, ibu atau nenekmu yang memiliki resep turun-temurun tertulis sudah dibilang ibu atau nenekmu mempunyai commonplace book, karena pasti mereka akan membacanya kembali jika mereka ingin memasak suatu resep yang tertera di sana.

Tidak seperti catatan sekolah (jika di era sekarang catatan sekolah tidak harus dalam bentuk buku tulis, melainkan bisa digital, please correct me), memiliki commonplace book bisa lewat digital maupun analog. Karena kamu baca di blog ini, jadi aku akan menunjukkan commonplace book lewat analog, karena metode ini yang aku terapkan dengan belasan buku tulisku (dan secara pengalaman, para bookmarks browser-ku NGGAK PERNAH aku baca kembali, ckckck…). Tetapi, terlepas dari entah pakai buku tulis atau Notes Apps Smartphone-mu, sebagai buku “referensi untuk masa depan”, yang penting commonplace book-mu punya fungsi dimana kamu bisa meraihnya secara gampang dan membacanya kembali.

Di versi analog bagiku, aku punya tiga media:

METODE BUKU TULIS

Ini versi yang paling sering kugunakan dan juga paling umum di kebanyakan orang. Tinggal cari buku tulis yang menarik perhatianmu, habis itu langsung eksekusi. Kebanyakan buku tulis ukuran A5 juga cukup praktis untuk dibawa kemana-mana – kalau aku mau punya sesi menulis di perpustakaan umum atau café, biasanya aku bawa yang ini. Untuk mengkatalog kandungan informasi juga sistematis, tinggal salin nomor halaman dan buat daftar isi sendiri.

Contoh CPB dengan metode buku tulis. Hanya dengan buku tulis standar A5 yang beredar di toko manapun.

METODE BINDER

Sebenarnya ini adalah metode pertama saat aku mulai punya commonplace book (serius) sekitar tahun 2022. Saat itu aku masih belum ada gambaran bagaimana aku ingin menyimpan para informasi dan akan seperti apa bentuk katalognya. (Daftar isi? Index? Nggak sama sekali alias YOLO-in aja?) Aku juga masih belum tahu bentuk informasi seperti apa yang ingin aku simpan. Bagaimana kalau misalnya mereka terlalu panjang dan aku tidak bisa menyalinnya dalam sekali duduk? Nah, binder ini punya fungsi super; fleksibilitas. Nggak suka dengan apa yang kamu tulis? Nggak perlu robek kertas dan merusak spine binding buku tulis. Informasi yang ditulis salah posisi? Tinggal pindahin si kertas sesuka hati. Bahkan kamu bisa membuang informasi yang telah kamu tulis tanpa perlu meninggalkan jejak (seperti diriku, karena situs mendadak berubah format dan isi).

Contoh CPB dengan metode binder. Informasinya aku tulis di binder terlebih dahulu (kiri). Kalau informasinya sudah lengkap kusalin, baru kupindahkan ke map ring ukuran A5 untuk memudahkan cataloging (kanan).

METODE ACAK-ACAKAN

Ini mungkin metode cocok buat pemula yang masih ingin bereksperimen. Daripada berkomitmen dengan buku tulis (lebih berat komitmennya kalau buku tulisnya lebih mahal), mendingan pakai buku tulis murahan di warung terdekat, dan isi sesuka hati tanpa perlu struktur. Tanpa perlu daftar isi, tanpa perlu nomor halaman. Yang penting kamu mulai, itu adalah cara pertama dan cara terpenting dari semua cara-cara di atas.

CPB dengan metode acak-acakan (atau bahasa umumnya biasanya disebut catch-all. Buku tulis biasanya kebanyakan dipakai yang ukuran A6 / A7 (supaya mudah dimasukkan ke dalam tas atau kantong celana). Kalau aku lebih suka ukuran Regular Traveler’s Notebook.

APA YANG DITULIS?

Apa saja yang penting INFORMASI DAN PEMIKIRAN DARI LUAR DIRIMU. Karena kalau pemikiran dari diri sendiri jatuhnya jadi “buku jurnal”. Sebagai klarifikasi, kamu tentu saja bisa menulis pemikiran dan opinimu atas informasi yang kamu tulis tersebut. Namun, isinya biasanya adalah reaksimu atas informasi yang kamu dapatkan tersebut.

  • Informasi dengan tema/subyek menarik bagimu; dari kacamata akademi seperti kumpulan papers hingga resep turun-temurun dari keluargamu.

Tidak hanya artikel dari internet saja yang kukumpulkan, namun aku juga suka mengumpulkannya dari potongan-potongan majalah (atas). Aku juga punya buku tulis kumpulan resep sejak tahun 2016 dan sampai sekarang belum habis, hehe (bawah).

  • Opini pribadi; dari sebuah berita hingga media hiburan seperti buku, film, lagu, karya seni, dll.

Ini CPB khusus untuk resensi dan kutipan-kutipan di buku yang aku baca, atau namanya Reading Journal. Tentang ini sudah kubahas secara detail di Instagram dan YouTube (konten berbahasa Inggris).

  • Observasi; saat di luar (daripada main HP mendingan amatin bebek di kolam), saat kunjungan ke museum.

Kumpulan pengamatan saat kunjunganku ke Kebun Raya Bogor (atas) dan Museum Batik Danar Hadi Solo (bawah) tahun 2023.

  • Para kutipan atau kata-kata mutiara; mulai dari buku hingga komentar di sosial media yang menyentuh jiwa dan raga

Isi CPB acak-acakanku kebanyakan mengandung kutipan-kutipan random yang kutemui saat menonton YouTube atau scrolling komentar orang-orang. Kadang juga mengandung sketsa hasil pengamatan (terutama kalau namanya berbahasa asing lol - sebagai pelajar visual, materi lebih bisa menempel di otak kalau ada gambar-gambarnya).


BEDANYA “CPB” DAN “CATATAN”?

1.       Tempat menulis

“Catatan” itu dikaitkan dengan aktivitas menulis di lingkungan akademi atau lembaga pendidikan seperti sekolah dan universitas. “CPB” lebih dikaitkan dengan hobi karena sifatnya pribadi dan bisa ditulis di luar sekolah; di rumah, di café, di taman, dll.

2.       Interaksi

Dengan “catatan”, ada setidaknya interaksi dari orang kedua yang membaca isinya, misalnya dengan guru atau teman sekelas. Bahkan si orang kedua tersebut juga punya hak untuk mengutak-atik isi yang kamu tulis (ya seperti di sekolah). Sedangkan “CPB”, buku tulis ini sangan personal, jadi tidak ada yang perlu membaca isi kandungannya. Kamu bebas menulis opini terlarangmu atas suatu berita politik. Kamu bebas mengubah sendiri resep turun-temurun keluarga itu tanpa sepengetahuan ibumu. Kamu bebas menyimpan belasan kata mutiara Mario Teguh yang kamu dapatkan di sosial media, atau kumpulan para lirik lagu galau yang kamu tulis karena semua itu menenangkan jiwamu. Satu-satunya interaksi hanyalah interaksi intim antara dirimu dan pikiranmu.  

3.       Tujuan

Untuk “catatan”, seperti di poin pertama; tujuannya semata-mata berhubungan dengan kegiatan akademi. Sedangkan “CPB” ini biasanya lebih ke hobi, atau untuk beberapa orang bahkan sudah seperti bagian dari hidup (sepertiku).

Namun, biasanya kalau kamu tanya kepada orang-orang yang memiliki CPB, pasti jawaban yang mereka berikan akan berbeda-beda. Karena CPB ini, seperti di poin kedua, sifatnya sangat personal dan intim, jadi tentu saja mereka memiliki arsip pribadi ini dengan tujuan yang tidak sama. Tujuan Charles Darwin memiliki commonplace book pasti berbeda dengan H.P. Lovecraft memiliki commonplace book. Tujuan seorang filosof memiliki commonplace book pasti berbeda dengan seorang sastrawan. Jadi, tujuan kamu ingin memiliki commonplace book akan berbeda dengan tujuanku.



JADI, APA TUJUANKU MEMILIKI CPB?

Aku sebagai penulis webnovel amatiran dan memiliki sejuta ketertarikan (terutama yang berhubungan dengan sains), akan menjawabnya sebagai “ensiklopedia pribadi”:

  • CPB adalah kumpulan arsip pribadiku sebagai koleksi bahan referensi untuk para proyek novelku.

  • CPB menjadi wadah penyimpanan informasi; di era digital ini dimana mudahnya mencari aneka ragam informasi dalam sekejap, dimana mereka juga bisa “menghilang” dalam sekejap, CPB adalah “jaring” untuk menangkap mereka.

 

Jadi, apakah kamu sekarang tertarik untuk juga memiliki ensiklopedia pribadi? Yuk, mulai saja dulu dari buku catatan kosong atau sisa yang telah mendekam di rumahmu selama bertahun-tahun. :)



REFERENSI UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT:

Bahasa Inggris

·       Untuk quick fact mengenai sejarah dan kegunaan commonplace book di berbagai macam negara, aku paling suka artikel Tiago Forte.

·       Kanal YouTube ‘ParkNotes’ terbaik untuk membahas jauh lebih detail mengenai metode penggunaan commonplace book (karena dia juga seorang filosof).

·       Kalau ingin format simpel sesimpel-simpelnya, aku suka video YouTube dari ‘Dozy Ghoul’.

Bahasa Indonesia

·       Di Indonesia, masih belum umum pembahasan mengenai commonplace book. Satu-satunya artikel berbahasa Indonesia mengenai tema ini (dan sangat menarik) aku temukan di AHOTALK!

Next
Next

Dibalik ‘Aviator Impian’