Sayap Viana (2023)
an Indonesian short story
genre: fantasy
Viana hanya memiliki sayap jika dia secara sengaja atau tidak disengaja mengonsumsi bulu unggas. Peristiwa ini terjadi pertama kali saat dia masih balita dan satu-satunya cara untuk menggerakkan badannya dari satu tempat ke tempat lain hanya dengan merangkak. Saat itu, hari hujan deras. Kedua kakak lelakinya yang sudah bersekolah memilih bermain bulu tangkis di ruang tamu. Televisi dibiarkan menyala, menayangkan sinetron FTV dimana sang pemain asik berteriak padahal tidak ada yang menonton. Mamah juga ikut berteriak, mewanti-wanti dua anak bujangnya untuk hati-hati dengan gerakan gegabah mereka supaya sang adik tidak terinjak. Viana asik menelusuri setiap sudut ruang tamu; setiap benda yang dia temui, entah dipegang atau dimakan. Sayangnya, benda-benda yang berada di ruangan tersebut terlalu besar bagi mulutnya – sengaja Mamah menaruh barang-barang besar di sini supaya anak bungsunya tidak sembarang memasukkan benda ke mulut.
Kok mendarat tepat di sebelah Viana. Akhirnya dia menemukan benda yang pas di mulutnya.
"Adik!" seru sang kakak. "Jangan dimakan—"
Satu bulu dari kok sukses tercabik. Para kakaknya saat itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memanggil ibu mereka. "Mamah!! Adik makan kok!"
Spontan raga Mamah muncul dengan wajah berkerut dan memerah. "Udah Mamah bilang, main badminton jangan di sini—"
Kemudian Mamah terdiam. Matanya membesar, tatapan sekarang menuju Viana. Kedua anak lelakinya pun ikut menatap Viana, disertai dengan mata yang juga membesar. Di sudut ruangan, Viana untuk pertama kalinya menumpu badannya hanya dengan kedua kakinya. Tapi ditambahi dengan kedua sayap di punggungnya yang mengepak-ngepak, warnanya seputih bola bulu tangkis.
Sepuluh detik kemudian, setelah sayap tersebut hilang tak berbekas, seperti layaknya manusia yang masih memiliki akal sehat, Mamah dan kedua kakaknya bergegas membawa Viana ke puskesmas terdekat. Singkat cerita, Viana harus dirujuk ke rumah sakit di pusat kota dan dilakukan operasi kecil menggunakan endoskopi, tapi saat sang dokter keluar dari ruang operasi justru dengan wajah sumringah, mengatakan bahwa kondisi lambung dan organ pencernaan Viana sehat dan tidak ditemukan sehelai bulu kok. Bahkan di hari terakhir opname Viana dimana dia harus buang air besar, tahinya sama seperti tahi biasanya jika dia sehabis makan bubur dan minum ASI.
Sejak saat itu, sudah menjadi rahasia bahwa; pertama, perut Viana tidak bermasalah jika memakan bulu ungags. Kedua, Viana mampu terbang layaknya seekor burung selama sepasang sayap ada di balik punggungnya. Rahasia ini hanya dipegang keluarga kecilnya yang serumah dengannya; ibu beserta kedua kakaknya. Bapaknya yang tinggal di provinsi sebelah bahkan tidak mengetahui akan hal ini, toh bapak itu juga sudah tidak berkomunikasi dengan anak-anaknya sejak dia tinggal di sana.
Mengonsumsi bulu ungags pun menjadi hobi Viana. Entah kenapa lidahnya jika menyentuh bulu tersebut tidak memberikan reaksi bahwa rasanya tidak enak. Ibu dan kedua kakaknya selalu menyerngit jika melihatnya makan bulu unggas, jadi semenjak itu Viana memakannya diam-diam. Karena kok cukup mahal – dan dia tidak mau dihardik kedua kakaknya karena selalu kehilangan bola bulu tangkis mereka – maka Viana akan mendapatkannya dari luar rumah. Dia pernah mencoba mendatangi pasar bagian pemotongan ayam, tetapi bulu yang dia konsumsi tidak mampu membuat sayapnya terbang. Kemudian, semenjak Rumah Makan ‘Burung Puyuh Bakar’ berdiri beberapa gedung terpisah dari sekolahnya, Viana langganan mendatangi tempat tersebut. Untungnya juga, mendapatkan bulu-bulu burungnya tidak perlu merenggut uang jajannya.
Viana juga hobi terbang. Maka dari itu, dia selalu memiliki stok bulu burung puyuh dari Rumah Makan itu. Saking hobinya, dia jadi keasikan terbang jika ada situasi yang tidak menyenangkan baginya. Jika kedua kakaknya bertengkar di rumah, maka dia terbang. Jika ibunya beradu mulut dengan tetangga sebelah, maka dia terbang. Jika ada panggilan telepon dari bapaknya yang raganya tidak pernah ada di rumah, maka dia terbang. Seringnya terbang ke atas atap rumah, kadang bisa lebih jauh seperti ke bukit di pinggir kota. Dia akan melewati tiang listrik, berterbangan bersama para burung gereja, sambil menatap jalan raya di bawahnya beserta deretan mobil dan motor yang terjebak di kemacetan. Tidak ada gedung pencakar langit di kotanya, hanya perumahan beratap merah bata sebagai puncak tertingginya. Puncak bukit dengan kebun teh adalah puncak tertinggi di kota.
Kebiasaan ini akhirnya terbawa keluar rumah. Semakin Viana beranjak umur, semakin sering dia diejek oleh teman-teman sekolahnya. Setiap acara besar di sekolah dan pembagian rapor, Viana hanya membawa ibunya, dimana teman-temannya pasti selalu bersandingan dengan dua orang tua; seorang ibu dan bapak. Viana tahu betul bahwa bapaknya tidak menetap di rumah dan hanya panggilan telepon yang sampai darinya, maka dia merasa bahwa dia juga memiliki dua figur orang tua, hanya yang satu tidak pernah muncul batang hidungnya. Tapi entah kenapa bagi teman-temannya, dua figur orang tua itu hanya valid jika dua-duanya berada di rumah. Maka teman-temannya mulai mengejeknya, bahkan juga mengejek ibunya, mengatai bahwa ibunya bukan seorang wanita yang baik.
Viana selalu diam, baik selama mendengarkan ejekan mereka atau jika ditanya Mamah mengenai keadaan sekolah. Karena dia punya caranya sendiri untuk membalas mereka, tetapi dia tidak mau jika Mamah turut ikut campur, apalagi melerainya. Setiap pulang sekolah, dengan stok bulu burung puyuh yang selalu penuh, Viana akan bersembunyi di balik satu atap ke atap lain, membuntuti teman-temannya. Di saku lainnya, dia menyimpan butiran kerikil untuk melemparkan ke teman-temannya. Mereka tentu saja tidak pernah tahu kenapa tiba-tiba ada kerikil yang menghantam kepala dan punggungnya, yang hanya bisa mereka lakukan adalah mengaduh.
Melihat kesuksesan atas pembalasannya, Viana semakin rutin melakukannya. Dia mulai tidak mempedulikan ejekan teman-teman sekolahnya, seberisik apapun suara mereka atau sekotor apapun perkataan yang keluar dari mulut mereka. Beberapa murid justru mulai memperlakukan Viana sebaliknya; mengaguminya karena mental Viana yang begitu kuat tidak menggubris para hinaan tersebut. Namun, Viana juga tidak mempedulikan mereka. Toh ribuan pujian yang mereka berikan tidak memberhentikan suara hinaan satu gedung sekolah.
Kerikil yang Viana bawa mulai membesar. Erangan kesakitan teman-temannya juga semakin keras. Yang awalnya mereka hanya mengeluhi hantaman tersebut, perlahan mereka mengeluhi bahwa badan mereka memar. Dari memar membiru menjadi berdarah merah.
+++
Seperti biasa, sepulang sekolah Viana melakukan aksinya. Kali ini cuacanya mendung, matahari hanya muncul sinarnya saja di sela-sela awan yang bergerak. Angin juga bertiup kencang beberapa hari terakhir, bahkan siaran berita memperingatkan bahwa sedang terjadi angin puting beliung dari laut sebelah.
Viana mengonsumsi beberapa helai burung simpanannya terlebih dahulu. Setelah sepasang sayap muncul dari balik punggungnya, Viana mulai terbang. Dia bersembunyi dari satu atap ke atap lain sambil membuntuti teman-temannya. Angin kencang menyusahkannya untuk terbang secara leluasa, bahkan dia terhempas ke belakang dan dia membutuhkan tenaga lebih untuk mengepakkan sayapnya sampai tangannya meraih genteng. Namun, Viana tidak peduli. Karena tujuannya hari ini adalah untuk melempar sebuah batu sebesar bola tenis.
Teman-temannya berhenti di sebuah pertigaan. Angin yang begitu kencang membuat mereka tidak bisa terus berjalan. Viana sudah mendarat di atas atap, di balik punggung para temannya. Dia tersenyum, tangannya merogoh sebuah kantong berisi kerikil dan bebatuan.
Viana mulai melemparkan kerikil ke arah teman-temannya. Seperti biasa, teman-temannya mengaduh kesakitan sambil melindungi kepala mereka dengan tangan. Kadang lemparannya melesat akibat hembusan angin, namun Viana tidak peduli. Yang penting koleksi kerikilnya habis, dan sekarang giliran menghabiskan koleksi bebatuannya.
Hembusan angin semakin kencang. Teman-temannya kali ini juga tidak bisa lari dari lemparan bebatuan yang tidak pernah mereka ketahui asalnya. Berbeda dari kerikil, lebih susah untuk melemparkan bebatuan besar ini tanpa melesat, karena kali ini Viana berusaha menyeimbangkan diri dari hempasan angin. Namun dia tidak peduli jika harga yang harus dibayar untuk membuat bebatuan ini mengenai sasaran adalah keseimbangan dirinya. Toh kalau terpeleset tinggal melahap satu helai burung saja, satu-satunya makanan yang tidak pernah menyakiti perutnya. Bahkan mulut dari ejekan para temannya itu jauh lebih menyakitkan. Viana hanya ingin melemparkan bebatuan yang selalu dia kumpulkan di puncak bukit kebun teh supaya teman-temannya bisa merasakan juga rasa sakit yang dia alami.
Viana mengeluarkan batu terakhirnya. Sebuah batu sebesar bola tenis. Batu tersebut begitu berat, sampai Viana harus menggenggamnya dengan kedua tangan, tetapi badannya malah terhuyung. Batu tersebut terlepas, terjatuh ke bawah. Memecahi vas bunga pemilik rumah yang atapnya dia duduki.
Seorang ibu tua seketika keluar, tangannya menggenggam sapu ijuk. Kakinya terhentak-hentak, berjalan menghampiri para teman sekolahnya.
“Kalian yang mecahin vas ibu, hah?!“ bentak ibu tua tersebut. Tangannya sudah terangkat, siap mengayunkan gagang sapu ijuk tersebut.
Teman-temannya tidak bisa lari karena angin dan kaki yang memar. “Tidak, Bu!” rengek mereka.
Namun, ibu tua itu tidak mempedulikan mereka. Rengekan mereka malah dibalas dengan pukulan sapu ijuk.
Viana sigap meraih kantong berisikan bulu burung, namun angin mengganggu keseimbangannya kembali. Bulu-bulu tersebut terlepas dari genggamannya. Terbang melayang mengikuti arus angin, meninggalkannya dengan stok bulu burung yang kosong.
Tangisan teman-temannya mengambil perhatian Viana kembali. Kaki-tangan mereka memar karena hantaman kerikil, wajah mereka basah akan air mata. Pasti pundak dan punggung mereka juga memar karena sapu ijuk itu. Dada Viana mulai sesak menyaksikan itu semua. Harusnya justru dia senang, karena rasa sakit yang teman-temannya alami akhirnya setimpal dengannya. Namun justru dia mendapati rasa sakit kembali, menyaksikan mereka yang disakiti padahal mereka tidak bersalah. Harusnya Viana yang dipukul, bukan mereka.
Pelan-pelan Viana menuruni atap rumah. Tidak semua situasi yang tidak menyenangkan harus ditinggali.
+++
Viana pulang ke rumah dengan mata sembab dan badan memar. Angin sudah tidak bertiup lagi. Mamah justru menyambutnya dengan penuh kekhawatiran, dan tetap memeluknya meski Viana mengakui telah memecahkan vas bunga seseorang. Kedua kakaknya langsung berlari ke warung terdekat untuk membeli cemilan favorit Viana dan obat merah. Malam itu, selain dihiasi dengan udara tanpa angin, juga dihiasi dengan kompresan hangat Mamah ke badan memar Viana, disertai para kakaknya yang bermain teka-teki lucu. Televisi dibiarkan menyala. Tidak ada panggilan telepon.
Keesokkan harinya di sekolah, ejekan teman-temannya musnah begitu saja. Justru mereka meminta maaf kepadanya atas perilaku mereka selama ini, serta mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan mereka dari pukulan ibu tua itu kemarin. Tidak ada lagi perkataan kasar tertuju kepadanya, bahkan di saat pembagian rapor dimana ibunya saja yang hadir.
Sejak saat itu, Viana tidak terbang kembali. Sesekali terbang, tapi hanya untuk menyaksikan matahari terbenam dari puncak bukit kebun teh. Tidak disertai dengan mengumpulkan bebatuan. Itu juga semakin Viana besar, dia lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain dengan teman-temannya sepulang sekolah yang dahulu mengejeknya. Dan membiarkan mereka tidak pernah tahu siapa yang dahulu melempar bebatuan kepada mereka. Sebuah misteri di kehidupan mereka, semisterius sosok bapak Viana yang juga sudah tidak pernah menelepon ke rumah.
+++
+++
tamat